
"Kau lama sekali. Aku sudah hampir mati berdiri karena menunggumu," ungkap Alberth berlebihan.
"Simpan gombalanmu itu untuk wanita yang lain."
"Oh, kau menyakitiku. Padahal aku sudah sangat bersungguh-sungguh mengatakannya. Aku hanya menunggumu, aku bahkan tidak melihat wanita yang lain walau mereka **** dan menggodaku bagiku, kau tetap wanitaku yang paling cantik," gombal pria itu lagi.
Lily tertawa, "Mulutmu itu sangat manis sekali sehingga terkadang aku takut terkena diabetes karena selalu berdekatan denganmu."
"Kau bisa saja."
"Bagaimana semuanya?" tanya lily.
"Hatiku? Tidak baik-baik saja, semakin hari aku semakin takut kau tinggal pergi di saat penting kita." Tangan Alberth menyentuh kedua panggul Lily dan menatap wanita itu dengan lekat.
"Kau mulai lagi!" ujar Lily. "Aku bertanya bagaimana dengan pestanya. Terutama hidangannya? Apakah ada yang kurang atau berkomentar tentang rasanya?"
"Hidangannya sangat sempurna, penampilan dan rasanya semuanya sangat hebat. Ibu Intan senang dengan semua menu yang ada. Semua sesuai dengan contoh yang kau berikan."
"Syukurlah jika begitu. Aku sebaiknya kesana untuk memeriksanya," ujar Lily.
"Tidak sebelum kau menciumku. Aku sudah menunggunya selama tiga hari karena kita sudah berpisah selama itu."
"Ini tempat umum bisa saja seseorang lewat dan memergoki kita."
"Kita dua orang dewasa dan tidak ada masalah dengan itu kan? Lagipula kita akan menikah sebentar lagi."
"Al," ujar Lily keberatan. Namun Alberth malah memajukan bibirnya.
"Ih, Al yang benar saja."
"Kau itu tidak bisa memulai terlebih dahulu," ucapnya sebelum ******* bibir merah dan indah milik Lily.
Sejenak mereka larut dalam suasana romantis itu.
Jonathan yang melihat dan berdiri di balik pilar besar lalu membalikkan tubuhnya. Tidak kuasa dia melihat semuanya. Ternyata rasanya sesakit ini melihat seseorang yang masih kita cintai bermesraan dengan orang lain. Ingin rasanya Jonathan menarik tubuh Lily dan membawanya pergi jauh. Namun, Lily bukanlah lagi berada dalam genggamannya. Lily sudah bersama pria lain yang akan menjadi suaminya.
Kini Jonathan tahu jika pria yang bersama dengan Lily ternyata Jonathan. Dia lalu keluar dari tempat persembunyiannya setelah kedua orang itu pergi.
Dengan lunglai Jonathan keluar dari lokasi pesta berlangsung. Langkahnya seperti prajurit yang kalah perang. Dia menoleh kembali ke belakang. Berharap bisa melihat Lily lagi walau sekilas. Wanita itu nampak berbicara dengan Intan di kejauhan. Setelah puas melihatnya Jonathan pergi dari tempat itu. Berusaha untuk melupakan Lily.
__ADS_1
***
Besoknya, Jonathan mencari informasi tentang Lily dari Intan.
"Ada apa kau mencariku. Kau tahu jika aku sangat lelah setelah pesta semalam. Rudi juga tidak memberiku waktu untuk beristirahat dengan tenang semalaman."
"Ish kau membuat duda sepertiku meradang karena teringat ranjang yang sudah dingin selama empat tahun ini."
"Lagipula kenapa kau bercerai dengan Bella. Bukankah dia itu cantik dan baik? kurang apa coba. Kau saja yang kurang bersyukur."
"Semua orang juga tidak ada yang menginginkan perpisahan tetapi kami memang sudah menemukan kecocokan satu sama lainnya sehingga ya seperti ini."
"Memang kau cari yang seperti apa lagi? Semua ada di diri Bella," ujar Intan. "Apa dia meminta cerai darimu karena sifat playboymu itu belum sembuh juga?"
"Sebenarnya bukan seperti itu masalahnya."
"Lalu apa?"
Jonathan menghela nafasnya. Dia lalu menceritakan semuanya.
"Jadi masalahnya adalah karena ada orang ketiga yang sebenarnya tidak ada diantara kalian."
"Lalu kenapa kau tidak mengejarnya."
