
Melati memainkan handphonenya ketika menunggu Ayahnya pulang ini sudah hampir jam sepuluh malam, namun tidak kunjung datang.
Baterai di handphone miliknya sudah menunjukkan warna merah. Saatnya diisi daya. Dia melihat ke arah stop kontak, tempat biasanya pengisi daya handphone berada. Tidak ada. Dia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Namun, tidak melihatnya juga. Dengan malas dia pun bangkit dan mencari ke seluruh laci dalam kamar itu hingga akhirnya dia menemukan benda yang dia cari.
"Hmmm ternyata kau bersembunyi di sini," ucap Melati. Ketika dia mengambil penambah daya itu, dia menemukan sebuah buku tebal berwarna biru dengan cover bergambar bunga Lily. Melati yang penasaran menarik buku itu dan mengamatinya.
Dia membuka halaman pertama di sana ada foto Ayahnya ketika masih muda, Ibunya dan siapa wanita di tengah mereka? Melati hendak mengambilnya tetapi mendengar suara kenop pintu diputar.
Ceklek!
Pintu terbuka dan Melati berdiri dengan kaku dan senyum paksaan.
"Hai, Ayah, kau cepat sekali pulangnya?'' sapa Melati.
Jonathan melihat jam di dindingnya. Sama dengan jam di tangannya, pukul sepuluh lebih tetapi mengapa Melati mengatakan jika dia pulang cepat. Biasanya anaknya itu akan merajuk dan marah.
"Iya, Ayah teringat denganmu jadi ayah pulang cepat dan meninggalkan pesta yang baru saja di mulai." Jonathan meletakkan tasnya di meja lalu melepaskan jas serta dasinya.
Seperti biasanya Melati akan mendekat dan membaui Jonathan.
"Ayah bau wanita," ujar anak itu dengan wajah manyun.
"Tadi ada yang mendekat dan mencium pipi Ayah. Hanya sebatas cipika dan cipiki saja tidak lebih."
Jonathan menghindari tatapan menyelidik dari Melati. Dia mengambil baju tidur dari lemari dan hendak ke kamar mandi tetapi di hadang oleh Melati. Kedua tangan anak itu berada di pinggang, menatap ayahnya dengan tajam.
"Ayah tidak berbohong kan?"
Okey, Jonathan tidak tahu darimana sifat posesif Melati. Dia bahkan akan menelfon ayahnya setiap setengah jam sekali jika dia pulang terlambat. Anak itu begitu tidak suka jika Ayahnya dekat dengan wanita mana pun. Itu sebabnya sampai hari ini dia tidak punya teman kencan. Selain itu, tidak ada yang tahan dengan ulah Melati yang nakal dan jahil. Anak itu selalu mempunyai seribu akal untuk menggagalkan kencannya.
"Ha... ha... mana mungkin Ayah berbohong padamu," Melati menyipitkan mata. "yang ada malah Ayah akan pusing sendiri," gumam Jonathan tidak jelas.
__ADS_1
"Ayah bicara apa?" tanya Melati.
"Ayah ingin membersihkan badan." Jonathan langsung masuk ke kamar mandi enggan untuk melayani pertanyaan lain lagi dari anaknya itu.
Melihat Ayahnya yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, Melati melihat ke bawah tempat tidur tempat dimana dia melemparkan buku tadi. Dia mengambilnya.
"Ayah, aku mau tidur sendiri saja di kamar," teriak Melati berjalan keluar kamar dengan cepat.
"Kok ti..., " Jonathan membuka pintu kamar mandi dan tidak menemukan Melati ada di kamarnya. Dia termangu untuk sejenak, lalu tersenyum dan melanjutkan lagi mandinya. Malam ini dia bisa langsung tidur karena tidak harus membacakan cerita terlebih dahulu atau mendengar omongan Melati sebelum tidur.
Melati langsung menutup kamar dan menguncinya. Dia mulai berbaring di tempat tidur lalu membuka buku diary itu.
Hai, diary.
