My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 11. Istri Kedua


__ADS_3

Lily keluar dari hotel tempat acara di langsungkan. Dia berjalan tanpa arah menembus pekatnya malam. Angin berhembus terlalu kencang dan rintjk hujan mulai turun semakin deras.


Beberapa orang terlihat berlarian menepi, memilih berteduh. Sedangkan Lily tetap saja berjalan. Rasa dingin mulai mengenai kulit membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Namun, tidak pedulikan itu. Yang dia inginkan hanya berjalan terus agar rasa sakit ini larut dalam air hujan.


Dia sempat melihat pantulan dirinya dalam kaca besar sebuah toko. Berkilau dalam balutan gaun yang indah. Lily yang cantik dan bersinar dalam beberapa jam lalu sekarang benar-benar berbeda. Wajah pucat pasi, dengan mata yang menyiratkan kesedihan yang mendalam. Make up-nya telah luntur oleh air hujan dan bajunya basah kuyup. Menyedihkan.


Dimana Lily yang dulu. Yang ceria dan tanpa beban yang polos dan tidak tahu apa pentingnya berdandan. Yang belum tahu benar apa artinya cinta yang sesungguhnya.


Lily lalu berjongkok dan menangis keras memegang jantung dengan mulut yang terbuka dalam tangis yang begitu dalam hingga tanpa suara yang terdengar.


***


Betapa ironisnya, kini setelah acara pertunangan itu Jonathan mulai sibuk dengan Bella, mengabaikan Lily yang telah berjuang lama untuk hidupnya. Mengembalikan kepercayaan diri pria itu dan membuatnya bangkit serta meraih kesuksesan.


Kini status Lily adalah sekretaris biasa. Tidak ada lagi panggilan tiba-tiba yang mengharuskan dia datang di suatu acara untuk menemaninya. Jonathan tidak datang lagi untuk menemaninya menonton bola. Serta tidak ada lagi ajakannya untuk makan bersama. Dia telah kehilangan sahabat dan juga impiannya.


Lily mende**h.


Sikapnya kini pada Jonathan tidak lebih dari sikap platonis yang hangat. ( Arti cinta platonis sekarang ini masih memiliki makna yaitu cinta bisa sangat dalam dan intens, serta membentuk beberapa persahabatan terbaik dan terlama dalam hidup)


Setiap kali Lily melihat Jonathan bersama dengan Bella maka hatinya akan terluka lebih dalam.


Jonathan sering kali mengajaknya pergi bersama dengan Bella. Seharusnya dia menolaknya, namun dia mendapati dirinya tertarik ke hubungan mereka seperti serangga yang tertarik ke pada tanaman pemakan serangga (Kantong Semar).


"Bagaimana hubunganmu dengan Bella?" tanya Lily pada Jonathan ketika mereka berjalan di mall sehabis menyelesaikan pertemuan dengan salah satu klien di sebuah restoran.


"Sangat bagus. Aku bahkan ingin membelikan kalung untuknya sebagai hadiah." Jonathan lalu menggenggam tangan Lily mengajaknya masuk ke sebuah toko perhiasan mewah.


Lily melihat ke arah genggaman tangan mereka dan menarik nafas panjang.


"Bagaimana dengan ini?" tanya Jonathan memperlihatkan sebuah kalung dalam etalase.


"Aku tidak yakin Bella akan menyukainya. Itu terlalu besar dan norak. Belilah sesuatu yang sederhana namun indah," Lily melihat ke semua perhiasan di toko, "seperti itu," tunjuk Lily pada sebuah kalung emas dengan liontin berlian biru di tengahnya.

__ADS_1


"Itu memang sangat indah," ucap Jonathan. Dia lalu meminta pada manager toko untuk membawa kalung itu.


"Ini perhiasan dengan model terbaru langsung dibawa dari Italia. Nama kalung ini adalah ocean, melambangkan cinta yang sedalam lautan. Cocok untuk diberikan kepada kekasih Anda, sebagai bentuk cinta Anda yang tidak berbatas," terang manager itu mengira jika Lily adalah kekasih dari Jonathan.


"Aku bu... ." Perkataan Lily terputus ketika Jonathan menepuk bahunya.


"Kau betul ini, kalung ini akan kuberikan pada orang yang sangat kucintai."


"Semoga hubungan kalian akan awet dan langgeng untuk selamanya." Manager itu lantas membungkus kalung itu.


