
"Kau cantik sekali Sayang," puji Ibu Sri pada putrinya. Dia menangkup wajah Lily dan menciumnya.
"Iya mbak Lily seperti putri yang solo yang cantik dan anggun," puji kerabat Putri yang datang dari kampung.
"Ayo, ustadzahnya menunggumu di luar, pengajian akan segera dilakukan."
"Ibu... aku kok tegang ya," Lily memeluk lengan ibunya ketika berjalan keluar kamar.
"Kau hanya sedang gugup karena dua hari lagi kau akan menikah."
"Aku... aku tidak tahu Bu hanya saja perasaanku tidak tenang."
Ibu Sri menepuk tangan Lily. Semua akan baik-baik saja, Nduk. Kau hanya perlu tenang dan jauhkan ketakutanmu itu."
Mereka mulai masuk ke ruang tamu yang tekH disulap menjadi area pengajian. Seorang ustadzah nampak duduk di mimbar memimpin pembacaan dzikir dan sholawatan.
Beberapa orang dari penduduk sekitar terlihat duduk menunggu calon mempelai masuk ke dalam ruangan itu.
Lily lalu menyapa mereka semua dan duduk di dekat ibunya. Di sana nampak beberapa pegawainya yang beda sift turut hadir dalam acara itu.
Ayat-ayat suci mulai di kumandangkan dan mereka memulai acara pengajian dengan khidmat. Lily mendengar petuah dari ibu ustadz tentang pernikahan dan strateginya menjaga hubungan tetap harmonis.
"Ingat ya De Lily kalau malam seorang istri seharusnya menawarkan diri pada suaminya. Mas mau atau tidak...."
Semua tertawa. "Wah, engga sempat Bu karena harus menunggu anak yang tidur."
"Suaminya harus ekstra sabar, Bu, menunggu anak bobo."
"Belum ditawarin udah nemplok dulu, Bu."
"Itu yang ditunggu istri, jadi inget
nggak perlu lagi menawarkan diri."
"Wah, kalau saya El De Er istilahnya. Jadi yang begituan kalau suami ada."
"Jadi panas Bu kalau bertemu karena saling kangen dan rindu."
__ADS_1
"Bukan hanya panas Bu, tapi juga liar," timpal seorang ibu muda. Semua tertawa terbahak-bahak.
Lily yang mendengar ikut malu-malu geli. Dia senang dengan acara ini. Banyak manfaatnya.
Di saat itu sebuah suara anak kecil mulai memanggilnya.
"Tante Lily," panggil Melati dengan tubuh basah karena sekitar rumah Lily sedang hujan deras.
"Melati...," ujar Lily bergerak cepat mendekat ke arah Melati. Dia lalu bersimpuh di depan anak itu untuk menyamakan tingginya.
"Kau di sini? Bersama siapa?" tanya Lily mencari seseorang dibelakang Melati.
"Bersama saya Mbak," ucap seorang tukang ojek.
"Katanya dia tersesat dan tidak punya uang minta diantarkan ke rumah ini."
"Oh, bersama abangnya," kata Lily tetapi dalam. hatinya dia merasa heran. Lily melihat ke arah Sisca yang sedang mengamati mereka.
"Ka, tolong bayar ojeknya," pinta Lily pada asisten kepercayaannya.
"Baik Bos, aman!"
"Tante benar-benar mau menikah dengan Om Al?" tanya Melati ketika mereka berada di kamar Lily.
"Kau benar, Sayang," jawab Lily. Dia mencari bajunya yang paling kecil mungkin bisa digunakan oleh tubuh Melati yang tinggi dan besar.
"Apa tidak bisa Tante ganti mempelainya dengan Ayah?"
"Melati ini bukan permainan tetapi benar-benar asli dan nyata. Tidak semudah itu menghadapi masalah yang ada. Kau masih kecil sayang jadi tidak mengerti dengan apa yang terjadi."
" Walau Tante tahu jika Ayah mencintai Tante?"
"Semua orang yang menikah akan saling jatuh cinta pada akhirnya, " balas Lily. Wanita muda itu menarik nafas dalam.
