
"Lily sudah menjadi istri orang," ucap Jonathan pada Melati.
"Lagipula mengapa kau sangat tertarik dengan teman ayah itu?"
"Karena dia pernah jadi bagian dari diri Ayah. Aku jadi ingin kenal dengannya."
"Sudah, jangan bicara lagi tentangnya."
"Kenapa tidak boleh, Yah."
"Ini sudah malam, ayo tidur!" ajak Jonathan memeluk anaknya.
"Ayah... aku belum mengantuk...," kilah Melati. Padahal sedari tadi anak itu sudah menguap dan kelopak matanya pun nampak sudah berat.
Jonathan menepuk tubuh Melati hingga tertidur lelap. Setelah memastikan anak itu tidur. Jonathan kembali lagi bangkit.
Mengambil remot, menonton televisi. Layar besar di depannya menampilkan acara bola. Ingatannya kembali pada saat dia dan Lily bersama. Mereka akan seru berdebat tentang bola. Sama-sama penggemar Messi. Bahkan mereka sampai pergi ke Barcelona untuk menonton pertandingan secara langsung.
"Ini kacangku," ujar Lily ketika terakhir mereka menonton bersama. Dia memeluk bungkus kacangnya dengan erat.
"Ih, kau pelit sekali padahal aku yang membeli."
"Kau datang membawa banyak makanan dan memberikan padaku setelah itu diminta lagi namanya apa?"
"Lily lihat Messi terjatuh," tunjuk Jonathan pada Lily.
"Mana?" Jonathan langsung merebut kacang milik Lily. Mereka akhirnya berebut bersama dan tertawa.
Sedangkan dengan Bella. Semuanya harus serba sempurna.
"Apakah bola dan teman-temanmu lebih menarik daripadaku?" tanya Bella.
"Kau suka merengek dan marah ketika aku menonton bola di rumah sedangkan kau tahu jika aku menyukainya."
"Jo, kita hanya bertemu dan berbicara layaknya suami dan istri saat malam hari. Sedangkan saat itu, kau gunakan untuk menonton bola. Lalu kapan waktu untukku? Kau dulu manis, romantis, dan selalu meluangkan waktu untukku tetapi setelah punya anak kau berubah. Kau sama sekali tidak pernah ada waktu untukku."
"Kau tahu aku...!"
"Aku selalu mencoba mengerti dirimu tetapi kau tidak pernah mencoba mengerti akan diriku. Kita butuh quality time, berdua, bermesraan. Namun waktu terbaik kita kau gunakan untuk pergi bersama temanmu. Nobar atau nongkrong. Pertanyaannya kapan kau punya waktu untukku?"
"Maaf jika itu menyakitimu," ujar Jonathan.
"Selalu kata maaf kau ucapkan ketika kita bertengkar tetapi kau sama sekali tidak ingin memperbaiki diri. Selalu mengulang dan mengulang lagi kesalahan yang sama. Tidak ada wanita yang sabar dengan apa yang kau lakukan!"
__ADS_1
"Aku hanya nobar seminggu sekali dan kau anggap itu setiap hari? Hanya satu hari dalam tujuh hari dan kau anggap itu sebuah kesalahan fatal sedangkan enam hari yang lain aku gunakan untuk kita bersama di malam hari."
"Walau bersama kau pun tetap sibuk dengan bola itu dan membuatku tidur sendiri."
"Aku menonton di sebelahmu setiap malam. Jadi siapa yang tidak mau mengerti pasangannya. Jika kau ingin kita selalu bersama setiap malam kau bisa menemaniku nonton bareng. Di sana juga ada banyak wanitanya walau mayoritas adalah pria."
"Aku sudah lelah dengan rutinitas setiap harimu. Bekerja, mengurus rumah dan anak. Akan buang waktu jika aku melakukannya lebih baik kugunakan untuk istirahat malam. Lagi pula aku tidak suka bola," Bella mengatakan alasannya.
"Aku tahu kau tidak suka dan aku tidak memaksa agar kau menyukainya karena itu aku tidak mengajakmu menonton di rumah atau di luar. Jadi tolong mengertilah hobiku ini. Jika kau tidak suka setidaknya jangan melarang. Toh, aku tidak main wanita atau nongkrong ke klub malam. Aku hanya menonton bola bersama dengan teman saja. Jika kau mau kita bisa menghabiskan waktu dengan pergi bersamaku menonton bola.
