My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 38 Bar-bar


__ADS_3

Ini weekend seperti biasanya, Lily akan berjoging di sekitar kompleks rumah kontrakannya. Dia memang belum punya rumah tetap karena semua uangnya dia gunakan untuk modal usaha.


Ketika Hana sedang berlari, dia dikejutkan oleh kerumunan orang yang menyoraki sesuatu.


"Ayo, masa sih, laki kalah ma cewek. Malu dong!"


"Pukul aja terus, Dek."


Lily melambatkan langkahnya dia penasaran dengan kerumunan itu lalu melongok. Matanya membelalak lebar tatkala melihat apa yang ada di depannya. Dia mengucek kedua matanya agar tidak salah lihat.


"Melati!" gumamnya. Dia lalu merangsek masuk ke dalam kerumunan dan menatap Melati yang sedang bertarung dengan seorang anak lelaki yang kelihatannya sebaya.


Lily langsung maju dan menarik tubuh Melati menjauh. Melati memberontak.


"Lepaskan aku!" teriak Melati menoleh kebelakang.


"Tante Lily?" seru Melati.


"Lepaskan aku Tante, aku harus menghajar anak ini dia sudah mengejekku!" teriak Melati.


"Kau anak perempuan tidak boleh berkelahi."


"Kenapa tidak boleh membela diri sendiri!" ucap Melati dengan nada tinggi.


"Tenang dulu," kata Lily melepaskan pegangannya, namun Melati kembali maju dan Lily kembali menarik tangan Melati.

__ADS_1


"Pergi kalian dari sini, jika tidak maka aku akan melaporkan hal ini kepada orang tua kalian!" seru Lily membuat rombongan pria itu pergi membawa anak yang sedang bertengkar dengan Lily.


"Kenapa Tante melepaskan mereka? Padahal mereka telah mengatakan hal buruk tentangku dan ayahku."


"Melati... Melati kau tidak boleh melakukan itu."


"Kenapa? Karena aku cewek? Apakah cewek itu hanya bisanya menangis dan meratapi nasib. Padahal dia bisa melakukan sesuatu lebih daripada pria," geram Melati.


"Bukan begitu caranya." Lily membawa Melati ke pinggiran jalan dan duduk di tepi taman.


"Melati, rupanya kau di sini. Ayah sejak tadi mencarimu," panggil Jonathan.


"Kau...," seru Jonathan terkejut melihat Lily ada di tempat ini.


"Kau sedang berlari juga?" tanya Jonathan.


"Ya, aku biasa kesini setiap Minggunya."


" Aku biasa ke gelanggang olahraga namun minggu ini melatih memintaku untuk olahraga di sini," ucap Jonathan.


"Di Senayan?"


"Ya, kalau tidak di GBK," jawab Jonathan.


" Melati Kenapa wajahmu menjadi merah seperti ini? Apa yang terjadi?" Jonathan melihat wajah Melati yang terluka.

__ADS_1


"Dia kutemukan bertengkar dengan teman prianya," ungkap Lily.


" dia bukan temanku tetapi musuhku. dia mengatakan dia bilang jika Ibuku pergi karena tidak suka padaku, dia juga bilang kalau ayah suka bermain dengan banyak wanita makanya Ibuku kabur."


"Anak itu memang pantas dipukul." Jonathan memukul kepalan tangan ke tangan yang lain.


Lily menggelengkan kepala. pantas saja anaknya seperti itu karena ayahnya memang seperti itu karena ayahnya memang seperti itu. buah tidak akan jauh dari pohonnya.


"Kau seharusnya tidak mengatakan itu pada anakmu."


" loh bukannya anak itu telah mengejek Melati jadi dia harus diberi pelajaran untung Melati suka berlatih karate, jadi itu bukan hal sulit untuk menjatuhkan lawannya."


Lili menepuk dahinya sendiri. " anak perempuan tidak bertengkar secara fisik dengan pria atau bertindak seperti pria."


"Dia punya alasan yang tepat untuk melakukan itu," sanggah Jonathan.


Melati menganggukkan kepala sembari melipat tangan di perut."Kataku juga apa kita harus dan wajib membela diri sendiri agar tidak diinjak-injak oleh orang lain begitu kan, Yah?"


"Semua masalah tidak harus diselesaikan dengan otot. kita bisa berdiplomasi atau berbicara dengan baik memberi pengertian pada lawanmu."


"Mana mereka mau dengar, Li, anak seperti mereka harus diberi pelajaran."


"Kau itu mendidik anakmu dengan kekerasan, suatu hari jika dia menemui masalah dia juga akan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikannya. Apa kau ingin anakmu terlihat bar-bar seperti itu?"


"Aku tidak bar-bar, Tante!" teriak Melati kesal pada Lily.

__ADS_1


__ADS_2