
Ini musim penghujan dimana bunga-bunga mulai bermekaran serta rumput ilalang mulai tumbuh lebat di sepanjang jalan menuju ke sebuah daerah perkampungan di kota Bogor.
"Kenapa kakek dan Nenek tidak ikut dengan kita?" tanya Melati dari jok belakang.
"Mereka sedang punya acara sendiri." Melati.
"Kenapa acara ini dinamakan reuni keluarga DanuWijaya?" tanya Melati lagi.
"Reuni artinya waktu berkumpul dan bertemu. Kita akan menemui keluarga besar Danu Wijaya jadi dinamakan reuni keluarga Danu Wijaya."
"Siapa keluarga Danu Wijaya sepertinya nama itu sering kudengar?"
"Itu nama Kakekmu dari pihak Ibu."
"Ibu, keluarga Ibu untuk apa kita kesana."
"Kau ingat setiap tahun kita bertemu dengan keluarga Ibumu."
"Untuk apa, jika Ibu saja tidak ada sana," gerutu Melati.
Jonatan mengacak rambut Melati. Dia memang belum mengatakan pada Melati jika ibunya telah kembali dari Swiss.
"Karena kau harus terus kesana menyambung tali silaturahmi dengan keluarga ibumu. Kau ingat berapa banyak hadiah yang kau bawa tahun kemarin dari acara itu."
"Ya, itu keren, semua orang memberiku hadiah. Kecuali Ibu. Tapi dia sering mengirimiku hadiah setiap bulannya walau tidak pernah datang ke rumah."
Jonathan menatap Melati dari kaca spion. Anak itu lantas menatap sedih keluar jendela entah apa yang dia pikirkan sekarang.
Mereka lalu sampai di sebuah villa mewah di kota hujan. Baru saja mereka menepi seseorang mulai keluar dari rumah itu dengan tergesa-gesa. Dia berhenti sejenak memandangi Melati yang baru turun dari mobil.
"Melati...." lirih wanita itu tapi terdengar hingga ke telinga anak itu. Mungkin karena ikatan batin antara Ibu dan Anak. Sejenak keduanya terdiam. Dia tidak berlari antusias ke arah Ibu yang katanya ingin dia lihat selama ini. Anak itu malah melihat ke arah Jonathan.
Bella lalu mendekat ke arah Melati dan ingin memeluknya, namun anak itu malah berlari ke arah Jonathan.
Bella terpaku. Dia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.
"Hallo cucu Opa yang paling cantik, selamat datang. Opa sangat merindukanmu. Lama sekali kita tidak bertemu, Sayang," panggil Bram Danu Wijaya.
Jonathan menuntun Melati ke arah kakeknya.
__ADS_1
"Kakek yang tidak pernah menemuiku lagi," balas Melati menerima pelukan kakeknya. Bella hanya bisa berdiri menatap nanar ke arah Melati.
"Kakek sedang sakit-sakitan sering berada di luar negeri untuk berobat jadi jarang menemuimu lagi
"Kau tidak memeluk ibumu?" tanya Bram.
Melati menatap ke arah Bella dengan langkah yang berat dia mendekat pada Ibunya. Bella lalu memeluk Melati dengan erat. Anak itu tidak bergeming, dia tidak melepaskan tatapan ke arah ayahnya.
Sedangkan Bella menangis sejenak, melepaskan kerinduannya pada Melati. Dia lalu menyeka air matanya.
"Kau sudah besar sekarang terakhir kali ketika bertemu kau masih segini," kata Bella kenunjuk ke arah pusar.
"Karena Ibu tidak pernah menemuiku jadi tahunya aku sudah tinggi dan besar." Melati mengatakannya dengan nada yang ketus.
"Maaf, Ibu belum bisa pulang beberapa tahun ini jadi tidak bisa menemuimu."
"Ibu memang tidak merindukan aku jadi tidak ingin menemuiku!" ujar Melati sengit memegang celana ayahnya setelah Bella melepaskan pelukannya.
"Melati! Ayah tidak mengajarimu untuk bersikap buruk pada ibumu!"
