
Jonathan dan Lily duduk di kursi tunggu penumpang saling berdekatan.
"Kenapa aku merasa kau ingin pergi dari sini selamanya?" ucap Jonathan.
"Kau itu terlalu lebay."
"Itu artinya kau akan kembali lagi kan?" tanya Jonathan lekat.
Hidung Lily bergerak mengembang, bibirnya dikatupkan erat. Dia ingin menjawab jika tidak ingin kembali kemari. Dia tidak bisa hidup dalam rasa sakit karena melihat kemesraan Jonathan dan Bella setiap harinya. Tidak bisa membantu pria itu merancang perkawinan sebenarnya yang dia impikan malah orang lain yang akan menggunakannya. Tidak bisa menerima kenyataan jika Jonathan lebih memilih wanita lain dibanding dirinya.
Menyaksikan Jonathan menikah dengan Bella adalah hal paling menyakitkan yang tidak akan pernah dia lihat. Dia lebih baik pergi sebelum rasa sakit ini membunuhnya pelan-pelan.
Jonathan memegang tangan Lily dan menggenggamnya erat. "Jika bisa aku ingin menahanmu disini." Terdengar helaan nafas berat darinya.
"Kamarin aku begitu terkejut dengan keinginan mu berhenti dari pekerjaan dan paginya tiba-tiba kau pergi tanpa pamit dari rumah dan ingin pulang saat ini juga. Sebenarnya apa yang telah terjadi. Sepertinya kau menutupi satu hal dariku. Aku ingin tahu alasannya?"
"Sudah kukatakan alasannya," ucap Lily parau.
"Itu... tidak masuk akal. Itu terdengar mengada-ada. Aku tidak bisa menerimanya. Kenapa rasanya aku tidak mempercayai apa yang kau ucapkan. Seperti ada yang kau sembunyikan apa itu, katakan padaku?"
Suara Lily tercekat di tenggorokan. Dia tidak mampu mengatakan apapun. Hanya air matanya saja yang keluar tanpa bisa dia cegah.
"Menikah karena dijodohkan itu sulit untuk dilakukan tetapi aku harus melakukannya karena bentuk baktiku pada orang tua." Lily mencari alasan ini untuk menutupi hatinya yang kacau.
Dia meletakkan kepalanya di bahu Jonathan. Ini mungkin terakhir kalinya dia melakukan ini.
"Kau bisa menolaknya!" ucap Jonathan.
"Aku tidak ingin melakukannya. Lagi pula aku kenal Rafli dengan baik. Aku sudah menceritakannya tadi kan?"
"Kau tidak harus menikah dengannya Lily jika kau tidak mau."
__ADS_1
"Umurku sudah dua puluh enam lebih di daerahku aku termasuk perawan tua. Hal itu yang membuat orang tuaku ingin agar aku cepat menikah."
"Kolot sekali," ucap Jonathan kesal.
"Kau jangan mengatai orang tuaku kolot."
"Bukan seperti itu, hanya saja ini jaman milenial dan orang bebas menikah kapan saja."
"Padahal kau yang salah di sini. Kau yang menjadikanku sebagai perawan tua," ujar Lily menyeka air matanya.
"Aku carikan beberapa pria untukmu, kau bisa memilih pria mana yang bisa kau cintai."
"Aku hanya mencintaimu," teriak Lily dalam hati.
"Sudah terlambat."
"Tidak ada kata terlambat. Kau tidak harus pergi dari sini hanya karena pernikahanmu."
"Pernikahanmu yang membuatku pergi, Jo."
"Aku juga tidak bisa membayangkannya. Mungkin akan terasa berat untuk kita." Lily menggigit bibirnya yang bergetar.
"Jo," panggil Bella dari belakang mereka. membuat kedua insan itu terkejut dan menoleh ke belakang. Jonathan langsung melepaskan genggaman tangan keduanya dan berdiri mendekat ke arah Bella yang berdiri bersama dengan Albert.
"Lily akan pulang," kata Jonathan lagi untuk kesekian kalinya. Wajah pria itu nampak kusut dan putus asa.
"Kau bujuk dia untuk membatalkan keinginannya."
"Jo.. dia... ," Bella tidak meneruskan kata-katanya karena suara kernet yang berteriak bahwa bis akan segera berangkat.
"Pak Jo, aku harus pergi sekarang. Bis sudah mau berangkat," pamit Lily dengan mata yang memerah. Dia mengepalkan tangannya erat menahan diri agar tidak memeluk Jonathan.
__ADS_1
Namun, Jonathan malah memeluk dirinya. "Kau janji akan kembali kan?"
Lily menatap Bella yang memandang mereka dengan wajah yang pias. Air matanya mengalir deras.
"Aku tidak akan melepaskanmu jika kau tidak berjanji bakal kembali kemari."
"Pakaian dan barang-barangku masih di kota ini kan?" cicit Lily hampir tidak terdengar karena serak dengan suara yang tercekat.
"Aku anggap itu sebagai janjimu." Jonathan lalu melepas Lily.
"Bu Bella, aku titip Pak Jo. Jaga dia dan rawat dia dengan baik. Dia memang rewel dan banyak maunya. Kau harus sabar menghadapi. Jika dia marah dan mengomel, kau tinggal diam saja tidak usah dijawab. Nanti dia akan lelah sendiri." Lily menarik nafasnya sehingga bunyi suara hidungnya terdengar jelas.
"Ayo Mbak e, bus mau berangkat," panggil kernet Bus.
Kernet itu lantas mengambil koper milik Lily dan meletakkan ke bagasi sedangkan Lily mulai masuk ke dalam bus.
Ketika suara pintu bus mulai di tutup dan asap knalpot mulai membumbung. Jonathan mulai sadar akan satu hal. Hal itu seperti menikam jantungnya dengan keras.
"Sial!" umpatnya keras. Jonathan membalikkan tubuhnya
"Tidak Lily ku mohon jangan pergi... Lily...,'' teriak Jonathan ketika bis mulai berjalan pergi menjauh.
Lily menggelengkan kepalanya di jendela.
"Kau akan kembali kan?'' Mengejar Lily.
"Jika kau tidak kembali aku akan menjemputmu untuk kembali kemari. Kau sudah janji untuk kembali," seru Jonathan keras tidak peduli dengan semua orang yang melihatnya.
Pria itu nampak terpukul dengan kepergian Lily. Dia berjongkok menangis. Bella lalu memeluknya.
"Dia pergi... kenapa? Apakah dia marah padaku?" tanya Jonathan pada Bella. Bella menggelengkan kepalanya. Dia juga ikut menangis. Dia sadar jika Jonathan mencintai Lily bukan dirinya.
__ADS_1
Jonathan sendiri baru sadar jika Lily pergi bukan karena ingin menikah atau ayahnya sakit. Namun, dia ingin menghindari pernikahan Jonathan dengan Bella. Lily mungkin sakit hati karena dia meninggalkannya dan memilih Bella. Sama seperti kini yang dia rasakan. Hatinya sakit sekali ditinggal pergi oleh Lily.
Namun, semua telah terjadi. Dia memang memilih Bella dari Lily. Oleh karena itu, dia menanggung risikonya kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya.