My Hot Boss

My Hot Boss
Bab 36. Kejutan Indah


__ADS_3

Lily pergi ke sebuah restoran, Sisca mengatakan jika ada klien yang ingin bertemu dengannya. Dia memasuki ruang depan Hoki Restoran. Mencari pria yang akan menemuinya. Katanya dia adalah seorang klien besar, jika dia mendapatkannya, maka dia akan akan beruntung.


Dia berusaha tidak gugup, menunggu klaim misteriusnya. ia memandang sekeliling ruangan mengagumi karya-karya seni yang dipajang, sketsa sketsa karya seni orang lokal.


Ruangan ditata dengan lapang, meja-meja mengelilingi lantai dansa kecil di sebelah piano. menunya ditulis tangan dengan huruf ala Eropa, tampak menggiurkan dan menawarkan makanan lokal asli wilayah ini, tentunya ikan dan daging segar. Ini tempat yang didatangi orang untuk merayakan sesuatu, memanjakan diri, atau mendapat kejutan.


Setelah satu jam menunggu Lily mulai merasa bosan lalu merogoh tasnya. Tiba-tiba sebuah bayangan menimpanya.


"Mau pergi?"


Kepala Lili langsung tersentak dia menoleh ke belakang.


Pria itu tersenyum, "Sama sepertimu bertemu dengan klien."


"Jangan bilang kalau Siska yang merencanakan ini."


"Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu jadi aku memintanya membuat jadwal untuk kita berdua Anggap saja kau sedang bertemu dengan seorang rekan bisnis."


"Kau memang selalu penuh dengan kejutan." Lily tertawa kecil sedangkan Albert duduk berhadapan dengan wanita itu dengan wajah penuh kemenangan karena berhasil merencanakan semuanya.


Makanan yang di sajikan ada beberapa macam, nafsu makan Alberth memang hebat,dia bisa memakan beberapa porsi makanan yang berbeda. Pemain piano mengalunkan lagu lagu pelan yang lembut, mengalir melewati alam sadar seperti daun di aliran sungai nada-nada yang terdengar langsung terlupakan.

__ADS_1


"Apakah perutmu tidak merasa sakit?" tanya Lily.


"Makanan ada untuk dinikmati bukan untuk dilihat."


"Sebaiknya kau makan lebih banyak sayuran dari pada makanan berkolesterol seperti ini."


"Kau lihat tubuhku tetap ideal karena rutinitas padatku selain itu, aku rajin berolahraga setiap hari.


"Terserah padamu saja," ujar Lily meneruskan makannya. Alberth memegang lengan Lily lalu mengecup pipinya. Wajah Lily merebak merah. Dia tersenyum canggung. Ini ditempat umum tetapi Alberth tidak pernah tidak memperlihatkan sisi romantisnya di setiap momen.


Albert merogoh ke dalam jasnya. Mengambil sebuah kotak persegi panjang kecil.


"Kau curang. tidak mengatakan kita akan bertemu, jika tidak aku akan menyiapkan hadiah khusus untukmu juga," ujar Lily


Dengan semangat Lili merobek pembungkusnya dan membuka kotak itu.


"Wow, Albert ini sangat indah sekali," serunya. dia mengeluarkan untaian mutiara yang memancarkan cahaya kilau kebiruan diterpa Sinar lampu. di tengahnya terdapat liontin berlian, seolah bersinar padanya.


"Semoga kau suka," ujar Albert.Lily lalu menyerahkan kalung itu pada Alberth agar pria itu membantu memasangkannya.


Albert berdiri di belakang Lily memasangkannya ke leher jenjang wanita itu. Liontin itu melekat tepat di lekuk leher Lily.

__ADS_1


"Ini sebenarnya terlalu berlebihan."


"Tidak ada yang berlebihan untukmu. Senyummu adalah hadiah untukku," ungkap Albert berbisik di belakang telinga Lily lalu mengecupnya.


Lily menoleh lalu tersenyum dia mengecup pipi Albert. "Terima kasih."


"Hanya itu," goda Albert.


"Ini tempat umum." Wajah Lily memerah melihat ke sekeliling ruangan, semua orang terlihat yang menatap ke arah mereka.


Alberth lalu tertawa kecil duduk kembali. "Aku akan menagihnya nanti ketika pulang.''


Lily menekuk wajahnya, menunduk memegang liontin yang tersemat di lehernya. "Berlian ini terlalu berlebihan dan sangat indah."


"Itu terlihat indah ketika kau kenakan. Aku membelinya kemarin ketika pergi ke Lombok."


Lily meraih tangan Albert di atas meja. Menggenggamnya. "Terima kasih atas cinta dan perhatian yang selalu kau berikan."


"Itu tidak gratis," ledek Albert. "Sebaiknya kita pulang agar aku bisa menagih pembayarannya."


Mereka lalu keluar dari restauran itu setelah melakukan pembayaran. Sedangkan di balik sudut restoran, sedikit tertutup oleh pohon hias besar, Jonathan duduk, memandangi kepergian mereka.

__ADS_1


Dia menghela nafasnya. "Semoga kau selalu bahagia, Ly," gumamnya pelan.


__ADS_2