
"Tante sama seperti lainnya tidak mengerti perasaanku. Aku ingin Tante yang jadi ibuku apakah itu salah?" teriak Melati sepenuh hati. Ibu Lily yang berada di luar sampai datang membuka pintu karena mendengar suara Melati.
Lily terkejut melihat Melati bersikeras menjadikannya seorang Ibu. Dia tidak tahu dan menyangka sebesar itu perasaan Melati untuknya.
"Kau tidak salah, hanya saja terkadang semua tidak berjalan seperti yang kita inginkan." Lily menatap ke arah Melati dengan sendu. "Walau aku sangat mencintaimu.... Aku harap kau mengerti."
Kata terakhir itu terasa mencekat tenggorokannya Lily, dia tidak bisa bernafas setelah mengatakannya. Terasa menyesakkan dada.
"Tante bohong! Tante hanya pura-pura menyayangiku, kau dan ibu sama saja." Melati lantas berlari menerobos kerumunan orang diluar kamar melewati anak tangga sambil menyeka air matanya.
Sejenak Lily tertegun.
"Li, anak itu. Ibu takut terjadi sesuatu dengannya," ujar Ibu Sri. Lily menoleh lalu bangkit dan mengejar Melati.
"Melati, tunggu Tante bicara... Melati jangan pergi ini masih hujan Sayang...," panggil Lily mengejar Melati. Namun anak itu tidak mengindahkan perkataan Lily terus saja berlari menerobos hujan. Keluar dari pintu pagar dan brak!
Tubuh Melati terpental jauh seusai ditabrak oleh sebuah kendaraan bermotor yang melintas.
Lily langsung berlari. Meraih tubuh Melati.
"Sayang, kau harus bertahan," ucap Lily gemetar melihat banyak darah yang keluar membasahi tubuh kecil itu.
"Aku sa-yang Tan...te," ucap Melati tersengal dan patah-patah sebelum menutup mata.
__ADS_1
"Melati...," teriak Lily ketakutan. Dia meraung keras.
Seseorang datang mendekat memeriksa keadaan anak itu.
"Dia masih hidup kita harus segera membawanya ke rumah sakit."
"Mobil... mobil...," teriak semua orang gugup dan panik.
Sisca mendekat dengan mobil yang dia kendarai. "Ayo, Li bawa dia masuk ke dalam cepat, sebelum semua terlambat."
Tubuh Melati dengan pelan di angkat dan dibawa masuk ke mobil. Lily menemaninya duduk di bawah Melati. Mobil mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
"Sayang, kau harus bertahan. Tante tahu kau bisa melakukannya."
"Dia pasti bertahan jika kau katakan kau akan jadi ibunya," timpal Sisca melirik Lily dan Melati dari kaca spion mobil.
Derai air mata membasahi pipi Lily. Dia memeluk pelan Melati dan menciumi wajahnya.
"Dia sangat menyayangi Li," ungkap Sisca ikut terharu terbawa perasaan. Lily hanya bisa mengangguk saja. Dia tidak bisa mengucapkan apapun setelahnya.
Sedangkan di tempat kejadian mobil Jonathan baru saja tiba di depan rumah Lily.
"Saya tidak sengaja melakukannya. Anak itu yang tiba-tiba datang dan berlari cepat ketika menyebrang. Saya kaget, tidak bisa langsung menghentikan kendaraan."
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Jonathan dengan was-was karena pria tadi menyebutkan anak.
"Ini Pak, pria ini menabrak seorang anak kecil."
"Perempuan?"
"Iya, awewe," jawab seseorang.
Deg! Jonathan melihat genangan darah di atas aspal. Wajahnya memucat seketika.
"Jo, bukan Melati kan?" tanya Bella dengan suara cemas dan khawatir, serta menahan tangis. Firasat mereka berdua sudah buruk.
"Melati... Melati...." teriak Jonathan.
"Nak Jo," panggil Sri mendekat.
"Ibu... apa melihat anak perempuan datang ke sini namanya Melati," tanya Jonathan menatap lekat ibu Lily. Ibu Jonathan mengusap lengan Jonathan. Dia lalu menangis.
"Ta... di... dia kemari, dia menangis dan berbicara dengan Lily lalu berlari keluar rumah dan dia...," Ibu Sri gemetar menerangkannya. Dia juga shock dan terkejut melihat insiden ini. Rasa takut menguar dalam diri wanita separuh baya.
"Lily kenapa dengannya?" teriak Jonathan tidak sabar mengoyak tubuh lemah Ibu Sri.
"Dia... tadi tertabrak sepeda motor bapak Ini."
__ADS_1
"Tidak..." teriak Bella histeris menutup mulutnya.
"Lalu sekarang bagaimana keadaannya dan dimana dia?"