
"Aku akan ada kencan dengan Bella," ucap Jonatan dengan bahagia pada Lily.
"Itu bagus, Pak," ujar Lily meletakkan lembar demi lembar kertas yang akan ditandatangani oleh bosnya.
Jonathan menghentikan gerakannya dia nampak berpikir.
"Bagusnya aku beri hadiah apa padanya nanti?" tanyanya.
"Sebuket bunga mawar putih," ujar Lily.
"No... no... itu akan kuberikan ketika aku melamarnya nanti. Berikan aku sesuatu yang berbeda," kata Jonathan.
"Mawar karang Mawar karang berwarna cerah, melambangkan keinginan atau harapan. Mawar karang cocok untuk diberikan kepada orang baru yang hadir dalam kehidupanmu dan kamu ingin mengenalnya lebih dekat," terang Lily.
Jonathan menoleh ke arah Lily.
"Aku baru membacanya di salah satu majalah," terang Lily.
"Kalau begitu kau pesankan." Jonathan lalu mulai meneruskan kegiatannya setelah selesai menandatangi berkas Lily mengambik pena dari tangan Jonathan menancapkannya di wadah pena, merapikan kertas itu yang Jonathan tanda tangani.
"Kopi, Pak?" tanya Lily. Jonathan menganggukkan kepalanya. Lily menyingkirkan semua benda di depan Jonathan lalu mengambil secangkir kopi dan meletakkannya di depan Jonathan. Pria itu lalu menyeruput kopi itu.
"Aku akan keruanganku. Adakah hal lain yang kau inginkan, Pak?" tanya Lily sebelum melangkah pergi.
"Susun rencana program kegiatan yang akan diadakan di hotel menjelang akhir tahun. Kita harus sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Lalu suruh setiap manager hotel yang terkait untuk memberikan laporan mereka tentang keuangan dan jangan lupa suruh para direksi untuk berkumpul besok pagi. Kita akan mengadakan rapat membicarakan masalah promosi untuk meningkatkan jumlah pengunjung hotel kita."
"Baik, Pak." Lily melihat kopi di tangan Jonathan sudah hampir habis. Dia lalu meletakkan berkas yang dia pegang ke meja sofa dan meminta gelas kosong itu. Jonathan menyerahkannya. Lily meletakkan gelas itu keluar dari ruangan lalu beberapa saat dia kembali untuk mengambil berkas tadi.
"Lily kau ikut aku ke apartemen. Aku ingin kau memilihkan baju yang akan kugunakan saat kencan."
Lily menganggukkan kepala. Pergi keluar ruangan. Dia lalu meletakkan berkas itu ke mejanya dan menarik nafas dalam. Duduk dengan lemas dan mulai mengambil telepon, memesan bunga yang akan dibawa oleh Jonathan nanti.
Biasanya dia melakukan semua itu dengan mudah namun kenapa kali ini dia merasa nyeri di dada. Dia harus mengabaikan perasaan ini. Dia cukup tahu diri untuk tidak menaruh perasaan lebih pada pria itu. Status mereka juga berbeda. Walau dia bukan warga miskin tetapi dia bukan kalangan menengah atas yang akan bisa bersanding dengan orang dari keluarga hebat seperti keluarga Jonathan. Tidak akan mungkin bisa.
Lily tersenyum miris. Biarkan saja cintanya ini dia sembunyikan dalam dadanya yang terdalam. Bisa ikut bahagia ketika melihat orang yang dicintai tersenyum bahagia bersama pasangannya, itu baru level tertinggi dalam cinta. Dia akan berusaha untuk ikhlas melakukannya. Harus bisa dan harus kuat.
"Hai, Lily," sapa Ibu Aliya, ibu dari Jonathan.
__ADS_1
"Hallo, Bu," kata Lily langsung berdiri dan membungkuk setengah badan memberi hormat.
"Apakah Jo ada?" tanya Aliya.
"Bapak ada di dalam," balas Lily. Dia lalu keluar dari meja dan mengetuk pintu ruangan Jonathan.
"Masuk," teriak Jonathan.
Lily masuk ke dalam. "Pak ada Ibu Aliya," ujarnya.
Jonathan mengangkat kepalanya, tertegun. "Ibu? Mau apa dia kemari?Apa akan menjodohkan ku dengan anak relasinya lagi? Aku seperti pria yang tidak laku saja," gerutu Jonathan bersungut.
