
"Kau membuat pernikahanku gagal," ujar Albert pada Melati. Anak itu terkekeh.
"Karena aku lebih pintar dari Om Al," tanggap. Melati.
"Lalu kemana aku harus mencari calon istri pengganti Lily?"
Melati mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu."
"Ck... kau harus bertanggung jawab."
"Kalau begitu tunggu aku dewasa baru bisa bertanggung jawab," gurau Melati.
"Kalau begitu Om pasti sudah tua." Albert menekuk wajahnya. Melati tertawa geli.
"Sudah akh, perutku sakit." Melati hendak bangkit untuk bersandar di sandaran tempat tidur. Albert membantunya.
"Aww pelan-pelan, Om. Ini sakit."
"Om sudah hati-hati dan sangat pelan."
"Om itu tampan dan kaya, pasti akan banyak wanita yang datang menggoda, nanti ambil saja satu untuk dibawa pulang ke rumah Kakek.''
"Dasar anak nakal," balas Albert gemas. "Kalau tidak ingat kau sedang sakit pasti akan ku gelitiki sampai kau meminta ampun."
"Om lucu deh kalau sedang begitu, aku jadi tambah Sayang."
"Sayangmu tidak bisa menyembuhkan hati Om yang hancur."
"Poor Om Albert, cucu Kakek yang paling tampan sedang merajuk dan bersedih."
"Bagaimana tidak sedih jika pengantin Om dibawa pergi oleh Ayahmu dan Om tinggal gigit jari melihat mereka yang menikah. Ini semua tidak akan terjadi jika kau tidak mematahkan tanganmu itu... kau memang gadis kecil yang cerdik." Albert melirik ke arah Melati.
"Kalau begitu aku akan carikan wanita baik untuk Om. Bagaimana kalau Tante Sisca dia baik dan cantik serta pandai memasak seperti Tante Lily."
"Ck... nilainya hanya tujuh, cari yang lebih baik lagi."
"Sekretaris Ayah yang baru siapa namanya itu... aku lupa."
"Tidak, jangan berkaitan dengan Ayahmu. Dia dan aku musuh dari dulu."
"Kalau begitu siapa dong, aku tidak punya wanita yang bisa ku rekomendasikan pada Om. Semuanya masih kecil sama seperti aku."
"Om tidak tahu. Pokoknya kau harus bertanggung jawab atas kegagalan ini."
"Ada apa sih? Kenapa anak ibu dan adik Ibu bertengkar?" tanya Bella masuk ke dalam kamar perawatan Melati.
"Om, ga jelas ini," kata Melati.
"Siapa yang nggak jelas." Albert melipat tangan di dada.
"Sudah... sudah... kalian kalau bertemu selalu bertengkar. Al kau itu sudah tua masih suka meledek Melati terus."
"Habisnya anakmu ini menggemaskan." Albert mencubit hidung Melati.
__ADS_1
"Ih... Om menyiksa aku terus, Bu," adu Melati.
"Al katanya kau akan ke Surabaya?" tanya Bella.
"Masih ada waktu tiga jam lagi, perjalanan ke bandara satu jam sampai."
"Kalau tidak macet," lanjut Bella.
"Hmmm. Kau jadi tinggal di sana?"
"Ya, aku akan tinggal di sana bersama Ayah dan Ibu."
"Lalu bagaimana usahamu di sini."
"Ada orang ku yang akan meng-handle nya. Aku akan meneruskan usaha Ayah di sana."
"Ya, sudah. Aku tidak bisa mengatakan apapun. Aku harap kau akan bahagia nantinya."
"Doakan aku secepatnya mendapatkan pengganti Melati eh Lily," ujar Albert melirik Melati. Bella menabok lengan Albert.
"Ngawur!"
"Anakmu bilang katanya mau tanggung jawab nanti."
"Ish... kau itu suka sekali menggoda anak kecil."
"Anak kecil badannya otaknya lebih pintar dadi orang dewasa," gerutu Albert yang sedikit kesal Melati menjadi penyebab gagalnya pernikahannya dengan Lily walau dia sudah merelakannya.
"Tapi sifat jahilnya itu menurun dari sang Ayah."
"Al, kau di sini?" tanya Jonathan yang baru masuk ke ruang perawatan. Dia datang dengan menggandeng tangan Lily.
Lily yang melihat Albert langsung melepaskan pegangan tangannya. Merasa tidak enak dan berusaha menjaga perasaan Albert.
