My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 41 Barang Kenangan


__ADS_3

Mereka bertiga memutuskan pergi naik mobil Jonathan ke rumah Lily. Sebuah rumah sederhana berukuran kecil tapi nampak asri dan terawat. Banyak pohon hias di setiap sudut halaman depan rumah itu.


Jonatan memarkirkan mobil di depan pintu garasi mobil.


"Ini rumahku, kecil, tapi aku suka." Lily mengajak semuanya pergi ke dalam. Jonathan melihat semuanya dengan sangat teliti.


"Aku belum masak apapun."


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi jika iya kita bisa beli di taman untuk dibawa pulang," balas Jonathan.


"Tante, semua boneka ini milik siapa?" tanya Melati yang melihat begitu banyak boneka di ruang tengah bahkan ada satu yang besarnya melebihi besar ayahnya.


"Milik Tante, yang besar itu ayahmu yang belikan dulu sewaktu ke Taiwan." Jonathan tersenyum kecut mengenang saat itu. Di mana Lily masih jadi sekretaris andalannya.


"Betul, Yah?" Jonathan menganggukkan kepala.


"Lalu ada barang apalagi yang pernah Ayah belikan dulu?"


"Biar ayahmu yang mencarinya, siapa tahu dia ingat," balas Lily. "Barang-barang yang ayahmu belikan itu unik dan mahal serta dari luar negeri jadi Tante simpan dengan baik." Lily mengatakan itu agar tidak ada kesalahpahaman antara mereka.


"Aku memang pandai memilih barang yang unik cantik dan berkelas," tanggap Jonathan.


Pria itu lalu mengelilingi rumah dan melihat memang banyak barang yang dipajang adalah barang yang pernah dia belikan untuk Lili. Beberapa pajangan dinding, lalu patung mini dan juga mangkok hias serta sepasang gembok perlambang cinta yang mereka beli di Paris Prancis. ada juga satu set gelas kristal yang mereka beli dari Jerman semua masih tertata apik di rumah itu.


Jonathan terharu dan tersentuh ternyata Lili tidak membencinya Jika dia tidak ingin mengingat akan dirinya maka dia pasti akan menyimpan atau membuang barang itu jauh-jauh tapi setiap sudut rumah itu pasti ada barang yang menjadi kenangan darinya.


Rumah itu terdiri dari dua lantai, lantai bawah terdapat tiga ruangan, ruang tamu, ruang keluarga yang bersebelahan dengan dapur tanpa sekat. Dapur itu di desain dengan minimalis modern kecil namun cantik di setiap sudutnya ada pohon yang membuat tempat itu terasa sejuk dan nyaman. Ada juga satu kamar mandi sederhana di dekat dapur.


"Kalian duduk dulu aku akan menyiapkan makanan untuk kita."


"Tante mau masak. Boleh aku ikut?" tanya Melati.

__ADS_1


"Kau hanya akan merecoki Tante Lily nanti."


"Tidak Ayah," kata Melati menekuk wajahnya.


"Tentu saja kau boleh ikut Melati. Ayuk kita lihat ada apa saja dalam lemari pendingin," ajak Lily.


Melati menjulurkan lidahnya pada Jonathan. Dia lalu mendekat ke arah Lily yang mulai menyalakan kompor untuk memasak air.


"Kau mau kopi?" tawar Lily.


"Tentu saja. Sudah lama sekali aku tidak meminum kopi buatanmu." Jonathan lalu duduk di kursi yang ada di meja bar, pembatas antara dapur dan ruang keluarga.


"Sebentar ya Melati. Tante buatkan kopi untuk Ayahmu dulu," kata Lily. Wanita itu mulai mencepol asal rambutnya yang panjang. Memperlihatkan kulit lehernya yang putih serta bentuknya yang panjang dan bergaris. Jonathan yang melihat lalu memalingkan wajahnya. Dia menghela nafas.


Lily memakai appron dan memakaikan appron pula untuk Melati. Setelah itu, Lily mulai menaruh air yang telah panas ke gelas yang berisi racikan kopi dan gula. Aroma harum biji kopi langsung menguar ke seluruh ruangan.


Lily lalu memberikannya kepada Jonathan. Jonathan menerimanya dan menghirup aroma kopi itu. "Masih sama seperti dulu."


