My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 7 Resign


__ADS_3

Jonathan mengajak Lily ke apartemennya. Dia meminta Lily memilihkan baju mana yang tepat untuk dikenakannya nanti malam.


Pria itu hanya memakai baju dalaman dan celana boxer yang tertutup oleh handuk dibawah pinggang pria itu. Lily sudah terbiasa melihatnya bahkan sebelum pria itu bisa berjalan dengan normal seperti sekarang ini.


"Kau akan tampan memakai pakaian apapun," ucap Lily kesal karena Jonathan melemparkan baju untuk kelima kali yang dia pilihkan.


"Kau mengatakan itu karena aku bosmu. Tapi dilihat dari sisi manapun aku memang terlihat tampan. Bahkan pemain bola David Beckham itu kalah tampan denganku," ujar Jonathan melihat wajahnya sendiri.


Lily yang mendengarkan hanya bisa memutar bola matanya malas. Dia lalu mengambilkan kemeja biru tua berbahan satin dan dipadu padankan dengan celana dari kain.


"Ini belum pernah kau pakai kan, Bos?"


"Ya, itu Ibu beli dari Jepang beberapa bulan lalu." Jonathan melihat bekas luka jahitan di pelipisnya yang hampir tidak nampak.


"Pakai ini saja Boss, keren," ucap Lily.


"Kemeja?" Pria itu menoleh ke arah Lily.


"Ya, ini terlihat simpel namun elegan dan berkelas." Lily mendekat menyerahkan baju itu. Jonathan lantas langsung memakainya di depan Lily. Dia hendak melepaskan handuk di pinggangnya dan itu membuat Lily histeris.


"Kutu kupret, tidak punya sopan santun, aku ini masih gadis tapi kau ... bla... bla... bla...," berbagai cacian keluar dari mulut wanita itu yang langsung pergi dari kamar sang Boss gila.


Jonathan yang melihat hanya tertawa geli. Mungkin Lily kira dia tidak memakai apa-apa di balik handuknya.


Beberapa saat kemudian Jonathan melihat Lily sedang duduk dengan wajah ditekuk dan terlihat masam.


Pria itu melemparkan tubuhnya duduk di samping Lily membuat wanita itu terkejut.


"Melamun apa? Melamun rudal balistikku?" goda Jonathan di sebelah telinga Lily.


"Ih, Bos, geli tahu....," ucap Lily menjauh dari tubuh Jonathan.


"Memang kau benar-benar masih bersegel?"


Lily menatap kesal pada pria itu.


"Di umurmu ini? Kok bisa? Kenapa? Tidak laku?"


Wajah Lily merah padam karena marah, tangannya seperti mau mencekik Jonathan. Namun, semakin wanita itu naik pitam maka hal itu semakin membuat Jonathan senang.


"Bagaimana aku laku di luar sana jika beberapa tahun hidupku ini selalu dikendalikan olehmu. Aku bahkan tidak diberi waktu untuk mencari teman kencan. Tidak diberi akses untuk mencari seorang kekasih dan nama baikku tercemar karena mereka mengira jika aku simpananmu. Seluruh kantor mengira itu, apa kau senang!''

__ADS_1


"Bukankah itu membuat orang akan berpikir ulang untuk mendekatimu. Mereka yang akan mendekatimu berarti memang yang mencintaimu, tidak peduli seperti apa kau dimana semua orang. Tanpa kau sadari ada seleksi alam yang membuat para pria segan untuk mendekati, dia yang terbaik yang akan mendapatkanmu."


"Maka dari itu, aku harap kau segera menikah agar aku terbebas darimu," ucap Lily.


"Kau selalu mengatakan akan pergi ketika aku menikah?" tanya Jonathan.


"Aku pikir uangku sudah cukup untuk membuat usaha sendiri dan aku juga sudah membeli tanah yang lebar dikampung untuk masa depanku nanti."


"Tidak boleh, kau akan tetap jadi sekretarisku."


"Kau lupa, jika aku wanita Boss. Umurku sudah menginjak usia 27 tahun. Di daerahku usia ini sudah cukup untuk menikah. Jika aku menikah, aku tidak bisa meluangkan banyak waktu keluargaku jika harus tetap bekerja bersamamu."


"Kau boleh mencari asisten untuk membantumu tetapi kau harus tetap berjalan untukku. Semua pekerjaan akan kacau tanpamu."


"Ayah sudah menyuruhku kembali untuk menikah. Dia memberi waktu padaku satu tahun kemarin untuk mencari pasangan, jika tiga bulan lagi aku tidak memperoleh pasangan maka dia akan menjodohkan aku dengan pria pilihannya."


