
Albert menimang dan melihat genggaman tangan mereka. Dia mulai teringat pembicaraannya dengan Bella tempo hari.
"Kita mau bicara apa? Kok keliatannya serius?" Lily mengangkat dua alisnya ke atas.
"Aku ingin bertanya satu hal padamu dan ini penting bagi kita."
"Ingin bertanya tentang apa?"
Albert terlihat gelisah. Dia nampak sedang merangkai kata yang tepat dalam otaknya.
"Kau tahu aku bukan pria yang sempurna, aku masih punya banyak kekurangan dan kau selalu bisa memahamiku lebih baik dari wanita manapun yang pernah dekat denganku."
"Ya...."
"Beberapa hari yang lalu aku pergi klub malam atas permintaan temanku untuk merayakan hari pelepasan bujang ku. Kami mulai mabuk dan mereka menyiapkan seorang wanita untukku. Okey aku tahu aku salah, karena mau bersama dengan wanita itu tapi saat itu aku benar-benar dalam keadaan mabuk berat."
Lily melepaskan genggaman tangan mereka, menarik nafas dalam sambil menelan salivanya dalam.
"Di saat itu Jonathan memergokiku. Dia sangat marah dan membawaku ke danau buatan lalu melemparkan ku ke sana."
Albert mengamati wajah Lily dengan seksama untuk melihat bagaimana reaksi Lily terhadap hal ini.
"Itu pantas untuk kau dapatkan!" ucap Lily melipat tangan ke dada dan melihat Albert dengan wajah tidak senang.
"Yang membuatku heran adalah rasa marahnya yang berlebihan," ungkap Albert. Lily menghela nafas berat.
"Dia seolah masih terlihat sangat men... cintaimu," lanjut Albert dengan hati-hati.
Lily membelalakkan mata sejenak lalu bersikap biasa saja.
"Lalu apa hubungannya denganku, bukankah itu hatinya." Lily mencoba menyembunyikan rasa yang dia miliki di depan Albert.
"Dia mengatakan jika aku tidak pantas untukmu," imbuh Albert.
"Itu benar, karena kau pria hebat yang mau bicara jujur tentang kesalahanmu padaku tidak semua pria punya keberanian mengatakan sebuah kebenaran pada calon istrinya. Kau juga kaya dan tampan, banyak wanita yang mengantri untuk kau pinang. Aku juga heran mengapa kau memilihku bukan wanita lain untuk kau jadikan istri," ucap Lily dingin tapi cukup mengena di hati Albert.
"Lily, kau itu wanita terhebat yang pernah kukenal. Aku jatuh cinta padamu dari awal kita bertemu."
"Gombal. Kau selalu mengatakan itu, pada kenyataannya kau sering membawa wanita sebelum kita berhubungan serius."
"Setelah itu tidak lagi kan?"
"Jika Jonathan tidak menemukanmu apakah kau akan tidur dengan wanita itu?" tanya Lily membuat tenggorokan Albert mengering.
__ADS_1
"Aku... tidak tahu... Lily maaf, itu tidak sengaja teman-temanku yang menjebakku," ujar Albert menyesal.
Lily tersenyum canggung. "Aku percaya padamu," ujarnya.
Albert kembali memegang tangan Lily. "Terima kasih sayang."
"Aku harus memberi pengarahan pada karyawan ku sebelum aku cuti selama seminggu lebih. Apakah ada pembicaraan lain?"
"Sebenarnya ada masalah lain yang ingin ku tanyakan padamu, ini tentang hatimu."
Lily terdiam menunggu penjelasan dari Albert apa yang akan dia katakan.
Sungguh dari tadi dia tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Ini seperti menguji perasaannya sendiri. Dia yang merindukan Jonathan harus bisa menelan perasaan itu sendiri karena tidak bisa tersampaikan. Dia merasa sakit di dadanya.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu hal padamu Lily. Apakah hanya aku yang ada di hatimu?" tanya Albert.
"Kau ini tanya apa? Tentu saja karena kau adalah calon suamiku. Aku harus mencintai dengan sepenuh hati."
"Sungguh Lily?"
"Apakah kau meragukan aku?"
"Bukan meragukan hanya saja aku takut kau melakukan kesalahan menikah denganku jika kau mencintai pria lain."
"Aku ada-ada saja? Kau yang benar saja Li, aku bertanya seperti ini karena mencintaimu."
