
"Apa kau yakin ingin menikah dengan Lily, Al?" tanya Bella ketika mereka berdua duduk di sebuah kursi panjang di halaman belakang rumah orang tua Bella setelah acara keluarga selesai.
"Tentu saja aku yakin, memang ada apa, Bel?"
Bella menghela nafasnya. "Sulit untuk membentuk suatu hubungan jika ada bayangan orang lain yang masuk dalam hubungan itu."
"Maksudnya?"
"Lily dan Jonathan masih saling berhubungan apa kau tahu itu?"
"Aku mendengar dari Lily jika Jonathan menemuinya bersama dengan Tante Al juga Melati di cafe miliknya. Tapi hubungan mereka hanya sebatas mantan bos dan bawahan, tidak lebih." terang Albert.
"Apa kau yakin?" Albert hanya terdiam. "Mereka hanya bertemu atau membicarakan hal lain?" cecar Bella.
"Kata Lily mereka hanya ingin melihat toko roti dan cafe milik Lily," ujar Jonathan. "Memang ada apa Bel, aku mencium ada aroma yang tidak enak dari pembicaraan ini!"
"Melati, dia sangat menyayangi Lily. Kau juga tahu apa yang terjadi pada rumah tanggaku kan. Ada kemungkinan besar Jonathan masih mencintai Lily," ujar Bella.
"Ya, dari cara bicara Jo juga seperti itu. Bisakah aku memintamu untuk mendekati Jo terlebih dahulu sampai pernikahanku berhasil. Terus terang aku takut jika tiba-tiba Lily membatalkan pernikahannya."
"Mudah bagiku untuk mendekati Jonathan tapi tidak tahu, dia akan menerimaku kembali atau tidak. Selain itu, aku ingin dekat dengan putriku, Melati, setelah melihat dia kecewa padaku hatiku merasa sakit. Aku menjadi tidak tega untuk meninggalkan dia lagi. Aku merasa bersalah karena mengabaikannya selama beberapa tahun ini."
"Itu bagus, kau harus berdamai dengan perasaanmu."
"Namun satu hal yang mengganjal dalam hatiku Al," ujar Bella.
"Apa itu?"
"Apakah kau bisa bahagia ke depannya jika Lily juga masih menaruh hati pada Jonathan?"
"Dia mencintaiku, aku yakin itu."
"Syukurlah jika kau yakin, aku takut kau hanya ingin menenangkan dirimu sendiri. Saranku jika Lily masih mencintai Jonathan, lepaskan dia karena kau akan lelah mengejar seseorang yang tidak mencintaimu. Kau pantas untuk mendapatkan wanita yang mencintaimu dengan tulus, Jo," ujar Bella.
Lily sedang menyiram bunga miliknya ketika sebuah mobil datang dan parkir di depan jalan. Lily menegakkan punggung dan menatap ke arah pintu mobil sedang berwarna silver.
"Al," gumam Lily meletakkan gayung di ember. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Albert.
"Al, ada apa, kok pagi sekali datang kemari?"
"Aku rindu," jawab Albert santai. Memeluk Lily dan mencium dahinya sekejap.
"Ibu ada?" tanya Albert.
"Ada, baru pulang dia hari yang lalu. Dia sedang masak sarapan di dalam."
"Oh ya, aku ingin menemuinya," jawab Albert langsung masuk ke dalam.
__ADS_1
"Sana masuk dulu, aku selesaikan ini."
"Ibu... lama sekali di kampung sampai aku merindukanmu," ujar Albert mencium tangan Ibu Sri lalu memeluknya.
"Modus," ujar Ibu Sri menata meja makan.
"Bukan modus hanya pendekatan saja."
" Kau sudah makan atau belum Al? Kalau belum makan di sini saja."
"Belum Bu sengaja ingin sarapan di sini."
"Kopi atau teh?"
"Kopi susu saja Bu, yang manis seperti Lily," ujar Albert membuat Ibu Sri menggelengkan kepalanya.
Albert lalu duduk manis di salah satu kursi meja makan yang berbentuk lingkaran. Dia duduk dengan manis seperti anak sekolah dengan melipat tangan di atas meja.
"Bagaimana persiapan pernikahannya?" tanya Ibu Sri.
"Sudah siap, Bu, tinggal mempelainya saja yang siap."
Ibu Sri mulai meletakkan piring di atas meja dan menyendokkan nasi uduk di atasnya.
Lili yang baru selesai menyiram bunga mulai masuk ke dalam rumah dia mencuci tangannya di wastafel lalu ikut bergabung bersama dua orang itu.
