
"Jadi itu toko milik Lily, eh Tante Lily?" tanya Melati pada Aliya ketika mereka di dalam mobil di depan halaman toko roti Goreng Win.
"Hmm kau pura-pura membeli roti di sana. Tante Lily kata orang suruhan Nenek sedang ada di dalam melayani pembeli. Kau bisa menyapanya, mungkin bisa mengajaknya mengobrol. Tapi ingat jangan bilang jika kau anak dari Ayahmu, Jonathan. Okey!"
"Okey!" ujar Melati mengacungkan ibu jarinya pada Aliya.
"Sudah sana turun, Nenek akan menunggu di sini."
Melati lantas turun dari mobilnya. Dia memandangi sebuah toko roti yang langsung berdampingan dengan cafe di sebelahnya. Pembeli jadi bisa menikmati roti hangat dengan segelas kopi atau minuman lain di sana.
Dengan langkah yang pelan Melati masuk ke dalam toko itu. Tatapannya langsung tertuju ke arah salah satu wanita yang berdiri di dekat kasir. Senyumnya seakan membuat ruangan nampak terang dan bersinar.
Rambutnya tergerai panjang, bergelombang, dan berwarna cokelat terang tidak seperti Lily dalam foto yang Melati lihat, pendek dan hitam.
Riasannya nampak natural sesuai dengan ekspresi wajahnya yang hangat dan ramah. Dia memakai dress lengan pendek dengan motif bunga warna warni kecil.
Melati yang melihatnya tampak takjub hingga dia sampai di depan Lily.
"Adek Cantik, ingin membeli roti apa?" tanya Lily pada Melati yang hanya terdiam menatap dirinya.
"Dia lebih tertarik padamu dari pada roti di etalase," kata kasir dengan nametag Sani.
Lily tersenyum sambil menautkan alisnya. Dia lalu keluar dari bilik, mendekati Lily.
"Di mana orang tuamu?" tanya Lily melihat ke sekitar.
"Ayahku sedang bekerja dan ibuku pun bekerja."
"Lalu kau sendiri kemari?"
"Bersama Pak Sopir. Aku lapar dan ingin makan roti. Aku melihat toko ini, lalu aku kemari," jawab Melati sesuai dengan arahan dari Aliya tadi.
"Okey. Kau lapar dan kau ingin makan roti?"
"Iya."
"Adakah makanan yang kau hindari? Ada beberapa pelanggan yang tidak mau memakai kacang karena mereka alergi dengan makanan itu."
Lily melambaikan tangannya agar Lily menunduk dan mendekat.
"Aku tidak suka sayur, jangan berikan aku roti yang ada sayurnya."
"Okey, aku mengerti. Kau tidak suka dan lumrah untuk anak kecil."
Lily lalu mengajak Melati untuk melihat ke dalam isi etalase.
"Ini roti isi daging ayam yang dipadukan dengan irisan keju."
"Ini berisi vanilla dan ada taburan kismis di atasnya."
"Atau cake itu... itu sangat lembut, aku membuatnya sesuai dengan resep dari Perancis dan memakai keju Perancis asli."
__ADS_1
"Wow pasti sangat lezat..." ujar Melati menjilat bibirnya sendiri.
"Kau ingin itu. Itu sangat lezat jika dimakan bersama kopi cappucino. Tapi kau masih kecil jadi aku sarankan minuman lainnya mungkin Bery yogurt bark, itu sangat nyummy."
"Aku akan memakan menu yang kau rekomendasikan."
"Kalau begitu kau duduk dulu, biar aku pesankan makanan serta minumannya."
Sepuluh menit kemudian Lily telah datang dengan baki berisi roti dan minuman yang tadi dipesankan.
Dia meletakkan baki itu di depan Melati.
"Kau coba dulu, jika kau tidak suka kau boleh mengembalikan dan tidak usah membayarnya."
"Wah, sungguh?" tanya Melati. Lily mengangguk.
Ternyata orang yang dia kagumi lewat tulisannya itu memang seperti dugaan Melati. Lily nampak ramah dan baik. Dia lalu duduk di depan Melati
Melati mulai mencicipi makanan itu dan Lily menunggu dengan seksama.
"Bagaimana apakah enak?"
"Ini sangat sempurna. Lumer dimulutku."
"Oh, syukurlah ini menu terbaru dari toko roti kami. Kali ini aku yang membuat sendiri jika konsumen mengatakan enak makanan roti ini akan kami produksi lagi."
"Aku jadi bahan percobaan, Tante?'' Melati menekuk wajahnya dengan lucu membuat Lily tertawa.
