My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 46 Kacau


__ADS_3

"Waktu itu kau dalam pengaruh obat," ucap Lily membela diri.


"Tapi kau tidak menghindar?" tanya Jonathan.


"Mana bisa aku menghindar percuma saja," ungkap Lily tidak segan. "Lagipula aku tahu jika para penjaga akan segera datang karena aku telah memanggil mereka. Kita tidak akan berbuat jauh. Jika aku menolak jatuhnya kau akan terkena masalah karena menyerang pegawai mu sendiri."


Satu tangan Jonathan menyentuh pipi Lily dengan lembut hingga ke bibirnya.


"Hanya karena itu?"


"Kau sudah tahu hatiku Jo, tidak usah ditanyakan lagi." Lily memalingkan wajah ke samping.


"Kalau sekarang apakah masih sama?"


"Jo, aku sudah punya tunangan, aku harap kau menghargainya." Lily menelan salivanya dengan berat.


"Lily, aku hargai hubunganmu dan dia. Tatap aku Li, aku hanya bertanya tentang hatimu. Untuk kali ini saja jawab pertanyaanku," pinta Jonathan.


Mata Lily merebak menatap Jonathan. "Haruskah ku jawab jika kau tahu jawabannya," ucap serak Lily. Jonathan memeluk tubuh Lily erat.


"Untuk malam ini saja Lily. Aku ingin bersamamu seperti dulu, menonton televisi bersama sambil berbincang. Biarkan aku memilikimu sebentar saja sebelum kau pulang dan menjadi milik pria lain. Kita tidak akan melakukan apapun hanya bicara dan bersama."


"Jo...." Lily melepaskan pelukan Jo dan menatapnya.


"Aku rindu bahkan sangat rindu akan masa itu. Kumohon...."


Satu jam kemudian meraka sudah duduk bersama di ruang keluarga. Menatap ke arah layar televisi menonton pertandingan bola. Berteriak dan berdebat tentang hal itu sambil. menikmati segelas kopi dan camilan.


Lily yang lelah akhirnya tidur bersandar di bahu Jonathan. Jonathan yang mendengar dengkur halus wanita itu lantas membaringkannya di kasur lantai. Membuatnya nyaman dengan memberi bantal dan selimut setelah itu Jonathan ikut berbaring di sebelah Lily setelah melihat keadaan Melati di kamar.


Dia menatap Lily menyentuh pipinya dengan pelan. Lalu mengecup pelan pipi itu. Tidak lebih karena dia tidak ingin membuat wanita itu bangun dan pergi.

__ADS_1


Udara malam yang dingin membuat Lily mencari kehangatan dia masuk ke dalam pelukan Jonathan. Mencari kenyamanan di sana. Jonathan memeluk balik dan menarik nafas panjang. Dia ingin selamanya ini berlangsung tetapi semua keputusan ada di diri Lily. Dia tidak mau membuat masalah dengan merebutnya dari Albert.


"Aku mencintaimu," bisik Jonathan pada Lily. Jonathan melihat senyuman di bibir Lily. Tangan wanita itu memegang pipi Jonathan.


"Aku juga mencintaimu," ucap Lily dengan mata terpejam. Jonathan yang mendengarnya lalu memeluk Lily erat. Dia menangis tanpa suara. Betapa tersiksa nya mencintai tapi tidak bisa memiliki. Hatinya sakit dan perih secara bersamaan tetapi dia bahagia jika melihat Lily bahagia. Dia akan mencoba untuk ikhlas melepaskan Lily. Menyerahkan semuanya pada yang diatas.


Pukul empat pagi jam alarm yang ada di handphone Lily di dalam saku bajunya menyala. Lily membuka matanya pelan dan terkejut ketika mendapati dirinya ada di pelukan Jonathan. Dia lalu melihat ke arah kakinya yang terkait dengan kaki Jonathan. Masih memakai baju.


Untunglah, pikir Lily. Dia lalu melepaskan tangan Jonathan pada pinggangnya. Sejenak menatap pria itu lekat, tersenyum lalu menyentuh rahang Jonathan. Sesuatu yang selalu dia lakukan dulu jika Jonathan sedang tertidur di apartemennya.


Terlihat beberapa kerutan pada wajah itu. Lingkaran hitam matanya dan garis tegas di antara kedua alisnya. Nampaknya hidupnya dijalani dengan keras sehingga kerutan yang dulunya tidak ada kini nampak dengan jelas.


