
Karena, oleh sebabnya, because, jerene, sabab, alani... ceritanya g bisa aku ringkes jadi aku perpanjang sampai selesai mungkin akhir bulan selesai kalau bisa pertengahan bulan.
***
Lily menunggu Melati yang ada di ruang UGD dengan tegang dan cemas. Dia berjalan mondar-mandir sambil menyeka air matanya. Sedangkan Sisca yang mengurus administrasi Melati.
"Lily?" panggil Jonathan mendekat.
Lily menoleh ke arah suara menatap Jonathan sejenak lalu berlari memeluknya. Jonathan memeluk balik Lily.
"Maaf, aku tidak bermaksud melakukan itu... dia... dia.... " Tidak ada suara lagi hanya isak tangis Lily saja. Pikirannya kalut, rasa sesal memukul jiwanya dengan begitu hebat. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Melati.
Jonathan merengangkan pelukan mereka agar bisa menatap wajah Lily. Dia juga sama khawatir, cemas dan terkejut dengan kejadian ini. Namun, Lily terlihat putus asa dan takut.
Dua tangannya menangkup pipi Lily agar wanita itu menatap kedua matanya.
"Katakan! Apa yang terjadi pada Melati, bagaimana keadaannya tadi?"
"Dia tertabrak... darah... darah mengalir dari kepalanya mungkin terbentur sesuatu. Aku takut jika terjadi apa-apa dengan anak itu. Semua salahku jika saja aku tidak menolaknya..." ucap Lily tersengal-sengal diantara tangisnya.
Jonathan yang tidak tega lalu mendekapnya erat meletakkan kepala Lily dalam dadanya dan memegang kepala wanita itu sambil menarik nafas. Menenangkan dirinya sendiri terlebih dahulu.
"Semua akan baik-baik saja. Lily anak yang kuat. Dia selalu bertahan dalam keadaan apapun."
Lily yang mendengar itu semakin menenggelamkan kepalanya dalam dada Jonathan. Ingin membagi perasaannya dengan pria itu.
Bella yang melihat hanya bersandar di tembok. Dia tidak tahu harus kecewa, senang atau cemas. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Marah karena Jonathan dan Melati lebih memilih Lily daripada dia. Senang karena mungkin dengan ini Lily bisa sadar jika hidupnya ada pada diri Jonathan, sehingga keinginan Melati bisa terlaksana untuk mempunyai Ibu seperti Lily.
Cemas karena anak semata wayangnya ada di ruang UGD dan dia tidak tahu bagaimana keadaannya. Cemburu pasti tetapi itu dia pendam demi kebahagiaan Melati. Andai dia bisa memutar waktu, dia tidak ingin pergi dari kehidupan Jonathan dulu namun semua sudah takdir dan dia hanya bisa memperbaiki hubungan yang dia rusak. Berharap semoga Tuhan mau memberinya kesempatan untuk itu.
Seorang dokter lalu keluar dari ruang tindakan. Dia melepaskan masker dan melihat Lily serta Jonathan yang berpelukan mengira jika mereka adalah orang tua Melati.
__ADS_1
"Kalian orang tuanya?"
"Ya, saya Ayah-nya." "Saya Ibunya," jawab Jonathan dan Bella bersamaan.
Dokter itu nampak bingung sejenak tetapi dia lalu melihat ke arah Bella dan Jonathan yang maju ke depan.
"Keadaan anak kalian sekarang sudah stabil hanya saja ada beberapa luka yang perlu penanganan serius. Tulang hasta di tangan kanannya patah dan kaki kanannya pun mengalami keretakan sehingga mungkin perlu dia lakukan operasi pemasangan pen oleh dokter spesialis tulang."
"Baik Dokter lakukan semua yang Anda kira baik."
"Berarti anak kami selamat kan, Dokter?" tanya Bella dengan gugup dan was-was.
"Ya, anak itu dalam keadaan stabil, InsyaAlloh cepat pulih jika segera dilakukan tindakan."
"Syukurlah," ucap semua orang yang ada di sana. Jonathan menoleh ke arah Lily dan mengulurkan tangannya. Sejenak Lily ragu ketika melihat Bella. Sedangkan Bella menganggukkan kepala.
