My Hot Boss

My Hot Boss
Bab. 42 Drama Baru


__ADS_3

Mereka lalu berbincang dan bercanda ketika makan. Tanpa sengaja Melati menumpahkan minuman ke bajunya. Membuat kaos dan celana yang dia gunakan basah.


"Ya Tuhan Melati, apa yang kau lakukan?" tanya Jonathan.


"Aku tidak sengaja Ayah."


"Kita tidak membawa pakaian cadangan untukmu," kata Jonathan.


"Bagaimana jika kau beli baju untuknya di luar sementara itu, dia pakai baju punya dulu. Tunggu aku punya kaos berukuran kecil tapi kebesaran untuk Melati." Lily nampak kebingungan.


"Kau itu bagaimana sih!" Jonatan merasa kesal. Melati yang takut bersembunyi di belakang Lily.


"Jo, kau tidak boleh seperti itu pada anakmu sendiri. Dia tidak sengaja. Ck, sifatmu itu tetap tidak berubah, selalu marah pada siapapun yang melakukan kesalahan!"


Jonatan menarik rambutnya sendiri ke belakang. Merasa kesal pada diri sendiri.


"Bukan maksudku seperti itu." Selama ini dia tidak pernah memarahi Melati malah selalu memanjakannya. Namun, kini mengapa dia nampak emosi di depan Lily.


"Sudah, kau beli saja baju untuk Melati lalu bawa kemari secepatnya. Biar Melati memakai bajuku untuk sementara."


Jonathan mengangkat kedua tangannya menghadap ke atas, lalu segera pergi dari tempat itu.


"Ayo ke kamar Tante. Sekalian kau mandi di sana. Kau belum mandi kan?" Melati menggelengkan kepala. Rencananya sudah berhasil sejauh ini. Bahkan sangat berhasil. Jika neneknya tahu pasti akan sangat senang.


Satu jam kemudian, Jonathan kembali ke rumah Lily. Dia lalu memanggil Melati dan Lily namun tidak ada jawaban. Jonathan lalu pergi ke lantai atas dan membuka dua pintu yang ada di sana.


Melati sendiri pura-pura tidur di kamar Lily. Dia membiarkan Ayahnya masuk ke kamar ini.


"Lily, Melati kau di dalam?" tanya Jonathan ketika mulai membuka pintu kamar. Dia melihat Melati berbaring di ranjang berukuran sedang. Jonathan melihat ke sekitar tidak ada Lily di dalamnya. Dia mulai masuk ke dalam.


Di kamar itu hanya ada tempat tidur lalu satu set meja rias serta lemari. Tatapan Jonathan tertuju pada jam tangan berwarna putih yang ada di atas meja rias itu. Itu jam tangan pemberian terakhir darinya untuk Lily.


Hatinya mulai menghangat. Dia mendekati meja rias dan mengambil jam tangan itu. Mengamatinya. Sudah hampir sembilan tahun tetapi jam tangan itu masih menyala berarti Lily selalu menjaganya dengan baik. Di letakkan di atas meja kemungkinan besar Lily masih memakainya. Sebuah senyum kecil terlukis di bibirnya. Dia menimang jam tangan itu.

__ADS_1


"Akh! Mengapa kau masuk ke kamarku tidak bilang-bilang!" teriak Lily masih sama seperti dulu. Dia hanya memakai sebuah handuk putih yang menutup sebagian tubuh bagian atasnya yang masih basah dan sebagian pahanya yang terlihat panjang dan langsing.


Jonathan terpaku untuk sejenak. Namun, dia bersikap seperti tidak merasa bersalah sama seperti dulu mengatasi ketegangan dan kegugupannya. Jonathan lalu membalikkan tubuhnya. Tapi bayangan tubuh Lily yang setengah telah**** masih ada di pelupuk matanya.


"Aku sudah mengetuk pintu dan memanggilmu, kau saja yang tidak mendengarnya."


"Kalau begitu keluar sekarang!"


Melati yang pura-pura tidur menahan tawanya. "Ayah nakal ya!" batin anak itu.


Itu adalah terakhir kali mereka bertemu setelah itu selama seminggu mereka tidak pernah berjumpa lagi atau sekedar mengirim pesan.