Lily hendak mengangkat tangannya tetapi Jonathan menahannya. Matanya mulai terbuka membuat Lily terkejut. Belum sepenuhnya sadar dengan yang terjadi mendadak bibir Jonathan sudah ada di bibirnya. Mengulum lembut, menggoda Lily, hingga akhirnya Lily membuka bibirnya dan membiarkan Jonathan mulai menguasai mulutnya.


Tangan Jonathan memegang kedua pipi nya. memantapkan ciuman itu hingga membuat Lily terlena. Mereka meluapkan perasaan cinta dan rindu dalam ciuman itu, menggebu dan liar. Air mata mulai keluar dari mata Lily.


Jonathan lalu melepaskan ciuman terliarnya. Dia bangkit dari tubuh Lily dan mundur. Lily merasa kehilangan dan shock.


"Ini sudah jam empat lebih katanya kau ingin pulang awal, aku menunggumu di mobil," ucap pria itu pergi melangkah keluar ruangan.


Ketika di jalan mereka berdua hanya diam. Tidak mengatakan satu patah kata pun, hingga mereka sampai . Di depan toko Lily. Di sana nampak ada beberapa pegawai yang menunggu di depan toko.


"Terimakasih," ucap Lily tercekat. Dia memaksakan diri untuk tersenyum.


"Aku yang berterimakasih karena kau telah memberikan malam terindah untukku. Aku tidak akan melupakannya." Mata Jonathan merebak.


Lily tidak mampu mengatakan apapun hanya menggerakkan tangannya ingin mengatakan sesuatu tetapi dia tidak sanggup.


Dia lalu membuka pintu mobil Jonathan untuk keluar. Belum sempat, dia keluar Jonathan menarik tangan Lily dan memeluk tubuh wanita itu.


"Aku dan Melati, akan menunggumu di rumah, siapa tahu kau berubah pikiran dan kembali padaku," bisiknya. Jonathan lalu melepaskan Lily. Menatap kepergian wanita itu dengan berat.

__ADS_1


"Siapa, Li?" tanya Sisca.


"Jo...."


"Apakah kalian bersama semalaman?"


"Tidak seperti yang kau pikirkan."


Sisca menutup mulutnya.


"Melati sakit dan aku menunggunya dari siang dan malamnya hujan lebat jadi aku tidur di rumahnya," terang Lily mulai membuka pintu toko.


"Bagaimana jika Albert tahu?"


"Aku tidak akan menutupi semuanya. Hubungan harus didasari oleh saling kepercayaan."


"Tapi, kau mencintainya Li," kata Sisca.


"Darimana kau bisa menyimpulkan hal itu. Aku dan Jonathan tidak punya hubungan apapun sebelumnya dan kini."


Lily mulai mengambil bahan untuk membuat cake pernikahan pesanan pelanggan mereka untuk acara nanti malam.


"Kau tidak bisa menyembunyikan rasa cinta itu. Setiap kau kau bertemu dengannya emosimu selalu tidak stabil. Ketika Melati datang, kau sangat perhatian seolah dia itu putrimu. Padahal ada anak kecil lain dan kau juga perhatian pada semua anak itu tetapi dengan Melati kau terlihat berbeda seolah, ada perasaan khusus."


Lily hanya terdiam. Dia tidak menyangka perasaan yang dia pendam. bisa terlihat jelas dimata orang lain.


"Satu lagi, cara memandangmu pada Jonathan dan Albert itu berbeda. Jika pada Albert kau melihatnya seperti seorang teman walau hubungan kalian akan ke jenjang lebih serius. Al menatap mu penuh cinta dan perhatian tetapi kau terkesan cuek saja. Sedangkan pada Jo kau menatapnya dengan penuh cinta dan damba sesuatu yang tidak pernah kau lakukan untuk calon suamimu."


"Sebegitu jelaskah?"


Sisca mengangguk. Hana meletakkan alat membuat kue dan memegang kepalanya. Dia menunduk dalam menahan tangis tetapi tidak bisa.

__ADS_1


"Aku tidak bisa bekerja hari ini. Kau dan semua yang ada di sini saja yang membuatnya. Pikiranku kacau."


Lily lalu pergi ke ruang kerjanya.


__ADS_2