
"Kau...." sapa Albert pada Jonathan yang duduk di pojokan taman menyendiri.
Albert lalu duduk di sebelah Jonathan. Jonathan menawarinya rokok, Albert mengambilnya dan akhirnya mereka mulai merokok bersama.
"Mana Melati?" tanya Albert.
"Dia ada di dalam bersama ibunya." Jonathan menghisap rokoknya dan menyemburkan asap berwarna putih.
"Anak itu sangat manis dan cantik," ujarnya.
"Hmmm," jawab Jonathan.
"Bella sangat merindukannya?"
"Jika rindu kenapa tidak ingin bertemu?" sarkas Jonathan.
"Kau sendiri tahu permasalahannya."
"Masalahku dan Bella itu tidak ada kaitannya dengan Melati. Dia anaknya seharusnya dia ingin dekat dengan Melati bukannya bersikap acuh. Dia bahkan sangat jarang menelfon Melati terkesan tidak peduli."
"Kau melihat dari sisi dirimu, coba lihat dari sisi Bella. Dia terpukul atas perceraian itu, butuh bimbingan psikologis untuk menstabilkan lagi jiwanya. Apalagi ketika pengadilan memutuskan gak asuh jatuh padamu. Bella mengatakan rela tetapi jauh didalam hatinya dia tidak rela. Alih-alih ingin membuat Melati jadi bahan rebutan dia memilih untuk mengalah. Pada dasarnya tidak ada ibu yang rela anaknya diambil."
Jonathan menatap tidak percaya pada kata-kata Albert.
"Aku berkata apa adanya. Aku yang menemaninya ketika di Swiss, dia jatuh dan terpuruk di sana."
"Jika dia mencintai Melati mengapa dia pergi meninggalkannya di saat Melati masih teramat kecil dan membutuhkannya?"
"Karena dia sangat mencintaimu. Dia terluka melihat kau terus memikirkan Lily, lebih tepatnya kau membandingkan semua hal tentangnya dengan Lily."
"Kami sudah membicarakannya beberapa kali tapi dia tidak mengerti juga! Aku tidak bermaksud melakukannya, itu tanpa sadar kulakukan dan aku mengakui aku salah dengan hal itu."
"Bukan soal membandingkannya tetapi soal lain yang Bella tangkap bahwa kau tidak mencintainya kau, mencintai Lily. Dia tidak sanggup untuk mengatakan hal itu dihadapan mu karena itu sangat melukai harga dirinya sebagai wanita," ucap Albert.
Jonathan membuang rokok dan menginjaknya. Dia menghela nafas.
"Lalu apa yang kau dapat ketika membicarakan ini?"
"Aku hanya ingin kau, Melati dan Bella bahagia."
__ADS_1
"Cinta adalah pengorbanan, jika Bella tidak bisa berkorban untuk Melati berarti dia memang lebih mencintai dirinya sendiri dari pada anaknya."
"Kau jangan egois!"
"Katakan padaku, jika kau di posisiku dulu, apa yang akan kau lakukan? Semua sudah kulakukan dan ku turuti permintaan mantan istriku. Apa yang tidak kulakukan untuknya? Katakan?"
Albert hanya terdiam, Jonathan memang jadi suami yang baik dan sempurna.
"Salahku cuma satu, Lily terlalu membekas di hatiku dan sulit untuk ku lupakan. Walau begitu, aku tidak pernah mencoba berhubungan dengannya sekalipun apalagi mencarinya! Aku sangat menghargai Bella dan hubungan kami. Aku bahkan tidak pernah minum-minum atau tertarik pada wanita lain. Hanya Bella saat itu yang bersamaku."
"Kau tahu urusan hati adalah hal sulit untuk diobati dan saat itu aku pun tidak ingin bermaksud demikian. Aku berusaha keras mencintai Bella, menerimanya apa adanya. Namun, itu tidak semudah membalikkan tangan, pertengkaran dan perbedaan yang memisahkan kita. Itu yang sebenarnya terjadi."
"Jika dengan Lily, aku dan dia punya banyak kesamaan sehingga kami seiiring dan sejalan. Itulah yang memperuncing masalah yang ada. Bella selalu menyalahkan Lily padahal wanita itu tidak pernah ada diantara kami."
"Wujudnya tidak ada tapi dia ada di hatimu."
"Mungkin!" Jonathan berusaha tidak menutupi hal itu dari Albert.