"Aku mengejar sampai ke rumahnya. Hanya saja, satu hari lagi akan menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Lalu dia memintaku pergi walau aku sudah mengajaknya ikut serta."
"Kau itu terlihatnya saja kuat kenyataan kau itu lemah. Kalah dengan suamiku. Dia melawan mantan suamiku terang-terangan dan langsung melamar ku walau statusku waktu itu masih suami orang. Kau tahu sendiri kan jika mantanku itu suka bertindak kasar jadi dia tidak terima."
"Ini masalahnya lain."
"Andaikata waktu itu kau terang-terangan meminta siapa itu..."
"Lily."
"Ya Lily didepan orang tuanya mungkin waktu itu wanitamu akan melihat keseriusan niatmu. Sayangnya, kau hanya memintanya untuk pergi bersamamu. Kau sama sekali tidak mengatakan cinta. Jadi untuk apa dia ikut denganmu karena kau tidak menawarkan apa-apa padanya. Aku jika jadi dia akan berbuat hal yang sama."
Jonathan terperangah lalu dia terdiam dan menunduk menyesali semua yang telah terjadi.
"Lalu untuk apa kau memanggilku kemari dan mengatakan ada hal penting yang ingin dibicarakan."
__ADS_1
Jonathan menghela nafas sebelum mengatakan niat memanggil Intan kemari.
"Aku meminta bantuanmu untuk mencari keberadaan Lily."
"Keberadaan Lily?" Intan mengerutkan dahinya.
"Kau mengenalnya. Wanita itu berbicara denganmu semalam."
Intan nampak berpikir. "Oh... apakah... jangan bilang Lily yang kau maksud adalah pemilik dari catering yang ku pesan semalam untuk acara cateringku."
"Pemilik Catering?"
"Setahuku hanya Lily pemilik Catering yang berbicara denganku semalam. Dia adalah tunangan dari Alberth pemilik EO acara itu."
"Kau benar. Dia Lilyku," ujar Jonathan yakin ketika mendengar nama Lily disangkut paitkan dengan Alberth. Ada rasa tidak senang namun dia tidak bisa berbuat banyak untuk hal ini. Setidaknya untuk saat ini.
"Apa kau ingin merebutnya dari tunangannya?"
"Tidak. Aku hanya ingin berdamai dengan hatiku. Ingin menemuinya untuk terakhir kali sebelum aku merelakannya hidup bersama pria lain."
"Tidaklah kau ingin memperjuangkan cintamu lagi. Dia belum menikah mungkin saja dia masih mencintaimu."
"Rasa-rasanya itu tidak mungkin setelah apa yang terjadi pada kami berdua. Setelah perpisahan kami selama sembilan tahun ini. Hatinya sudah menjadi milik Alberth bukan diriku lagi."
Jonathan teringat bagaimana Lily dan Alberth berciuman semalam. Lily nampak menikmatinya. Mereka nampak seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta.
Intan memegang tangan Jonathan memberi semangat padanya. "Kau pasti bisa merebut kembali cintanya jika dia memang milikmu. Masih ada waktu lebih untuk membuktikan dirimu itu layak dia cintai."
"Kau seperti memercikkan api pada bara yang telah lama padam."
"Aku sebenarnya tidak pernah melihatmu bersedih Jo. Aku selalu melihatmu ceria dan tertawa selama ini. Namun, kini aku melihat sisi yang lain dari dirimu. Ternyata kau pria melankolis. Kau berpegang pada cintamu walau sudah menikah dengan wanita lain. Pantas saja jika Bella menyerah dan meninggalkanmu. Namun, kembali lagi hati tidak bisa dipaksakan. Jika kau mencintai Lily, kau harus mengejarnya sampai dapat. Sampai ijab kabul belum diucapkan."
Jonathan terdiam. Intan lalu mengambil sebuah kartu dari dalam tasnya.
"Ini kartu miliknya. Di sana ada alamat toko roti dan cafe miliknya. Kau bisa mencarinya di sana."
"Terima kasih, Tan."
"Perjuangkan cintamu hingga titik darah penghabisan. Yakinlah jika dia memang jodohmu pasti dia akan kembali padamu!" Intan lalu memeluk Jonathan sebelum pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Dia tidak sadar jika Lily ada diluar dari restoran itu untuk menunggu kedatangan Alberth. Lily tidak melihat wajah Intan karena posisinya membelakangi. Namun, dia melihat kebersamaan Jonathan dan wanita itu. Mengira jika itu adalah Bella.