"Aku wanita, tidak suka bola."
"Ada banyak wanita yang suka menonton bola. Contohnya Lily, dia selalu menemaniku menonton bola."
Deg! Ini kesekian kalinya Jonathan membandingkannya dengan Lily. Hati Bella terasa sakit dan perih.
"Terserah... aku lelah dengan pertengkaran kita. Yang kuminta hanya perhatian darimu yang lama tidak pernah kau lakukan lagi. Kau bukan Jonathan yang kukenal dulu, yang romantis dan humoris kau berbeda. Kau cepat sekali emosi dan satu hal. Kau selalu membandingkanku dengan Lily aku tidak suka itu."
"Aku tidak membandingkan, hanya mencontohkan wanita yang suka bola."
Tidak ada seorang pun yang mengerti dirinya kecuali Lily. Hanya saja wanita itu sudah bukan lagi miliknya. Salahkah jika dia merindukannya padahal dia sudah punya istri? Jika ini salah maka rindu ini terlarang untuk dia miliki.
Lalu pertengkaran pun terjadi seperti biasanya hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah karena banyak perbedaan yang ada.
"Nenek kenal dengan Lily? Kata ayah dia sekretaris juga teman ayah yang baik."
"Hummm." Aliya asik memotong sayuran di depannya.
"Kok hanya hummm saja?"
"Nenek mengenal baik dengannya. Mengapa kau tanyakan dia?"
"Apakah dia wanita yang baik?"
"Sangat baik. Nenek menyukainya."
"Apakah dulu Ayah dan Lily pernah pacaran?"
"Darimana kau tahu istilah itu."
Melati menatap malas Aliya. Dia membantu neneknya mengupas bawang.
"Anak kecilpun tahu soal pacaran."
__ADS_1
"Nenek lupa ini jaman milenial apa yang tidak mereka ketahui dari internet. Ayahmu dan Lily bukan sepasang kekasih mereka hanya dekat satu sama lainnya."
"Apa Nenek tahu dimana rumah Lily?"
"Sebenarnya kau ini mengapa selalu bertanya tentang Lily? Jujur pada Nenek."
"Sebenarnya... sebenarnya... aku takut jika Nenek tidak bisa menjaga rahasia."
"Anak ini sudah tahu main rahasia-rahasiaan. Memang rahasia apa yang nenek tidak ketahui?"
"Sebelumnya Nenek harus janji dulu jika akan merahasiakan ini dari siapapun. Termasuk Ayah dan Kakek karena ini tentang masalah wanita," terang Lily meyakinkan.
Aliya yang mendengar perkataan cucunya hanya bisa terkejut lalu tersenyum. Dia mengusap kepala cucunya dengan lembut.
"Baiklah, Nenek janji akan merahasiakannya tapi katakan dulu pada Nenek tentang rahasiamu itu."
"Nenek tahu jika ada laci nakas yang selalu Ayah kunci."
Aliya mengangguk.
"Kemarin aku melihatnya terbuka. Aku membukanya dan menemukan buku Diary Lily," bisik Melati.
"Apakah buku yang...," belum sempat Aliya meneruskan Melati sudah menganggukkan kepalanya.
"Nenek boleh baca?"
"Apakah Nenek juga penasaran?" Aliya menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya akan asik mengulik masalalu Ayahmu." Sedikit banyak Aliya tahu jika salah satu pemicu Bella menggugat cerai Jonathan karena anaknya selalu membandingkan Bella dan Lily. Dia tidak sengaja melakukannya tetapi semua hal yang biasa dilakukan oleh Lily terpatri di hati Jonathan.
"Sebelum membaca, Nenek harus berjanji dulu padaku."
"Berjanji apa?"
"Nenek akan mengajakku ke tempat Lily," pinta Melati.
"Aku ingin melihat dan tahu bagaimana sosok wanita yang bisa membuat Ayah bahagia."
"Melati, ini urusan orang dewasa tidak seharusnya kau ikut campur didalamnya. Ayahmu tidak akan suka. Lagipula, Lily sudah menikah sebelum Ayahmu menikah."
"Ayah sudah bercerai dan sendiri, Lily mungkin juga sudah bercerai," ujar Melati.
"Hush! Tidak boleh mendoakan hal buruk pada sesama saudara,"
__ADS_1