
# Warning
Arthur mendengar teriakan Brian pun menolehkan kepalanya kebelakang namun sedetik kemudian pria yang memegang pistol tepat dibelakangnya terjatuh bersimbah darah, Arthur mengernyit kan dahinya, bingung. Namun setelah menatap pria yang sudah tak bernyawa itu Ia menatap sang pelaku. Manik matanya bertemu dengan iris coklat teduh kesukaanya.
" Tabitha..." Lirih Arthur.
" I'm sorry I can't waiting" Seru Tabitha menenteng senapan Sharp Fusion AK-M16 ditangannya dan tersenyum simpul.
" Bagaimana kau bisa menembak?" Tanya Arthur.
" Well, Tata udah minta diajari kan?" Tabitha menjeda ucapanya dan menembak musuh tepat dibelakang sebelah kiri Arthur. Arthur pun hanya menggelengkan kepalanya.
" Tapi om Arthur nggak mau yaudah"
" Arthur mereka mengirim 2 helikopter lagi kesini, kalau dibiarkan kita kalah jumlah" ucap Brian tiba-tiba.
" Dimana Alexander?"
" Aku disini Boss" ucap Alexander ikut berkumpul dengan Arthur dan Brian dengan membawa hampir 40 orang anggota.
" Kita bisa tangani ini dengan mudah Boss, apalagi seorang Sniper baru saja muncul" ucap Brian melirik Tabitha.
" Tentu saja" seru Tabitha.
" Kalian harus jelaskan padaku" Ucap Arthur angkuh.
" Kita tak akan bisa menjelaskan kalau terus berunding Arthur, kita akan mati" ucap Tabitha.
" Baiklah Sweetheart tugasmu adalah menembaki helikopter sialan itu"
" Brian kau temani aku, dan Alexander bunuh mereka semampu mu" terang Arthur.
" Yes, Sir" ucap Alexander dan Brian.
Arthur berjalan mengisi kembali peluru untuk kedua pistol kesayanganya, begitu pun Brian. Dengan tenang Arthur menarik pelatuk pistol itu tanpa ragu mengirimkan hujan tembakan untuk musuh sebelah kanan, sedangkan Brian memburu musuh sebelah kiri.
Hujan tembakan menggema di rooftop hotel, walaupun ada polisi yang datang mereka tak akan berani menentang kesenangan seorang Arthur De Lavega. Disisi lain, Tabitha menembaki helikopter musuh dengan bengis dan mengeluarkan senyum miringnya.
" REGNAROK HANCURKAN KAPARAT- KAPARAT INI!!" seru Arthur menggema.
Tabitha mengerutkan keningnya mendengar kata 'Regnarok' keluar dari bibir Arthur ia semakin yakin ada sesuatu tentang Regnarok yang tidak ia ketahui. Berbeda dengan Arthur yang menembaki musuh dan sesekali bertarung dengan musuh memelintir lengan dan sesekali menendang dan berakhir dengan tembakan dikepala dan jantung musuhnya. Arthur senang saat melihat darah keluar dari tubuh tak berdaya musuh-musuhnya.
" Kabar baik boss, sepertinya kita menang" ujar Brian.
" Siapkan Helikopterku aku akan ke New York sekarang"
" Seperti maumu Boss"
Arthur melihat sekeliling saat seluruh musuh telah terkapar di lantai rooftop hotelnya, ditambah dengan genangan darah dimana-mana membuat jiwa beringasnya bertambah liar.
" Brian periksa mereka semua jika ada satu saja yang masih hidup bawa dia ke markas, aku akan mengintrogasi nya"
" Baik Boss"
Setelah itu Arthur membenahi Jasnya yang terlihat sedikit berantakan dan berjalan kearah dimana istrinya berada. Ia menatap manik mata Tabitha sedikit tak percaya bahwa istrinya ikut dalam pertempuran ini. Tapi dalam dadanya bergemuruh perasaan senang dan bangga menghinggapinya namun ia juga takut istrinya akan terlalu jauh ikut dalam masalah ini.
" Kita akan pergi sekarang"
" Tapi Tata belum ngomong sama Mom dan Dad"
" Tak apa"
" Kemarikan senapan nya"
" Nggak mau ini kan punya Tata"
" Itu dari Brian kan?" Ucap Arthur diikuti anggukan dari Tabitha.
" Maka itu milikku"
" Ish, nyebelin banget sih"
" Kau tau, kau terlihat lebih sexy saat menjadi seorang sniper seperti tadi Ta"
" Alah apaan sih om"
" Dari mana kau belajar menembak?"
" Dari Brian, kan Om Arthur nggak ngasih jadi Tata belajar sama Brian."
" Sejak___"
__ADS_1
" Sejak seminggu yang lalu" sela Tabitha.
" Honey harus kuapakan kau" ujar Arthur mengeluarkan Smirk nya.
Ditengah perbincangan mereka suara gaduh Helikopter terdengar Arthur segera menggenggam tangan Tabitha dan menuntunya menuju Helikopter yang sudah Brian siapkan. Arthur menuntun Tabitha menaiki tangga Helikopternya dan duduk ditempat kendali.
