
Pesta ulang tahun pernikahan ayah dan Ibu Jonathan terlihat meriah. Semua orang terlihat menikmati segala kemewahan yang ada.
"Jadi ini calon istrimu?" tanya Aliya pada Jonathan. "Kau pintar memilih calon istri. Dia cantik dan menarik."
Wajah Bella merona dan malu mendengar pujian dari Aliya.
"Aku tidak mengira jika kita akan menjadi besan nantinya," ujar Danuwijaya pada Pak Kusuma, Ayah dari Jonathan.
"Aku juga senang mengetahuinya. Ini adalah hadiah paling kami tunggu dari Jonathan. Membawa calon istrinya," ungkap Pak Kusuma bahagia.
Dia senang Jonathan mendapat calon istri seperti yang mereka impikan. Cantik, baik dan yang pasti dari kalangan sama dengan mereka.
Mereka lalu membicarakan tentang hubungan Jonathan dan Bella. Mulai berlangsung kapan dan akan dibawa sampai kemana.
Sementara itu, Jonathan melihat ke sekeliling mencari keberadaan Lily. Mengapa wanita itu tidak ada di acara penting ini? Seharusnya dia sudah datang dari tadi.
Melihat Jonathan yang gelisah, Bella lalu bertanya padanya. "Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Kau mencari siapa?"
"Lily, dia belum terlihat. Padahal acara sebentar lagi akan dimulai."
"Mungkin sebentar lagi dia datang."
"Biasanya dia tidak pernah terlambat. Aku akan menelfonnya. Aku takut ada yang terjadi dengannya." Wajah Jonathan memang terlihat sangat cemas dan tidak tenang sedari tadi.
Bella ingin mengatakan sesuatu tetapi Jonathan malah melangkah pergi mencari tempat sepi untuk menghubungi Lily. Meninggalkan Bella sendiri.
Dari arah pintu masuk terlihat Lily sedang masuk ke dalam ruangan itu. Dia nampak cantik dan seksi dengan dress berwarna merah maron. Punggung belakangnya yang indah terekspos dengan sempurna serta belahan di sisi samping memperlihatkan kakinya yang panjang. Dia nampak sempurna dengan riasan Flawless yang membuat mata pria menatap ke arahnya. Dia lalu menjadi pusat perhatian karena beberapa pria yang mengenalnya mulai mendekat. Bagai gula yang dikerubungi oleh semut-semut jantan.
"Lily?" tanya Alberth mendekat.
"Hai... ," Lily menyampirkan rambut ke belakang telinga dengan canggung.
"Kau nampak... berbeda sangat cantik dan menarik," ucap Alberth membuat Lily malu.
__ADS_1
"Kau kenal dia bro!" tanya seorang pria dekat dengan Alberth.
"Ya... dia temanku."
Jonathan mulai melakukan panggilan kepada Lily. Panggilannya pun diterima.
"Kau dimana?" tanya Jonathan kesal.
"Aku baru masuk, Pak."
"Di mana?" Jonathan melihat ke arah pintu tetapi tidak melihat Lily. Lily yang melihat Jonathan lalu melambaikan tangannya ke atas.
Jonathan mengangkat satu alis ketika melihat Lily. Dia melangkahkan kakinya dengan pelan meyakinkan diri jika yang dilihat memang Lily, bukan wanita lain.
" Hai, Pak!" sapa Lily melihat wajah Jonathan yang aneh. Bella yang melihat Jonathan dan Lily dari jauh lalu mendekat.
"Kau... ," Jonathan melihat ke arah pakaian dan dandanan Lily dengan raut wajah tidak senang.
"Kenapa kau memakai baju seperti itu... memalukan seperti wanita murahan," ujar Jonathan tanpa di saring terlebih dahulu.
Hal ini menyentak hati Lily.
"Tidak cocok. Terbuka, tutup dengan ini," Jonathan lalu menyerahkan jasnya pada Lily.
"Kau kenapa Jo, Lily cantik Dengan baju itu," bela Alberth.
"Dia tidak cocok dengan pakaian seperti itu."
"Dia itu hanya sekretarismu bukan kekasih Jo, jadi dia bisa memakai baju manapun."
"Kau jangan ikut campur dengan masalah kami." Jonathan lalu melihat ke arah Lily yang memakai jasnya.