"Aku bersikap baik hanya ingin bertanya saja kenapa Ibu tidak pernah ingin menemuiku dan ketika aku ingin menemuinya dia tidak mau. Kenapa? Apa dia tidak sayang padaku?"
Hati Bella sakit dan hancur mendengar pertanyaan Melati tetapi itu wajar dirasskan oleh anak itu.
"Ibu yang lain ingin selalu berada di dekat anaknya kenapa Ibu malah suka jauh dariku?" tanya Melati serak memiringkan kepala. Anak itu menangis tersedu.
Bella kehilangan kata-katanya, menutup mulut dan meneteskan air mata. Jonathan merengkuh Melati.
"Sudah... sudah..." ujar Bram dengan suara tenang dan menenangkan.
Bella yang tidak bisa menahan air matanya lantas masuk ke dalam rumah.
"Melati... ikut Kakek yuk, Kakek punya beberapa hadiah untukmu," ajak Bram pada Melati. Tangannya terulur pada anak itu.
Melati menatap pada Ayahnya. Mereka lalu masuk ke dalam. Beberapa kerabat mulai menyapa Melati dengan baik dan ramah seperti biasanya.
"Melati Ayah tidak pernah mengajarimu tidak sopan pada ibumu. Kau harus baik dengannya bagaimana pun dia adalah wanita yang melahirkanmu dan menyusuimu." Jonatan mengatakan itu ketika mereka sedang duduk berdua.
"Apakah kau pernah melihat Ayah marah pada Nenek?"
__ADS_1
"Tapi...," Melati tertunduk.
"Ayo minta maaf pada ibumu dia pasti sangat sedih mendengar ucapanmu tadi."
Melati mengangguk dan mengikuti ayahnya ke kamar Bella. Jonathan mengetuk pintu kamar wanita itu.
"Bel...," panggil pria itu pelan. Tidak lama kemudian pintu dibuka. Wajah Bella nampak sembab.
"Melati ingin bicara denganmu," kata Jonathan. Bella menatap ke arah anaknya, tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
"Ayo masuk, Sayang Ibu, " ajak Bella. Melati melihat ayahnya lagi dan Jonathan mengangguk melepaskan genggaman tangannya. Melati lalu menerima uluran tangan Bella.
"Ayah akan menunggu dibawah." Melati nampak keberatan namun dia tidak berani untuk mengatakan apapun. Dia lalu ikut masuk ke dalam kamar Bella.
"Ibu membeli banyak hadiah untukmu," kata Bella memperlihatkan banyak barang yang dia beli khusus untuk Melati.
"Apakah baju dan sepatu yang Ibu kirim muat kemarin?" tanya Bella.
Melati mengangguk. Anak itu memilih tangannya duduk di sebelah Bella.
"Ibu... kata Ayah, aku harus meminta maaf pada Ibu," kata Melati.
Bella menarik dua alisnya ke atas. Tersenyum dan memeluk Melati erat. "Tidak apa-apa dan tidak masalah."
"Kau berhak marah pada Ibu karena kenyataannya memang seperti itu. Tapi satu hal Ibu akan selalu mencintai dan menyayangimu."
Bella memeluk Melati erat dan mencium pucuk kepalanya. Menghirup aroma yang dia rindui selama beberapa tahun ini.
"Tante Lily juga pernah mengatakan itu jika tidak ada seorang Ibu pun yang berniat pergi meninggalkan anaknya. Katanya, Ibu pasti sangat mencintaiku dan merindukanku di sana. "
Deg!
Lily lagi, mengapa selalu berkaitan dengan Lily. Hati Bella perih mendengarnya.
"Oh, ya apakah kau sering bertemu dengannya?"
"Sering, aku selalu mengunjungi toko dan cafe milik Tante Lily, dia akan selalu menemuiku dan menemaniku makan. Dia juga mengajariku membuat kue, Tante Lily sangat baik dan Sayang padaku."
"Dia bahkan langsung datang ketika mendengarku sakit... merawatku dan membuatku makan. Saat aku muntah dia terkena muntahan ku, Tante tidak jijik dan marah, dia malah cemas... bla... bla... bla... Melati bercerita tentang Lily secara antusias pada Bella.
__ADS_1
***
Sembilan bab lagi ya... setelah itu aku tamatkan... love you semuanya