
Melati membelalakkan matanya tatkala melihat Aliya sedang memegang diary Lily. Dia langsung berlari meraihnya.
"Ih, Nenek kok buka-buka buku aku," ujar Melati meraih buku di tangan Aliya.
"Itu bukumu?" tanya Aliya heran menyipitkan matanya. "Sejak kapan kau mau menulis. Di sekolah saja kau jarang menulis pelajaran mu."
Lily meringis, " Itu beda Nek. Kalau menulis pelajaran itu tidak perlu karena dibuku kan sudah ada."
"Kau selalu pintar cari alasan saja. Untung kau pintar jadi Nenek tidak perlu memarahimu. Sudah cukup wali kelas dan Ayahmu yang melakukannya. "
Lily memutar bola matanya malas. Dia lalu meletakkan buku diary itu di laci.
"Eh... kau kan baru masuk bagaimana bisa sudah mandi. Nenek saja belum selesai membereskan tempat tidur ini."
"Sekarang kan jaman instan jadi mandi pun harus instan." Aliya yang mendengar ucapan cucunya itu hanya bisa menggelengkan kepala.
"Pakai sabun tidak? Kalau tidak bersih nanti ketekmu bau," ujar Aliya mencium bau tubuh Melati.
"Namaku kan Melati jadi aku selalu bau harum." Melati lalu tertawa. Dia mendorong neneknya keluar dari kamar.
"Kalau Nenek di kamarku terus kapan aku akan pakai baju." Melati lantas menutup pintu dan menyimpan buku diary Lily di tempat yang aman.
Sedangkan Aliya pergi ke ruang makan.
"Bik, buatkan bekal makanan untuk Melati. Dia akan sarapan di jalan," perintah Aliya pada pelayan.
"Bisakah kau letakkan gadgetmu dan fokus pada makanan!" omel Aliya melihat Jonathan sedang memainkan gadgetnya sambil menggigit roti.
"Anak dan Ayah sama saja. Sama-sama bandel dan sulit diatur."
Kusuma menaikkan alisnya melihat omelan istrinya.
"Ini masih pagi tapi aku dibuat lelah oleh tingkah keduanya. Yang satu suka lupa semuanya kecuali pekerjaannya dan yang satu suka ngeles saja," Aliya lalu duduk dengan lemas.
Jonathan meletakkan handphone dan menatap ibunya.
"Aku itu sudah tua entah sampai kapan bisa merawatmu dan Melati. Jadi carilah seorang wanita untuk bisa mengurusmu dan Melati
"Ibu masih cantik dan sehat seperti itu, jadi aku tidak perlu khawatir. Lagi pula ada banyak pelayan yang bisa membantu Ibu," ujar Jonathan santai membuat Aliya geram.
"Apa kau tidak ingin mempunyai istri?"
"Untuk apa? Jika untuk bisa mengurus rumah masih ada pelayan yang membantu. Jika untuk bersenang-senang tanpa menikah pun bisa."
"Jo... ," geram Aliya. Sedangkan Kusuma menghentikan makannya lalu menggelengkan kepalanya. Omongan ini sering sekali di bahas dan jawaban Jonathan masih tetap sama. Dia tidak ingin mencari pendamping hidup sama sekali.
Aliya sendiri memijat kepalanya yang serasa mau pecah.
"Aku sudah punya kalian dan Melati itu sudah cukup."
"Kau masih muda Jo, masih banyak kesempatan untuk mencari pasangan hidup. Melati juga butuh sosok ibu untuk mengajarinya tentang hidup dari sisi wanita."
__ADS_1
Jonathan ingin menyela namun Aliya mencegah. "Kau tahu jika tingkah Melati itu seperti anak lelaki. Kebiasaannya itu mengikuti dirimu. Dia juga banyak membuat ulah di sekolah. Bukan karena dia butuh kasih sayang ketika melakukannya karena kita sudah memberikan perhatian lebih padanya."
Jonathan mendengar ucapan ibunya dengan seksama.
"Melati butuh sosok panutan yang mengajarinya menjadi seorang wanita sejati yang anggun. Yang akan menjadi idolanya nanti ketika dewasa. Yang akan menjadi temannya kala dia punya masalah berkaitan dengan masalah wanita. Kau tidak bisa melakukannya dan aku terlalu tua untuk mengerti keinginannya. "
"Tidak semudah itu, Bu. Tidak semua wanita bisa mengerti diriku dan bisa menyayangi Melati. Jika ada maka aku akan menikah dengan nya."
