
"Ayo masuk ke dalam tokoku," ajak Lily.
"Aku dengar kau pemilik toko ini."
"Ya, ini dibuat dari pesangon yang kau berikan."
"Aku bangga padamu. Namun bukannya kau tidak terlalu suka memasak."
"Ibu yang mengajariku lalu aku juga belajar ke banyak tempat." Lily menghela nafas. Dia melakukan ini karena teringat akan Jonathan yang sangat suka dengan roti bantal. Dia ingin bisa membuatnya dan berharap semoga suatu saat Jonathan bisa memakan roti miliknya. Entah dia melihatnya atau tidak. Dia ingin mengirimkan cintanya pada pria itu.
"Ayo masuk. Aku baru membuat pai cery. Kalian harus menikmatinya."
"Ayah suka dengan pai cery," seru Melati. Lily menoleh ke arah Jonathan dan tersenyum.
Dia sangat tahu kesukaan Jonathan dari dulu. "Ayahmu sangat suka dengan makanan manis. Dia memilih makan roti jika tidak sempat makan karena banyak pekerjaan. Kalau begitu aku akan membawakannya kemari."
"Wah, Tante Lily sangat tahu kesukaan Ayah."
"Tante Lily dulunya adalah sekretaris Ayah."
__ADS_1
"Iyakah? Aku tidak menyangkanya," ujar Melati berbohong. Dia sebenarnya sudah tahu semuanya.
Jonathan berusaha memandangi Lily tanpa mencolok tetapi dia tidak sanggup mengalihkan tatapannya dari sosok wanita itu. Nampaknya Lily pun mempunyai masalah yang sama. Tatapan mereka sering sekali bertemu lalu melemparkan ke arah lain.
"Aku masih tidak perbatasan kau ada di sini."
"Ya, kita sudah terlalu lama berpisah." Jonathan menghela nafasnya.
"Memang dulu Tante Lily pergi kemana sehingga kalian berpisah?" tanya Melati.
"Tante pulang ke desa lalu karena ada suatu sebab Tante pindah kemari."
"Kau sudah menikah Pak Jo!"
"Panggil Jo saja. Kau bukan bawahan ku lagi."
"Bagaimana rotinya apakah enak?"
"Sangat enak apalagi dengan kopi ini. Aku merindukan racikan kopimu."
__ADS_1
"Apa yang tidak kau rindukan tentang Lily, Jo Semuanya harus seperti yang Lily buat atau kerjakan," cetus Aliya membuat Lily terkejut. Dia takut jika hal itu membuat pemikiran salah dengan hubungan mereka di mata Melati.
"Bella dan Jo sudah berpisah, Lily." jelas Aliya mengerti apa yang dipikirkan oleh Lily.
Lily menutup mulutnya karena terkejut. Dia menatap kasihan pada Melati. Pantas saja jika Melati seperti anak yang kurang kasih sayang ternyata?
"Aku tidak tahu Melati, kau tidak pernah cerita." Lily lalu melihat ke arah Aliya. "Melati hanya bercerita jika Ayah dan ibunya sangat sibuk sehingga tidak punya waktu untuknya.
"Ya, aku memang sangat sibuk dan jarang menemaninya bermain di rumah."
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Ayah selalu berkerja dan Ibu juga bekerja di luar sana. Di Swiss. Kadang aku marah pada Ibu. Kenapa Ibu harus melahirkan ku jika tidak pernah punya waktu untukku." Melati meneteskan air matanya. Perkataan Melati terasa menyayat hati Lily. Lily lalu beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Lily meletakkan kepala anak itu dalam dekapannya.
"Ibumu itu wanita baik. Dia pasti punya alasan ketika melakukan itu. Anak baik tidak akan marah-marah pada orang tuanya."
"Melati memang butuh seorang Ibu," celetuk Aliya. Melati makin keras tangisnya. Dia mengikuti naluri nya untuk mengikuti drama yang neneknya lakukan. Dia memang sedang marah pada Ibunya, hal itu dia gunakan juga untuk menarik perhatian Lily yang tidak tegaan.
"Sudah ada Ayah dan Nenek juga Kakek, kau tidak kurang kasih sayang," lanjut Jonathan yang tahu dengan sifat anaknya yang mirip dengannya suka dengan sandiwara.
"Itu berbeda Ayah. Bukan begitu Tante? Kehadiran sosok Ibu itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan anak di masa pertumbuhannya."
__ADS_1
Lily tidak tahu harus menjawab apa. Dia merasa seperti terjebak oleh pertanyaan Melati.