My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 47. Mabuk


__ADS_3

Jonathan berjalan melewati kerumunan pria dan wanita yang setengah mabuk dan menari di area klub malam itu. Hari ini dia menemui klien dari luar negeri yang ingin ditemaninya di sana hingga menemui teman tepat untuk berkencan.


Beberapa wanita menggodanya namun Jonathan mengabaikan semua wanita itu. Dia hanya memandangi gelas ditangannya sambil mendengar cerita sahabat lama sekaligus kliennya.


Dia memang idiot, segala sesuatu tentang Lily benar-benar menggoda. Segala sesuatu tentangnya tidak bisa dillepaskan begitu saja. mencintai Lily adalah bagian dari darah dan tulangnya. pikiran mengerikan titik Apakah lele sudah membuatnya tidak bisa tertarik pada wanita lain?


Saat temannya sudah menemukan wanita kencan yang tepat, Jonathan beranjak pergi dari tempat itu, dia berbelok di antara lorong yang sedikit gelap, tempat para wanita dan pria mencari pelampiasan di dalam bilik kamar yang telah disiapkan oleh pemilik klub malam.


Sejenak pikirannya kembali ke momen ketika di dan Lily bersama beberapa waktu lalu. Kala dia mencium bibir hangat Lily dengan keadaan sadar dan wanita itu tidak melawannya. Seharusnya dia melakukan lebih saat itu, namun tidak. Dia tidak menjadikan cinta sebagai alat untuk melampiaskan nafsunya. Cintanya begitu tulus dan suci sehingga tidak ingin ternodai oleh keinginan yang membutakan mata hati dan pikiran.


Dia masih waras dan berusaha agar wanita yang dia cintai tetap terlihat terhormat dimatanya dan mata siapapun.


Saat dia hendak ke luar dari klub itu lewat belakang, dia mendengar suara benda pecah, diikuti suara parau lelaki.


"Astaga dia pasti akan membuat kekacauan," gerutu penjaga klub itu. Jonathan lalu menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang pria mabuk lalu berusaha bangkit dari lantai. Di bawahnya pecahan botol berserakan. Teman wanita di sisinya berjalan mundur. Matanya melihat ke sana kemari. Dia mengambil dompet pria itu lantas berusaha berlari dan bersembunyi.


Perut Jonathan terasa menegang dan melilit ketika mendekat ke arahnya. Dia tidak mungkin salah melihat tubuh besar dan tinggi serta berambut lurus itu. Pria itu berusaha bangkit dengan memegang tembok tapi jatuh lagi.


Jonathan membungkuk dan memegang erat lengan pria itu. "Pesta selesai, Bung!"


"Apa dia temanmu?" tanya seorang penjaga klub.


Albert melotot menatap Jonathan. "Kami teman dan saudara lama."


Alberth mendadak memuntahkan isi perutnya membuat terkejut Jonathan dan penjaga klub.


"Dia pasti sudah minum banyak sampai kondisinya seperti ini," tebak penjaga klub. "Sebaiknya kau bawa dia pulang saja."

__ADS_1


Jonathan agak membenci Albert sekarang. Dia memang tidak terlalu suka pada sepupu Bella namun tidak pernah menyukai Albert karena setahunya dia itu seorang player. Akan tetapi setelah bertemu dengan Lily nampaknya Albert berubah dan dia menghormati keinginan pria itu dan komitmennya untuk berubah. Dia bahkan menemani Lily berjuang di kota ini sehingga menemukan keberhasilannya.


Pria yang bermata nanar yang saat ini limbung di depannya nampak seperti orang yang berbeda.


"Biar aku antar pulang," tawar Jonathan.


"Enak saja pulang ini acara pelepasan bujangku," kata Albert.


"Yup, kau benar tetapi pesta telah selesai."


Jonathan tidak mau repot-repot berdebat, dia mengamit lengan Albar dan menuntun lelaki itu keluar dari samping bangunan agar tidak perlu menyeretnya melewati tengah klub malam.


"Dari dulu aku punya masalah denganmu." ucap Albert tersandung.


Jonathan bergegas untuk menangkap Albert agar tidak jatuh lagi, "Aku masalahmu yang paling kecil."


"Apakah Lily tahu kau ada di klub malam bersama dengan wanita, jika tahu kira-kira apa yang akan dia lakukan?"


Jonatan menimbang-nimbang untuk membawa Albert kemana. Apakah dia akan meletakkannya di depan rumah Bella atau di depan rumah Lily, agar wanita itu tahu. Atau mungkin membawanya pulang ke rumah karena tidak mungkin membawanya ke apartemen pria itu. Dia tidak punya kartu aksesnya.


"Minggir, aku akan ke hotel saja!" seru Albert.


"Aku punya tempat yang lebih bagus." Jonatan tahu jika Albert itu sebenarnya telah mengikuti rehabilitasi ketergantungan dari alkohol tetapi malam ini berbeda. Pria itu nampaknya lepas kendali mulai meracau tidak jelas.


Jonathan membawa Albert ke sebuah sungai. Dia lalu turun dan mengitari mobil. Lalu membuka pintu mobil.


"Apa-apaan ini, bukankah ku bilang turunkan aku di hotel bukannya di tempat seperti ini!"

__ADS_1


Albert lalu di tarik keras untuk turun dari mobil. "Bajingan, mau apa kau?" tanya pria itu. Jonathan tidak menjawab dia langsung mendorong tubuh Albert sehingga terjatuh di danau buatan yang jernih. Dia muncul lagi sambil terbatuk-batuk.


"Kau sinting, mau menenggelamkan aku?" raung Albert. Jonathan lalu menenggelamkan kepala Albert lagi.


"Kau mau membunuhku kah?"


"Kalau aku mau menenggelamkan kau sudah kubiarkan kau berenang bersama ikan ikan hingga ke laut."


"Bantu dirimu sendiri dan sadar!"


Mata Albert sudah mulai jernih. Sengatan dingin air danau membuat kesadarannya kembali pulih.


Berbagai umpatan binatang keluar dari bibir Albert.


"Keluarlah, aku harus segera pulang ke rumah. Anakku pasti sudah menungguku di kamar."


"Hei, memang aku peduli."


"Tentu kau harus peduli karena dia adalah keponakanmu," ungkap Jonathan.


"Setahuku Lily sangat membenci pria peminum dan yang suka bermain wanita."


"Lily akan mengerti."


Mendengar jawaban Albert membuat Jonathan tertawa keras. "Kau pikir Lily akan mentoleransi jika melihat kau mabuk bersama wanita lainnya?"


"Dia tunangan ku seharusnya mengerti dan percaya padaku."

__ADS_1


__ADS_2