My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 8 Kita Menikah?


__ADS_3

Jonathan dengan semangat memencet bel unit kamar apartemen Bella yang ternyata terletak satu lantai dengannya.


Tidak butuh waktu lama untuk pria itu menunggu. Pintu lekas dibuka. Di depannya nampak penampakan seperti Dewi dalam cerita mitologi kuno. Rambut yang tergerai indah bergelombang dan jatuh lembut di punggung wanita itu. Wajah oval bersinar di balut dengan sapuan make up flawless yang membuat wajah wanita di depannya nampak sempurna.


Kali ini Bella memakai lensa kotak berwarna kelabu membuat netranya terlihat besar di bawah buku panjang, lebat dan lentik yang bergerak seperti ombak di pantai pasir putih.


Bibirnya yang mungil di beri sapuan lipstik berwarna merah menyala, menantang dirinya untuk mencicipi walau ini bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Tubuh Bella yang bak gitar spanyol dibalut oleh dress berwarna merah dengan garis hitam dari tengah dada hingga ke bawah. Tinggi dress itu di atas lutut memperlihatkan kaki jenjang dan langsung yang memukau apalagi ditambah dengan sepatu hak tinggi berwarna senada dengan bajunya memperindah semua yang ada dalam diri Bella.


"Perfek, bagiku kau adalah wanita tercantik yang pernah kutemui."


Bella menutup mulutnya yang sedang tertawa kecil. "Kau itu selalu pandai menggombal tetapi aku tidak pernah bosan dengan rayuanmu itu. Aku menyukainya."


"Sungguh, kalau begitu aku akan melakukannya setiap saat." Wajah Bella merona seketika.


"Apa kau sudah siap?" tanya Jonatan.


"Tunggu sebentar," ucap Bella masuk ke dalam kamar lalu mengambil tasnya.


Jonathan memberikan lengan tangan untuk di peluk Bella. Mereka lalu berjalan beriringan ke tempat tujuan


Satu jam kemudian mereka sampai di restoran bintang lima yang ada di sebuah rooftop hotel milik Jonathan. Mereka memilih duduk di sebuah tenda yang ada di dekat dengan pagar pembatas sehingga pemandangan ke bawah juga seluruh gedung yang ada di sekitarnya bisa mereka lihat dengan jelas. Nampak indah dan cantik. Di tambah lagi dengan hiasan lampu dan bunga-bunga serta tempat lilin perak yang bersinar terkena pantulan sinar cahaya yang ada.


Jonathan menarik kursi untuk Bella lalu mempersilahkan duduk. Bella duduk dengan anggunnya. Jonathan duduk di kursi yang berhadapan dengan Bella.


Seseorang lalu datang membawa buket bunga besar kepada Jonathan yang langsung di serahkan pada Bella.


"Wow, bunga ini cantik sekali."


"Tapi kecantikannya terlihat berkurang ketika disandingkan denganmu." Wajah Bella kembali bersemu merah. Mereka lalu makan bersama diiringi band yang menyajikan musik romantis yang membuat baper siapapun mendengarnya.


"Bella, dari awal bertemu denganmu hatiku ini langsung berdetak dengan keras seolah mengatakan jika kau adalah wanita yang memang tercipta untukku."


"Bohong, terlalu banyak wanita yang dekat denganmu. Aku tahu semuanya."


"Mungkin banyak wanita yang dekat denganku tetapi hanya dirimu yang dapat menggetarkan hatiku. Jika aku boleh meminta hanya kau wanita yang ingin kujadikan istri menemaniku seumur hidup."


"Kau belum mengenalku dan aku juga bekuk mengenalmu dengan baik."


"Kalau begitu beri waktu bagi hubungan ini untuk berkembang ke arah yang lebih baik."

__ADS_1


"Jo... apakah kau selalu seperti ini pada setiap wanita cantik?'' tanya Bella tidak percaya.


"Tidak semuanya hanya dirimu saja. Itupun jika kau tidak keberatan untuk mengatakan ya tapi aku tidak suka penolakan."


Bella mencibir. "Itu namanya pemaksaan."


"Aku tidak memaksa hanya berharap lebih."


"Satu hal Jo. Aku wanita yang pernah patah hati dan aku tidak suka dipermainkan. Aku bukan mencari pria untuk bersenang-senang, aku mau pria yang bersungguh-sungguh berhubungan denganku. Jika kau serius padaku katakan pada Ayahku dan minta pada dia. Apakah dia menerimanya atau tidak?"


"Pasti, aku akan melakukannya tetapi aku butuh kejelasan darimu. Apakah kau menerima perasaanku padamu?"


