
Bella ke rumah Jonathan dengan membawa kue dan minuman yang dia pesan dari restoran. Dia langsung ke atas memanggil Melati setelah meletakkan kue itu ruang makan.
"Sayang, Ibu datang," panggil Bella mendekat ke arah Melati yang sedang mendengarkan musik dari earphone. Anak itu tidak memperhatikan kedatangan Bella ke ruangan itu sibuk melamun sendiri melihat keluar jendela sembari memeluk buku diary Lily.
Kenapa dia tidak suka pada ibunya karena Melati terlalu punya banyak alasan untuk melakukan itu. Yang jelas, dia sangat kecewa karena ibunya meninggalkan dia dari kecil. Ibunya tidak seperti ibu lain yang akan rindu dengan anaknya terus menerus.
Jika Melati menemui Bella di Swiss, terkadang Melati harus menemani ibunya di kantor. Tidak sepenuhnya sang ibu menemaninya sepanjang hari karena putrinya baru datang dari jauh. Hingga dia berpikir jika dia rela terbang ke Swiss untuk bertemu dengan ibunya mengapa Bella tidak rela meninggalkan pekerjaannya. Di saat itu, dia mulai mempertanyakan kasih sayang seorang ibu pada Bella.
Namun, ketika bersama dengan Lily wanita itu rela meninggalkan pekerjaannya untuk menemani Melati jika berkunjung ke tokonya. Mereka berbicara berjam-jam terkadang Lily mengajaknya turut serta membuat kue dan roti pesanan pengunjung.
"Melati... ," panggil Bella memegang bahunya, membuat anak terkejut dan menjatuhkan diary itu.
Bella mengambil diary yang jatuh. "Buku apa ini?"
Melati langsung menarik buku itu, tetapi secarik foto terjatuh dari dalam buku. Foto dia bertiga dengan Jo dan Lily.
"Ini... ini... dari mana kau dapat ini?"
Melati mengambilnya tetapi Bella mengangkat tangan ke atas membuat anak itu sulit untuk meraih foto.
"Itu... dari Ayah," ucap Lily berbohong. Wajah Bella memucat.
"Itu buku diary siapa, Sayang?" tanya Bella lagi mencoba bersabar.
"Ini buku diary siapa...." Melati tidak tahu harus menjawab apa.
"Coba ibu lihat," pinta Bella.
"Jangan, Bu," kata Melati.
"Ya, sudah kalau kau tidak mau memberikannya. Hmm Ibu membawakan mu sebuah kue lezat dan minuman boba kesukaanmu."
"Wah, aku mau."
"Kalau begitu kita turun ke bawah," ajak Bella. Melati lantas meminta foto itu dari tangan Bella dan meletakkannya bersama diary di rak belajar.
__ADS_1
"Kau lihat kue cokelat itu, Ibu sengaja pesan semalam untukmu."
"Sepertinya enak," ujar Melati. Dia mulai duduk. Bella memberikan minuman Boba pada Melati. Lalu memotong kue yang cantik dengan hiasan bunga kecil berwarna putih serta tertulis "Melati Sayang".
" Sayang sekali memotongnya kan, Bu?" ujar Melati menunggu potongan kue itu. Melati sudah menarik air ludahnya ketika kue itu mendekat. Oleh karena sangat antusias menerimanya, gelas boba di sebelahnya tersenggol siku. Lalu jatuh dan mengenai gaun putih Bella.
"Ya Tuhan Melati, apa ini kau menjatuhkan Boba nya dan baju Ibu... lihat kotor," ujar Bella membersihkan bajunya. Dia teringat bagaimana reaksi Lily ketika merawatnya ketika sakit.
Melati yang merasa mual lalu memuntahkan isi perutnya ke sebelah Lily mengenai sebagian tubuh wanita itu.
"Maaf Tante," ucap Melati
Lily menatap ke arah tumpahan muntahan di baju dan sepatunya. Dia lalu menatap ke arah Melati.
"Kau benar-benar sakit, Sayang," ujar Lily. Dia melihat ke arah pelayan yang hanya berdiri di pintu.
"Bagaimana masih mau muntah?" tanya Lily sabar. Melati menggelengkan kepalanya.