" Om serius mau jadi pilot dadakan?"
" Aku bisa menerbangkannya Tabitha" ujar Arthur.
Arthur melirik kearah Brian.
" Lakukan apa yang kuminta Brian!" Teriak Arthur.
" Tunggu saja di New York Boss"
Arthur hanya menggangguk menanggapi Brian dan mulai menjalankan mesin Helikopternya dan Helikopter pun mulai terbang keudara.
" Amazing" ujar Tabitha sambil melihat kearah jendela Helikopter yang tengah menerbangkannya dengan ekpresi menggemaskan membuat Arthur yang meliriknya tersenyum simpul.
" How cute" lirih Arthur
Mereka pun kembali fokus keperjalanan dengan ekpresi Tabitha yang sama seperti saat berangkat yaitu takjub. Arthur terlalu fokus dengan mesin helikopternya hingga tak menyadari Tabitha yang sudah tertidur mungkin kelelahan.
🔫🔫🔫
" Engh...udah sampe ya?" Lirih Tabitha saat menyadari ia sudah tak lagi dalam helikopter bersama Arthur satu hal yang ia simpulkan ia sudah ada di New York. Tata melamun memikirkan hal-hal yang ia tinggalkan di Indonesia termasuk kedua orang tuanya, sahabatnya dan Clark.
" Kau sudah bangun?" Suara bariton mengagetkan Tabitha.
" Em.. iya" ujar Tabitha gugup saat menyadari Arthur tengah Shirtless dihadapanya.
" Jangan menatapku seperti itu"peringat Arthur.
" Kenapa?"
" Kau bisa membangunkan singa tidur Ta, apalagi dengan pakaian mu yang seperti itu" ujar Arthur.
Mendengar peringatan dari Arthur, Tabitha pun menundukan kepalanya melihat pakaianya ia membulatkan matanya saat menyadari ia hanya memakai kemeja putih yang sedikit transparan, memperlihatkan bra dan panties nya saja. Dengan cepat ia menatap Arthur yang tengah terkekeh geli melihat wajah ketakutan yang diberikan istrinya.
" Jangan bilang Om Arthur yang ganti baju Tata?"
" Sebenarnya sih aku tak bermaksud tapi saat pulang dress mu penuh dengan darah jadi aku terpaksa melakukan itu"
Arthur mendudukan dirinya dipinggiran ranjang king size miliknya dan mengangkat tubuh mungil Tabitha ke kepangkuannya.
" Asal kau tau Ta, aku sangat ingin menjadikan mu istri seutuhnya. Tapi aku tetap berfikir aku tak ingin menyakitimu terlebih kau juga harus menggapai cita-citamu" ujar Arthur menarik pinggang Tabitha merapatkan nya dengan tubuh tegapnya.
" Aku tak ingin memaksamu, aku akan menunggumu sampai kau siap" ujar Arthur memeluk tubuh sang istri.
Sedangkan Tabitha jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat diperlakukan seperti ini oleh Arthur terlebih ia tak bodoh hingga tak menyadari apa maksud dari setiap kata yang Arthur ucapkan.
" Be mine Mrs. De Lavega" ujar Arthur menegadahkan kepalanya menatap manik favoritnya.
Dengan keyakinan penuh Tabitha menangkup kedua pipi Arthur dan mengganggukan kepalanya tanda setuju. Arthur yang mendapat persetujuan dari sang istri bersorak gembira ada sesuatu dalam dirinya yang membuncah saat istrinya menyerahkan dirinya tanpa paksaan kepadanya. Dengan segan Arthur menangkup wajah sang istri dan mendekatkan bibirnya pada bibir ranum Tabitha mereka pun memulainya, sebuah kejadian yang akan slalu menjadi peristiwa teristimewa untuk kedua insan yang tengah beradu asmara. Biarlah mereka yang mengetahui apa yang terjadi selanjutnya.
🔫🔫🔫
Tengah malam Arthur terbangun dari tidur nyenyaknya menatap wajah sang istri yang tertidur dengan menggunakan lengannya sebagai bantal Arthur bangun dan menggapai kain Bathrobe untuk menutupi tubuh polosnya. Ia berjalan kearah balkon dan menghidupkan cerutu dan menghisapnya serta menghembuskannya ke udara. Ia teringat dengan Brian, segera ia pun mencari handphone nya dan benar saja banyak panggilan tak terjawab dari Brian, ia pun menghubungi ajudan nya itu.
" Hai Boss, sudahkah kau bersenang-senang dengan istrimu itu? Sangat istimewa sekali yah, setelah kita diserang kau malah bersenang-senang dasar jerk" Omel Brian diseberang telepon.
" Tutup mulutmu Brian!" Sentak Arthur.
" Baiklah maafkan Aku"
" Bagaimana?"
" Ada salah satu diantara mereka yang masih hidup Boss, kita sudah membawanya ke Markas, kau bisa menemuinya kami sudah berusaha untuk mengorek informasi tapi dia tetap tak mau buka mulut"
" Aku akan kesana"
" Maka akan kutunggu" ujar Brian dengan kekehan diakhir kalimatnya.
