My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 12 Hubungan Lain


__ADS_3

Pada hari Jumat, jam kerja Jonathan, Lily dan Bella berakhir dengan cepat. Mereka sengaja melakukan itu karena orang tua Jonathan menginginkan Bella untuk datang ke rumah mereka. Ibu Aliya juga menyuruh Jonathan untuk membawa Lily agar bisa menemani Bella di sana.


Lily sempat membayangkan jika dia dan Jonathan yang duduk di depan menuju ke rumah calon mertuanya. Kenyataannya, kini dia adalah orang ketiga yang duduk di kursi depan, sebagai sopir dan kedua orang itu duduk di kursi belakang. Berusaha gembira melihat tatapan penuh cinta kedua orang yang ada di depannya.


Dia menghibur diri bahwa semua ini akan berakhir dua bulan lagi. Dia hanya cukup bersabar saja selama itu.


"Kita sudah sampai," seru Lily senang karena seperti keluar dari lubang neraka. Dia berusaha setelah mati agar tidak memperlihatkan kesedihannya. Agar tidak ada seorang pun yang sadar bahwa dia mencintai Jonathan.


Dia hanya perlu menjauhkan diri dari semua orang dan lebih banyak menyendiri atau melakukan pekerjaan yang bisa menjauhkan dia dari pertanyaan-pertanyaan semua orang. Jika itu tidak berhasil maka dia meminta untuk kembali ke rumah lebih awal.


Mobil akhirnya berbelok masuk ke sebuah kediaman yang lebih mirip seperti istana atau hotel berbintang. Melewati halaman rumah yang luas dan berhenti di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu ek yang dikirim langsung dari Amerika.


Ayah dan Ibu Jonathan nampak berdiri menyambut kedatangan mereka. Pasangan itu nampak tersenyum bahagia. Jonathan keluar terlebih dahulu lalu berputar membuka pintu mobil Bella. Sedangkan dia mengarahkan mobil itu ke arah garasi.


Keempat orang itu nampak sedang berbicara dan sesekali tertawa. Lily berjalan ke arah mereka dan ikut bergabung.


"Kau gugup?" bisik Lily pada Bella yang terlihat gugup dan canggung. Bella lalu memegang tangan Lily. Terasa basah dan dingin. Wanita itu lantas menghembuskan nafas pelan dan tersenyum canggung pada Lily.


"Ya, karena ini momen yang penting untukku."


"Tenanglah, Ayah dan Ibu Jonathan orang yang baik." Lily menepuk tangan Bella.


"Aku sudah tiga kali bertemu namun selalu merasa gugup seperti ini. Takut jika melakukan kesalahan."


"Mereka terlihat sangat menyukaimu," balas Lily. Perutnya terasa melilit dengan pernyataannya sendiri.


"Lily, senang sekali melihat kau kemari lagi. Aku tidak melihatmu ketika acara ulang tahun pernikahan kami kemarin tapi Jonathan mengatakan kau datang."


Lily melirik ke arah Jonathan. "Saya datang, hanya saja, saya merasa tidak enak badan jadi pulang lebih awal tanpa menyapa Bapak dan Ibu Kusuma terlebih dahulu. Maaf," ucap Lily.


"Ya, sudah tidak apa-apa yang penting kau sudah baik-baik saja. Aku hanya ingin melihat penampilanmu malam kemarin dengan balutan gaun yang aku pilihkan."

__ADS_1


Lily kembali lagi melirik ke arah Jonathan dan tatapan mereka bertemu.


"Dia terlihat cantik dan berbeda dengan gaun itu, Ibu," sela Bella mencairkan suasana yang kaku.


"Kau juga terlihat cantik, Sayang, dan kau terlihat seperti ratu dalam acara itu. Benar begitu Jo?" Jonathan menganggukkan kepala.


"Sekarang ayo masuk," kata Pak Kusuma berjalan terlebih dahulu.


Aliya memeluk bahu Bella dan Jonathan berdiri di sampingnya. Sedangkan Lily berjalan di belakangnya.