"Lalu bagaimana dengan hatimu sekarang?" tanya Albert.
"Kau sungguh mau dengar jawabannya?" tegas Jonathan menatap Albert.
"Andai kau melepaskan Lily, aku, orang pertama yang akan mengejarnya. Jika tidak, aku akan menghormati hubungan kalian dan tidak akan berusaha merebutnya darimu."
Albert merasa tercekik dengan jawaban yang dengan gamblang Jonathan ucapkan.
"Ayah!" panggil Melati dari kejauhan. Dia lalu berlari ke arah Jonathan di belakangnya Bella berjalan mengikuti.
"Ayah lihat ini baju, tas dan sepatu ini, ibu berikan untukku. Sangat bagus bukan?" tanya Melati berputar di depan Jonathan.
"Kau seperti peri kecil di tengah bunga-bungaan sangat cantik dan imut," puji Jonathan. Dia bisa melihat outfit yang dibelikan oleh Bella berharga ratusan juta jika ditotal. Sangat berlebihan. Akan tetapi, dia menghargai perhatian Bella. Mungkin dia ingin memberikan yang terbaik bagi putri semata wayangnya.
"Hai cantik... kau tidak menyapa Om mu yang super ganteng dan tampan serta seksi ini?" sapa Albert.
"Eh, Om Al, aku tidak melihat Om tadi, he... he..., "
"Om, sebesar ini dan kau tidak melihatnya sungguh kejam."
Melati meletakkan tangan di pinggang. "Om, bagaimana, aku cantik kan?"
__ADS_1
"Kau selalu cantik bidadariku dari surga, sini biar Om cium," goda Albert.
"Ih... nggak mau!" Melati memalingkan wajahnya.
"Ya sudah kalau tidak mau, padahal Om punya hadiah spesial untukmu... Om tahu kau suka mengkoleksi boneka Hello Kitty. Om, beli ini khusus dari Jepang kau lihat, langsung dari perusahaan Sanrio yang memproduksinya dan hanya dibuat beberapa buah saja setiap tahunnya."
"Wah... aku mau," ujar Melati menangkupkan tangan di depan dada penuh harap.
"Kalau begitu cium Om dan katakan Om itu, Om paling baik dan tampan di dunia."
"Ih... kok seperti itu," Melati sedikit keberatan.
"Ya, sudah kalau tidak mau, Om simpan saja di kamar Om, buat koleksi."
"Ih... Om cowok kok koleksi Hello Kitty," ujar Melati.
"Tidak apa-apa Om akan berikan pada orang yang mau memeluk dan mencium, Om."
"Ya sudah...." ucap Melati lemas.
"Eh... kau jangan nodai pipi anakku dengan mulutmu yang kotor, bekas banyak wanita," ujar Jonathan menutup wajah Melati.
"Sialan kau! Aku ini waras tidak mungkin berbuat itu pada putrimu, dia sudah kuanggap seperti putri kecilku," ucap Albert.
"Jo.... Dia memang sangat posesif pada Melati, tidak boleh ada orang yang menyentuhnya bahkan menciummya."
"Aku bukan orang asing, aku Om nya!" ujar Albert.
"Sekali tidak... ya tidak... dia itu putriku dan hanya aku satu-satunya pria yang boleh menyentuhnya." Jonathan mendekatkan Melati padanya. "Jika kau memang ikhlas memberikan boneka itu pada Melati seharusnya kau langsung memberikan bukannya memberikan syarat."
Dengan wajah ditekuk Albert langsung memberikan kado itu pada Melati. Dia berjongkok di depan anak gadis itu.
"Om sebenarnya ingin sekali memelukmu, hanya saja Ayahmu sangat posesif sekali, jadi boneka ini sebagai tanda sayang Om untukmu," ucap Albert.
Melati tersenyum sambil menerima boneka itu. "Terima kasih, Om," ucap Melati memeluk Albert. Mata Jonathan membela lakukan besar. Wajahnya nampak masam.
Bella tertawa sambil bertepuk tangan.
"Dia yang memelukku bukan aku yang memintanya," ujar Albert penuh kemenangan. "Kau memang keponakan terbaikku." Albert mencium pipi Melati.
__ADS_1
Jonathan memicingkan mata sambil meringis. Dia sangat tidak rela anaknya disentuh oleh pria seperti Albert.