My Hot Boss

My Hot Boss
Bab.13 Paket Lengkap


__ADS_3

Setelah itu, mereka berbicara di ruang santai. Ruangan itu menghadap ke arah halaman belakang yang luas yang tersekat oleh dinding yang terbuat dari kaca tebal.


"Apakah kau melihat pernikahan anak Jendral Pasha. Itu adalah hasil karyaku. Aku W.O-nya." Lalu pria itu bercerita tentang siapa saja kliennya dan konsep apa saja yang pernah dia tangani seraya membuka album berisi foto dekorasi, makanan dan hal lain yang berkaitan dengan pernikahan.


Sambil mengobrol dan mendengarkan jemari Jonathan bertautan dengan tangan Bella, sesekali mereka saling berpandangan dan tersenyum.


Lily membuang muka seraya membuang nafas kasar. Meskipun belakang ini dia sudah melihat adegan yang jauh lebih buruk namun dia tetap saja merasa sesak melihatnya.


Dia sudah ingin melarikan diri dari tempat itu namun tidak tahu bagaimana caranya. Kakinya bergerak tidak tenang sedari tadi.


"November bukan waktu yang baik untuk menikah di ruang terbuka karena bisa jadi hujan turun dengan deras dan merusak semua acara," ujar Alberth


"Itu benar, kecuali kau memanggil Mbak Rara untuk mengendalikan hujan," saut Lily lalu tertawa hambar.


"Kami tidak percaya dengan hal itu," ucap Jonathan.


"Aku percaya karena di daerahku masih menggunakan pawang hujan jika ada hajat. Atau seperti meletakkan bawang merah, cabai merah di tusukkan ke lidi dan di letakkan di depan rumah. Mereka percaya itu bisa membuat hujan pergi dari lokasi tempat diadakan acara."


"Itu hanya pemikiran orang-orang dulu tidak ada nalarnya," sanggah Jonathan.


"Kau percaya atau tidak tetapi itu budaya kita dan harus dihormati," tegas Lily.


"Apa yang Lily katakan itu benar Jo, kita harus menghormati adat dan budaya yang sudah ada." Aliya menengahi pembicaraan.


"Berarti kalau begitu acara akan diadakan dalam gedung saja."


"Bagaimana kalau di Bali," tawar Bella.


"Itu rencana yang bagus, Bali itu pulau yang indah. Hal itu pasti akan memberi kesan yang indah juga pada para tamu." Albert menyetujui usulan Bella.


"Namun, tidak semua orang bisa hadir dalam acara itu sedangkan Pak Jo dan keluarga Kusuma ingin mengundang seluruh relasinya yang ada sekitar 5000 orang."

__ADS_1


Aliya tertawa canggung. "Yang Lily katakan memang benar. Jika kalian ingin private marriage maka konsep pernikahan di Bali itu tepat tapi jangan lupa dengan relasi serta kerabat kita yang besar baik dari keluarga Jo atau juga keluargamu Bella. Akan merepotkan membawa 5000 undangan itu ke Bali."


Bella mengatupkan bibirnya, wajahnya terlihat menegang. Apa yang dia inginkan ternyata tidak sesuai dengan apa yang keluarga ini harapkan. Nyatanya, Lily lebih tahu dan mengerti apa yang diinginkan oleh ini. Jika begitu mengapa mereka membawanya ke sini. Tidak bertanya saja pada Lily konsep apa yang sebaiknya dipakai dalam acara pernikahannya. Atau sekalian Lily saja yang menikah dengan Jonathan bukan dia. Mengapa dia merasa kesal hari ini?


Jonathan yang mengetahui jika Bella merasa tidak senang mencoba untuk menenangkannya.


"Atau kita menikah dulu di Bali lalu mengadakan resepsi pernikahan di Jakarta dengan meriah?" tanya Jonathan lembut membuat Bella senang. Ternyata pria itu tahu akan hatinya.


"Tidak, aku akan mengikuti apa yang kalian inginkan. Ibu Aliya benar, jika akan banyak orang yang ingin menyaksikan pernikahan kita." Bella tersenyum masam.


Jonathan memeluk Bella dan menariknya mendekat lalu mengecup rambut wanita itu di depan semua orang.


"Kau memang sangat pengertian," bisiknya lembut yang bisa didengar semua yang ada di sana.


"Hatiku sakit, Bu....," teriak Lily dalam hati. Dia meleleh ketika melihat Jonathan bersikap mesra pada Bella. Untuk sesaat dia membayangkan jika itu semua adalah mimpi bukan kenyataan. Bahwa hanya dia wanita yang Jonathan butuhkan.