"Aku juga Bu, tidak menyangka akan menikah dengan Lily." Albert menatap ke arah Lily.
"Mulai besok Lily sudah dipingit kau jangan menemuinya dulu," ujar Ibu Sri.
"Ck... Bu, ini jaman modern dan masih percaya dengan hal begituan."
"Orang tua jaman dulu menyarankan karen ada sebab dan musababnya. Itu memang tidak harus dilakukan tetapi alangkah eloknya jika kau menjalaninya," terang Ibu Sri.
"Berarti aku tidak boleh pergi ke luar rumah Bu?" tanya Lily keberatan.
"Tidak! Kau harus tetap di rumah."
"Aku pasti akan merindukanmu jika tidak melihat selama seminggu penuh," ujar Albert mulai memasukkan makanan dalam suapannya.
"Lebay, kau sering meninggalkan aku lama ke luar kota," ucap Lily.
"Itu salah satu alasan diadakan pingitan agar mempelai saling rindu ketika bertemu selain beberapa alasan yang menurut kalian tidak masuk akal."
"Aku anak baik, Bu pasti akan mengikuti aturan itu," ujar Albert.
"Tapi sebelum itu aku ingin bicara denganmu Lily," kata Albert dengan wajah serius, lalu tersenyum padanya. Wajah Lily mulai menegang, "Sebelum nanti kita terpisah karena ada pingitan."
__ADS_1
Mereka lalu berbicara tentang pernikahan.
"Bagaimana dengan bajunya Bu, apakah sesuai ukuran dan bentuknya?" tanya Albert.
"Penjahitnya, menjahit dengan sangat indah detail."
"Bukan penjahit Bu, desainer," ralat Lily.
"Sama saja kan? Mereka yang menjahit baju kita."
Lily menghela nafasnya. "Terserah pada Ibu saja."
Mereka lalu menyelesaikan makanannya. Setelah itu Lily undur diri untuk bersiap pergi ke toko dan cafe.
"Nak Al memang sudah yakin mau menikah dengan Lily?" tanya Ibu Sri pada calon menantunya.
"Tentu saja yakin, sudah sampai pada tahap kok Bu, Bu."
"Terus terang Ibu terlalu minder jika berhubungan dengan keluarga Nak Al."
"Lho kok? Mereka sudah menerima Lily dengan baik kok," jawab Albert.
"Nah itu, Ibu takut jika mereka menerima karena Nak Al yang memaksa. Bagaimana pun kami tahu diri, tidak satu...," Ibu Sri tidak meneruskan kata-katanya.
"Ibu, Lily bisa membuktikan jika dia layak bersanding denganku di depan papa dan mama. Walau awalnya mereka tidak menyetujuinya. Lily adalah seorang fighter, yang berjuang demi kehidupannya yang lebih baik. Mama dan Papa salut akan hal itu."
"Ibu jangan takut, aku akan selalu ada untuk Lily." Ibu Sri lalu tersenyum mendengar ucapan dari Albert. Anak itu selalu bersikap sopan dan manis. Dia malah mendekatinya dulu sebelum mendekati Lily secara personal. Meminta ijinnya terlebih dahulu untuk menikahi Lily sebelum mengatakan cinta pada wanita itu. Ibu Sri bisa melihat keseriusan di mata Albert untuk Lily. Itulah yang membuatnya mendukung usaha Albert untuk dekat dengan Lily.
Di tahun pertama ketika usaha Lily belum memperlihatkan hasil yang signifikan, Ayah dan Ibu Albert menentang kebersamaan mereka. Pria itu di jodohkan dengan wanita yang status sosialnya sama dengan Albert. Akan tetapi, Albert kekeh tetap memilih Lily hingga orang tuanya akhirnya menyerah dan merestui hubungan mereka.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Lily yang mulai turun dari tangga.
"Membicarakan mu," ujar Albert.
"Yang bagus... bagus ya...."
"Tidak ada celah untuk membicarakan hal buruk tentangmu," ujar Albert.
"Gombal!"
"Yuk, kita berangkat," ajak Lily.
"Ibu kami berangkat dulu," pamit Lily dan Albert lalu mencium tangan Ibu Sri bergantian.
Satu jam kemudian mereka telah berada di Cafe. Duduk saling berhadapan. Tangan Albert memegang tangan Lily.
"Ada apa? Katanya ingin bicara serius denganku?" tanya Lily menatap Albert dengan lekat.
__ADS_1