
Sebenarnya waktu mau buat ini tuh lagi becanda ma Kak Chica atau kolom langit di grup sebelah. Buat novel mirip film India... eh aku jawab dong, a siaap. Tadinya mau aku kirim ke sebelah tapi karena pembaca lumayan antusias di sini aku teruskan di sini saja, Okey. Rencana hanya 100 an episode untuk season satu.
Satu hal yang pasti, ini beda rasa tidak sama dengan cerita filmnya. Eksekusi tergantung othor di akhir cerita. Bella masih hidup lom mati lho... Lily???? Yuk baca....
***
"Siapa Lily itu, Ayah? " tanya Melati tidak lelahnya ingin membahas tentang Lily. Jonathan enggan menjawab namun anak itu pantang menyerah.
"Dia sekretaris Ayah di kantor, dulu." Setelah berkali-kali Melati bertanya akhirnya Jonathan mau bercerita.
"Kapan? Kenapa aku tidak pernah tahu atau melihat ketika di kantor?" berondong Melati.
"Apa dia cantik?" lanjut anak itu sambil berbaring bersandar pada dada Jonathan.
"Tidak juga, dia itu manis," Jonathan tersenyum kecut lalu menghela nafas dalam.
"Putih?"
"Ya."
"Rambutnya panjang? Seperti Ibu atau tidak?"
"Dia selalu memotong pendek rambutnya katanya lebih efisien. Tidak banyak memakai sampho dan kondisioner juga tidak susah untuk merawatnya. Dia orang yang simple."
"Ayah menyukainya dulu?"
Jonathan terdiam. Hatinya sakit jika mengingat itu. Ketika cinta disadarinya, Lily malah menikah dengan pria lain.
flashback
Jonathan merasa tidak tenang setelah ditinggalkan oleh Lily. Semua pekerjaan kacau karena kepergian wanita itu. Tidak ada yang bisa bekerja sebaik Lily dan tidak ada yang bisa melayaninya sebaik Lily. Tidak ada juga yang dapat mengisi hari-harinya sebaik Lily.
Bella selalu menemaninya di kantor tetapi wanita itu tidak bisa mengisi kekurangan yang ada.
Hingga akhirnya malam itu Jonathan pergi ke apartemen milik Lily. Dia terkejut ketika melihat ada dua orang masuk ke dalam apartemen.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Jonathan.
"Siapa kau?" tanya mereka balik.
__ADS_1
"Aku Bos dari pemilik apartemen ini. Kau kenapa bisa masuk kemari."
"Aku Bayu dan Ini Rudi. Kami sepupu dari Lily. Dia meminta kami membereskan barang-barang di apartemennya untuk dibawa kembali ke kampung."
"Mana bisa seperti itu, Lily bukankah dia akan kembali lagi."
"Sepertinya tidak karena rencananya Lily akan menikah dua hari lagi," ucap pria itu.
"Dua hari lagi dan dia belum mengajukan resign? Bagaimana bisa? Itu menyalahi kontrak."
"Mungkin setelah dia menikah, Pak," ujar Bayu.
Jonathan memijat pelipisnya.
"Kapan kalian akan kembali ke kampung?"
"Setelah acara beres-beres ini selesai."
"Kalau begitu aku akan ikut."
Perkataan Jonathan membuat dua orang itu saling menatap.
"Baiklah kalau begitu. Hanya saja kami membawa mobil bak saja."
"Aku akan membawa mobilku sendiri," ucap Jonathan tersenyum kaku. Dia lalu ikut masuk ke kamar Lily. Mengambil beberapa barang milik Lily yang menjadi kenangan. Foto mereka bersama ketika sedang berolah raga, sepasang raket yang tergantung bersama dan bantal besar Doraemon yang sering dia gunakan ketika tidur di sana.
Bayu dan Rudi saling melihat ketika Jonathan mengambil baju miliknya di dalam lemari Lily serta barang lain seperti sepatu, sandal dan juga parfum miliknya. Namun dia meletakkan kembali parfum itu malah mengambil parfum milik Lily. Pikirnya mungkin nanti Lily juga merindukan wanginya jika dia jadi menikah dengan pria pilihannya.
Pikiran mereka sudah tidak baik mengenai Lily, mengira jika saudaranya itu mempunyai hubungan gelap dengan sang boss. Pantas saja jika Lily sering mengirim uang dalam jumlah banyak pada orang tuanya padahal kerjanya hanya sebagai sekretaris saja. Pasti sekretaris plus simpanan sang boss.
Besoknya, mereka akhirnya jadi pergi ke kampung Lily yang berada di daerah Jawa. Dia memakai sopir agar bisa beristirahat dengan nyaman. Selain itu, pikirannya kini bercabang. Antara kenyataan jika dia butuh Lily juga dia tidak ingin berpisah dengan Bella.
Lagipula, hubungan dia dengan Bella hendak melangkah ke jenjang pernikahan. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada ibunya mengenai hal ini.
Namun, telepon Aliya membuyarkan lamunannya.
"Aku dengar kau meninggalkan rapat penting demi pergi menemui Lily?" tanya Aliya.
"Bu, aku ingin tahu tentang perasaanku."
__ADS_1
"Perasaan yang mana? Kau hanya ingin bersamanya karena sudah terbiasa padahal kau sendiri mengatakan jika mencintai Bella!"
"Bu, ini hidupku. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang akan kusesali seumur hidup."
''Kesalahan itu akan kau lakukan jika kau meninggalkan Bella. Lily bahkan tidak lebih baik dari Bella dalam segi apapun kau harus tahu itu."
"Bu, ini hidupku dan Ibu tidak harus mencegahku melakukan apa yang ingin kulakukan."
"Tidak jika kau memilih jalan yang salah. Pernikahan akan diadakan akhir bulan ini dan kau tidak bisa membatalkan seenaknya sendiri."
"Bu.... "
"Sedangkan kau sendiri tidak tahu akan hatimu. Kau hanya bingung ketika Lily tidak ada karena merasa sudah terbiasa. Seiring waktu kau akan terbiasa dengan hal itu. Bella akan bisa mengganti ketergantunganmu pada Lily."
"Bu. Kali ini biarkan aku memilih jalanku."
Jonathan lalu menutup panggilan itu secara sepihak dan mematikan handphone miliknya.
Tujuh jam kemudian mereka telah sampai di daerah yang dituju sebuah daerah pegunungan yang dingin dengan pemandangan indah khas pemandangan pegunungan Eropa.
Mobil mereka mulai masuk ke sebuah gang. Semua orang melihat ke arah mereka terutama mobil mewah yang dikendarai oleh Jonathan hingga membuat beberapa anak gunung berlarian di belakangnya.
"Oh, mobil balap," teriak mereka.
Mobil berhenti di sebuah rumah dengan latar lebar. Di depannya sedang dipasang tenda pernikahan. Jonathan menutup bibirnya rapat.
"Sudah sampai, Tuan," ucap sang sopir.
Jonathan lalu keluar dari mobil. Di saat itu, Lily nampak keluar dengan tergesa dari dalam rumah untuk menyambutnya.
"Pak Jo," panggil Lily dengan mata yang merebak.
Jonathan lalu memasang wajah tengilnya. Tersenyum pada semua orang yang ada di sana. Dadanya bergemuruh ketika menatap Lily yang menggunakan kain kebaya tapi dengan rambut yang masih terurai.
"Siapa Li?" tanya Kurnia, ibu dari Lily.
"Bos Lily di Jakarta," ucap Lily dengan dada yang sesak. Dia mengusap titik air mata yang hendak keluar dan itu sempat tertangkap mata ibunya.
Ibu Kurnia lalu memandang Jonathan yang sama-sama terlihat sedih menatap Lily. Naluri nya sebagai ibu tidak bisa dibohongi. Dia merasa jika Lily ada hubungan lebih dengan Bosnya.
__ADS_1