"Kalian tolong ambilkan handuk dan air hangat untuk Melati. Lalu bawakan juga sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya seperti minyak kayu putih atau apa saja. Air teh hangat juga. Aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu."
"Sayang. Maafkan Ibu," ujar Bella hendak meraih bahu Melati namun anak itu mundur. Dia lalu berlari cepat menuju ke kamarnya tanpa mengatakan apapun.
Bella hendak mengejar Lily tetapi sebagian bajunya basah. Dia memilih untuk membersihkan itu terlebih dahulu baru naik ke atas.
"Ada apa?" tanya Ibu Aliya yang baru masuk ke dalam rumah karena sedari tadi dia sedang di taman menyiram bunga Anggrek miliknya.
"Tidak apa-apa, Bu, hanya minuman saja yang tertumpah."
"Oh, biar nanti pelayan yang membersihkan."
"Baiklah, kalau begitu aku akan ke atas melihat Melati."
Bella lalu naik ke atas.
"Bella, kau sekalian makan malam di sini kan?" tanya Ibu Aliya.
__ADS_1
"Boleh, Bu," jawab Bella. Dia lalu pergi ke lantai atas. Kue yang dia pesan khusus untuk menyenangkan Melati menjadi sia-sia.
Bella hendak masuk ke dalam kamar Melati namun di kancing dari dalam.
"Melati... tolong buka pintunya sayang!" pinta Bella. Tidak terdengar suara.
Begitu sulit untuk mengerti tentang hati anak kecil. Bella kira itu hanya masalah kecil namun Melati nampak sangat kecewa.
"Sayang, ini Ibu mau bicara. Maaf jika Ibu telah menyakiti hatimu!"
"Pergilah, aku tidak ingin melihat Ibu!"
"Melati Sayang, Ibu tidak bermaksud memarahimu tadi."
"Ibu memang tidak memarahiku, tetapi Ibu lebih peduli dengan baju itu daripada aku!" Nada bicara Melati terdengar marah dan kesal.
"Ya Tuhan sensitif sekali hati anak ini, lebih sensitif dari Ayah-nya. Apa yang harus aku lakukan? Padahal kami baru saja baikan dan akrab."
"Sayang, tentu saja kau yang terpenting bagi Ibu."
Tiba-tiba pintu dibuka oleh Melati. "Sejak kapan aku menjadi penting bagi Ibu? Ibu meninggalkanku dari kecil. " Hal yang sama selalu Melati ulang jika marah pada Bella. "Ibu lebih mementingkan pekerjaan dari pada aku, hingga tidak sempat menemuiku di sini! Ketika di sini Ibu lebih mementingkan baju Ibu yang kotor dari pada aku!"
Ada wajah kekecewaan dalam mata Melati sesuatu yang tidak mudah untuk diobati hanya dalam beberapa pertemuan. Bella tidak bisa merubah waktu tetapi dia masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya.
Bella bersimpuh hendak memegang tangan Melati tetapi anak itu mundur.
"Sayang, kau adalah segalanya untuk Ibu percayalah," ucap Bella.
"Jika aku segalanya untuk Ibu, Ibu akan lebih mementingkan aku dari apapun. Tante Lily, dia bukan ibuku tetapi ketika mendengarku sakit dia langsung berlari kemari menungguku, apa Ibu melakukan itu kemarin?" ucap Melati menangis menatap ibunya lekat.
Bella sejenak terdiam menyeka cairan yang keluar dari hidung. "Ibu memang bukan Ibu yang baik tetapi beri waktu pada Ibu untuk memperbaiki semuanya. Ibu juga perlu belajar untuk mengenalmu lebih dalam."
"Tante Lily bahkan langsung mengerti diriku walau baru bertemu sekali... Ibu... Ibu terlalu sibuk dengan diri Ibu sehingga tidak mau mengerti aku atau Ayah....''
''Memang Tante Lily mu yang terbaik, aku bisa apa... kau dan ayahmu sama saja tidak pernah mengerti usaha yang kulakukan untuk kalian. Setidaknya tolong hargai Ibu Nak!" seru Bella mengeluarkan unek-uneknya.
__ADS_1
"Bella!"