Melati menangis tersedu-sedu sambil menatap Lily lekat. Lily yang tidak tega ingin memeluk anak itu tetapi Melati mundur.
"Apa Tante tidak sayang padaku?" tanya Melati yang serasa mengiris hati Lily.
__ADS_1
"Tante sayang padamu, Nak!"
"Jika Sayang kenapa Tante tidak memilih Ayah? Aku ingin Tante bersama Ayah agar Tante bisa jadi ibuku," ucap Melati dengan suara serak dan tercekat.
Mata Melati membola mendengarnya. Hatinya ikut bergemuruh. Dia memalingkan wajah mengusap sudut mata yang mulai keluar titik air. Dia lalu menatap ke arah Melati lagi dan tersenyum.
"Tante Sayang padamu... teramat sayang. Bukan karena kau anak dari Ayah Jo. Kau ingatkan jika sebelumnya Tante tidak tahu jika kau anak Ayah Jo, kan?"
Melati mengangguk. Dia mulai berhenti menangis. Menunggu Lily berbicara
"Tante Sayang padamu karena kau anak manis dan menyenangkan. Tante jatuh cinta padamu pada pandangan pertama." Lily mengusap pipi Melati yang basah.
"Apalagi ketika tahu kau anak dari Ayah Jo, rasa itu semakin dalam. Namun...." Lily nampak sedang memikirkan kata yang tepat untuk diucapkan agar tidak melukai hati Melati. Wajahnya di dekatkan pada wajah anak itu.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa kita abaikan begitu saja, seperti sebuah janji. Tante sudah berjanji pada Om Al akan menikah dengannya."
Tangis Melati pecah lagi. Lily yang tidak tahan dan ikut terluka memeluk Melati erat. Dia mengusap kepala anak itu. "Bukankah kau juga punya Ibu yang bisa memberi kasih sayang yang tulus padamu. Ibumu sudah pulang dan menemuimu kan?"
Beberapa hari sebelumnya Bella datang ke rumah Lily untuk menemuinya dan berbicara dari hati ke hati.
"Apakah kau akan tetap menikah dengan Albert?" tanya Bella.
"Tentu saja. Bukankah kau sudah melihat semua persiapan ini. Cuma hanya menunggu hari H saja."
"Kau yakin, akan meninggalkan Jonathan padahal kau tahu jika dia masih mencintaimu."
Lily menelan salivanya yang tercekat. Dia mencoba tersenyum walau terasa sulit.
"Dari awal kami memang tidak berjodoh. Aku tidak mungkin mengingkarinya janji yang telah aku ucapkan."
"Jadi hanya karena sebuah janji kau menikah dengan Albert bukan karena kau mencintainya?" sudut Bella. "Dia itu saudaraku, aku memikirkan kebahagiaannya."
"Cinta akan datang seiring waktu." Lily memalingkan wajahnya ketika menjawab itu.
"Jika cinta datang seiring waktu kenapa kau tidak pernah melupakan Jo yang tidak pernah bersamamu malah tidak bisa mengisi hatimu dengan Al yang telah mengisi hari-harimu."
Lily terdiam tidak bisa menjawabnya karena dia pun tidak tahu mengapa sulit untuk menghilangkan cintanya pada Jonathan.
__ADS_1
"Aku tahu jawabannya, karena kau dan Jonathan saling mencintai dan cinta kalian begitu dalam hingga walau masing-masing dari kalian punya pasangan, perasaan kalian akan tetap terpenjara bersama cinta itu. Saranku pikirkan baik-baik rencana pernikahan ini agar kau dan Al tidak melakukan kesalahan yang pernah ku lakukan."
"Jangan menasihatiku, aku tahu apa yang akan kulakukan." Wajah Bella terkejut mendengar Lily membalas ucapannya. "Aku tidak akan kembali pada Jonathan karena aku tahu Melati membutuhkan ibunya. Kau sudah datang maka kembalilah pada Jonathan, jadi ibu yang baik bagi Melati. Dia sangat membutuhkan dan merindukan kasih sayang penuh ibunya. Jangan buat pengorbanan kedua ku kali ini sia-sia, Bella!"