
Lily berdiri mengamati semua jejeran roti yang ada di etalase. Suasana toko belum begitu ramai karena ini masih berada di jam kerja.
Ibu Intan tadi mengiriminya pesan jika ada yang ingin bertemu dengannya. Dia sangat tertarik dengan roti buatannya. Katanya, Lily juga mengenal orang itu.
Sesekali Lily melihat ke luar toko yang terlihat dari dalam karena tembok dari toko itu dibuat dari kaca di bagian depan dan sampingnya.
Dia melihat sebuah sedan hitam berhenti di depan toko. Jantungnya berdetak dengan cepat tatkala melihat siapa yang keluar dari mobil itu.
"Ya, Tuhan. Bukankah itu Jonathan. Dia masih terlihat tampan. Rambut pendek yang sudah nampak memutih di bagian depannya. Hal itu mengingatkannya akan berapa lama rentang waktu yang telah terlewati. Namun, ada yang tidak berubah cara berjalannya dan dia akan meletakkan kedua tangannya di saku celana.
Wajah itu, mata itu, Lily melihatnya dalam mimpi-mimpimya setiap malam. Jonatan nampak matang dan dewasa. Lily tertawa sambil mengusap air matanya.
Lalu satu orang keluar lagi dari mobil Jonathan. Ibu Aliya. Di pintu belakang nampak terbuka. Lily terkejut melihat siapa anak kecil yang membawa kucingnya itu. Bukankah itu pelanggannya yang beberapa hari ini sering g mampir ke tokonya dan minta untuk ditemani. Melati.
Jantung Lily mengembang hingga terasa menyakitkan. Dia bergegas keluar dari bilik jualan dan berjalan menuju ke pintu. Dia menahan diri.
Jonathan menatapnya ketika mereka telah berhadapan. Matanya nampak merebak. Dia lalu mendekat dan memeluk Lily.
Wanita itu mencoba mencegah dirinya untuk membalas pelukan itu namun lengannya bergerak sendiri. Dia balik memeluk Jonathan dan meletakkan kepalanya dalam dada pria itu. Dia nyaris kehilangan kendali ketika mencium aroma tubuh pria itu, merasakan kembali kehangatannya.
Seharusnya mungkin kini mereka sudah menikah jika dia menuruti ajakan Jonathan tetapi tidak. Dia dengan bodohnya menolak.
__ADS_1
Jonathan melepaskan pelukannya dan melangkah mundur. Apapun yang terjadi dia tidak bisa melepaskan senyumannya.
"Kejutan," ucapnya.
"Ya kejutan," Lily menangis keras bercampur dengan gelak tawa. Jonathan bisa melihat wanita itu menarik nafas dalam, berusaha menenangkan diri.
Lily menoleh dan mengulurkan tangan pada Aliya. "Selamat pagi menjelang siang, Bu. Sudah lama kita tidak berjumpa."
Aliya memeluk Lily dan mengusap punggung wanita itu membuat Lily terkejut menatap ke arah Lily.
"Aku merindukanmu. Bagiku kau itu seperti putriku sendiri," ucapnya yang ikut terharu dengan perjumpaan Jonathan dan Lily. Mereka berdua nampak saling menyayangi tetapi masih menahan diri.
Lily menatap ke arah Melati yang bersembunyi di belakang Jonathan dengan malu-malu.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Jonathan terkejut.
"Kami sudah bertemu beberapa kali. Nama kami diambil dari jenis bunga berwarna putih."
"Aku bilang mungkin Ayah suka dengan bunga warna putih," sela Melati.
Mereka tertawa. Lily menyeka air matanya. Ternyata ungkapan Melati memang punya makna.
__ADS_1
"Kenapa kau jadi melankolis seperti ini?" tanya Jonathan.
"Waktu yang akan merubah semuanya."
"Kau juga nampak berubah. Lebih cantik dan feminim. Rambutmu kau semir dan panjang. Kau juga memakai dress."
Wajah Lily merona merah.
"Tante Lily cantik kan, Yah?" ujar Melati.
Jonathan menganggukkan kepalanya. "Sangat cantik tapi aku rindu dengan Lily yang memakai celana olahraga dan kaos oblongnya."
"Kau bisa saja."
"Ayo masuk ke dalam tokoku," ajak Lily.
"Aku dengar kau pemilik toko ini."
"Ya, ini dibuat dari pesangon yang kau berikan."
"Aku bangga padamu. Namun bukannya kau tidak terlalu suka memasak."
__ADS_1
"Ibu yang mengajariku lalu aku juga belajar ke banyak tempat." Lily menghela nafas. Dia melakukan ini karena teringat akan Jonathan yang sangat suka dengan roti bantal. Dia ingin bisa membuatnya dan berharap semoga suatu saat Jonathan bisa memakan roti miliknya. Entah dia melihatnya atau tidak. Dia ingin mengirimkan cintanya pada pria itu.