Lily menahan senyumnya. Terakhir kali Jonathan dijodohkan wanita itu pergi dengan pria lain setelah tahu jika Jonathan adalah playboy kelas kakap. Semua itu tidak lain karena ide cemerlang dari Lily yang merencanakan semuanya dengan baik.
"Biarkan Ibu masuk," lanjut Jonathan. Lily membuka pintu ruangan, memberi jalan pada Aliya untuk masuk.
"Kau itu, tega sekali membiarkan ibumu berdiri lama di luar," gerutu Aliya berjalan menuju kursi sofa di bawah jendela besar dalam ruangan itu.
Jonathan bangkit lalu memeluk dan mencium pipi ibunya.
"Apakah ada urusan penting hingga Ibu meluangkan waktu kemari ditengah acara ibu yang padat?"
"Tidak, biasanya ibu sibuk dengan teman sosialita ibu. Keliling dunia," ledek Jonathan duduk di dekat ibunya.
Aliya menabok keras punggung Jonathan. "Kau itu tega sekali mengatakannya. Dasar anak nakal!"
Lily tersenyum lalu dia hendak keluar dari ruangan ketika Ibu Aliya memanggilnya.
"Tunggu Lily. Aku mau mengatakan jika kau diundang ke ulang tahun pernikahanku dan ayah Jonathan."
Lily lalu melihat ke arah Jonathan.
"Kali ini sebagai tamu undangan bukan sekretaris dari bosmu yang kejam ini. Dia tidak boleh membuatmu bekerja di acara pesta itu."
Lily tertawa kecil. Ibu Aliya tahu bagaimana sibuknya Lily mengurus semua hal berkaitan dengan kebutuhan anaknya.
"Kau punya baju untuk ke pesta atau tidak? Jika tidak aku akan mengajakmu pergi berbelanja besok untuk memilih gaun mana yang cocok untukku dan kau nanti bisa memilih gaun mana yang akan kau kenakan."
__ADS_1
"Tidak usah, Bu," kata Lily malu.
"Itu bonus karena kau telah bekerja keras menyingkirkan para wanita murahan dari sisi Jonathan. Anakku ini harusnya mendapatkan istri yang baik dan berkelas. Bukan wanita asal-asalan."
Lily tersenyum kaku mendengarnya.
"Lily banyak pekerjaan mengapa harus ikut ibu belanja?"
"Sesekali biarkan sekretarismu bahagia dengan memperbolehkannya berbelanja bersama Ibu. Kami bisa jalan-jalan dan memanjakan tubuh, nanti."
"Lalu bagaimana denganku?"
"Kau itu cuma ditinggal setengah hari tidak mungkin akan membuat semuanya kacau kan?"
Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lily apakah Jonathan sudah ada wanita baru lagi? Jika ada katakan siapa biar aku bisa menilainya?" tanya Aliya. Lily menatap ke arah Jonathan dan pria itu meletakkan jari telunjuknya di bibir dengan gugup.
"Saat ini belum ada, Bu."
"Kau itu sudah berkepala tiga tetapi belum bisa menemukan wanita yang cocok. Apakah kau perlu bantuan Ibu untuk mencarikannya?"
"Tidak... tidak... terakhir kali kau menjodohkan ku dengan seorang wanita, dia kabur dengan pria lain."
"Ya, kali itu aku salah memilih pasangan."
"Sebenarnya wanita seperti apa yang kau inginkan?" tanya Aliya.
"Yang sehati denganku dan mengerti apa mauku," jawab Jonathan singkat.
"Apakah kau tidak ingin mempunyai wanita yang mencintaimu?"
"Jika kami sehati maka itu artinya kami saling mencintai dan memiliki," terang Jonathan. "Menemukan pasangan yang sehati itu tidak mudah Ibu. Kalau menemukan cinta itu mudah karena cinta bisa pudar dan hilang dengan berjalannya waktu dan masalah yang nanti timbul," terang Jonathan dari sisinya.
"Kalau begitu itu sulit," kata Aliya. "Keinginanku untuk memiliki cucu secepatnya sepertinya akan sulit."
"Doakan saja calon menantu Ibu cepat datang," ujar Jonathan.
__ADS_1
"Jika kau menemukannya kau harus mengenalkan pada Ibu," pinta Aliya.
"Aku bahkan akan langsung meminta Ibu untuk melamarnya."