Dia sadar ketika Alberth sedang menatapnya. Seolah sedang membaca hati Lily untuk saat ini. Itu membuat Lily bertambah gelisah. Semoga tidak ada yang menyadarinya tentang perasaannya.


"Kegerahan Lily, kau nampak gelisah?" celetuk Jonathan.


"Tentu saja, kau biasanya suka dengan bunga-bunga anggrek. Kemarin aku membeli pohon anggrek dengan varietas langka. Kau lihat saja sendiri di sisi kanan taman sebelah pohon aglonema yang besar."


"Wow, aku ingin melihatnya," ujar Lily bersemangat lalu keluar dari ruangan itu secepatnya untuk menghirup udara segar.


Sedangkan Bella memandang kepergian Lily dengan iri. Dia iri Lily selalu tahu apa yang Jonathan dan keluarganya inginkan. Dia bisa menyatu ke dalam keluarga ini dengan baik. Apakah dia bisa sepertinya?


Luar biasa dan sulit dipercaya. Lily tidak pernah melihat Jonathan bucin pada seorang wanita manapun. Kini dia melihat Jonathan bersikap berlebihan pada Bella. Setiap saat dan setiap waktu seolah pria itu ingin menunjukkan rasa cintanya. Dia merasa Bella beruntung karena mendapatkan pria dan keluarga yang sempurna dan akan menerima dengan baik serta menyayanginya.


Mereka duduk di ruang tengah sedang berbicara dengan Albert tentang konsep pernikahan. Sedangkan dia berkutat di dapur dengan Nyonya Aliya untuk menyajikan makan malam.


"Lily letakkan gurame asam pedas ini di piring besar itu lalu berikan garnish," perintah Aliya.

__ADS_1


"Iya, Bu," Lily tersenyum masam. Lalu mulai melakukan apa yang wanita itu inginkan menghias makanan rumah dengan cantik sedangkan hatinya sendiri sedang dihiasi oleh rasa iri yang membakar jiwanya.


"Hanya dua hari, aku pasti bisa melewatinya."


Semua anggota keluarga duduk mengelilingi meja makan bernuansa mewah di ruang makan. Ruangan itu bercat putih dan cream di atas meja ada lampu kristal. Di tengahnya ada dua tempat lilin dari perak yang indah.


Ada tujuh kursi di sana. Satu di tengah di gunakan oleh Pak Kusuma. Di sisi kanan ada Nyonya Aliya dan sebelahnya Lily sedangkan di hadapan mereka ada Jonathan, Bella dan Alberth yang duduk berjejer.


"Aku merasa makan di sebuah restoran bintang lima," celetuk Alberth melihat ke arah berbagai hidangan di depan matanya.


"Semua itu Ibu yang memasak dan membuatnya."


"Aku mencium aromanya saat kita berbincang tadi dan itu membuat perutku kelaparan," ujar Alberth membuat semua orang tertawa.


"Kalau begitu, cepat makan, Nak Alberth," kata Ibu Aliya.


Alberth lalu mengambil potongan bebek Peking yang Ibu Aliya buat.


"Ini sangat empuk dan lembut, aku rasa chef di hotelmu akan kalah dengan ibumu," puji Alberth.


"Mulutmu sangat manis sekali, Nak."


"Nanti diabetes jika mendengarkan dia berbicara terus, Bu," celetuk Jonathan.


"Ibumu memang sangat pandai dalam hal apapun. Ibaratnya semua pria pasti akan menginginkan istri seperti dirinya. Bukan begitu Pak Kusuma."


"Kau benar, dibalik kesuksesan seorang pria di rumah dan di luar pasti ada wanita hebat di belakangnya. Aku membuktikannya," kata Pak Kusuma.


"Aku jadi berpikir, akan mencari wanita yang pandai melayani suaminya seperti Anda, Bu Aliya."


"Kalau begitu dengan Lily saja. Dia bisa melakukan apapun, mengurus kantor, mengurus urusan di luar kantor dan juga memasak. Dia tadi yang membantuku di dapur jadi aku tahu kemampuannya," celetuk Ibu Aliya.

__ADS_1


"Bukan begitu Jo, Lily selalu melakukan yang terbaik untukmu?" tanya Aliya lagi.


"Betul, dia paket lengkap dan kau tidak akan kecewa jika menikah dengannya."


__ADS_2