
Ini cerita tentang Ayah dan Anak. Jadi cerita mulai bermula dari sini.
tetetetet... jreng... jreng...
"Mom. Tidak bisakah kau pulang akhir bulan ini? Minggu besok aku akan mengambil hasil akhir sekolah dan setelahnya aku libur selama satu bulan penuh. Tahun lalu, aku yang datang kesana, tahun ini Mom yang kemari ya?" pinta Melati ketika melakukan panggilan telepon.
"Maaf, Sayang tidak bisa. Kau tahu... Mom... ," suara dari balik telephon itu terpotong oleh ucapan Melati.
"Mom memang tidak pernah menyayangiku. Mom lebih peduli dengan keluarga Mom di sana. Sudah lupakan aku saja!" Melati melemparkan handphonenya ke sofa.
"Duh... duh ... kenapa lagi Cucu Cantik Oma, kenapa mukanya ditekuk seperti itu?" Aliya duduk mendekati Melati yang menelungkupkan wajahnya ke dalam bantal sofa.
Tubuhnya gemetar dengan suara nafas yang tersengal. Aliya mengusap punggung Melati dengan lembut.
"Ada apa lagi? Bukankah kau biasanya akan senang jika sudah menelfon Mom-mu?"
"Mom tidak mau pulang kemari. Padahal ... sudah se tahun aku tidak melihatnya. Apa Mom tidak menyayangiku dan lebih mementingkan pekerjaannya?" tanya Melati mengangkat wajah sehingga matanya yang basah dan merah jelas terlihat. Aliya hanya bisa memeluk tubuh cucunya itu. Sembari menyeka tetes air mata yang sempat keluar.
Pernikahan Jonathan dan Bella memang tidak berlangsung dengan baik. Banyak perbedaan dan akhirnya Bella memutuskan untuk keluar dari hidup Jonathan dan pergi ke Swiss. Dua tahun ini dia memang sama sekali tidak mengunjungi Melati. Mungkin dia sudah menemukan kehidupannya di sana sehingga berusaha untuk melupakan masa lalu.
"Apakah Daddy akan pulang cepat?" tanya Melati.
Aliya menghela nafasnya. "Kau tahu sendiri jika Daddy-mu itu...."
"Sedang ada rapat dengan klien penting," ucap Aliya dan Melati bersamaan.
"Kalau begitu aku akan tidur di kamar Daddy saja," ujar Melati bangkit dan melangkah dengan malas serta lemas.
"Susumu?" ujar Aliya menyerahkan segelas susu pada Melati.
"Nek... itu terlalu banyak."
"Tidak. Ukurannya sesuai dengan saran dari Dokter. Kau ingin tumbuh tinggi dan besar kan?"
"Tidak harus besar, nanti aku jadi gendut dan tidak cantik lagi."
"Ini tidak akan membuatmu gemuk. Ayo lekas minum ini," Aliya memaksa Melati untuk meminumnya.
"Aku bawa ke kamar," ucap Melati.
__ADS_1
"Tidak, kau akan membuangnya ke toilet jika tidak meminumnya di sini." Melati mengatup bibirnya rapat. Otak kecilnya yang nakal mulai berpikir, menyapukan pandangannya ke seisi ruangan itu. Beruntung ada Bu Onah sedang lewat.
"Kenapa Bi? Apa Kakek sedang mencari Nenek?" teriak Melati. Aliya membalikkan tubuhnya hendak berjalan namun menoleh ke arah Melati.
"Tunggu di sini dan minum susunya sekarang!" ucap Aliya.
Melati menganggukkan kepala dengan wajah patuh. Sewaktu Aliya melangkah maju, Melati mundur satu langkah lalu satu tangannya yang lain memegang bunga dalam vas yang berada dekat dengan jendela.
"Minum Melati," seru Aliya.
"Iya!" ucap anak itu mengangkat bunga itulah dengan cepat lalu menuangkan susu ke dalam vas dan meletakkan bunga itu kembali ke vas.
"Bi Ona tidak bilang jika Kakek sedang memanggil," ujar Aliya kembali mendekat ke arah Melati.
Dia melihat ke arah gelas yang kosong di tangan Melati.
"Bagus, kau menghabiskan susu itu dengan cepat. Tidak kau buangkan?''
"Nenek lihat sendiri aku sedari tadi berdiri di tempat ini, jadi mana mungkin aku membuangnya ke toilet atau wastafel," sanggah Melati.
Aliya menatap curiga dalam satu detik tapi detik kemudian dia tersenyum.
"Katanya kau mau tidur, sana pergilah ini sudah malam," ucap Aliya.
"Kita akan lihat nanti Sayang. Setelah berbicara dengan Ayahmu."
"Ayah selalu tidak punya waktu untuk berlibur."