"Hmmm aku harus berpamitan dengan anakmu ini dan memberi pelajaran padanya."
"Pelajaran apa?"
"Karena menggagalkan pernikahanku. Dia penjahat kecil yang imut membuatku tidak tega untuk mencubit nya," ungkap Albert melirik ke arah Melati yang tersenyum nakal.
"Aku akan mencarikan pengantin lainnya untuk menggantikan posisi Tante Lily."
"Aku akan menagih nya sampai kapan pun!"
"Okey, aku siap Om, yang penting Tante Lily akan jadi ibuku."
Bella menggelengkan kepalanya melihat perdebatan putrinya dan Albert yang tidak kunjung usai. Dia bersyukur Albert mau mengalah dan tidak mempersulit keadaan ini. Sepupunya itu melakukan ini karena sayang pada Melati dan tidak tega melihat betapa kerasnya perjuangan Melati mendapatkan Lily.
"Peluk Om dulu, sebelum pergi, karena kau harus mengucapkan terimakasih padaku."
"Jangan kau sentuh putriku!" Jonathan menatap tajam pada Albert.
"Jo, Melati masih kecil lagi pula Al, itu Om-nya kau tidak perlu se posesif itu," kata Bella keberatan dengan sikap Jonathan.
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin Melati terkena polusi Albert," ujar Jonathan sengit.
"Polusi?" Lily mengerutkan dahinya. Albert meringis menatap Lily.
"Ish sudah lah ini antara pria saja yang tahu," ujar Jonathan.
"Sudah sana pergi!" usir Jonathan namun lagi-lagi Albert mencium pipi Melati dan memeluknya sengaja mengerjai Jonathan.
"Kau itu selalu... hmmmm," wajah Jonathan merah padam dia mengambil tissue untuk mengelap bekas bibir Albert di pipi Melati.
Sedangkan Albert berlari menjauh mendekati Lily lalu memeluknya.
"Ini pelukan terakhirku sebelum kau dimiliki olehnya. Selalu ingat ya...." Sebuah kecupan mampir ke pipi Lily lalu Albert melepaskannya.
Bella menggelengkan kepalanya. Tingkah Albert memang jahil, melebihi kejahilan Jonathan. Dia senang sekali meledek dan membuat Jonathan marah dari dulu.
"Al... kau itu...," geram Jonathan. Setelah mencium pipi Lily, Albert berjalan pergi dengan memasukkan kedua tangannya ke saku seperti tidak melakukan kesalahan apapun.
"Sabar, Jo," kata Lily menahan Jonathan mengejar Albert.
"Dia...."
"Kau harusnya sudah berterimakasih pada Albert karena rela berkorban untuk kebahagiaan kalian," ungkap Bella.
"Itu tidak mudah, melepaskan seseorang yang kau cintai," imbuh Lily.
"Kalian menang."
Sebelumnya, Jonathan menemui Albert dan berbicara dari hati ke hati.
"Lily itu wanita yang baik kau jangan menyakitinya, jika kau sakiti dia maka aku pria pertama yang akan mengambilnya darimu."
"Aku akan berusaha untuk membahagiakan nya," balas Jonathan.
"Aku sebenarnya benci mengalah tetapi ini semua demi kebahagiaan keponakanku itu. Aku tidak tega melihatnya menangis dan meminta agar aku melepaskan Lily."
"Kapan Melati melakukan itu?"
"Ketika Bella mengajaknya ke rumah Paman, kami bertemu di sana."
"Aku kira itu hanya keinginan anak kecil yang tidak perlu ditanggapi nyatanya dia tetap berusaha hingga hampir menghilangkan nyawanya. Cinta Melati untuk Lily lebih besar dari cintamu untuk Lily," ungkap Albert.
"Tahu apa kau tentang hatiku!"
"Buktinya Melati berkerja keras untuk mendapatkan Lily dan kau hanya diam saja. Tidak gentleman. Padahal kau dulu adalah perayu ulung wanita."
"Aku tidak ingin menikung kau, karena kau adalah adik kesayangan Bella!"
"Nyatanya kau tetap mengambil Lily."
"Jodoh kita tidak tahu."
"Ya, siapa tahu juga jodohku dekat tetapi belum terbuka. Siapa tahu juga dia belum dewasa atau belum lahir. Atau siapa tahu dia datang besok, kita tidak akan tahu rahasia dan takdir Tuhan."
__ADS_1