My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 60 Tidak Akan Pernah


__ADS_3

Seluruh keluarga sudah pulang setelah Melati pindah ke ruang perawatan. Melati akan dioperasi besok oleh dokter ahli. Malam ini hanya akan diambil tindakan sementara saja sambil melihat kondisi Melati masih stabil atau tidak. (Othornya g terlalu ngerti dengan prosedur RS ya, kalau salah maaf)


Lily duduk di sebelah ranjang Melati dengan gelisah dan tidak enak, merasa jika dia adalah penghalang kebersamaan keluarga yang telah berpisah itu. Sedangkan sisi yang lain Bella. Mereka sama-sama terdiam menemani sang anak. Lily hendak bangkit ketika Bella menatapnya dengan tanda tanya.


"Aku akan pulang dulu," ujar Lily yang merasa tidak enak.


"Bagaimana kalau Melati mencarimu?" Lily mengangkat wajah dan mencoba membaca pikiran Bella.


"Ada kau disini," jawab Lily. Jonathan yang sedang duduk di sofa sambil memeriksa pekerjaannya di laptop mengalihkan pandangannya ke arah kedua wanita itu.


"Tapi dia lebih membutuhkanmu dibanding aku," sanggah Bella. Lily nampak berpikir.


Jonathan gemas dengan suasana ini. Mereka berdua sama-sama menyayangi Lily tetapi saling mengalah. Sangat lucu dan menarik hatinya. Dia tersenyum tipis dan bangkit berjalan mendekati Lily.


Lily menatap ke arah Melati, menarik nafas panjang. Lalu menunduk dan membalik tubuh hendak keluar kamar. Tubuhnya menabrak sesuatu yang keras.


"Jo!'' Jonathan berdiri menjulang tinggi di depannya. Dia menengadahkan wajahnya karena tubuh Jonathan jauh diatas tubuhnya.


" Kau mau kemana?" tanya Jonathan dengan suara tegas.


"Aku...," Lily mencoba mencari jawaban yang tepat dari perkataan Jonathan. Tidak ketemu lalu menurunkan bahunya begitu saja.


"Aku akan pulang sekarang, besok aku ke sini lagi. Lily titip Melati ya!" kata Bella, tidak ingin menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka. Kali ini dia harus mengalah demi Melati. Dia mengambil tas dan handphone yang ada diatas nakas sebelah ranjang Melati.


"Tapi.... " ucap Lily, tetapi diabaikan oleh Bella.


Bella lalu keluar ruangan itu sebelum Lily dan Jonathan mengatakan sesuatu. Dia menghela nafasnya. Berharap semuanya akan baik setelah ini. Mungkin ini adalah keputusan paling benar yang dia ambil dalam hidupnya.


Sedangkan Lily kembali menatap Jonathan, entah mengapa dia menjadi tegang dan gugup seperti ini. Dia menjadi salah tingkah.


"Kau belum minum atau makan sedari tadi."


Lily bahkan lupa dengan dua hal itu tetapi Jonathan memperhatikannya. Tangannya ditarik oleh Jonathan menuju ke sofa, dia mendudukkan Lily di kursi dan menyerahkan sekotak minuman nutrisi.


"Minum ini agar kau sedikit punya tenaga. Aku tidak mau melihatmu juga sakit ketika akan melangsungkan pernikahan."


"Jo...."

__ADS_1


"Aku tidak ingin kau membatalkan pernikahanmu hanya karena permintaan Lily yang aneh."


"Dia anakmu...." Mereka saling beradu pandangan. Jonathan lalu duduk di depan Lily.


"Karena dia anakku, aku tahu bagaimana cara mengatasinya."


Lily memiringkan kepalanya. "Bagaimana?" suara Lily terdengar serak.


"Aku belum tahu, lihat nanti saja." Jonathan memalingkan wajahnya.


"Apa kau ingin kembali pada Bella?" tanya Lily. Jonathan menggelengkan kepala.


"Kami berbeda tidak pernah bisa bersatu, yang ada hanya pertengkaran semata. Melati kemarin pergi karena aku dan Bella yang bertengkar hebat. Jadi itu bukan salahmu, itu salahku yang tidak bisa menguasai keadaan."


