
Hampir setiap hari Bella mengunjungi rumah keluarga Jonathan. Dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Melati dan mengganti waktu yang telah terbuang begitu saja tanpa anak itu. Dia ingin meraih kembali cinta dan kasih sayang Melati untuknya.
Jonathan sendiri tidak melarang Bella untuk dekat dengan anaknya dia malah ikut senang karena Melati bisa merasakan kembali kasih sayang ibunya.
"Kalian sudah sarapan belum, aku bawa sandwich panggang yang lezat," ujar Bella ketika masuk ke ruang makan.
"Pas sekali, kami baru akan mulai sarapan," ujar Nyonya Aliya menyambut kedatangan mantan menantunya itu.
"Kalau begitu sini ikut bergabung sekalian. Aku yakin kau pasti belum sarapan juga."
"Ibu benar aku memang langsung ke sini setelah memasak ini. Aku ingin makan dengan putriku,tapi di mana Melati?" tanya Bella melihat ke sekeliling.
"Dia sedang diatas. Entah apa yang dia lakukan," kata Aliya. "Dia sangat sulit jika diajak sarapan, kecuali jika dia sekolah mau tidak mau dia harus makan pagi. Coba kau panggil dia sekalian ayahnya."
"Baik, Bu!" Bella langsung menuju kamar atas.
"Kau lihat sepertinya mereka akan kembali bersama," ujar Pak Kusuma.
"Aku harap begitu. Padahal aku tadinya berharap Lily mau menerima Jonathan. Kini setelah tahu jika pernikahan Lily tetap akan dilangsungkan beberapa hari lagi, aku jadi patah arang," ujar Aliya pelan karena takut jika Bella mendengar. "Namun, kehadiran Bella membuat harapan baru untukku."
"Semoga apa yang kau inginkan menjadi kenyataan," ujar Kusuma.
"Aku sudah tua, aku takut usiaku tidak panjang. Sebelum itu terjadi, aku ingin Jonathan sudah menemukan pendamping hati yang tepat dan Melati memperoleh ibu yang akan menyayanginya."
"Aku hanya berharap siapapun pasangan Jonathan nanti bisa menjadi partner hidup yang baik untuknya. Aku tidak ingin mendengar pertengkaran terjadi di rumah ini."
"Ya, kau benar. Kita sudah terlalu tua untuk mendengarnya." Aliya meletakkan segelas susu ke hadapan suaminya.
"Kenapa kopiku jadi putih seperti ini."
"Kau sudah tua butuh asuhan vitamin sedangkan lambungmu itu sudah tidak bisa mengkonsumsi minuman ber kafein jadi hindari itu," ujar Aliya.
"Kau kejam!"
"Bukan kejam, ini untuk kebaikanmu dan aku. Aku tidak mau menjadi janda karena kau mengkonsumsi kopi terlalu banyak."
Sedangkan di atas Bella pergi ke kamar Melati. Membuka pelan pintu yang tertutup. Dia melihat anak itu sedang membaca sesuatu di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Melati!" panggil Bella. Melati yang mendengarkan ada suara langsung menutup bukunya dan menyimpan dibawah bantal membuat Bella curiga.
"Kau sedang membaca apa?"
"Aku sedang menulis diare, Bu," bohong Melati.
"Kenapa disembunyikan?"
"Ini tentang perasaanku dan rahasiaku jadi tidak boleh ada yang tahu."
"Apakah termasuk Ibu?"
"Humm!"
Bella tersenyum. "Nenek mengatakan jika kau belum sarapan pagi dan menyuruhmu untuk segera turun."
Melati yang melihat lalu menatap jam di dinding. Jam tujuh lebih sepuluh menit.
"Melati, ayo sarapan," ujar Jonathan memasang kancing di bagian tangannya.
Wajah Bella ditekuk. "Aku ingin tamasya bersama Melati jadi sengaja datang lebih awal."
"Oh!" Jonathan lalu memasang dasi yang tersampir di bahunya.
"Bolehkah aku pasang kan." tawar Bella membuat Jonathan terkejut sejenak. Tangannya lalu mengulurkan dasi itu pada Bella.
Wajah Bella nampak santai dan tersenyum cerah, sedangkan hal berbeda di perlihatkan oleh Jonathan. Wajah pria itu menegang seketika.
