My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 17 Keyakinan


__ADS_3

Alberth mengajak saudaranya itu pergi ke ruang santai untuk berbicara. Mereka duduk saling berhadapan di sebuah sofa berbentuk lingkaran.


"Apakah kau yakin tetap akan menikah dengan Jo?" tanya Alberth.


"Kenapa kau mengatakan hal itu?" tanya Bella.


Alberth menarik nafasnya tubuhnya di sandarkan pada sandaran sofa. Lalu menatap sepupunya yang cantik itu.


"Kalian baru saja saling mengenal dan belum tahu kepribadian masing-masing."


"Itu akan bisa diatasi jika ada saling pengertian nantinya. Hingga hari ini kulihat, Jonathan adalah pria yang baik dan tidak banyak menuntut."


"Karena kau belum mengenalnya."


"Mengapa kau mengatakan seperti itu?"


"Naluriku sebagai saudara ingin agar kau hidup dengan bahagia bersama dengan orang yang kau cintai dan mencintaimu. Aku tidak ingin kau salah memilih teman hidup yang akan kau sesali seumur hidupmu."


"Kau lihat, Jo dan aku saling mencintai."


"Itu bukan cinta tetapi rasa tertarik saja," sanggah Albert.


"Al?"


"Kau lihat perhatian Jo pada Lily, itu bukan perhatian biasa antara bos dan bawahannya."


Bella juga bisa merasakannya tetapi dia tetap meyakini diri jika Jonathan memang mencintainya.


"Jo mengatakan jika hanya menganggap Lily sebagai sahabat saja."


"Tidak ada persahabatan yang murni antara wanita dan pria, kau harus tahu itu."


Mereka terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.


Bella pun takut jika itu terjadi. Dia sudah terlanjur jatuh hati dengan Jonathan dan cintanya juga tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, jika hidup mereka dibayangi oleh Lily, dia tidak tahu akan seperti apa nanti jadinya.

__ADS_1


Dia tidak siap untuk melepaskan Jonathan. Dia hanya perlu membuat Jonathan terbiasa bersamanya dan melepaskan diri dari ketergantungannya pada Lily.


"Al, aku mencintai Jo dan dia juga mencintaiku," ucap Bella tidak yakin.


"Itu pilihanmu. Yang penting aku sudah memperingatkanmu akan hal ini. Sebelum semuanya terlambat sebaiknya kau pikir ulang dulu rencana pernikahan ini. Jonathan hanya belum sadar dengan perasaannya saat ini. Itu jika kau mau mendengar masukan dariku." Alberth merentangkan kedua tangannya dan mengangkat bahu.


"Hei, apakah kalian sudah menentukan tema apa untuk pernikahannya?" tanya Ibu Aliya yang masuk ke dalam ruangan itu secara tiba-tiba membuat keduanya terkejut dan saling menatap. Mereka takut jika calon mertua Bella ini mendengar apa yang mereka katakan tadi.


"Seperti yang tadi Ibu bicarakan. Kita pakai adat Jawa dan temanya tentang keraton. Jadi kami akan mengaturnya seperti mengadakan pernikahan di keraton Jogjakarta," terang Alberth.


"Wah, itu bagus sekali."


Mereka lalu membuka-buka dan mencari gambar dekorasi, suasana dan pakaian seperti yang mereka inginkan.


***


Sedangkan Jonathan menjalankan motornya dengan cepat ke Jakarta. Dia melupakan ketakutannya dan trauma akibat kecelakaan yang dulu. Pikirannya hanya berkisar tentang Lily. Apakah wanita itu dalam keadaan baik-baik saja? Apakah uang terjadi sehingga wanita itu pergi tanpa ijin darinya. Setelah tiga tahun bersama baru kali ini Lily berbuat seperti itu.


Jonathan memarkirkan kendaraannya di parkiran basemen bawah tanah apartemen itu. Dia lalu pergi ke arah lift dan masuk ke dalamnya. Memencet lantai di mana Lily berada.


Jonathan memencet bel pintu apartemen Lily namun tidak kunjung dibuka. Dia mencoba membukanya dengan memasukkan nomer sandi. Pintu terbuka, Jonathan masuk ke dalam.


Deg!