"Ayah ingin menikah? Dengan siapa?" tanya Melati.
"Tidak, Ayahmu tidak akan menikah kecuali kau memilihkan wanita yang tepat untuknya," ujar Aliya kesal.
***
Setiap akhir pekan sengaja Jonathan gunakan untuk menghabiskan waktu dengan Melati. Seperti malam ini mereka duduk di depan layar televisi untuk menikmati acara yang ada.
"Ayah, aku pernah melihat sebuah permainan di podcast Daddy manis."
"Podcast?" tanya Jonathan.
"Ayolah Ayah, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menonton acara itu dari internet."
"Itu podcast terkenal. Nenek yang suka melihatnya dan aku ikutan saja," ujar Melati membuat Aliya yang sedang asik mengomentari status di Tik Tik menghentikan kegiatannya.
"Acara ibu gosip," lanjut Kusuma yang tahu apa kesukaan istrinya.
"Okey, acara gosip." Jonathan menghela nafasnya. "Anak delapan tahun diajari nonton acara gosip."
"Memang gosip apa yang sedang paling in saat ini."
"Gosip ratu palsu sedang operasi tengkorrak kepala agar cantik. Dia lalu bisa mirip dengan Lisa Pinkping. Apakah aku besok juga boleh melakukannya, agar bisa cantik seperti Ariana Grande?" tanya Melati.
"Kau itu sudah cantik jadi tidak perlu dirubah-rubah lagi."
"Mengapa tidak boleh?"
"Pokoknya tidak boleh!" jawab Jonathan tanpa mengemukakan alasannya. Melati lantas terdiam.
"Itu yang Ibu maksudkan, dia butuh seorang wanita untuk menjadi panutannya yang mengajari mana yang baik dan tidak. Tidak semua hal bisa kau lakukan. Jo. Kau butuh partner hidup."
Jonathan tidak bisa menyangkal perkataan ibunya.
"Katanya kau punya permainan tadi."
"Iya, aku mempunyai banyak pertanyaan dan Ayah harus menjawabnya cepat tanpa berpikir."
"Kalau begitu kita lakukan sekarang," ujar Jonathan.
"Ayah siapa yang paling kau sayangi?" tanya Melati cepat.
"Tentu saja kau." Jonathan mencubit kecil hidung Melati.
__ADS_1
"Siapa yang paling dekat dengan Ayah?"
Jonathan terdiam lama untuk berpikir. Dia melihat ke arah ibunya.
"Nenek."
"Tidak... tidak...." ujar Melati kesal. Dia menatap terlihat kecewa dengan cara Jonathan yang lambat dalam menjawab pertanyaan.
"Aku bilang Ayah harus menjawabnya dengan cepat, " tegas Melati.
Kusuma dan Aliya tersenyum melihat tingkah Ayah dan anak itu.
"Baiklah, Ayah akan menjawabnya dengan cepat."
"Kali ini Ayah harus di tutup matanya." Melati lalu pergi ke kamar ayahnya untuk mengambil dasi dan menutup mata Ayahnya dengan dasi itu.
"Kita mulai pertanyaannya," kata Melati.
"Siapa yang paling Ayah cintai," tanya Melati memulai pertanyaan
"Kau," jawab Jonathan cepat.
"Siapa yang paling cerewet?"
"Nenekmu," ujat Jonathan membuat Aliya membuka mulutnya dan ingin memukul Jonathan tapi ditahan Kusuma yang sedang tertawa tanpa suara.
"Apa pengalaman terburuk Ayah."
"Berpisah dengan seseorang penting dalam hidup kita."
"Apa yang membuat Ayah menangis terakhir kali?"
"Melihat kau sakit," jawab Jonathan. Melati ingat itu bagaimana Ayahnya menangis sewaktu tangannya di pasang jarum infus.
"Apa yang ingin Ayah rubah dalam hidup."
"Jalan hidup."
"Apa yang ingin Ayah lakukan jika waktu Ayah hanya enam bulan lagi."
"Memastikan kau berada dengan orang tepat."
"Siapa orang yang tepat itu?"
"Yang bisa mengerti dirimu dan mencintaimu."
"Siapa orang yang paling mengerti Ayah?"
"Lily."
"Lily? Siapa dia aku belum pernah bertemu dengannya? Apakah dia kekasih Ayah sekarang?" Melati meletakan kedua tangan di pinggangnya.
__ADS_1
Jonathan melepaskan penutup mata dan menatap ke arah kedua orang tuanya.