
"Bella!" bentak Jonathan pada mantan istrinya Mantan istrinya.
Bella terkejut ternyata Jonathan pulang lebih awal dari kantor. Dia nampak gugup dan takut.
"Jo... aku tidak bermaksud seperti itu tapi ...." Bella tidak bisa meneruskan lagi kata-katanya melihat Jonathan menatapnya dengan tajam.
"Kau tidak boleh memarahi Melati selama ini dia tidak pernah mendengar kami memarahinya."
"Karena itu dia jadi berani karena kau selalu memanjakannya."
Tuduhan Bella membuat wajah Jonathan memerah. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi.
"Selama pernikahan kita, aku selalu menuruti apa mau kau minta, kau ingin tetap menjadi wanita karir dan pergi ke kantor, aku tak pernah melarang. Walau dalam hatiku, aku ingin kau di rumah mengurus anak kita. ketika kau sibuk dengan pekerjaanmu aku memaklumi semuanya dan tidak pernah mengeluh hal ini pada siapapun. Namun ketika aku melakukan sesuatu yang ku suka dan kau menentangnya, kau mengatakan aku egois. Padahal, sebagai pria aku juga ingin selalu bersamamu diperhatikan dan diutamakan. Kau marah ketika ku samakan dengan Lily tanpa sengaja, tapi kau tidak pernah instropeksi diri untuk belajar dari kesalahanmu. Okey, aku faham aku salah disini. Aku teringat akan Lily karena kau tidak pernah mencoba masuk dalam hatiku. Kau hanya ingin diperhatikan tetapi tidak mau memperhatikan!"
"Aku selalu pulang lebih awal darimu, kau tahu itu dan kita pun bekerja di gedung yang sama, aku tidak pernah telantarkan Melati, jika sakit dia kubawa ke kantor dan ku urus di ruangan ku."
"Bukan kau yang mengurusnya tetapi baby sister!"
"Kau... kau mudah sekali mengatakan itu, aku ibunya tentu saja aku yang merawatnya."
"Kalian apa-apa sih, sudah jadi orang tua masih saja bertengkar. Bisakah kalian memberi contoh yang baik bagi Melati?" seru Bu Aliya menengahi keduanya.
Melati yang tidak tahan mendengar pertengkaran orang tuanya lalu pergi dari rumah dengan diam-diam.
"Pak, Ayah memanggil!" ujar Melati pada penjaga gerbang rumahnya.
"Ada apa, Ya Non?"
"Entah itu, dia minta dibantuin apa gitu, sana gih jangan sampai Ayah marah!" ucap Melati tersenyum padahal dia baru saja menangis tadi.
"Ya, sudah Non. Tolong tungguin pos ya Non takut ada yang mau masuk sama keluar."
"Apa yang masuk sama keluar Pak?"
__ADS_1
"Kendaraan atau orang Non, takut ada pencuri lagi rawan pencuri di siang hari."
"Ya udah sana... sana temui Ayah!" usir Melati. Penjaga itu lantas berlari masuk ke dalam rumah.
Melati sendiri langsung membuka pintu besi kecil yang ada di samping pos. Dia lalu keluar dan berlari cepat sambil mencari taxi atau motor ojek yang lewat.
Hingga dia melihat motor ojek online yang lewat. Dia lalu menghentikannya dan meminta pengemudi itu untuk melajukan kendaraannya ke toko Go Win.
Melati tidak tahu apa yang dia lakukan ini benar atau tidak. Namun, ini cara terakhirnya untuk membujuk Lily agar menghentikan pernikahan itu.
Sedangkan di rumah terjadi adu mulut antara Jonathan dan Bella.
"Setelah beberapa tahun kita berpisah aku kira kau akan berubah.Namun tidak, kau masih Jo yang sama. Aku menyesal mempunyai keinginan untuk kembali padamu hanya karena ingin bersama dengan Melati. Nyatanya kita tidak akan mungkin bersama karena kita memang berbeda. Kau benar perpisahan ini bukan karena Lily tetapi karena kita berbeda dan tidak pernah saling berusaha untuk menyatukan perbedaan itu. Kau dan aku sama-sama egois."
