
"Apakah baju ini bagus kugunakan untuk besok malam, Lily?" tanya Ibu Aliya.
"Biasanya Ibu telah memesan baju sebelumnya?" ungkap Lily.
"Sudah, ada tiga pilihan yang akan kugunakan besok. Aku bingung mau memilih yang mana. Yang berwarna merah, cokelat atau yang hitam."
Lily lalu mengamati ketiga baju itu, menimangnya.
"Ini sepertinya lebih bagus, Bu. Terlihat lebih elegan dan kulit ibu terlihat lebih cerah."
Lily memilih dress merah selutut dengan model rumbai di bagian depannya.
"Sepertinya ini lebih bagus, Bu Aliya."
"Kau benar, sedari kemarin juga aku lebih suka dengan yang ini hanya saja, aku tidak yakin dengan pilihanku jadi aku membawamu kemari."
"Selera kita sering kali sama jadi aku suka mengajakmu berbelanja. Kali ini aku akan memberikanmu hadiah untuk kau gunakan ke pesta besok."
"Bu itu tidak perlu. Ini juga sebagian dari tugas saya," tolak Karina.
"Tidak...tidak kau jangan menolaknya sama saja kau menghinaku jika melakukan ini. Kau itu cantik hanya saja kau selalu memakai pakaian itu... itu saja. Kemeja dan celana. Apa kau tidak bosan memakainya? Bahkan untuk acara pesta pun kau mengenakan pakaian yang sama, walau semua yang kau gunakan itu cocok. Namun, aku ingin melihatmu dengan warna lain."
"Tidak... jangan merubahku... aku suka dengan gayaku yang apa adanya."
"Tidak... kali ini kau harus memakai pakaian yang kupilihkan jika tidak... aku tidak akan bersikap baik padamu lagi. Mungkin aku akan meminta Jonathan untuk memindahkan mu ke tempat lain," omel Aliya sembari memilih baju untuk Lily.
"Tidak perlu repot-repot Bu karena aku juga akan resign dari pekerjaanku." Aliya menghentikan gerakannya lalu membalikkan tubuh menatap ke arah Lily.
"Aku hanya bercanda mengatakannya. Kau malah serius menanggapi," ungkap Aliya dia terkejut dengan ucapan dari Lily.
"Aku tidak bercanda, Bu."
"Kenapa? Apakah ada hal serius atau kau sedang marah atau kesal pada Jonathan. Kau tahu jika Jonathan tidak bisa bekerja tanpamu. Dia sudah terbiasa dengan kehadiranmu dari dia sakit."
"Aku akan pulang kembali ke kampung. Ayah dan Ibu yang menginginkannya."
Aliya menarik nafas berat. Dia merasa panik. Jika Jonathan tahu pasti akan terjadi keributan. Lily dipinjam untuk beberapa jam saja sudah membuat pria itu uring-uringan setengah mati.
"Kukira kita bisa membicarakan hal itu. Aku akan membujuk orang tuamu agar tetap memperbolehkan kau bekerja di sini."
__ADS_1
"Tidak bisa, Bu. Keputusan ini sudah diambil dari jauh-jauh hari dan sudah dipikirkan dengan matang."
*Apakah Ayah atau ibumu sakit sehingga kau harus kembali ke kampung?"
"Tidak?"
"Berikan aku sebuah alasan yang tepat."
"Aku akan menikah dengan seorang pria. Tadinya dia ada di Jepang sekarang ini calon suamiku sudah pulang ke negeri ini dan rencana pernikahan akan dilakukan secepatnya."
"Aku yakin kau belum memberitahukan hal ini pada Jonathan."
Lily terdiam.
"Benar perkiraanku."
"Aku akan mencarikan calon pengganti yang tepat untuk Bapak."
"Ini bukan sekedar masalah sekretaris saja."
"Aku kira Pak Jonathan juga sudah menemukan calon istrinya."
"Iyakah siapa? Aku jadi penasaran "
"Aku tidak sabar mengetahui siapa calon istri anakku itu."
"Dia cantik, berpendidikan dan punya status keluarga seperti yang Ibu inginkan. Dia adalah paket komplit." Lily merasa nyeri ketika mengatakannya. Dia cukup sadar diri dengan keberadaannya yang tidak akan bisa masuk ke dalam keluarga Jonathan karena dia bukan dari keluarga siapa-siapa.
"Berarti kau tahu siapa menantuku itu? Beritahu aku siapa namanya dan dari mana dia?"