Lily bisa melihat wajah tertekan dan lelah Jonathan yang dia tahan dibalik ketegaran yang ingin dia perlihatkan pada semua orang. Seperti Jonathan yang dulu pernah dia temui pertama kalinya.


"Jo... lepaskan saja jika semua terasa berat untukmu." Dorongan dari mana, tangan Lily mengusap lembut pipi Jonathan.


Jonathan terpaku ketika mendengar kata-kata Lily dan sentuhan jarinya yang lembut. Matanya tertutup untuk merasakan kehangatan yang masuk kedalam dadanya.


"Aku takut jika mengeluarkan semuanya karena nantinya aku bisa tidak akan rela jika kehilanganmu," ungkap Jonathan jujur.


"Kau tahu sebabnya kan?" lanjutnya dengan mata berembun.


Seketika Lily bergerak memeluk Jonathan setelah mendengar ungkapan hati pria itu.


"Jangan buat ini berat untukku Li, lusa kau akan menikah."


Bukannya melepaskan pelukannya Lily malah semakin erat memeluk leher Jonathan. Meletakkan kepalanya di leher pria itu. Jonathan yang sedari tadi menahan diri lantas memeluk balik Lily membenamkan dirinya di ceruk leher wanita itu dan menghirup aroma wangi tubuhnya dalam.


"Aku rindu kau, Li, sangat rindu."


"Aku juga merindukan kebersamaan kita, pertengkaran kita dan juga mulut cabaimu kalau sedang mengomel."


Mereka sejenak larut dalam pelukan itu. Mencari ketenangan di dalamnya. Jonathan merenggangkan pelukan itu menatap kedua mata Lily. "Aku mencintaimu, Li. Maukah kau menikah denganku? Jangan jawab, aku takut kau akan menjawab tidak."


Mata lily berkedip, mendadak sebuah ciuman mampir di bibirnya. ********** pelan dan menggoda. Kedua tangan Jonathan masih memeluk pinggang Lily erat.

__ADS_1


Lily memejamkan matanya mencoba mencari tahu apa yang dia inginkan. Tetap bersama Albert atau memilih Jonathan.


Ketika Jonathan putus asa karena Lily tidak membalas ciumannya, dia melepaskannya. Namun, di saat itu malah Lily yang tidak rela jika Jonathan melepaskannya.


"Kali ini jangan kau lepaskan diriku," ucap Lily dibibir Jonathan.


"Tidak akan pernah," jawab Jonathan menyambar bibir Lily dengan rakus, memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut wanita itu. Satu tangannya naik ke belakang kepala Lily menekannya untuk memperdalam ciuman itu. Satu tangan yang lain naik turun membelai punggung Lily dengan lembut.


Tanpa sengaja Lily melihat ke arah tempat tidur Melati. Dia melihat mata Melati yang terbuka dan menatap ke arah mereka berdua.


Lily langsung mendorong tubuh Jonathan menjauh membuat pria itu terkejut.


Mata Lily memberi kode ke arah Melati. Jonathan menoleh dan mereka berdua tertawa.


"Apakah aku harus sakit dulu baru kalian bisa bersama?" tanya Melati dengan wajah ditekuk.


Lily menarik diri dari tubuh Jonathan dan merapikan bajunya. Wajahnya merah padam. Sedangkan Jonathan langsung bangkit dan berjalan mendekat ke arah Melati.


"Kau sudah sadar?"


"Dari tadi dan melihat kalian berbicara tidak jelas." Jonathan menaikkan kedua alisnya menoleh ke arah Lily.


"Aww sakit Ayah," seru Melati.


"Sstss, kau jangan bergerak. Tulang tanganmu patah sedangkan tulang kakimu retak."


"Ya, Tuhan. Ini sakit Ayah." Mata Melati berair.


"Makanya kalau pergi pamit dan harus hati-hati, " ujar Jonathan tetapi tidak tega melihat keadaan anaknya.


"Kalau aku tidak begitu Ayah dan Tante tidak akan pernah bersama," ungkap Melati menangis keras.


Jonathan memeluk Melati, Lily sendiri duduk di ujung pinggir ranjang, mengusap lembut kaki Melati yang tidak patah.


"Kau memang anak Ayah yang hebat."


Mereka menangis dalam tawa.

__ADS_1


__ADS_2