Sakit hati dan rasa kehilangan berkumpul dalam kerongkongannya. Beberapa Minggu ini begitu berat untuknya. Berpura-pura bahagia untuk Jonathan dan melihat Jonathan mencurahkan perhatiannya pada Bella.


Harus Lily akui, jika Jonathan sendiri tidak pernah melakukan itu pada wanita manapun. Mendadak dia luar biasa lelah. Yang dia inginkan hanya merebahkan diri di tempat tidur lalu memeluk guling kesayangan.


Namun yang dia dapatkan hanya perhatian yang ditujukan kepada Bella bukan padanya lagi seperti biasanya.


Belum juga dia masuk ke dalam rumah itu. Sebuah mobil berhenti di rumah itu.


"Albert," pekik Bella ketika melihat sepupu yang paling dekat dengannya. Dia lalu berjalan ke arah Alberth dan memeluknya.


"Kau ada di sini?"


"Aku mewakili Om Danu karena dia sedang pergi ke Swiss untuk suatu pekerjaan."


"Sekalian dia diundang untuk menemani Lily agar tidak kesepian selama berada di sini."


"Apakah kita akan menginap, maksudnya aku harus menginap di sini?" tanya Lily.


"Ya, kami akan membicarakan tentang pernikahan Bella dan Jonathan, aku harap kau mau ikut serta membantu mereka mengurusnya. Albert sendiri adalah pemilik dari WO itu jadi dia akan membantu mereka memilihkan konsep apa yang cocok untuk dipakai dalam acara pernikahan mereka nanti."


Dada Lily mulai terasa sesak lagi. Dia ingin pingsan namun dia harus bertahan dalam himpitan masalah perasaan yang bertubi-tubi menghadangnya.

__ADS_1


"Ayah, Ibu... aku ingin keluar dari neraka ini."


"Wow... Pak Jo tidak memberitahukan hal ini sebelumnya padaku. Aku bahkan tidak membawa baju ganti."


"Itu urusan mudah. Aku punya banyak baju untuk kau kenakan," ujar Ibu Aliya. Lily terjebak dalam masalah pelik dan tidak bisa keluar darinya.


"Hai, Lily. Senang bertemu denganmu lagi," sapa Alberth pada Lily. Mata kelabu pria itu menatapnya lalu menyapukan pandangannya pada penampilan Lily dari bawah hingga pucuk kepalanya. Seperti sedang menilai, menerawang namun agak bingung. Seolah Lily terlihat tidak cocok atau aneh dengan pakaian ini.


"Aku juga bertemu denganmu lagi Albert." Dia tersenyum lebar seolah dirinya dalam mode senang dan baik-baik saja.


"Kau itu seperti penyihir yang menghilang dengan tiba-tiba dalam acara kemarin," celetuk Albert.


"Itu juga yang aku katakan karena tidak melihat Lily di pesta itu."


"Pesta itu sangat luar biasa dan Anda berdua terlihat sangat serasi dan menakjubkan juga masih terlihat mesra," puji Albert pada pasangan Kusuma dan Aliya.


"Ah, Nak Alberth bisa saja, yang terlihat serasi adalah Jonathan dan Bella. Mereka masih muda dan terlihat seperti pasangan yang sempurna."


"Anda benar, Bu Aliya. Mereka bagai dewa-dewi yang bersanding dalam acara itu."


Okey bolehkah Lily merasa mual dan pusing dengan pembicaraan ini. Dia ingin segara mengakhiri nya dan pergi jauh dari tempat itu selamanya. Dia iri dan sakit hati itu ungkapan yang tepat.


"Yang aku syukuri adalah akhirnya Jonathan memilih wanita yang tepat untuknya."


"Ibu terlalu memuji," ujar Bella.


"Memang benar. Jonathan tidak pernah mengenalkan seorang wanita pun kepada kami untuk dibawa pulang kecuali Lily," Aliya tertawa.


"Dia berbeda, Bu." Celetuk Jonathan menjaga perasaan Bella.


"Tidak mungkin kan Bella cemburu pada Lily karena Lily dan Jonathan tidak punya pernah punya hubungan selain hanya hubungan kerja."

__ADS_1


"He... he... itu benar Bu tidak mungkin kami punya hubungan lain," balas Lily.


__ADS_2