
Jonathan menatap Lily dengan lekat. "Ku mohon jangan keluar dari pekerjaan ini. Aku membutuhkanmu."
Ada harapan besar tersirat di dalamnya. Hal itu, membuat nyeri hati Lily. Dadanya terasa sesak dan panas. Ingin sekali dia memeluk Jonathan dan mengeluarkan semua perasaannya yang bersarang di dada. Yang menghimpitnya semakin dalam.
Lily menarik nafas dalam. "Seseorang tidak bisa bergantung dengan orang lain secara terus menerus. Kau bisa mencari pengganti ku dengan mudah. Ada banyak sekretaris handal di perusahaan yang bisa kau angkat menjadi sekretarismu. Kau ingat, dulu aku juga tidak becus bekerja. Kau selalu memaki dan memarahiku. Nyatanya sejalan dengan waktu kita menemukan chemistry dalam hubungan ini. Kita menemukan kecocokan satu sama lain sehingga kita bisa melalui semuanya dengan baik."
Tiba-tiba Jonathan memeluk tubuh Lily yang kecil itu. Lily sendiri terpaku. "Kau lebih dari sekretarisku. Kau itu... aku tidak bisa menjelaskannya. Yang aku tahu, aku sangat membutuhkanmu di sisiku. Tetaplah di sini, membantuku untuk menjalankan perusahaan."
Tangan Lily ingin memeluk balik Jonathan tapi dia tahan. Jonathan hanya membutuhkannya untuk mengerjakan masalah perusahaan saja.
"Lagi pula siapa nanti yang akan menemaniku menonton bola?" tanya Jonathan.
"Ada Bella," jawab Lily serak. Air matanya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Dia segera mengusapnya.
"Dia juga nanti yang akan memilihkanmu pakaian, bahkan memakaikannya sekalian." Lily tertawa garing. Jonathan melepaskan pelukannya menatap Lily.
"Kau menangis," ujar pria itu menyeka air mata Lily.
"Kau yang membuatku menangis."
Mereka lalu terdiam.
"Tidakkah kau pikir jika kita terlalu dekat seperti ini akan membuat calon istrimu cemburu."
__ADS_1
"Bella sudah kuceritakan tentang hubungan kita. Aku tidak ingin salah paham."
"Wanita tidak semudah itu, Pak Jo. Kami adalah makhluk yang rumit yang akan pandai menyembunyikan perasaan kami. Aku sungguh tidak ingin membuat kesalahpahaman dengan calon istrimu jika kita terlihat sangat dekat."
"Itu tidak akan terjadi." Jonathan sangat percaya jika Bella bukan wanita yang cemburuan seperti itu.
Lily sendiri menghela nafas panjang. Dia terkadang melihat bagaimana Bella memandangnya ketika sedang bersama dengan Jonathan dan dia tahu tatapan itu mengindikasikan ketidaksukaannya terhadap hubungannya dengan Jonathan yang sangat dekat. Bella memang tidak mengatakan apapun namun semuanya tersirat dengan jelas.
"Jadi itu sebabnya kau memaksakan diri untuk berhenti dari pekerjaan ini?" tegas Jo lagi.
"Bukan itu. Sudah kukatakan jika aku ingin pulang membuat usaha di kampung dan menikah. Aku ingin merawat anak-anakku dengan tanganku sendiri bukannya menjadi wanita karir yang akan meninggalkan anaknya sepanjang waktu."
"Banyak wanita yang bisa bekerja sambil mengurus anaknya." Jonathan berusaha untuk mengeluarkan pikirannya.
Jonathan lalu tertawa. Dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan mata.
"Keluarlah dari perusahaan saat ada penggantimu," kata Jonathan pada akhirnya walau terasa berat.
"Tunggu, aku ingin tahu seperti apa calon suamimu. Layak atau tidak dia bersamamu, aku tidak ingin kau hidup menderita bersamanya."
"Pak Jo...!" suara Lily terdengar mengerang.
"Calon suamiku adalah orang baik dan kami sebelumnya sudah berhubungan sebelum kau membuatku bekerja selama dua puluh empat jam selama tujuh kali dalam seminggu."
__ADS_1
"Lalu kenapa kalian putus?" Jonathan ingin menggoda Lily karena wanita itu sudah mengeratkan giginya.
"Karena aku tidak pernah membalas chat darinya. Tidak pernah menelfonnya dan komunikasi kami menjadi buruk. Sedangkan kami tidak pernah bertemu lagi setelahnya. Dia di Jepang dan aku di sini bersamamu. Okey. Kau puas!"
"Oh, begitu kalau begitu maaf. Tapi kalian berpisah bukan karena dia telah menemukan wanita lain kan?"
"Andaikata seperti itu aku tidak peduli. Yang jelas dia kembali ke Indonesia dan sudah melamarku pada Ayah. Ayah menerimanya, dan aku harus kembali."
Jonathan memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Lily.
"Apa kau mencintainya?" pertanyaan Jonathan serasa menohok hati Lily. Wanita itu terdiam menatap jauh ke depan.
"Cinta yang telah lama mati bisa ditumbuhkan lagi kan?" tanya Lily balik menoleh, menatap ke arah Jonathan.
"Tidak tahu juga. Mungkin iya, tapi aku dulu mencintai Raina dan ketika kembali bertemu juga masih mencintaiku. Mungkin, nanti begitu perasaanmu." Ada rasa tidak rela dalam diri Jonathan tapi dia mengira jika hanya tidak rela jika Lily pergi dari pekerjaannya.
Mereka lalu terdiam lama larut dalam pikirannya sendiri.
"Kali ini kau akan pergi untuk sementara saja kan? Setelah itu kembali padaku?" cecar Jonathan.
"Aku akan mengambil cuti yang tidak pernah kuambil selama tiga tahun," ujar Lily tersenyum kaku tidak sampai di mata. Dia lalu mulai merapikan kembali pakaian yang akan dia bawa.
"Setelah ayahmu sehat, kembalilah secepatnya." Hati Lily merasa perih mendengar permohonan Jonathan berkali-kali.
__ADS_1