My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 44 Malam Gelap


__ADS_3

"Akh! Syukurlah kau sudah pulang."


"Kau disini?" tanya Jonathan lagi seperti tidak percaya jika Lily benar-benar ada di hadapannya.


Gestur tubuh Jonathan malah membuat Lily jadi malu sendiri. Dia memiringkan kepalanya dan tersenyum.


"Anakmu sakit dan kau malah melihat ke arahku saja!" tunjuk Lily pada Melati yang terbaring di ranjang.


Jonathan lalu mengerjapkan mata dan menggelengkan kepala lalu melihat Melati yang menahan geli melihat ekspresi ayahnya.


"Jika melihat Melati sakit itu biasa tetapi jika melihat ada bidadari di kamarku itu luar biasa," goda Jonathan. Lily lalu memukul lengan pria itu.


"Kau kasih bisa bercanda di saat seperti ini. Aku saja tegang melihat keadaan Melati tadi."


"Anak sakit itu sudah hal lumrah yang sering kualami," kata Jonathan meletakkan tas ke atas meja sofa.


"Kita harus tenang dan jangan panik menghadapinya walau rasa cemas itu tetap ada."


Dia lalu mendekati Melati dan meletakkan pergelangan tangan di dahi anak itu. Memeriksa suhunya.


"Cukup hangat."


"Tadi saat aku baru datang, tubuhnya menggigil dan sangat dingin. Dia juga muntah."


"Betul?" tanya Jonathan pada Melati. Anak itu menganggukkan kepala. Dia lalu duduk


"Kenapa kau tidak menelfon Ayah?"


"Ayah sedang sibuk jadi aku menelfon Tante Lily."


Jonathan menatap Lily. "Terima kasih. Mau datang dan mengurus Melati."


"Tidak apa-apa. Aku senang melakukannya."


"Kata Dokter dia mungkin akan sedikit demam nanti," ucap Lily.


"Kau sudah memanggil Dokter juga?"


"Ya, aku memanggil Dokter Frans untuk datang."


Jonathan tersenyum dengan ekpresi yang sulit dijelaskan antara rasa haru dan sedih yang menjadi satu.


"Aku masak sop daging, jika kau mau, aku akan memanaskannya." Dada Lily berdetak cepat. Berada dekat dengan Jonathan seperti mengintimidasi dirinya. Dia merasa gugup, senang dan takut jika rasa yang berusaha dia kubur dalam bangkit kembali. Tetapi sesuatu meletup-letup dalam dada membuat bibirnya ingin menyunggingkan sebuah senyum sedari tadi.

__ADS_1


"Boleh," kata Jonathan melepaskan jas dan menyampirkan di tangan kanan. "Aku akan ke kamar dulu, bersih-bersih."


"Kalau begitu aku akan ke dapur. Kau ingin di bawa ke atas atau mau makan di bawah saja," tawar Lily.


"Terserah padamu." Jonathan lalu keluar kamar membawa tasnya. Lily menatap kepergian Jonathan dengan lekat. Sedangkan Melati menutup mulutnya menahan tawa. Dia senang karena berhasil mendekatkan ayahnya dengan tante Lily.


"Melati, Tante akan ke bawah menyiapkan makan untuk ayahmu," kata Lily. Melati mengangguk dengan wajah sakit.


"Tante aku juga akan ikut turun ke bawah, aku ingin nonton pertandingan sepak bola."


"Kalau begitu pakai jaket dan bawa selimut." Lily membantu Melati setelah itu mereka ke ruang bawah. Lily berada di dapur sedangkan Melati berbaring menonton televisi.


Jonathan turun dengan wajah yang terlihat segar karena baru mandi. Wangi tubuhnya tercium dengan sangat jelas. Sepertinya dia memakai satu botol penuh parfum kali ini.


"Wah sudah main kah?" tanya Jonathan duduk di samping Melati.


"Belum Yah," jawab Melati. "Aku sebenarnya senang jika Messi main di Barcelona tetapi dia malah pindah ke paris Saint-Germain."


"Kan ingin merasakan sesuatu yang berbeda, Sayang," ucap Jonathan.


"Jo, makannya sudah siap," kata Lily yang baru masuk ke ruang tengah.


"Kau sudah makan?"


