
Mereka akhirnya berada dalam satu ruangan. Hanya berdua. Jonathan menyapu kan pandangannya ke seluruh isi ruangan ini. Semua hal di dalamnya berwarna putih yang mengidentikkan dengan Lily sendiri.
Dada mereka sama-sama berdetak tidak karuan. Lily merasa canggung dengan suasana ini. Hal lama yang dia inginkan dan rindukan tetapi ketika itu terjadi yang ada malah kekakuan.
"Silahkan duduk," kata Lily pada Jonathan. Namun pria itu memilih berdiri di depan jendela kaca yang besar memandang jauh ke luar. Kedua tangannya dia simpan di dalam saku baju untuk menyembunyikan kegugupan nya. Jonathan berusaha bersikap tenang dan normal.
"Kau hebat bisa membangun usaha ini daripada nol," ujar Jonathan.
"Ini semua jika bukan karena bantuanmu tidak mungin bisa terealisasikan."
"Aku tidak membantumu apa-apa." Lily menatap punggung lebar Jonathan.
"Kau memberikan pesangon yang cukup banyak, lebih dari biasanya."
"Itu karena dedikasimu selama bekerja padaku. Kau membuatku yang tidak punya harapan bisa menatap masa depan lagi. Jadi uang yang kau peroleh itu tidak seberapa Li."
"Itu semua bukan karena aku. Karena kau memang pria yang hebat."
Jonathan membalikkan tubuhnya.
"Tanpa dirimu apalah aku, Li. Mungkin aku masih tetap duduk di kursi roda dan merutuki nasib burukku," ujar Jonathan tulus dari dalam lubuk hatinya.
Kata-kata pria itu menyentuh hati Lily. Dia menarik nafas gemetar. Jonathan bisa merasakan Lily hampir menangis lagi. Dia masih sangat mengenal Lily untuk tahu itu.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi untukku, Li. Aku tidak sanggup melihatnya." Jonathan menutup matanya sejenak dari balik celananya dia mengepalkan tangan erat menahan diri agar tidak memeluk Lily.
"Aku harap tidak, Tuhan tahu sudah terlalu lama aku menangisimu. Jonathan Kusuma," ucapnya dengan bibir bergetar.
"Sebelum kau pergi aku tidak tahu tentang hatiku sepeninggal kau semuanya terasa salah Sebagian hatiku terasa pergi. Ini menyakitkan dan aku tidak mengatakan semuanya pada siapapun. Perpisahan dengan mu itu menjelaskan bahwa kau teramat berarti bagiku."
"Semua sudah terjadi."
"Aku ingin mengatakannya apa yang aku simpan selama ini dihatiku, Li. Setidaknya itu membuatku lega."
"Setelah aku pulang, aku merasa patah hati dan mengurung diri. Namun, semua rencana pernikahan itu tidak bisa dibatalkan semudah itu. Akhirnya, aku menuruti keinginan orang tuaku untuk menikah dengan Bella."
"Aku pikir kehadiran Bella akan membuatku lupa padamu. Nyatanya semakin aku ingin melupakanmu semakin membuatku teringat semua hal tentang dirimu. Bella bukan kau, dan aku tidak bisa menjadikannya seperti dirimu. Bella sadar itu. Dia tahu jika dia tidak bisa masuk ke dalam hatiku. Rumah yang aku kira akan dibangun dengan pondasi cinta malah menjadi neraka untuk kami hingga akhirnya Bella memutuskan untuk menenangkan diri ke luar negeri. Bukannya dia tenang dan kembali padaku, Bella malah mengirim surat gugatan cerai. Akhirnya perpisahan itu terjadi dan semua karena kesalahanku."
"Semua karena kesalahanku Li. Jika saja aku bisa melihat hatiku lebih awal, aku tidak akan kehilangan dirimu. Atau jika saja aku tidak membandingkanmu dengan Bella, Melati tidak akan kehilangan sosok ibunya."
"Semua sudah terjadi kita hanya bisa menatap dan menata masa depan yang lebih baik," ungkap Lily. Dia sebenarnya ingin memeluk Jonathan tetapi ditahan.
"Lalu bagaimana dengan hidupmu. Bagaimana kau bisa bersama Alberth bukankah kau sebenarnya akan menikah dengan pria pilihan orang tuamu?"
"Semuanya, menyedihkan. Aku tidak bisa menceritakan secara keseluruhan. Intinya mereka mengira aku adalah wanita simpananmu sehingga pernikahan dibatalkan. Ayah meninggal. Aku dan Ibu kembali kemari."
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya Ayahmu. Aku tidak tahu jika aku ikut andil dalam semua masalahmu. Kau pasti sangat terpukul dan terpuruk saat itu?"
__ADS_1
"Tidak ada bisa yang menggambarkan betapa hancurnya aku saat itu, tapi aku harus tetap tegar demi Ibuku," jawab Lily.
"Lily," panggil Jonathan yang turut bersimpati dengan kehidupannya sulit yang pernah dia jalani.
"Tidak apa-apa itu hanya sebuah perjalanan hidup. Itu sudah kulewati."
"Lalu bagaimana kau bisa bersama Alberth?"
"Aku sangat mencintaimu," ungkap lily jujur.
Dia dan Jonathan adalah sahabat dan mereka selalu berbagi perasaan, maka dari itu Lily dan Jonathan tidak canggung mengungkapkan perasaannya.
"Dan itu tidak berhenti begitu saja untuk waktu yang lama." Lily menghentikan ceritanya sejenak. "Butuh waktu untuk sepenuhnya bangkit dari rasa itu. Hingga akhirnya aku dan Alberth bertemu lagi. Dia menemaniku, mengenalkanku pada kliennya sehingga usaha roti dan cateringku bergerak maju, itu membantuku bangkit dari keterpurukan karena aku sibuk dengan bisnis ini. Dia lalu menawarkan hubungan yang lebih serius dari sekedar pertemanan," lanjut Lily mendesah.
"Aku percaya bahwa cinta tidak pernah mati. Namun kau hanya bayangan yang tidak bisa ku gapai jadi aku memutuskan untuk menyimpannya jauh di dalam hatiku. Aku sadar, demi akal sehatku, aku tidak boleh selalu bersedih memikirkanmu, harus mulai menjalani hidup. Lalu aku menerima lamaran Alberth."
"Aku tahu itu Lily dan aku menghargainya. Aku hanya ingin kau tahu satu hal Lily karena aku hanya akan mengatakannya satu kali. Kau harus mengerti sampai saat ini aku masih mencintaimu dan makin membesar rasa itu setiap harinya. Pikiran mungkin kita akan bertemu lagi suatu hari nanti dan mungkin kau akan kembali padaku adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras. Yang membuatku tetap bertahan hidup sampai saat ini adalah kau."
Lily terkesiap, ekspresi wajahnya bercampur antara putus asa dan bahagia. "Aku mengerti tetapi selama ini aku kira kau masih bersama dengan Bella dan aku tidak ingin menjadi pengganggu diantara hubungan kalian berdua. Hal itu membuatku mengubur perasaanku padamu. Tidak ada lagi namamu dalam hatiku."
Jonathan mengernyit berharap tidak ada kepedihan dalam suara Lily bahwa apa yang dia katakan memang benar adanya sehingga dia bisa melepaskan Lily dengan tenang.
"Aku tidak bisa lagi menarik keputusan yang kubuat untuk menikah dengan Alberth hanya karena kau kembali dalam hidupku," ungkap Lily. Seharusnya Jonathan paham dengan itu tetapi mengapa hatinya merasa sakit.
__ADS_1