Lily membalas uluran tangan Jonathan. "Kau dengar semua akan baik-baik saja."
"Tenang Bu, anak itu akan baik-baik saja hanya perlu perawatan ekstra," ujar Dokter pria itu. "Oh, ya satu lagi. Anak kalian mengalami pendarahan jadi butuh banyak darah. Kami tadi masih ada stok tapi butuh beberapa kantong lagi untuk tambahan ketika melakukan operasi."
"Darahku O, sama dengan putriku kau bisa mengambilnya," ungkap Jonathan.
"Aku juga O, biar aku saja Jo yang melakukan ini karena Melati kecelakaan disebabkan olehku." Jonathan ingin menyela. "Setidaknya ini bisa meringankan rasa bersalahku."
Jonathan akhirnya mengangguk. "Jika butuh banyak aku juga siap Dokter."
"Itu bagus. Kalau begitu setelah pasien di pindahkan ke ruang lain, Anda akan dibawa oleh perawat untuk diambil darahnya. Bu."
"Baiklah," Lily menatap ke arah Jonathan sambil bernafas lega.
Bella hanya terdiam. Dia bagai orang yang tersisih di tempat ini. Dia bahkan tidak bisa mendonorkan darahnya untuk Melati karena golongan darahnya tidak sama dengan anak itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Ibu Aliya dan Pak Kusuma datang.
"Jo... bagaimana keadaan Melati?" tanya Ibu Aliya dengan wajah pucat pasi. Dia menatap Lily yang ada dalam pelukan Jonathan bukannya Bella. Namun, dia tidak mengindahkannya. Keadaan cucunya lebih penting sekarang.
"Melati selamat hanya mengalami patah tulang dan retak saja."
Tas Ibu Aliya hingga di kepala putranya. "Kau bilang patah dan retak tulang itu saja?"
Jonathan memegang kepalanya. Lily menahan senyumnya. Jonathan masih seperti dulu yang selalu menjadi anak Ibu.
"Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?"
Lily menarik nafas pandang sambil menatao ke arah Jonathan, tidak tahu harus mengatakan apa? Apakah harus jujur atau bersikap tidak tahu? Semua pilihan itu terasa menyulitkan untuknya.
"Melati datang ketika hujan lebat dan kami sedang melakukan pengajian. Dia lalu dibawa ke kamar oleh Lily karena basah. Lily hendak mengganti pakaian anak itu dengan yang kering." Sisca tiba-tiba datang dan mulai menceritakan kejadian itu secara singkat.
"Aku tidak tahu apa saja yang mereka katakan namun ada saat ketika Melati menangis keras dan meminta Lily menjadi ibunya. Lily sudah menjelaskan situasinya tetapi Melati tidak terima. Dia lalu berlari pergi begitu cepat dengan rasa kecewanya." Sisca menghela nafasnya. "Lalu terjadilah kecelakaan itu karena Melati berlari tanpa melihat kanan-kiri."
Semua menatap ke arah Lily.
"Maaf... maaf aku tidak mengira semuanya akan begini...." ucap Lily penuh penyesalan. Kakinya sudah terasa lemas sehingga dia berjongkok sambil menutup wajahnya.
Jonathan ikut berjongkok di depan Lily. "Kita tidak bisa merubah takdir Lily. Kau tidak salah, yang salah adalah keinginan Melati yang tidak bisa dia bendung."
"Tapi jika aku menjawab 'Ya' semua tidak akan menjadi seperti ini."
"Bukankah kau sudah menjawab akan memenuhi permintaan Melati dengan jadi ibunya tadi ketika di mobil. Mungkin karena itu Melati mempunyai keinginan tetap bertahan hidup," lanjut Sisca membuat terkejut semua yang ada di sana.
Jonathan sejenak terkejut tetapi dia tersenyum kecut. "Jangan lakukan jika kau melakukannya karena terpaksa. Lakukan saja sesuai apa kata hatimu. Aku akan pastikan Melati tidak akan memaksamu lagi. Dia terlalu dimanja jadi sering memaksakan kehendaknya."
Jonathan menepuk kepala Lily dengan penuh sayang.
__ADS_1
Sedangkan Pak Bram dan Albert yang baru datang hanya terdiam menatap kejadian itu.