"Apakah kau mencintaiku Jo?" tanya Bella. Jonathan memegang tangan Bella dan menangkupnya.


"Aku jatuh cinta padamu dari awal aku melihat dirimu. Walau ini terdengar cepat namun itu yang kurasakan."


"Aku pun menyukaimu dari awal kita bertemu kau pria unik dan menarik."


"Apakah itu artinya kita sudah berpacaran?" tanya Jonathan dengan wajah berseri-seri.


"Pacaran itu seperti anak remaja sedangkan kita sudah dewasa."


"Kalau begitu kita menamakan hubungan kita ini apa?"


"Baiklah calon bini," ucap Jonathan.


"Kok Bini?"


"Lebih enak dan memasyarakat," kilah Jonathan.


"Terserah apa mau mu." Bella menggelengkan kepala tersenyum. Jonathan memang orang yang asik diajak berbicara dan tidak membosankan. Dia pandai membawa suasana terasa riang dan ceria.


"Aku punya hadiah spesial untukmu," ucap Jonathan. Pria itu lantas mengambil sebuah kotak perhiasan dari balik celana. Di buka dan diserahkan pada Bella. Nampak, sebuah gelang emas berlian di dalamnya. Bella menutup mulutnya karena takjub akan keindahan itu.


"Ini hadiah untukmu sebagai tanda awal dari hubungan ini."


"Ini indah sekali dan kau... ," Bella tidak bisa mengatakan apapun lagi.


"Apapun akan kuberikan untukmu...," ungkap Jonathan.

__ADS_1


"Terima kasih." Jonathan lalu menyematkan gelang itu ditangan Bella.


Setelah makan malam itu, Jonathan mengantar pulang Lily ke rumah orang tuanya. Pria itu nampak gelisah selama perjalanan. Berkali-kali dia membenarkan pakaian yang dia kenakan. Atau menyeka keringat yang keluar dari dahi. Padahal malam ini terasa dingin belum lagi AC dalam mobil ini juga sudah dinyalakan.


"Kau itu kenapa?" tanya Bella.


"Entahlah membawa seorang anak perempuan pulang kembali ke rumah orang tuanya membuatku gugup."


"Apakah kau pernah melakukan ini sebelumnya?"


"Pernah," jawab Jonathan cepat. "Sewaktu masih SMU dulu. Cinta pertamaku tetapi kami berpisah setelah selesai sekolah dia pun sudah menikah dengan temanku dan hidup bahagia di Jerman."


"Kau pasti sangat patah hati."


"Sangat, dia itu sahabat yang menjadi teman. Dia selalu mengerti dengan diriku dan hatiku."


"Berarti kau mencintainya karena terbiasa."


"Mungkin, tetapi hanya dia yang membekas di hatiku lainnya aku tidak bisa menemukan wanita yang bisa membuatku nyaman dan mengerti aku."


"Aku tidak yakin bisa sepertinya," ucap Bella sedih.


"Aku suka kau apa adanya," Jonathan meremas tangan Bella. Mereka akhirnya sampai di depan rumah Bella dan seorang pria botak dengan perut buncit sudah menunggu di depan pintu utama.


Tampangnya sangat serius ditambah lagi kedua tangannya berada di pinggang yang membuat Jonathan semakin ciut nyalinya. Walau mereka punya hubungan dekat dalam bisnis namun kali ini berhubungan dengan restu dan dia tidak ingin membuat kesan buruk pada pria itu.


"Selamat siang, eh malam Pak," kata Jonathan ketika dia dan Bella mendekat ke arah pria itu.


"Kau... apa yang kau lakukan dengan anakku?" tanya Danuwijaya.


"Lovely, jangan seperti itu pada kekasihku," ujar Bella bergelayut manja pada ayahnya. Danu Wijaya melebarkan matanya yang sipit menatap tajam pada Jonathan.


"Oh, Lovely itu ayah dari Bella," pikir Jonathan tersenyum senang.


***


Sedangkan Lily menunggu kepulangan Jonathan ke apartemennya. Berkali-kali dia melihat ke arah pintu namun pria yang dia tunggu tidak nampak juga.


Rasa kehilangan mulai terasa, kali ini memang Bosnya telah menemukan wanita yang tepat untuk tambatan hatinya. Jonathan hanya sepenggal mimpi indah untuknya yang tidak dapat dia raih.

__ADS_1


Rasa sepi dan sunyi berkelebat dalam hati Lily. Dia memegang handphone di tangannya lalu mengetikan sesuatu.


"Bu, aku siap menikah dengan Rafli." Tulisnya dalam chat.


__ADS_2