Kenalkan namaku Lily Indah Sari. Semua memanggilku dengan sebutan Lily. Umurku saat ini baru 22 tahun. Baru lulus kuliah dan mulai besok aku akan bekerja di sebuah perusahaan besar. Doakan agar aku bisa melakukan tugas pertamaku dengan baik ya.
"Ya, semoga kau bisa melakukannya dengan baik," ucap Melati ketika menanggapi tulisan dalam diary itu.
Hai, diary.
Kau tahu maksudku kan?
Lily tertawa membacanya. Serigala dan Gorilla ingin kawin?
Diary,
Pak Bos mulai mengamuk lagi. Mengacaukan seisi ruangan. Kau tahu aku begitu takut melihatnya. Dia lalu memintaku membuatkan kopi pahit. Ku pikir untuk apa dia meminum yang pahit jadi aku tambahkan gula.
Dia marah sewaktu meminumnya. Mengomel tetapi menghabiskannya. Memang namanya Bos bisa melakukan apapun. Mengatakan tidak padahal dia menyukainya.
Untungnya Pak Bos ku itu tampan jika tidak sudah aku masukkan ke ruang operasi agar dokter mengoperasi wajah dan pribadinya yang jelek.
__ADS_1
"Betul bawa saja ke rumah sakit jiwa."
Melati jadi mulai tertarik dengan Diary itu. Dia membuka halaman lanjutannya.
Dia menemukan foto orang mirip dengan Ayah yang berada di kursi roda. Dia mengamatinya dengan seksama. Apakah Ayah dulu pernah lumpuh? Pertanyaan itu begitu membuatnya penasaran.
Diary,
Kau sudah lihat foto Pak Bosku itu. Dia tampan kan tapi wajahnya sama sekali tidak terlihat ramah. Jangan katakan jika aku mencuri foto darinya ya. Aku ingin mengabadikannya di catatan hidupku.
Aku pikir Pak Bos itu suka marah-marah karena kurang bahagia tapi apa yang menyebabkannya? Tidak mungkin karena dia kehilangan giginya kan? Dia pasti tidak merasa bahagia karena keadaannya . Membuat dia menjadi orang normal yang bisa tersenyum sepertinya sesuatu hal yang sulit.
Melati makin tertawa membaca buku Diary milik Lily ini. Dia semakin ingin mengenal sosok Lily yang terlihat asik dari tulisannya. Jika dia bertanya pada Ayahnya tidak mungkin. Ayahnya pasti akan bertanya balik. Besok akan dia pikirkan caranya.
Lily mulai menguap. Dia kemudian menutup buku diary itu dan meletakkan di bawah bantal. Kelopak matanya mulai terasa berat dan dalam waktu kurang dari satu menit Melati sudah pergi dalam alam mimpi.
Esok paginya, Melati terbangun karena guncangan di tubuhnya.
"Melati... kau harus bangun ini sudah siang, sudah pukul enam kurang." Dengan malas Melati membuka matanya.
"Ini akhir pekan, Nek," ucap Melati.
"Kau selalu bilang ini akhir pekan. Kau pikir nenekmu ini sudah pikun. Ini baru hari Sabtu dan kau masih bersekolah hari ini. Selain itu, ini hari terakhir ujian akhir tahun kau harus menyelesaikan semuanya dengan baik jika tidak... ." Aliya melihat Melati sudah berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku pasti akan menyelesaikan ujianku dengan baik. Akun ingin hadiah spesial dari Ayah, " teriak Melati dari dalam kamar mandi.
"Sebaiknya kau sarapan di jalan saja karena Ayahmu sudah menunggu di bawah. Nenek akan menyiapkan sarapannya."
Aliya merapikan tempat tidur Melati yang kusut. Anak itu kalau tidur tidak bisa tenang dan cantik selalu berputar dengan berbagai gaya, menguasai tempat tidur.
Aliya mengangkat bantal dan menemukan buku tebal bergambar bunga Lily. Dia mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Sejak kapan anak itu menulis buku diary," pikir Aliya hendak mengambil buku dan melihatnya.