My Hot Boss

My Hot Boss
Bab.27 Mencari Lily


__ADS_3

Setelah membaca buku diary Lily, Aliya terdiam. Dia mulai merenung akan semuanya. Ternyata kebahagiaan dalam rumah tangga itu bukan soal harta dan status tapi lebih kepada kenyamanan. Dia lupa akan hal itu. Dia termasuk orang yang mendorong Jonathan untuk memilih Bella.


Bukan karena Bella wanita yang tidak baik sehingga pernikahan putranya itu hancur. Namun, perpisahan itu terjadi karena banyak perbedaan yang tidak pernah terselesaikan. Bella wanita mandiri yang tidak suka direndahkan sedangkan Jonathan pria yang dominan, tidak pernah mau mengalah. Pertengkaran dan pertengkaran kerap terjadi hingga puncak dari pertengkaran itu adalah perpisahan.


Perkataan Melati bisa jadi benar. Bisa saja Lily sudah bercerai atau menjanda. Dia harus mencari kemungkinan itu walau sedikit. Aliya akhirnya menelfon salah satu orang suruhannya untuk mencari informasi tentang Lily.


Kini dia menunggu informasi dari anak buahnya.


"Kita akan mencari Lily kan, Nek?" bujuk Melati.


"Ya," jawab singkat Aliya. Dia asik memotong sayuran untuk makan malam.


"Kalau Lily itu masih sendiri seperti Ayah apa yang akan kita lakukan?"


Aliya menghela nafasnya dan menghentikan kegiatannya.


"Kita cari informasi terlebih dahulu baru selanjutnya memikirkan apa yang bakal kita lakukan."


"Lalu apa alasanmu mencari Lily? Bukankah kau tidak suka jika Ayahmu didekati wanita?"


"Entah, sepertinya Lily orang yang asik dan menarik. Aku hanya ingin bertemu dengannya."


"Hanya itu?" Aliya menatap Melati.


"Jika dia baik dan sayang padaku, aku ingin dia jadi ibuku." Melati mengatakannya dengan lirih dan lemas.


"Aku juga ingin punya Ibu yang bisa ku pamerkan pada teman-temanku."


"Hanya untuk dipamerkan? Nenek juga keren bisa untuk kau pamerkan," ujar Aliya.


"Bukan seperti itu, Nek. Temanku selalu bercerita tentang ibunya di depan teman yang lain. Mereka yang jalan-jalan dengan ibunya, mereka yang dimasukkan oleh ibunya, ibu mereka yang membantu menyelesaikan PR dan masih banyak lagi. Aku juga ingin punya ibu seperti itu dan melakukan banyak hal dengannya."


"Bukankah Nenek juga melakukan itu semua untukmu."


"Itu beda, Nek. Ibu... Ibu itu berbeda dengan Nenek. Aku... aku ingin seperti anak lainnya yang bisa memeluk dan dipeluk ibunya setiap hari. Apakah itu salah?" Mata Melati mulai merebak.

__ADS_1


Aliya meletakkan pisau di tangannya ke meja lalu memeluk Melati.


"Kau tidak salah. Wajar jika seorang anak butuh seorang ibu didekatnya."


"Mom... tidak mau kembali pada Ayah dan Ayah juga tidak ingin menjemput Mom kembali. Aku... aku marah... aku sedih... aku juga ingin seperti teman-temanku yang punya ibu dan ayah dalam satu rumah bukannya berbeda rumah dan negara. Itu... itu... Nenek tahu... itu membuatku sakit di sini," Melati menunjuk ke dadanya dengan terisak.


"Nenek janji akan mencarikan Ibu yang baik untukmu."


"Aku tidak mau Ibu tiri dalam cerita dongeng. Dia harus sayang padaku bukan ayah saja," ujar Melati.


"Kita akan cari Ibu yang baik untukmu dan dimulai dari Lily."


Melati mengusap air matanya dan mengangguk.


*Satu hal lagi. Kau tidak boleh memanggilnya Lily ketika bertemu dengannya nanti, itu tidak sopan. Panggil dia Tante, Bibi, atau Aunty, Okey"


"Siap!"


"Sekarang cuci mukamu dan bantu Nenek memasak," ujar Aliya. Melati menurut pergi mencuci wajahnya di kamar. Sedangkan Aliya menatap cucunya dengan ekspresi sedih dan nelangsa. Benar apa yang dikatakan cucunya. Sebesar apapun cinta yang diberikan jika tanpa sosok Ibu, itu masih terasa hambar.


Dia duduk di kursi kerja.


"Bagaimana, apa kau sudah dapat informasinya?"


"Wanita yang bernama Lily itu belum menikah, Bu."


Aliya menarik nafas lega. Sebuah senyuman terbit dari bibirnya.


"Mungkin kau salah. Waktu itu dia akan melakukan prosesi pernikahan?"


"Ya, dia memang akan melakukan prosesi pernikahan namun semuanya gagal setelah ada rumor yang beredar."


"Rumor apa?"


"Bahwa dia adalah simpanan dari bosnya di Jakarta."

__ADS_1


"Ya Tuhan, kasihan sekali dia. Tapi tidak mengapa itu bagus. Kalau begitu dia masih sendiri?"


"Lily memang masih sendiri namun kata kerabatnya yang bernama Bayu dia akan menikah dalam waktu dekat ini."


"Menikah kapan?"


"Tidak tahu, hanya saja lamaran sudah dilakukan."


"Aku harus segera kesana kalau begitu."


"Jangan kesini, Bu."


"Kenapa tidak boleh?"


"Karena Lily sudah tidak berada di sini. Ayahnya meninggal setelah pembatalan pernikahan itu. Mereka sekeluarga terpukul, merasa marah serta malu karena hinaan para tetangga. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk berhijrah ke kota. Mereka saat ini tinggal di Jakarta."


"Lily di Jakarta?"


"Ya, Bu. Bayu memberikan alamat Lily padaku di jakarta."


"Jadi selama ini dia dekat dengan kami," gumam Aliya.


"Apa Bu?"


"Tidak, tidak berikan saja alamatnya."


"Baik, Bu."


"Bayaranmu akan aku transfer. Terima kasih atas informasinya. Aku senang mendengar bahwa Lily belum menikah sampai saat ini."


Panggilan lalu dimatikan oleh Aliya.


Sedetik kemudian ada chat yang berisi alamat tempat tinggal Lily.


"Toko Roti Go Win, rupanya dia membuka sebuah toko kue. Aku harus memikirkan cara yang natural untuk mendekatkan Melati dan Lily terlebih dahulu. Baru Jonathan. Aku hanya ingin melihat apakah Lily bisa menyayangi Melati atau tidak, jika tidak lebih baik Jonathan kembali pada Bella saja."

__ADS_1


__ADS_2