"Ini jaman modern dan kau tetap mau dijodohkan?"


"Kita harus menurut pada orang tua karena mereka selalu memikirkan yang terbaik untuk anaknya."


"Kolot!" dengus Jonathan kesal.


Jonathan seperti tidak terima jika Lily harus resign dari pekerjaannya. Namun, jika itu keputusannya dia tidak bisa mencegah, hanya bisa meminta untuk wanita itu memikirkan ulang rencananya.


Masih ada tiga bulan, jadi masih ada waktu untuk membuat pikiran Lily berubah. Pikir pria itu. Dia lalu merogoh sak belakang celananya. Mengeluarkan sebuah kotak.


"Ini untukmu," ucapnya melemparkan ke pangkuan Lily. Lily membuka mulutnya lebar, dia membuka kotak itu dan melihat ada jam tangan mewah berwarna putih seperti yang dia inginkan.


"Wah... ini benar-benar untukku Boss?" tanya Lily menyentuh jam tangan itu.


"Bukan ini untuk, Bella," jawab Jonathan asal. Wajah Lily langsung ditekuk seketika. Dia menutup kotak itu lagi dan menyerahkannya pada Jonathan.


"Sudah kukatakan untukmu malah kau tanya lagi."


"Kau sangat baik."


"Jika seperti ini baik, tadi saja mengataiku macam-macam."


"Hi... hi .... tidak jadi Boss. Kau memang bos terbaik di dunia ini," ucap Lily mengambik jam tangan itu dan mengenakannya di pergelangan.


"Besok akan ada gosip jika sang sekretaris habis diberi hadiah oleh bosnya. Mereka benar-benar akan mengira kau itu memang simpananku."

__ADS_1


Lily meringis lebar.


"Hidupmu tidak akan bahagia jika selalu mendengar apa kata orang. Mereka tidak tahu hidup kita tetapi menilai kita dari apa yang mereka lihat. Padahal belum tentu benar. Nanti, aku akan melihat calon suamimu. Jika dia baik kau bisa keluar dari perusahaan ini. Jika tidak, kau tetap harus berada di sisiku sampai kau menemukan pasangan yang tepat."


Lily mencebik.


"Aku yang akan mencarikan sendiri pria yang tepat untukmu."


"Mencari wanita untuk diri sendiri saja belum bisa kok mencarikanku jodoh," ujar Lily dengan ekspresi meremehkan.


"Kau lihat, dalam waktu satu Minggu ini, aku pastikan Bella akan menerimaku menjadi calon suaminya."


"Amiin, semoga dia bukan wanita ke seratus sembilan puluh sembilan yang menjadi mantanmu."


"Tidak, dia menjadi wanita terakhir yang akan menemaniku hingga akhir hidup kami."


"Kau sangat yakin jika dia adalah bagian hidupmu."


"Sangat... dari awal bertemu, aku yakin jika dia adalah tulang rusukku yang telah lama kucari."


Lily menatap malas pada Jonathan. Dia lalu mengambil tasnya.


"Sudah hampir petang, sebaiknya aku pulang ke rumahku."


"Apa kau akan sendiri akhir pekan ini?" tanya Jonathan.


"Yang biasa menemaniku itu handphone dan kau saja bos lainnya tidak ada orang yang dekat denganku di kota ini."


"Kalau begitu sepulang kencan aku akan mampir kita nonton bola bareng. Aku juga bosan jika harus sendiri."


"Tidak nonton saja bersama Bella, kan lebih asik sambil main bola beneran." Lily tertawa kencang lalu berlari pergi keluar dari apartemen Jonathan sebelum pria itu menghabisinya.


Sesampainya, di dalam lift dia menghela nafasnya. Hari-hari beratnya dimulai dari sekarang. Dia harus bisa menekan hatinya sendiri untuk bisa menerima semuanya dengan ikhlas.


Sebuah pesan dari orang tuanya masuk ke handphonenya.


"Nduk... ingat, tiga bulan lagi Rafli kembali dari Jepang. Orang tuanya sudah mengatakan akan melamarmu jika dia sudah datang."


Rafli mantan kekasihnya yang pergi merantau ke Jepang untuk bekerja di sana. Dia dan Rafli memang memilih berpisah setelah pacaran LDR yang mereka jalani tidak berhasil.


Mungkin kembalinya Rafli akan membuat bisa membuat Lily melupakan Jonathan. Dia hanya terbiasa hidup dengan Jonathan bukan jatuh cinta padanya. Pikir Lily untuk saat ini.

__ADS_1


__ADS_2