My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 43 Perhatian


__ADS_3

Lily menatap ke arah tumpahan muntahan di baju dan sepatunya. Dia lalu menatap ke arah Melati.


"Kau benar-benar sakit, Sayang," ujar Lily. Dia melihat ke arah pelayan yang hanya berdiri di pintu.


"Bagaimana masih mau muntah?" tanya Lily sabar. Melati menggelengkan kepalanya.


"Kalian tolong ambilkan handuk dan air hangat untuk Melati. Lalu bawakan juga sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya seperti minyak kayu putih atau apa saja. Air teh hangat juga. Aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu."


"Oh ya tolong bersihkan ini juga. Serta bawakan seprai dan selimut hangat."


"Sayang, Tante akan membersihkan ini dulu." Lily menunjuk ke arah baju dan sepatunya yang kotor.


Lily lalu ke kamar mandi Melati untuk membersihkan dirinya dengan mengelap noda di pakaiannya serta melepaskan blazer yang terkena muntahan Melati. Dia membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu kembali ke kamar.


Dia mulai membersihkan Melati, mengganti pakaiannya. Satu pelayan membantunya mengganti seprai dan selimut yang kotor.


Setelah memastikan semuanya bersih dan membantu Melati menggunakan pakaian. Lily mulai meminta pelayan menghubungi Dokter rumah ini.


"Apakah harus menghubungi Tuan?"


"Tidak usah, dia sedang ada urusan penting dan tidak bisa diganggu. Melati sakit tetapi sepertinya tidak parah, hanya masuk angin saja tebakku," kata Lily.


Pelayan paruh baya yang memang sudah mengenal Lily lama menganggukkan kepalanya.


"Untung Nona kemari. Jika tidak kami tidak tahu harus berbuat apa." Lily tersenyum menanggapinya. Dia menyuapi Melati dengan teh hangat. "Saya senang Nona kembali ke rumah ini. Kami rindu pada Nona Lily."


"Mbok bisa aja!"


"Memang itu kenyataannya. Kami semua rindu pada Non Lily."


Melati menatap terkejut dengan pernyataan asisten rumah tangga senior di rumahnya. Ternyata mereka sudah mengenal Lily dan dekat dengannya. Berarti sosok Lily adalah tipe yang humble dan mudah berbaur dengan siapapun tanpa kecuali.


"Apa perutmu sudah baikan?"


Melati menganggukkan kepalanya.


"Sini, biar Tante balur punggungnya."


Melati lalu menuruti perintah Lily. Seluruh tubuhnya dipijat dan beri minyak hangat. Melati terdiam sambil menetes air mata.


"Inikah rasanya punya Ibu?" teriaknya dalam hati. Dia lalu mengusap air matanya dengan cepat takut dilihat oleh orang lain. Dia lalu tertidur nyenyak bahkan sebelum dokter datang.


"Bagaimana Dok?" tanya Lily cemas.


"Sudah lebih baik hanya saja dia sedikit demam. Mungkin nanti tubuhnya akan panas jadi kau jangan terkejut. Beri saja obat ini," ucap Dokter Frans. Dokter keluarga Jonathan dari dulu. Dia sudah berumur dan hampir pensiun.

__ADS_1


"Oh, syukurlah. Nanti aku akan menyuruh seseorang untuk membelikan obat ini di apotik."


"Lily boleh kita bicara di luar," ucap Dokter Frans.


"Tentu saja, mari Dok," balas Lily.


Mereka lalu berbincang di depan kamar Melati.


"Aku senang kau kembali lagi kemari."


Lily menatap ke arah Dokter itu. "Dokter orang kesekian yang mengatakan itu. Aku kemari karena Melati yang menghubungiku tadi."


"Berarti dia merasa dekat denganmu," ujar Dokter Frans.


"Kami memang sedang dekat. Dia sering datng ke toko roti milikku."


"Wow... dia sendiri yang datang?"


Lily mengangguk. Dokter Frans mengernyitkan dahi. "Melati itu tipe anak yang tertutup. Dia membatasi dirinya ketika bergaul. Bisa dikatakan dia hanya punya satu atau dua teman saja di sekolah. Jika dia datang padamu dia berarti menyukaimu."


"Apa kau sudah menikah?" tanya Dokter Frans.


"Sebulan lagi."


"Sayang sekali."