Lily terlalu malu mengingat kejadian itu. Sedangkan Jonathan rindu tetapi menahan diri. Berpikir jika dia menghubungi Lily sama saja dengan menikam Albert dari belakang. Dia buka tipe pria seperti itu.


Ini hari Jum'at, Ibu dan Ayah Jonathan pergi ke luar negeri untuk urusan penting. Ada saudara Ayahnya yang sedang melangsungkan pernikahan dan mereka harus hadir. Sedangkan Jonathan harus menyelesaikan pekerjaannya karena weekend dia tidak ingin diganggu dengan urusan itu. Itu adalah waktu untuk dirinya dan Melati bersama tidak boleh diganggu dengan urusan lainnya.


Melati yang di rumah merasa kesal dan marah karena tidak ada kemajuan pada hubungan Ayahnya dan Lily. Padahal berbagi usaha sudah dia dan neneknya lakukan. Tetap tidak menemui hasil.


Seharusnya setelah pertemuan terakhir itu, ayahnya atau Lily semakin akrab. Namun, tidak mereka malah tidak saling berhubungan lagi. Padahal waktu pernikahan Lily sudah semakin dekat. Melati merasa pusing dengan ini. Dia mengacak kasar rambutnya.


"Untuk apa Non?" tanya pelayan pada Melati.


"Stss, jangan bilang Ayah atau siapapun jika tidak ingin di pecat!" ancam Melati, mirip seperti Jonathan. Pelayan itu menutup bibirnya dan menganggukkan kepalanya. Dia takut dengan ancaman Melati karena tahu ada beberapa pelayan yang tidak Melati sukai pasti akan di pecat dengan cepat.


Melati meletakkan bongkahan es itu ke dalam bath up, setelah itu mulai menampakan air dingin dan dia masuk ke dalamnya berendam air dingin selama berjam-jam. Setelah bersin, Melati baru bangun dari bath up. Dia mengambil handphonenya miliknya dan menghubungi Lily.


"Ya, Melati ada apa?" tanya Lily dari seberang telephon.


"Hacih," suara Melati menggigil kedinginan terdengar oleh Lily.


"Kau kenapa Sayang?" tanya Lily.


"Tante, aku sakit," ucap Melati gemetar.

__ADS_1


"Di mana Ayahmu?" suara Lily mulai terdengar khawatir.


"Bekerja," jawab Melati.


"Nenek atau Kakek? Atau siapa yang ada di rumah?"


"Nenek dan Kakek ke Thailand, sedangkan aku bersama dengan pelayan saja di rumah. Hacih!"


"Ya Tuhan. Kenapa tidak hubungi Ayahmu?"


"Ayah ada rapat penting dan tidak bisa diganggu," cicit Melati membuat panik Lily. "Tante dingin."


"Tunggu, Tante akan ke sana!" ucap Lily.


"Aku tunggu Tante di rumah."


"Kau harus ditemani pelayan Melati jangan sendiri."


"Pelayan ada dibawah semuanya," ujar Melati.


"Ya, sudah tunggu Tante. Okey!" Panggilan lalu ditutup.


Melati sengaja berendam cukup lama tadi sebelum dia mengeringkan tubuhnya. Melati lalu menyetel AC ruangan dengan suhu terendah.


Dia harus benar-benar sakit agar Lily mau datang dan mengurusnya. Melati mendengar suara orang yang berbicara di lantai bawah, Melati mengintip lewat balkon. Setelah yakin jika itu adalah Lily dan pelayan, Melati lantas pergi ke kamarnya. Dia lalu menyetel udara dalam ruangan itu sesuai suhu normal. Berbaring dan menutup tubuhnya degan selimut.


Kini tubuhnya memang benar-benar terasa dingin dan menggigil. Rasa mual mulai merasuk, diiringi pusing.


Di saat itu Lily mulai masuk ke dalam kamarnya.


"Melati? Bagaimana keadaanmu?" tanya Lily khawatir dan cemas. Dia memegang tubuh Melati.


"Dingin sekali tubuhmu," ujar Lily.

__ADS_1


Melati yang merasa mual lalu memuntahkan isi perutnya ke sebelah Lily mengenai sebagian tubuh wanita itu.


"Maaf, Tante?" ujar Melati merasa tidak enak dan takut Lily marah.


__ADS_2