"Yang buat juga masih orang yang sama." Balas Lily berjalan ke arah lemari pendingin. Jonathan tersenyum, meniup kopi itu lalu menyesapnya.


"Aku suka ayam goreng krispi lalu diberi saos racikan sendiri."


"Hanya itu?" tanya Lily. Melati mengangguk.


"Lihat ada ayam goreng yang tinggal goreng saja. Kita buat tepung nya. Lalu buat buat saosnya. Kita juga harus membuat sayur untuk menemani ayam itu, juga sendiri dia akan kesepian."


"Seperti Ayah, sendiri jadi suka melamun di kamar sendiri," celetuk Melati membuat Lily mengangkat dua alisnya ke atas menatap ke arah Jonathan.


"Itu hoaks, aku tidak pernah sendiri ada Melati yang selalu mengganggu di rumah."


"Beda jika ayah punya pendamping, ayah tidak akan pernah melamun sendiri lagi."

__ADS_1


Terkadang Jonathan gemas dengan anaknya sendiri titik mengapa ia begitu pandai dan banyak bicara suka membeberkan Rahasianya kepada orang lain.


Lili dan melati mulai memasak bersama mereka tertawa dan gembira. Lili yang baru mengenal Melati bisa membawa suasana menjadi akrab anaknya bahkan tidak segan-segan menggoda Lily atau berbuat jahil padanya.


" Dia sangat mirip denganmu jahil dan nakal," ungkap Lily.


"Dia anakku tentu akan mirip denganku," kata Jonathan menikmati suasana itu.


"Kenapa tidak ada sifat yang mirip dengan Bella?"


mendengar itu membuat wajah melatih ditekuk Lily yang melihat tidak tega dia lalu memeluk Melati.


"Maaf, Sayang, bukan maksud Tante membuatmu sedih."


"Tidak apa-apa. Selama ini aku bersama Ayah jadi hanya kebiasaan Ayah yang aku tahu, sedangkan Ibu aku hanya mengenalnya tetapi tidak tahu... tentangnya." Melati menunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Lily bersimpuh di depan Melati lalu mengangkat dagunya.


"Kau punya Ayah yang hebat juga nenek serta kakek yang menyayangimu jadi kau tidak perlu sedih dan khawatir akan semua hal. Ibumu Bella, juga pasti sangat menyayangimu."


Melati lalu memeluk Lily dengan erat. "Tapi terkadang aku juga iri dengan temanku yang ibunya ada di dekatnya. Mereka bisa bermain bersama, belanja dan memasak."


Lily menghela nafas dalam menatap ke arah Jonathan. Dia mengusap punggung Melati dengan penuh kasih sayang. Ada rasa sedih dan kasihan melihat Melati sedari awal. Ada juga ikatan yang tidak dia bisa menamakannya apa itu yang membuatnya merasa dekat dengan Melati sedari mereka bertemu. Dia menyayangi anak itu dan imut merasa terluka jika melihatnya menangis.


"Kau boleh kemari jika merindukan ibumu atau temui Tante di toko jika Tante tidak ada di rumah." Mata Lily mulai berbinar.


"Betul Tante?" Lily menganggukkan kepala.


"Yeay...!" Melati bergerak memutar badannya mengekspresikan rasa bahagianya.


Jonathan tersenyum sedih. Dia sadar jika Melati butuh seorang wanita di dekatnya. Wanita yang mengerti akan dirinya dan keinginannya. Yang bisa memberi contoh yang baik. Yang bisa mengajarinya bagaimana menjadi seorang wanita yang anggun dan baik. Sayangnya semua itu ada pada diri Lily yang tidak mungkin dia dapatkan.


"Masakan sudah matang," kata Lily membawa semangkuk sedang daging ayam dengan saos buatan sendiri. Lalu sepiring sayur kangkung dengan beberapa cabai merah yang diberi taburan teri medan. Semuanya beraroma harum menggugah selera.

__ADS_1


"Kau lihat, semua masakan ini mudah kita masak."


"Iya tinggal buat buat bumbu, sreng sreng sreng lalu matang," ujar Melati. Mereka lalu makan bersama.


__ADS_2