"Apa kau tidak melihat jika Melati sangat menyukaimu hingga sering datang ke tokomu untuk apa? Karena dia berharap kau jadi ibunya. Dia juga memanggilmu untuk datang bukan ayahnya. Kenapa? Karena dia merasa dekat denganmu. Aku berharap anak itu tidak akan patah hati ketika melihat kau menikah nantinya. Jika iya maka akan berefek buruk pada kejiwaannya."


Deg! Lily terkejut mendengar kata-kata yang Dokter Frans sampaikan.


"Dari kecil Melati ditinggal pergi ibunya. Dia kenal dengan ibunya tetapi tidak pernah merasakan kasih sayang ibu secara nyata. Setiap anak yang jauh dari ibunya, entah itu karena kematian atau sebab lain pasti mendambakan kehadiran sosok ibu. Sepertinya Melati punya mimpi kau akan jadi Ibunya. Mengapa dia tidak berharap pada Bella, mungkin karena dia telah kecewa pada ibunya. Kini dia punya impian itu Lily. Aku harap kau tidak mengecewakan impian itu. Hubungan itu memang bisa dibuat tetapi tidak setiap hubungan memiliki ikatan hati."


Lily terdiam. Setelah mengantar Dokter Frans kembali dan menyuruh sopir untuk membelikan obat Lily pergi ke dapur. Dia mengecek pelayan masak apa? Karena tidak ada sop daging yang bisa menghangatkan tubuh, Lily mulai memasaknya. Setelah matang dia bawa ke kamar Melati.


"Kau sudah bangun, Sayang?" tanya Lily.


Nampak wajah sembab Melati. Lily yang melihat lalu meletakkan sop itu di meja.


"Kenapa kau menangis?" Lily mendekat ke arah Melati. Anak itu lantas bangkit dan memeluk Lily erat.


"Aku kira Tante pulang dan meninggalkanku sendiri di sini," ucapnya menangis tersedu.


"Tante hanya memasak sop untukmu di bawah tidak kemana-mana."


"Aku takut Tante pulang," kata Melati tersedu.

__ADS_1


"Aku akan menunggumu di sini hingga Ayahmu pulang."


Bukannya menjawab, Melati malah tambah menangis. Lily jadi ikut tersentuh melihatnya. Berpikir apakah yang dikatakan Dokter Frans tadi memang benar? Dia mengusap kepala Melati dengan lembut.


Setelah Melati tenang, Lily mulai menyuapinya sop daging yang hangat.


"Perutmu dingin dan kosong jadi kau perlu makanan yang hangat serta mengenyangkan agar tidak ada hanya terisi oleh angin saja."


Melati mengangguk tersenyum senang.


"Ini enak sekali, Tante pintar memasak. Lebih enak dari masakan Nenek."


"Ish, dari Nenekmu Tante belajar masak."


"Benar lebih enak dari masakan Nenek," ujar Melati makan dengan lahap.


"Non, ini obatnya," kata Pak Karim sopir keluarga ini.


"Terima kasih," ucap Lily menerima bungkusan itu.


"Wah, Non Melati jadi manja karena ada yang memperhatikan."


Melati menjulurkan lidahnya. "Melati jika pada yang tua harus sopan. Walau itu pada pegawai kita."


"Baik Tante," ucap Melati.


"Humm sekarang ada yang memarahi juga. Bapak jadi ikut senang." Ledek Pak Karim yang tahu rahasia Melati dan Neneknya, Aliya.


Melati merasa tegang, dia memberikan isyarat pada Pak Karim untuk tidak membocorkan rahasianya.


Pak Karim memberi tanda dengan gerakan meresleting mulutnya di belakang Lily.


"Kalau begitu saya pergi dulu, Non, semua obat yang ada di dalam sesuai dengan resep Non."


"Terimakasih, Pak."


"Sama-sama, Non."


Pak Karim lalu keluar dari kamar Melati.


"Makannya sudah habis. Sekarang tinggal minum obatnya agar kau tidak demam." Lily mulai membuka segel obat dan memberikan obatnya pada Melati.


"Aku tidak suka dengan obat itu, biasanya Pak dokter akan memberi yang sirup."


"Kau sudah dewasa, jadi mulai minum yang tablet. Tante akan mencampurnya dengan madu agar tidak terlalu pahit, Oke?"

__ADS_1


Belum sempat menjawab sebuah suara mengagetkan mereka.


"Melati kau sakit? Lily kenapa kau ada di sini?"


__ADS_2