"Tidak, aku bisa sendiri," Jonathan memundurkan tubuhnya ke belakang. Dia memasang dasi itu sendiri.
"Ibu memanggil kalian untuk segera turun."
"Aku akan ke kamar, kalian ke bawah saja terlebih dahulu." Jonathan berlalu begitu saja. Bella terdiam, hanya memandangi kepergian pria itu.
"Bu, katanya mau makan, yuk," ajak Melati memegang tangan ibunya.
Bella tersenyum canggung lalu bersama Melati keluar dari kamar. Bella sempat melihat Jonathan sedang sibuk mengurus dirinya sendiri di kamar. Teringat akan masa dulu dimana dia juga sama-sama sibuk untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
Keegoisan dirinya yang tidak mengalah untuk tinggal di rumah saja membuat semuanya hancur. Sadar penuh akan hal itu membuat Bella meyakini jika perceraian ini bukan semata-mata salah Jonathan yang terlalu membandingkannya dengan Lily. Namun, ada andil nya juga. Dia dan Jonathan sama-sama sibuk di kantor. Ketika pulang keduanya sudah lelah dan ketika ada perbedaan perdebatan mudah saja terjadi.
Waktu untuk mereka bersama kurang banyak dan dia kurang bisa memahami Jonathan untuk banyak hal. Sedangkan Lily, dia selalu bersama Jonathan di setiap kesempatan dan selalu mencoba mengerti Jonathan. Bella yang merasa banyak menuntut dari Jonathan, sedangkan seperti kebanyakan pria, dia tidak mau mengalah malah membandingkannya dengan Lily.
Lima belas menit kemudian semuanya sudah berada di meja makan. Mulai menyantap hidangan pagi. Ada lontong opor buatan Ibu Aliya dan sandwich bawaan Bella.
Melati memakan keduanya secara bergantian agar terlihat adil, walau tidak ada yang habis. Sedangkan Jonathan lebih memilih masakan ibunya.
"Jo apakah kau jadi ke London Minggu besok?" tanya Pak Kusuma.
"Ya, aku akan melihat bagaimana hotel keadaan hotel mewah di sana dan mempelajarinya. Kita harus melakukan pembaharuan Yah, agar tidak ketinggalan jaman. Jika tidak lama-kelamaan hotel kita akan ditinggalkan pelanggan."
"Ayah setuju hanya saja, ada atau tidak anggaran untuk melakukannya? Itu butuh dana besar."
"Kita akan melakukan bertahap dengan memperbaiki satu hotel milik kita, jika telah selesai kita perbaiki yang lainnya.''
"Baiklah, ayah setuju dengan idemu. Lakukan yang terbaik."
"Bella, tambah lagi makanannya," ujar Ibu Aliya.
"Ini cukup Bu, seperti biasa makanan Ibu selalu lezat."
"Sandwich buatanmu juga enak. Lihat Ibu memakan habis, Ayah Jo juga," puji Ibu Aliya membuat Bella senang.
"Bu, aku akan membawa Melati ke Ancol," pamit Bella.
"Wah, itu bagus dong, Melati jadi tidak bosan bisa refresing." Ibu Aliya melihat ke arah Melati yang cuek dengan pembicaraan mereka. Dia tahu jika Melati sedang patah hati karena Lily akan segera menikah sedangkan dia belum bisa mendekatkan wanita itu dengan Ayahnya.
Melati begitu berharap Lily bisa bersama Ayahnya. Lucunya, dia tidak berharap Ibunya yang kembali bersama dengan Ayahnya dan dia menceritakan semua perasaan itu pada Ibu Aliya.
"Ehm, tunggu aku dititipi sesuatu untuk kalian." Bella lalu mengambil sesuatu di dalam tasnya.
"Ini undangan pernikahan Albert yang akan dilangsungkan seminggu lagi. Ini untuk Ayah dan Ibu, Ini untuk mu Jo," ucap Bella menyerahkan dua undangan itu pada Ibu Aliya dan Jonathan.
Suara sendok dan piring beradu keras terdengar. Melati meletakkannya begitu saja. Wajahnya nampak menyemburatkan rasa kekecewaan yang dalam.
"Aku sudah selesai makannya!"
__ADS_1