"Jika kau ingin menikah denganku cukup percayai aku," tegas Lily lalu berdiri. "Aku harus menemui pegawai ku dulu. Kau mau di sini atau pulang?" Lily menatap ke arah Albert yang masih menatapnya dengan ekspresi yang tidak Lily mengerti.
"Aku mau pulang, ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan mengurus pernikahan kita yang tinggal beberapa hari lagi."
Albert berdiri memeluk tubuh Lily lalu mencium keningnya. "Jaga dirimu baik-baik."
"Humm."
"Aku ingin sekali mencium bibir merah mu ini hanya saja, ini tempat umum. Aku pasti akan merindukannya selama seminggu ini." Albert menyentuh bibir Lily lalu tersenyum. "Bagaimana kalau di ruangan mu ajak Albert."
"Ish, mesum. Tadi sudah di mobil. Besok lagi setelah menikah boleh melakukan semuanya." Lily menatap geli pada Albert. Dia senang dengan sikap Albert yang menghormatinya dengan tidak pernah meminta hal lebih darinya.
"Tidak sabar menunggu seminggu ini."
Lily melebarkan kedua netranya dengan cantik. "Sudah, malu dilihat yang lain." Wanita itu melepaskan diri dari pelukan Albert.
Pria itu lantas mengambil kunci mobil dan handphone dari meja lalu pergi meninggalkan toko itu.
__ADS_1
"Aku pergi, jaga diri baik-baik." Lily menganggukkan kepala.
Setelah Albert pergi Lily lantas bersandar di meja. Tubuhnya lemas. Sisca yang melihat lalu mendekat.
"Ada apa?" tanya Sisca.
"Tidak apa-apa!"
"Kau nampak lesu dan kusam, sepertinya kau stres berat.
"Aku baik-baik saja hanya semakin hari ini terasa berat untuk kulalui. Albert sangat mencintaiku dan aku tidak bisa memberikan cinta yang sama untuknya."
"Karena kau masih mencintai Jo?" cetus Sisca. Lily menatap lekat Sisca.
"Apakah itu sangat terlihat?"
"Ya, kau tidak seperti orang yang bahagia mau melangsungkan pernikahan. Kau malah lebih terlihat emosian selama beberapa hari ini. Kau memang tidak memarahi pegawai hanya saja wajahmu terlihat suram dan lelah."
"Albert juga menanyakan hal itu padaku. Dia curiga jika aku masih mencintai Jonathan."
"Hah! Dia bertanya akan hal itu?"
"Lebih tepatnya dia bertanya tentang hatiku, apakah aku mencintainya atau tidak? Rasanya... rasanya... aku ingin pergi jauh dan kaluar dari masalah ini."
"Lalu pergi dalam pelukan Jo, ayolah Li kau hanya perlu jujur dengan hatimu. Hidup bersama dengan pria yang tidak kita cintai itu berat."
"Aku tidak bisa menyakiti Jo, dia sangat baik padaku. Semua ini tidak akan ada jika Jo tidak membantu."
"Jo memang membantu tetapi semua ini juga dari kerja kerasmu. Kau tidak harus membayarnya dengan mengorbankan hidupmu. Kau mencintai Jonathan dan dia mencintaimu seharusnya kalian bersama. Ini tidak adil untuk kau, Jo, dan Albert. Satu lagi, ini tidak adil untuk Melati. Aku lihat dia sangat menyayangimu."
"Anak itu... aku juga menyayanginya."
"Lalu kenapa kau masih bersama dengan Albert. Jika dia sadar bahwa kau tidak pernah mencintainya bukankah itu akan sangat melukai hatinya?"
Lily terdiam.
"Pernikahan itu untuk selamanya. Harus mengarungi bahtera rumah tangga bersama-sama jika tanpa cinta, itu mustahil akan dilakukan sampai selesai. Yang ada perceraian pada akhirnya."
"Kau membuatku makin stress Sis, jangan membuat hatiku goyah dengan pemikiranmu."
"Kau pernah kehilangan Jonathan karena kau menolak untuk bersamanya dulu. Lalu kau dan dia menderita dengan cinta yang kalian pendam sendiri. Haruskah hal itu terjadi untuk yang kedua kalinya. Jika iya, kau wanita terbodoh yang pernah kutemui."
"Si bodoh ini adalah bos mu harap kau ingat itu jika tidak ingin kau ku pecat!" Lily lalu pergi ke dapur melihat para karyawannya bekerja.
__ADS_1
"Tapi aku juga sahabatmu yang memberi masukan terbaik yang mungkin bisa membantu mu!"