"Belum. Tante Lily dari tadi hanya menemaniku saja," ungkap Melati.


"Sebaiknya aku pulang saja," tolak Lily.


"Tidak! Kau harus makan dulu. Ayo, sudah lama kita tidak makan bersama sambil menonton bola."


"Jo...," Lily merasa ragu. Tapi Jonathan menarik tangan Lily masuk ke ruang makan.


"Ayo, temani aku untuk kali ini saja besok mungkin kau sudah menjadi milik orang lain dan kita tidak bisa bersama lagi."


Deg! Wajah Lily menegang seketika.


"Jangan terlihat sedih seperti itu, membuat aku susah move on nanti." Jonathan mengatakannya tanpa beban.


Mereka lalu membawa makanan itu ke ruang tengah dan mulai makan bersama. Mereka duduk di bawah dengan santai.


"Makananmu masih sama enak seperti dulu," puji Jonathan. Lily hanya diam memakan hidangan di tangannya.


"Aku juga habis, satu mangkuk besar tadi, Yah." sela Melati.

__ADS_1


"Wow, padahal Melati itu tidak suka sayur jika makan itu harus bertengkar dulu dengan neneknya."


Lily tersenyum canggung.


"Wah, Yah, itu Messi terjatuh."


"Akh...." teriak Melati dan Jonathan.


"Mereka curang!" seru Lily geram.


Melati dan Jonathan saling memandang lalu melihat ke arah Lily. Mereka bertiga lalu tertawa.


"Tante juga suka Messi?" tanya Melati. Mereka lalu berbincang tentang bola sesuatu yang sudah lama Lily tidak lakukan. Dia merasa berbeda sesuatu dalam dirinya yang dia simpan kini muncul kembali. Dia merasakan nyaman dan tepat ketika berada di tengah ayah dan anak itu.


Setelah pertandingan babak pertama, Lily mengambil piring kotor untuk di bawa ke dapur, Jonathan membantu Lily. Dia mulai memberi sabun pada piring itu.


"Biar aku saja," kata Lily.


"Tidak usah, kau sudah memasak tadi," kata Jonathan.


"Sejak kapan kau mulai mencuci piring setahuku kau selalu bersikap seperti seorang bos!"


"Seiring waktu semua orang berubah Lily. Kau juga berubah, gaya rambutmu dulu selalu pendek sekarang panjang dan tergerai dengan indah. Kau juga paling anti dengan rok kini kau memakai rok pendek." Jonathan melihat ke arah rok yang dipakai Lily. Membuat wanita itu canggung, dia mengambil piring yang sudah bersih dari tangan Jonathan dan mengelap nya lalu meletakkan di rak piring.


"Tapi kau sekarang tambah cantik, bukan berarti dulu kau tidak cantik."


Lily terdiam. Jonathan sendiri mengelap tangannya setelah selesai mencuci piring.


Di luar mulai terdengar petir menyambar, suara hujan dan tiupan angin mengikuti. Lalu lampu tiba-tiba mati.


"Akh!" Lily terkejut dengan reflek memeluk Jonathan. Tubuh mereka membeku seketika. Jonathan yang tahu Lily sangat benci dengan gelap membalas pelukan tubuh Lily dengan erat.


"Semua akan baik-baik saja," bisik pria itu di telinga Lily. Detak jantung mereka beradu kencang. Kini yang ada hanya suara nafas mereka yang terdengar.


Tangan Jonathan bergerak ke wajah Lily, menyentuhnya lembut. Lily menatap manik mata Jonathan dengan penuh cinta.


"Jo...."


"Jangan pikirkan apapun," bisik Jonathan. Nafasnya menyapu wajah Lily. Bibir mereka saling menyentuh ketika lampu kembali menyala.


Mata Lily mengerjap, dia menarik tubuhnya menjauh. "Tidak Jo, ini salah."


"Ayah...,kau dimana?" teriak Melati. Lily dan Jonathan lalu berlari ke sumber suara.

__ADS_1


"Aku takut tadi, kalian meninggalkanku." Melati menangis. Jonathan memeluk Melati.


"Ayah tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Jonathan. Lily hendak pergi tapi tangan Jonathan yang satu memegangnya erat.


__ADS_2