
"Ini terasa lucu," kata Jonathan pada ibunya.
Mereka sedang berada di sekolah melati untuk mengambil hasil Ujian terakhir kelasnya. mereka memandangi anak-anak yang sedang menyerap penjual kaki lima di pinggir sekolah.
Walau mereka dari kalangan berada Tapi melati di sekolah kan di tempat umum agar bisa berbaur dengan semua orang pikir Jonathan. Sehingga anaknya tidak membedakan seseorang dari keturunan ataupun kekayaannya serta kedudukan orang tuanya.
Dia ingin Melati tumbuh menjadi pribadi yang humble pada semua orang dan Low profile. Dengan begitu dia bisa bergaul dengan siapapun dan di manapun dia berada.
"Hidup memang lucu, dulu kau yang selalu ku antar ke sekolahan kini aku mengantar cucuku." Meskipun bangga menjadi nenek Melati, Aliya belum terlihat seperti seorang nenek. Dia punya selera berbusana bagus yang melekat pada dirinya selama menjadi seorang istri pengusaha besar dan mendampingi suaminya pergi ke acara penting perusahaan atau bertemu dengan klien. Kini perannya berganti menjadi seorang nenek dari anak kelas tiga sekolah dasar.
"Apa yang guru melatih katakan tadi, Bu."
Wajah Aliya nampak tegang. Tadi gurunya memberitahu agar aku menemuinya setelah pembagian raport usai."
Perut Jonathan terasa melilit dan tegang.
" Adakah masalah serius?"
" Melati mengalami sedikit masalah pada nilainya yang turun. gurunya mengatakan mungkin ada sesuatu hal yang membuat psikisnya sedikit terganggu. akhir-akhir ini emosi melati tidak stabil . dia mudah tersinggung dan bertengkar dengan temannya"
"Ibu tidak mengatakannya padaku?" tanya Jonathan.
"Kau sendiri sedang banyak pekerjaan yang menumpuk, perusahaan juga dalam resensi karena inflasi di negeri kita yang semakin menurun yang berdampak besar pada beberapa hotel milik kita. Aku dan Ibu guru sedang mencoba mengatasi masalah ini. Bukannya teratasi Melati malah semakin menutup diri."
__ADS_1
Jonatan menyandarkan diri di jok kursi mobilnya memandangi Melati yang mengantri membeli jajan di belakang pedagang siomay. Kepalanya mulai terasa sakit. Lehernya tiba-tiba menjadi kaku.
"Dia butuh seseorang untuk bercerita dan membagi perasaannya tentang apa yang dia alami setiap harinya."
"Ada aku, kau, Bu dan Ayah yang selalu menemani dan berada di sisinya."
"Dia anak perempuan, berbeda dengan dengan anak lelaki, hatinya lebih sensitif. Aku terlalu tua untuk bisa menebak isi hatinya. Cara didik sekarang dan dulu berbeda. Aku tidak bisa menerapkannya pada diri Melati."
Jonathan menutup mulutnya erat.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Dia butuh seorang wanita untuk mengasuhnya, memberitahu tentang yang baik dan tidak baik. Bertindak layaknya wanita, bukannya adu otot dengan teman prianya."
"Ya. Dia beberapa kali melakukan itu. Bukankah kalian selalu melakukannya ketika bersama Kau mendidiknya menjadi seperti mu padahal dia itu anak perempuan," keluh Aliya.
Jonathan membuang wajahnya ke samping sambil menggigit tangan. "Apa yang harus kulakukan, Bu."
"Hadirkan dia sosok wanita yang bisa dia contoh perilaku atau perbuatannya. Yang bisa mengajarinya tentang banyak hal apa yang boleh dilakukan oleh seorang wanita dan tidak."
"Apakah kau tidak bisa melakukannya, Bu?"
"Generasiku dan dia berbeda jauh Jo. Dia butuh seorang wanita yang lebih muda. Mungkin seseorang yang bisa jadi ibunya ke depan. Jika tidak kau ke Swiss dan bawa Bella kembali pulang bagaimana pun caranya."
__ADS_1
"Apakah itu solusi yang baik? Bagaimana jika pengasuh wanita? Akan mudah mencarinya, tinggal menelfon agensi lalu dia datang."
Sebuah pukulan mendarat di kepala Jonathan.
"Dia butuh seorang wanita yang bisa dia contoh cara berpakaian, gaya hidup, keseharian dan terutama sikap serta adab dalam berhubungan dengan seseorang."
Jonathan mengusap wajahnya.
"Dimana aku akan menemukan wanita seperti itu?"
"Jika aku tahu, aku sudah membawanya ke rumah. Namun, setiap aku membawa seorang gadis ke rumah kau dan Melati sama-sama menolak kehadiran mereka."
"Mereka hanya tertarik padaku bukan Melati!"
"Itu pikiranmu saja," ujar Aliya berdecih.
"Aku akan mencarikannya. Sekretarisku mungkin bisa melakukannya."
"Wanita dengan pakaian ketat dan berdandan menor itu? Kau bercanda?"
"Aku akan mencari salah seorang pegawaiku untuk membantu mengeluarkan ku dari masalah ini. Jika Ibu menyuruhku mencari wanita untuk ku nikahi. Aku belum menemukannya. Mencari istri tidak seperti mencari cabai di pasar."
Aliya menghela nafas panjang. Dia pikir kata-katanya tadi bisa membuat Jonathan berpikir ke arah sana, nyatanya tidak.
__ADS_1