"Aku berencana akan mengadakan lamaran bulan besok dan acara pernikahannya akan diadakan akhir bulan."


"Kenapa mendadak?" tanya Lily. Dia terlihat tidak percaya dengan keputusan Jonathan.


"Aku tahu yang kau rasakan."


Jantung Lily bersedir. Selama ini dia berhati-hati menyembunyikan perasannya. Beharap Jonathan atau siapapun tidak pernah tahu apa yang ada dalam hatinya.


Lily menghela nafas lega. Ternyata Jonathan tidak sepeka itu dengan perasaannya.


Mereka lalu berjalan ke arah kasir dan mulai membayar kalung itu.


"Aku merasa dia adalah wanita yang tepat untuk menemaniku. Dia seperti ditakdirkan untukku."


"Bagaimana Pak Jo bisa merasa demikian?" tanya Lily penasaran dan antusias. Dia menelan Salivanya dengan berat, mencoba terlihat biasa saja.


"Aku tidak tahu, hanya saja aku merasa dia sangat pas untukku. Kau bisa melihatnya kan, jika kami terlihat sempurna saat bersama."


Hanya merasa pas dan sempurna saja. Itulah arti cinta dalam diri Jonathan? Pikir Lily.


Lily mengatup bibirnya rapat dan mengangguk tanda setuju. Memaksakan diri untuk tersenyum walau terlihat kaku.


Lily mengerjapkan bulu matanya pada seorang pria yang memberi hormat ketika mereka keluar dari toko perhiasan itu.

__ADS_1


"Kalau begitu Pak Jo pasti bahagia dengan rencana pernikahan yang akan dilakukan?"


"Lebih daripada bahagia. Aku bahkan tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata." Mata Jonathan nampak bersinar ketika mengatakan hal itu. "Aku sendiri ingin menikah saat ini juga namun kau tahu jika keluarga kami berdua ingin merayakannya dengan besar-besaran. Akan ada banyak kerabat dan relasi yang diundang."


"Saya faham dengan hal itu."


Mereka lalu berjalan keluar dari mall itu.


"Kata Bella kau itu adalah sekretaris yang sempurna." Jonathan bisa melihat raut wajah terkejut dari Lily yang tiba-tiba menatapnya.


"Kau itu selain pandai, juga gesit serta melakukan semua yang aku inginkan. Selama ini dia tidak bisa menemukan sekretaris sepertimu. Dia bahkan memintamu dariku untuk menjadi sekretarisnya sebagai hadiah pernikahan."


"Aku bukan barang," balas Lily menekuk wajahnya.


"Tentu saja kau bukan barang. Lagipula aku tidak akan pernah melepaskanmu dan menggantikan tempatmu dengan yang lain."


"Kenapa? Bukannya Pak Jo bisa mencari sekretaris yang lebih baik dariku?" Jonathan menatap Lily lalu merengkuh bahu wanita itu dengan satu tangan sambil berjalan.


"Mungkin ada banyak wanita yang ingin jadi sekretarisku dan ada banyak sekretaris yang bagus. Namun sekretaris itu seperti istri kedua yang menemani kita ketika diluar rumah. Jika tidak cocok yang ada semua pekerjaan akan berantakan. Jadi mencari sekretaris yang cocok sama seperti mencari istri yang pas dihari. Sedangkan kita sudah lama cocok satu sama lain. Kau selalu tahu apa yang aku inginkan tanpa harus bertanya terlebih dahulu."


Mendengar jawaban Jonathan membuat Lily menghentikan langkahnya dan terdiam.


"Istri kedua?" gumamnya lirih nyaris tidak terdengar. Dia bergidik sendiri mendengar ungkapan itu.


"Hei, kau kenapa?" Jonathan menepuk bahu Lily.


Lily lalu menarik rambutnya ke belakang dan menoleh ke arah Jonathan.


"Aku tidak apa-apa hanya terkejut dengan ungkapan istri kedua."


"Ya, istri kedua karena istri pertama itu, istri sah yang menemani hidup dan menjadi teman ranjang kita."


"Istri kedua itu wanita tanpa status? Kalau begitu setelah kau menikah aku akan mengundurkan diri agar tidak kau anggap aku sebagai istri kedua," ujar Lily melepas tangan Jonathan dari bahunya.

__ADS_1


__ADS_2