"Kalau begitu pergi dengan Nenek," ujar Aliya.
"Nenek tidak asik, di ajak berlari saja sudah tidak kuat."
Aliya menarik nafas panjang. Berbicara dengan Melati butuh banyak kesabaran.
"Kita pikirkan besok, sekarang tidurlah. Pinggang tua nenek sudah sakit karena terlalu banyak bergerak."
"Nenek sih tidak pernah ikut senam nenek-nenek gaul sehingga terlihat lemah dan tua," kata Melati.
"Eh... anak kecil kau mengatakan nenekmu ini tua dan lemah? Biar nenek pukul pantatmu itu," ujar Aliya mengejar Melati yang sudah berlari terlebih dahulu.
"Kau dan Ayahmu itu sama saja, selalu iseng mengerjai wanita tua ini," seru Aliya di depan kamar Jonathan yang terkunci dari dalam. Melati yang melakukannya.
__ADS_1
"Aww pinggangku... ," rintih Aliya. Kusuma yang sedang lewat hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kau itu masih saja berlari-lari," ucap pria itu.
"Cucumu itu yang selalu mengerjai neneknya."
"Oh, jadi dia cucuku sekarang." Mereka lalu menuju ke kamar.
Dengan pelan Aliya duduk di pinggir tempat tidur, mengambil koyo dan menempelkan di pinggangnya yang sakit.
"Sudah lima tahun Jonathan sendiri namun anak itu belum juga ingin mencari pasangan."
"Mungkin dia ingin kembali kepada Bella."
"Sepertinya tidak."
"Andaikata mereka kembali bersama bukannya bagus?" ujar Kusuma. "Lagipula Bella juga masih belum menikah sampai saat ini."
"Jika mereka mau kembali itu pasti sudah sangat lama. Kenyataannya, hubungan mereka malah semakin jauh. Tahun kemarin saja aku yang mengantarkan Melati menemui Ibunya di Swiss. Jonathan sama sekali tidak ingin bertemu dengannya. Bella sendiri juga tidak ingin kemari untuk sekedar menemui anaknya. Sepertinya, dia enggan untuk bertemu dengan Jo," ucap Aliya lemas.
"Jo, juga seperti ingin melupakan semuanya dengan larut dalam pekerjaan dan mengurus putrinya."
"Dulu, kita sangat ingin agar Jo menikah dan menemukan kebahagiaannya. Namun yang terjadi malah sebaliknya." Aliya menunduk dan menyeka air mata yang sempat keluar.
"Tenang, semua pasti ada jalannya."
"Aku hanya kasihan melihat Melati yang rindu akan hadirnya sosok ibu dalam hidupnya. Bella terlalu angkuh untuk kembali pada Jonathan padahal kita tahu dia sangat mencintai Jonathan. Sedangkan Jo, terlalu keras kepala mengira jika Bella terlalu egois dengan hidupnya dan tidak mau mengerti dengan keinginannya."
Kusuma merengkuh dan memeluk tubuh istrinya.
"Akankah Melati tumbuh besar tanpa kehadiran seorang Ibu disampingnya?" lanjut Aliya menatap sang suami.
"Kita berdoa saja semoga semua ini bisa berakhir dengan bahagia. Jo menemukan pelabuhan hatinya, Melati bisa mendapatkan ibu yang baik yang akan menyayanginya dan Bella entahlah, aku tidak tahu haruskah aku berharap menantu kita itu kembali kemari lagi atau tidak."
"Menemukan wanita lain yang bisa menyayangi Melati dengan tulus itu sulit. Jika hanya untuk mencintai Jonathan itu mudah karena ... ya kau tahu potensi anak kita yang tampan, rupawan dan juga banyak harta akan membuat para wanita untuk datang padanya."
"Ingat! orang yang mencintai dengan tulus itu yang mencintai kekurangannya bukan potensi yang dimilikinya."
"Aku jadi ingat dengan Lily, hanya Lily yang bisa menjinakkan Jonathan."
"Kau pikir anak kita itu binatang?" ungkap Pak Kusuma membuat Aliya tertawa.
__ADS_1
"Memang seperti itu, hanya Lily pawangnya Jo. Sayang anak itu sudah menikah. Dulu ketika Jo pergi menyusul Lily ke desanya kita marah-marah. Kita anggap Jo, gila dengan keinginannya itu. Akhirnya dia kembali dengan tangan hampa karena Lily sudah menikah dengan pria lain. Dia lalu meneruskan rencana pernikahannya dengan Bella. Jika saja Jo dengan Lily mungkin semua ini tidak akan terjadi."
"Jika ceritanya seperti itu maka tidak akan ada Melati diantara kita. Coba syukuri saja yang sudah terjadi dan kita perbaiki hidup kita yang akan datang."