
"Tante akan di sini kan?" tanya Melati.
"Tante harus pulang, Sayang."
"Di luar hujan lebat Li, sangat berbahaya jika kau mengendarai motormu sendiri. Kau tidak memakai mobil kan ketika ke sini."
"Jo... aku harus pulang besok pagi sekali aku harus ke toko untuk membuat pesanan roti."
"Aku akan mengantar tetapi sekarang kau di sini saja dulu. Ibumu, belum kembali kan dari kampung?"
Lily menggelengkan kepala. "Aku tidak membawa baju ganti."
"Seperti biasa, kau pakai pakaian Ibu, dia pasti masih menyimpan pakaian baru di lemari."
Lily tidak tahu harus dengan alasan apa untuk menolak permintaan ini.
Melati memegang tangan Lily. "Ku mohon Tante menginap di sini, malam ini saja."
Lily akhirnya mengalah. Dia lalu duduk di lantai. Jonathan mengambil kasur tambahan agar bisa berbaring sambil menonton bola di letakkan di bawah sofa panjang. Setelah itu, menyerahkan baju milik ibunya setelah sebelumnya meminta ijin pada Aliya untuk meminta yang masih baju baru. Aliya yang mendengar sangat antusias dan senang. Dia meminta Jonathan mengambil beberapa pakaian rumah yang ada di ruang ganti milik Ibunya yang masih ada paper bag.
"Ini untukmu dari Ibu. Dia senang ketika mendengar kau ada di sini."
Lily tersenyum kecut.
"Sayangnya kamar yang dulu sering kau pakai sekarang di pugar kau tidur di kamar Melati saja dan mandi di sana."
Lily mengatup bibirnya rapat dan mengambil paper bag serta handuk bersih. Dia lalu menuju kamar Melati untuk mandi dan mengganti pakaian.
Setengah jam kemudian Lily telah kembali ke ruang tengah. Dia memakai daster ibu-ibu yang besar.
"Kau sudah cocok jadi seorang ibu jika memakai baju itu."
Wanita itu lantas duduk di sebelah Jonathan bersandar pada kursi sofa. Dia melirik ke arah Melati yang sudah tidur pulas.
"Dia sudah tidur?"
"Ya, mungkin karena efek obat."
"Bagaimana pertandingannya?"
"Seperti biasa, idolamu selalu menang."
__ADS_1
"Aku tahu itu, dia memang tidak pernah diragukan kemampuannya."
Mereka terdiam menikmati pertandingan yang hampir habis.
"Lily, jika kau tidak punya ikatan dengan siapapun apa kau akan menerima diriku dan Melati?" tanya Jonathan tiba-tiba.
Lily terperangah dengan pertanyaan Jonathan yang mendadak. Dia meraih minuman yang ada di depannya dan meminum habis air itu. Jonathan hanya memandanginya saja. Menunggu jawaban dengan sabar.
"Aku tidak tahu," ucap Lily mengusap bekas minumnya.
"Kau tidak tahu atau kau takut dengan kenyataan jika sebenarnya kau juga peduli pada kami."
"Jo...." Jonathan memegang kedua tangan Lily.
"Tidak Lily kini dengarkan aku. Aku tidak memintamu untuk merubah rencanamu menikah dengan Alberth. Aku hanya ingin kau jujur dengan perasaanmu untuk kali ini saja."
Lily menutup wajah dengan satu telapak tangan dan memejamkan mata. Dia tidak bisa mengeluarkan suaranya karena takut jika berseberangan dengan akal sehat.
"Tidak perlu katakan apapun, aku tahu perasaanmu." Jonathan menarik tubuh Lily mendekat dan memeluknya. Lily melawan tapi Jonathan tetap memeluknya erat. Tangis Lily mulai pecah.
"Aku mencintaimu Lily, dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah. Tidak ada satupun wanita yang bisa menggantikan kedudukan mu di hatiku. Tidak Bella. Tidak wanita lainnya."
"Jangan katakan itu. Itu hanya akan membuat aku sedih."
"Mengapa kau datang lagi Jo, disaat semua persiapan hampir selesai."l
"Aku sudah menyerah dan berusaha mengikhlaskan mu tetapi kau sendiri yang datang ke rumah ini dan membuat mimpi baru untuk Melati. Kau lihat dia begitu bahagia ketika berada di dekatmu. Aku tidak tahu bagaimanapun perasaannya ketika melihat kau menikah dengan pamannya."