"Biar Bapak sendiri yang akan mengenalkannya."
"Lily itu tidak seru."
"Rencananya Bapak akan mengenalkannya pada keluarga besar pada malam pesta ulang tahun pernikahan Ibu dan Bapak Tjahyono."
"Ya, sudah aku akan menunggu saat itu tiba. Kau itu sangat menjaga rahasia Jonathan apapun itu. Aku tidak tahu apakah Jonathan akan bisa menemukan orang yang cocok lagi selain dirimu."
"Pasti bisa Bu. Pak Jo adalah orang baik pasti bisa berhubungan dengan siapapun."
__ADS_1
"Jo itu anaknya gampang-gampang sulit. Ku pikir hanya kau yang bisa menjadi pawangnya selain kau tidak ada." Aliya menarik nafas. "Aku ingat dulu Jonathan enggan untuk menjalankan terapi tetapi setelah kau membujuknya dia mau melakukan terapi di Berlin dan akhirnya kini bisa sembuh total dan pulih lagi."
"Itu bukan hanya karena saya. Namun, semua orang turut serta membujuknya."
"Hanya kau yang bisa membujuknya kala itu. Memang apa yang kau katakan sehingga dia bisa menurutimu."
Lily teringat masa dimana dia baru bertemu dengan Jonathan yang sensitif, pemarah dan rapuh. Kala pria itu masih duduk di kursi roda karena lumpuh bertahun-tahun. Dia mengalami kecelakaan motor yang hebat dan menyebabkan kakinya mengalami traumatis dalam sehingga butuh terapi untuk menyembuhkannya tetapi Jonathan selalu menolaknya hingga Lily yang membujuknya.
"Pak Jo tidak mau melakukan terapi hanya karena ingin dikasihani kan? Memalukan." Jonathan terkejut dengan sikap berani Lily kala itu.
"Kau itu pria kuat tetapi bersembunyi dari kenyataan. Kau sendiri tidak mau bangkit dari jurang kesedihan tetapi kau malah menyalahkan semua orang karena kesedihanmu. Apakah itu namanya pria sejati?"
"Apa pun yang terjadi dalam hidupmu, kesusahan, kesedihan maupun kesenangan, syukuri saja terlebih dahulu. Lalu, maknai hal positif apa yang dapat diambil dari kejadian itu. Seburuk apa pun kejadian itu, pasti ada hal positif yang bisa diambil."
"Tidak semudah melakukan apa yang kau pikirkan," balas Jonathan.
"Setidaknya Pak Jo, ada usaha untuk bangkit bukan malah tetap jatuh dalam keterpurukan."
"Apakah aku pria yang menyedihkan, Lily?"
"Menyedihkan atau tidak tergantung cara pandang Anda. Jika aku melihat kau hanya mengeluh, meratapi nasib tanpa berusaha untuk bangkit maka kau adalah pria paling menyedihkan dalam hidupku yang pernah kulihat. Namun, jika kau berusaha untuk bangkit dan kembali menjadi Jonathan yang seperti dulu maka aku akan merasa bangga menjadi sekretarismu."
Jonathan yang masih berada di kursi roda menatap Lily lekat.
"Kau pasti bisa berjalan lagi, Pak. Asal ada kemauan. Apakah kau tidak ingin dikelilingi para wanita cantik. Pengacara kondang yang sudah berumur itu saja banyak ceweknya masa Pak Jo yang masih muda kalah oleh keadaan?
"Kurang ajar kau."
"Memang itu kenyataannya. Masih banyak wanita di dunia ini tetapi kau tetap saja berfokus pada satu wanita yang tidak mungkin bisa kau miliki." Yang dimaksud oleh Lily adalah Jonathan yang masih mencintai Raina padahal wanita itu sudah memiliki suami Adry. Raina memang istri kedua Adry tetapi tidak selayaknya pria itu masih memikirkannya.
"Aku tidak meratapi seorang wanita, para wanita yang malah datang untuk menemaniku," elak Jonathan.
"Kenyataannya saat ini tidak ada wanita lain yang dekat dengan Anda selain aku..."
"Kau menghinaku!"
"Tidak ... aku hanya mengatakan kebenarannya. Kau hanya bersamaku setiap harinya."
"Baiklah, aku akan melakukan terapi itu dan buktikan jika aku bisa mencari wanita manapun yang aku mau."
__ADS_1
"Hmmm kalau begitu buktikan bukan hanya kata-kata."
Flashback off