Bella menyeka air matanya. Ibu Aliya memeluk Bella berusaha menenangkan menantunya itu. "Bella kita bisa bicarakan ini dengan tenang. Melati butuh, kau ibunya."
"Melati tidak membutuhkan aku Bu, dia butuh Lily," kata Bella dengan sakit dan dada yang sesak.
"Lily akan menikah dengan Albert, besok!"
"Seharusnya aku tahu ini. Nilaiku tidak sebagian Lily di rumah ini."
"Bukan maksud Ibu seperti itu Bella. Ibu hanya ingin melihat Melati bahagia. Jika kalian dipaksa bersama lalu sering bertengkar lagi seperti tadi apa tidak akan membuat anak itulah tertekan? Apakah kau memikirkan itu, Bella?"
"Aku sudah memikirkan itu. Aku pikir karena umur aku dan Jo sudah dewasa kami bisa mengatasi ini dengan kepala dingin. Nyatanya, perbedaan itu tetap ada saja dan kami tidak bisa menyatukan kembali cinta kami yang sudah terbakar karena emosi sehingga hancur dan menjadi abu."
Jonathan lalu celingukan mencari Melati. "Melati, Kesayangan Ayah, di mana kau?" panggil Jonathan setelah tidak melihat keberadaan anak itu.
Ibu Aliya dan Bella lalu terdiam ikut mencari keberadaan Melati.
"Tuan, Non Melati di pos Satpam. Dia bilang Tuan mencari saya," kata Satpam.
"Semoga apa yang kupikirkan tidak terjadi." Jonathan lalu berlari ke luar dan mendekati pos satpam. Dia menarik rambutnya ke belakang ketika Melati tidak ada di depan pintu gerbang luar.
__ADS_1
"Dimana Melati, Jo?" tanya Ibu Aliya.
"Dia pergi. Entahlah dia pergi kemana? Aku akan mencarinya."
"Ya Tuhan Melati kau dimana?" sesal Ibu Aliya yang tidak memperhatikan Melati.
"Bu... Maaf karena aku Melati pergi." Bella manatap Aliya dengan penuh rasa bersalah. Tangisnya semakin keras. Dia merasa menjadi Ibu yang buruk bagi anak itu.
"Kita cari anak itu dulu. Akhir-akhir ini dia sangat sensitif. Mudah marah dan menangis."
Bella menganggukkan kepala. Mobil Jonathan mulai keluar dari rumah.
"Jo aku ikut," ucap Bella penuh harap. Jonathan menatap Bella sejenak lalu mengangguk.
"Ayo cepat sebelum dia terlalu jauh."
Bella masuk ke dalam mobil. Lalu mobil melesat pergi dengan pelan sambil mencari keberadaan anak itu.
Aliya sendiri berharap semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Melati. Dia merasa sangat khawatir pada anak itu. Dia tidak pernah pergi tanpa pamit dan tanpa pengawasan.
"Melati, pulanglah Nak. Nenek mengkhawatirkanmu."
Sedangkan Bella dan Jonathan terdiam menatap keluar jendela mobil menatap jalanan yang mereka lewati berharap bisa melihat Melati lewat.
"Biasanya kalau marah Mslati pergi kemana?"
"Jika aku tahu, aku tidak akan cemas seperti ini."
"Apakah dia tidak punya seorang teman karib, mungkin dia main kesana?"
"Melati tidak punya teman karib, jika keluar selalu bersama aku atau Ibu, kalau tidak sopir yang akan mengawalnya kemanapun dia pergi."
"Berarti Melati tidak pernah main ke rumah temannya?"
__ADS_1
"Sudah kukatakan jika Melati tidak pernah main ke rumah teman. Dia tipe anak rumahan yang tertutup."
"Aku bahkan tidak kenal karakter anakku sendiri, Ibu seperti apa aku ini?'' batin Bella tertekan.