"Jo, aku sudah berusaha menjauh tetapi Melati menghubungiku dan aku tidak tega."
"Bukan karena kau sayang padanya. Jika tidak tega kau bisa hanya menengok dan pergi tetapi kau menjaganya seperti seorang ibu pada anaknya."
"Jo...," lirih Lily.
"Kau tahu kau membuat harapan baru bagiku kini. Walau ini bukan hal benar tetapi aku minta dengan sangat agar kau pikir ulang tentang pernikahanmu. Apakah kau akan bahagia hidup bersama dengan Alberth sedangkan kau sendiri tidak mencintainya."
"Kau jangan membuatku ragu dengan keputusanku."
"Jika kau mencintai Alberth pasti kau tidak akan ragu. Jika kau menikah dengannya karena perasaan segan dan tidak enak. Maka itu hanya akan jadi bumerang kehidupanmu berikutnya."
"Alberth sangat mencintaiku Jo, aku percaya dia pasti akan membahagiakan aku.''
__ADS_1
" Tapi apa kau bisa membahagiakannya karena hatimu hanya milikku Li?"
"Aku tidak tahu tetapi aku akan menjalani semuanya sebaik mungkin."
"Kalau itu keputusanmu aku bisa apa. Hanya saja aku berdoa agar kau merubah pikiran itu karena di sini ada aku, Melati yang menunggu kedatangan mu. Ayah dan Ibuku juga berharap kau menjadi menantunya."
"Jo... jangan membuatku dilema."
"Membentuk suatu keluarga tidak semudah itu Lily. Jika tidak didukung oleh kedua belah pihak akan sulit ke depannya nanti. Jika bersamaku kau bisa memperoleh keluarga yang mencintaimu dan dicintai oleh mu. Jika dengan Alberth kau belum tahu karakter mereka. Harus beradaptasi terlebih dahulu dengan keluarganya."
"Aku berbicaralah bukan hanya sebagai orang yang mencintaimu tetapi sebagai teman lama."
Lily terdiam. Keluarga Alberth memang tidak menentang pernikahan ini. Tetapi mereka juga nampak tidak sangat antusias menyambutnya.
"Pikirkan matang dulu sebelum bertindak."
Jonathan mengusap lembut rambut Lily dengan penuh kasih sayang.
"Sudah malam sebaiknya kau pergi tidur bersama dengan Melati. Biar aku menggendongnya." Jonatan lalu mengangkat dan menggendong Melati. Lily bergerak di belakangnya.
Mereka akhirnya sampai di kamar Melati. Jonathan meletakkan tubuh Melati dengan perlahan.
"Tempat tidur kamarku sangat besar kau bisa tidur di sana jika mau."
"Kau itu, masih sama seperti duku, otak kecilmu itu hanya berpikir tentang urusan selangkang saja."
"Aku tidak berpikir ke sana hanya menawarkan diri jika kau ingin tidur di tempat yang luas di kamarku saja."
"Kukira satu ranjang ini cukup buat aku dan Melati."
"Syukurlah jika begitu," ucap Jonathan hendak melangkah pergi tetapi dia menghentikan langkahnya. Maju ke depan hingga jarak antara dia dan Lily terkikis.
"Lily, aku pernah bermimpi mencium dulu. Apakah itu benar atau tidak?" tanya Jonathan.
Lily menelan salinannya degan sulit. Sesuatu yang dia rahasiakan selama ini.
Jonathan tiba-tiba mendorong Lily ke tembok dan mengungkungnya. Lily terkejut dengan serangan mendadak dari Jonathan.
"Sepertinya tidak." Jantung Lily serasa mau copot dari tempatnya.
"Tidak Lily, itu terasa nyata. Bibirmu manismu, masih kuingat. Aku tahu kau tidak menolaknya saat itu. Kau membiarkan aku menciummu, hingga hampir melakukan itu padamu jika para penjaga tidak datang kita mungkin akan melakukannya, benar kan?"
__ADS_1
Mata Lily membesar. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia kira Jonathan lupa pada kejadian itu karena pengaruh obat yang dia minum."