Tenggorokannya seperti tercekat. Dia lalu masuk ke dalam kamar. Mengambil tumpukan baju dari tangan Lily.


Lily lalu mengangkat wajahnya dan menatap Jonathan dengan wajah pias. Dia terkejut dengan kedatangan pria itu di apartemennya.


"Ada apa ini? Kau pergi dari rumah tanpa pamit sekarang kau malah ingin pergi dari sini?'' ujar Jonathan marah.


"Aku harus pulang sekarang!" ujar Lily menarik lagi tumpukan baju itu namun Jonathan malah membuang ke samping.


"Kenapa mendadak?" wajahnya yang putih berubah memerah seketika.


"Aku... aku... Ayah sedang sakit dan aku harus pulang sekarang," ujar Lily mengambil kembali pakaian yang berserakan di lantai tapi Jonathan menarik lengannya dengan keras. Sehingga mereka saling berhadapan. Namun, wanita di depannya itu menolak menatapnya.

__ADS_1


"Kau itu kenapa Lily, kenapa sekarang berubah? Kau seperti menghindariku dan soal ayahmu yang sakit seharusnya kau bicara padaku untuk terlebih dahulu. Bukannya pergi tanpa kata seperti itu."


" Pak Jo, aku panik mendengar Ayah sakit. Selama ini aku hanya pulang setahun sekali sehingga tidak pernah melihat keadaannya. Kini mendengar dia sedang sakit membuatku ingin segera pulang."


"Berapa hari kau akan pulang ke sana?"


"Aku tidak tahu Pak Jo, Aku bahkan belum tahu bagaimana keadaannya sekarang."


"Bagaimana kau bisa tidak tahu. Semua hal pasti ada rencananya?" seru Jonathan.


"Tidak semuanya harus sesuai rencana, Pak Jo. Kita tidak bisa mengendalikan takdir hidup," ucap Lily berusaha melepaskan tangan Jonathan di lengannya.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu di perusahaan?"


"Mungkin bisa digantikan oleh asistenku, aku akan memberi tahukan apa yang seharusnya dia kerjakan nanti lewat sambungan telepon."


Jonathan lalu duduk lemas di tempat tidur memegang kepala dengan kedua tangannya.


"Tidak semudah itu Lily. Satu hari saja aku ditinggal olehmu semua pekerjaan kantor menjadi kacau."


"Kau harus terbiasa dengan itu Pak Jo," batin Lily.


"Bagaimana kalau aku akan memberikanmu waktu tiga hari untuk menengok Ayahmu."


"Kau keterlaluan, aku bahkan tidak tahu seberapa serius penyakitnya itu. Saat ini dia sedang opname di rumah sakit. Perjalanan dari sini ke daerahku satu hari. Jika kau memintaku untuk tidak bekerja selama tiga hari maka kau tidak punya perasaan. Kalau begitu aku minta resign sekarang saja!" celetuk Lily. Dia melirik ke arah Jonathan untuk melihat apa reaksinya.


"Tidak... kau tidak boleh resign sebelum ada penggantimu yang benar-benar bisa bekerja sepertimu," ujar Jonathan terkejut.


"Pak Jo, aku tetap akan resign dalam waktu dekat ini karena aku harus menikah."


"Menikah bukan berarti harus berhenti dari pekerjaanmu kan. Kau bisa tetap bekerja bersamaku. Di sini kau sudah bisa hidup mapan karena gajimu itu besar."


Lily lalu duduk di sebelah Jonathan. "Nyatanya aku hanya menyewa apartemen bukan membelinya."


"Aku akan memberikan apartemen atau rumah sebagai hadiah pernikahanmu nanti asal kau tetap bekerja untukku. Aku pun akan menaikkan gajimu agar kau bisa membeli mobil. Sebenarnya kau bisa membeli mobil dengan bayaranmu sekarang namun kau malah enggan untuk membelinya padahal aku yang bayar uang muka."

__ADS_1


Lily tertawa. "Untuk apa aku punya mobil. Kemanapun aku selalu bersamamu. Jika untuk ke kantor saja lebih nyaman memakai taksi online karena tidak perlu menyetir."


Jonathan menatap Lily dengan lekat. "Ku mohon jangan keluar dari pekerjaan ini. Aku membutuhkanmu."


__ADS_2