"Jangan pakai lagi baju seperti ini!" ucapnya setelah itu pergi meninggalkan Lily sendiri. Bella menatap ke arah Lily yang menyeka air matanya. Dia memegang tangan wanita itu.
"Kau cantik dengan baju itu. Kau jangan dengarkan Jonathan. Mungkin dia hanya terkejut kau memakai pakaian terbuka karena kau biasanya memakai kemeja dan celana," terang Bella.
Lily mengangguk sambil mengatupkan bibir rapat menahan tangisnya.
__ADS_1
"Iya kau jangan menangis lagi," ucap Alberth menenangkan Lily.
Jonathan terlihat naik ke atas podium. Dia lalu melambaikan tangannya untuk memanggil Bella mendekat.
Bella lalu berjalan mendekat ke arah Jonathan diiringi tatapan dari semua orang. Wanita itu terlihat anggun, cantik dan berkelas serta lembut. Semua yang melihatnya pasti akan terpikat tidak terkecuali Jonathan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alberth lagi memastikan keadaan Lily. Wanita itu menganggukkan kepalanya sembari menyeka air mata.
"Mereka adalah pasangan yang terlihat sempurna," ujar Alberth menatap ke arah podium. Lily memaksakan diri tersenyum.
Ayah dan ibu Jonathan terlihat naik ke atas. Begitu pula Ayah Lily. Mereka berdiri di sana nampak sebagai keluarga yang bahagia.
Acara pun dimulai dengan sambutan dari orang tua Jonathan.
"Kami juga berterimakasih atas kehadiran kalian semuanya yang mau hadir ke dalam acara ini."
"Di malam ini kami mendapatkan kado spesial dari anak kami satu-satunya, Jonathan. Kado spesial itu adalah kabar menyenangkan jika dia membawa kami seorang wanita yang akan menjadi calon istrinya. Dia adalah Bella Wijaya. Putri dari kawan karib saya selama ini, Danuwijaya."
Tepuk tangan riuh pun mulai terdengar.
"Malam ini pula, Jonathan ingin mengatakan sesuatu di depan kalian semua tentang isi hatinya." Pak Kusuma lalu menyerahkan mic pada Jonathan.
Jonathan menatap ke arah Bella dengan tatapan penuh cinta. Lalu tersenyum lebar.
Dengan dada yang berdebar dia mengungkapkan isi hatinya. "Bella, di depan semua orang aku ingin mengatakan sesuatu."
Jonathan menyeka keringat dan memegang dada karena merasa gugup. Semua orang tertawa kecil melihatnya. Dia lalu menarik nafas dan menatap Bella dengan serius. Lalu memperlihatkan cincin yang dia siapkan sedari tadi.
"Bertemu denganmu bukan sebuah keberuntungan, namun sebuah keberkahan yang diberikan Tuhan untuk melengkapiku. Aku sangat bahagia bisa menemukanmu dalam hidupku. Karena itu aku pikir akan sangat bodoh jika melepaskan dan membiarkanmu jauh dariku karena kau bagai berlian yang bersinar terang. Bella, izinkan aku untuk membahagiakanmu hingga akhir waktumu. Apakah kau bersedia untuk menikah dan menghabiskan sisa umur denganku?"
Bella menganggukkan kepala dengan bahagia. Cincin pertunangan lalu disematkan.
Lily begitu shock dan terkejut melihat pemandangan di depannya. Seharusnya dia ikut merasa senang namun tidak. Dia jatuh dan terpuruk.
Dia memundurkan langkah satu demi satu dengan kaki yang bergetar, lemas dengan dada yang sesak. Mulutnya menyungggingkan sebuah senyuman lebar namun butiran kristal bening tidak sanggup dia tahan lagi. Mengalir deras lewat pelupuk matanya. Tidak mampu mengatakan apapun.
Tidak ada yang tahu betapa rasa sakit hatinya Tidak ada yang mengerti tentang perasaannya dan tidak ada yang membantunya untuk keluar dari rasa ini. Dia sendiri di sini dan merasa sepi.
__ADS_1
"Apakah ini mimpi jika iya maka bangunkan aku dari mimpi buruk ini," teriak Lily dalam hati. Namun, sorak-sorai para hadirin yang datang menyadarkan bahwa apa yang dia lihat adalah sebuah kenyataan. Lily patah hati untuk saat ini.