My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 33 Bawa Pulang


__ADS_3

Situasinya terasa wajar. Semua tampak normal sekaligus bersahabat untuk Lily. Namun, terasa ada sekat antara dirinya dan Jonathan sesuatu yang tidak bisa dia tembus. Dia menatap ke arah semua orang di sini.


Melati nampak senang dengan pertemuan ini. Ibu Aliya terlihat sekali jika dia merindukannya, Jonathan, dia lebih banyak diam namun tatapannya terasa berbeda. Dia tahu apa itu.


Jonathan datang terlambat atau dia yang terlalu pengecut selalu bersembunyi dari pria itu selama ini. Ini terasa tidak adil baginya ketika dia melihat cinta dimata Jonathan di saat itu sebuah cincin sudah melingkar di jari manisnya. Dia sudah tidak sendiri lagi. Ada Alberth yang telah sabar menunggu dirinya selama ini. Dia tidak ingin mengecewakannya karena dia tahu bagaimana sakitnya menunggu seseorang yang tidak kunjung membalas cinta.


Dia mungkin masih mencintai Jonathan tetapi dia menghormati hubungannya dengan Alberth. Dia tidak bisa begitu saja membuang Alberth dan menerima Jonathan, pria yang tidak pernah melihatnya selama beberapa tahun yang lalu walau mereka selalu bersama.


Jonathan merasakan perhatian Lily bagai sentuhan fisik. Itu membuatnya terganggu sekaligus gembira. Dia mengingatkan dirinya jika Lily sudah punya tunangan yang dia cintai. Ada batasan yang tidak bisa dilanggar, kecuali Lily memang memutuskan untuk meninggalkan tunangannya dan memilih dirinya.


"Sebaik nya kita bicara di ruangan di lantai dua?" tawar Lily.


"Oh itu bagus. Ayo kita ke ruanganmu," ucap Aliya. Mereka berempat lantas ke lantai dua.


"Bau harum roti ini membuatku melayang. Kau pandai sekali membuat resepnya Lily."

__ADS_1


"Akh, ibu bisa saja. Aku hanya belajar sedikit dan menerapkannya di dapur. Bersyukur jika roti buatanku di terima masyarakat luas. Aku masih punya mimpi untuk membuatnya menjadi pabrik dan membuka banyak cabang."


"Wah, itu ide yang bagus. Kau itu orangnya ulet pasti bisa mewujudkan mimpimu," ujar Aliya belum sempat Lily membuka pintu tiba-tiba ada ponsel Aliya berdering.


"Ayahmu, Jo. Dia minta untuk ditemani kontrol ke rumah sakit."


"Apakah aku boleh ikut, Nek?" tanya Melati.


"Kau temani saja Ayahmu," ujar Aliya melihat ke arah Jonathan.


"Gigiku sakit, jadi aku akan periksa di dokter gigi sekalian." Melati memegang pipinya.


"Mungkin karena krim cokelat yang kumakan mengenai gigiku yang bolong."


"Ya sudah. Kalau begitu biar aku antar kalian," ucap Jonathan.

__ADS_1


"Oh tidak usah. Tadi Kakekmu sudah mengirim mobil lain untuk menjemput. Kau disini saja bersama dengan Lily menikmati nostalgia kebersamaan kalian dulu."


"Tapi Melati siapa yang akan menemaninya jika Ibu harus menemani Ayah?"


"Bisa bergantian. Kami biasa melakukannya ketika kau sibuk bekerja. Bukan begitu Melati?"


Melati mengangguk. "Itu benar! Ayah selalu sibuk jarang punya waktu untukku selain hari Sabtu dan Minggu."


Jonathan mengusap wajahnya malu aibnya dibuka di depan Lily.


"Ya, sudah terserah kalian saja."


"Lily, Ibu pergi dulu. Jaga baik-baik ya Jonathan," katanya dengan nada bergurau.


"Tante, kalau Ayah nakal lagi cubit aja. Sama aku boleh kok. Nanti kalau Ayah pulang jangan lupa bawa roti isi keju kesukaanku. Tante Lily tahu roti yang mana paling kusuka."

__ADS_1


"Beres."


"Kalau bisa bawa sekalian Tante Lily ke rumah biar bisa membuatkan roti setiap hari untuk kita dengan gratis."


__ADS_2