"Tentu saja boleh," ucap Lily.
"Siapa namamu?"
"Namaku Melati." Menatap Lily dengan seksama lalu tersenyum.
"Melati nama yang indah. Orang tuamu pasti berharap kau akan seputih melati yang bisa mengharumkan namamu dan keluargamu kelak."
"Ya, Ayahku pernah mengatakan itu. Mungkin karena ayah suka bunga warna putih jadi menyamakan ku melati bukan mawar atau anggrek...," ucapnya tertawa sehingga satu gigi taringnya yang sudah copot terlihat.
"Namaku Lily, bunga yang berwarna putih juga."
"Nah mungkin, Ayahku suka dengan Lily jadi terinspirasi memberi nama Melati," ceplos Melati menggigit lidahnya sendiri. Ya Tuhan dia pasti bodoh hampir saja membuka jati dirinya pada Lily.
Lily terpana dengan kata-kata Melati untuk sejenak. Lalu memasukkan helaian surai cokelat rambutnya ke belakang.
Satu wanita mendekat ke arah Lily dan berdiri di sampingnya.
"Ada apa Siska?"
"Bu Lily kita harus ke lokasi tempat diadakannya pesta untuk besok malam. Pak Albert ingin Anda membawa contoh makanan untuk klien yang memesannya."
"Oh ya aku lupa jika hari ini ada jadwal, kita sudah memberi sambelnya minggu lalu namun dia minta lagi," jawab Lily pada Sisca. Dia lalu melihat ke arah Melati.
__ADS_1
"Maaf aku harus pergi. Kau bisa makan sendiri kan?" tanya Lily pada Melati.
Anak itu menganggukkan kepala namun wajahnya menyiratkan kecewa. Dia ingin berbicara dengan Lily lebih banyak lagi.
Lily bangkit. "Kau bisa membayar semuanya di kasir. Atau." Wanita itu lantas memanggil kasir untuk mendekat.
"Biarkan anak ini membayar minumananya, kue itu gratis untukmu."
"Terimakasih, Tante," ucap Melati.
Pelayan yang dipanggil langsung datang dan mengurus pembayaran dengan Melati.
"Aku pesan satu kue ini lagi untuk Ayahku dan tiga roti isi kacang serta cokelat yang ada kismisnya untuk ku bawa pulang. Ini kartu untuk membayar semua makanan yang aku pesan."
"Anak kecil membawa kartu platinum card, pasti dia anak orang kaya sehingga dibebaskan membeli apa sendiri." pikir Lily. Dia bahkan yang sudah punya usaha sendiri belum bisa memilikinya.
Setelah melihat anak buahnya telah melayani Melati dengan baik, Lily lalu beranjak pergi.
"Tante Lily bolehkah aku kemari lagi dan bertemu denganmu?" tanya Melati.
Lily terperanjat sejenak lalu mengangguk. "Jika aku di toko aku akan menemuimu."
Melati turun dari bangkunya dan berlari memeluk pinggang Lily membuat wanita itu terkejut sekali lagi. Dia tidak tahu harus membalas pelukan itu atau tidak. Saling berpandangan dengan Siska.
Melati menengadahkan wajahnya.
"Kalau begitu, aku akan kemari lagi besok dan aku ingin kue itu lagi."
"Baiklah, aku akan menunggumu di sini besok. Tapi aku tidak janji. Itu hanya jika aku ada di toko ini besok."
"Aku pasti akan datang lagi," ujar Melati.
Lily lantas keluar dari toko diikuti oleh Siska.
"Siapa dia? Mengapa dia sangat lengket padamu?"
"Aku biasa dekat dengan anak kecil," jawab Lily.
"Jadi kau tidak mengenalnya? Aku kira dia adalah keponakanmu atau anak dari penggemarmu," celetuk Siska.
"Aku baru bertemu dengan dia hari ini. Dia makan sendiri jadi ku temani."
"Kemana orang tuanya?" Siska berjalan terlebih dahulu.
"Katanya bekerja," ujar Lily membuka pintu mobil.
"Bekerja untuk kebahagiaan anak padahal tanpa sadar membuat anak kesepian."
"Pada dasarnya dia tidak siap untuk menjadi orang tua sehingga melempar tanggung jawab pada orang lain. Aku tidak akan pernah membiarkan anakku sendiri dan kesepian karena lebih mengutamakan pekerjaan."
Lily tidak tahu jika di sebelahnya dia berdiri ada Aliya di dalam mobil.
__ADS_1