Arthur segera berjalan menuju Walk in Closet untuk bersiap dan setelah selesai ia menggunakan kaos putih panjang dan celana kain hitamnya tak lupa jam tangan Rolex yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Ia berjalan kearah ranjang dan mengelus rambut Tabitha pelan serta menarik sudut bibir kananya, ia pun mengecup puncak kepala Tabitha lembut. Setelah itu ia berjalan kearah pintu dan membukanya ia pun keluar dari kamarnya. Ia berjalan dengan arogan menuju pintu utama mansion nya dan mengendarai mobil sport miliknya yaitu Lykan Hypersport.
Ia membelah jalanan New York dan berakhir di Markas Regnarok. Ia memarkirkan mobilnya asal dan menjejakan kakinya kearah tembok menyibakkan sebuah kain hitam disana, terpampanglah sebuah Fingerprint ditembok tersebut segera Arthur meletakkan ibu jarinya di alat Fingerprint yang terpasang didinding tersebut. Setelah selesai dinding yang tadinya berbentuk batu bergeser menampilkan sebuah pintu baja, Arthur pun membuka pintu itu disambut oleh beberapa orangnya disana.
Arthur berjalan kearah ruang penyekapan dimana sudah ada Brian dan Alexander disana.
__ADS_1
" Boss" sambut Brian.
" Pergilah tinggalkan aku dengan dia sekarang" titah Arthur yang diikuti anggukan Alexander dan Brian.
Sepeninggalan Brian dan Alexander suasana ruang penyekapan terasa sangat hening hanya sebuah lampu temaram yang menerangi kegelapan diantara Arthur dan pria yang sudah terkapar lemas karna dipukuli oleh Brian dan Alexander. Arthur duduk dikursi kebesaranya tepat berhadapan dengan Pria itu. Arthur menghubungi Hacker kepercayaannya Matthew untuk mengorek informasi pria dihadapanya.
" Matt, bisa kau carikan aku informasi mengenai Petter Lucas?" Tanya Arthur menatap pria bernama Petter itu.
" Sesuai maumu Boss"
" Berapa menit?" Ujar Arthur dingin namun serat akan kesadisan.
" Tak perlu kau matikan telpon ini aku sudah menemukanya" ujar Matthew.
" Kau memang cerdas Matt" ujar Arthur.
" Petter Lucas pria Amerika yang lahir di Texas dia memiliki dua orang putri yang pertama berumur 13 tahun dan kedua berumur 8 tahun dia suami dari Kate Greta, ia menetap di Italy sekarang perkerjaannya sebagai seorang pekerja bank biasa orang tuanya sudah meninggal 2 tahun yang lalu" ujar Matthew.
" Baiklah Matt, Terimakasih informasinya."
" Tentu Sir" ujar Matthew menutup telponnya.
Arthur berdiri dari duduknya dan mendudukan dirinya dimeja berhadapan dengan Petter.
" Petter Lucas kubertanya dengan baik pada mu, atas perintah siapa kau menyerangku?"
" Aku takkan mengatakanya walaupun kau membunuhku sialan!" ujar Petter.
" Aku takkan membunuhmu tenang saja" ujar Arthur mengeluarkan pistol kesayanganya yaitu Deagle.
" Tapi aku akan membunuh putri dan istrimu" lanjut Arthur
" Sialan kau" ujar Petter memberontak namun tanganya yang diborgol menyulitkan nya menyerang Arthur.
" Jadi katakan siapa yang menyuruhmu?" Ujar Arthur pelan namun terdengar menakutkan.
" Kubilang aku takkan mengatakanya!" Sentak Petter.
" Well, itu keputusanmu"
Arthur menekan telinganya dengan jari telunjuknya dan menelpon orangnya yang ada di Italy.
" Kau sudah mengawasi putri Petter?"
" Sesuai perintahmu bos"
" Tembak jika sudah keberi aba-aba"
" Baik bos"
Petter kaget saat mendengar putrinya akan ditembak. Namun Arthur tetap mengeluarkan ekpresi seakan dia tak melakukan apapun.
" Katakan dalam hitungan ketiga Petter Lucas, siapa yang menyuruhmu atau putrimu akan mata ditangan Sniper ku"
" Satu..." Ujar Arthur memulai hitunganya sedangkan Petter menelan Salivanya kasar.
" Dua..." Lanjut Arthur sambil memainkan pistolnya.
" Siapkan tembakanya saat ku berkata tiga" ujar Arthur pada orang disambungan teleponnya.
" Baikalah brengsek aku akan mengatakanya." Ujar Petter menyerah.
" Bebaskan, kau kembalilah ke gudang" Perintah Arthur dan mematikan sambungan teleponnya.
" Jadi siapa?" Tanya Arthur.
" Yang menyuruhku adalah..."
To Be Continue....
Vote Pleaseee...
Vote readers amat membantu penulis untuk up cerita ini.
So, selama nulis cerita ini, Chap ini adalah Chapter terpanjang 1718 kata...
Semoga puas...
*Arthur De Lave**ga*
__ADS_1
Tabitha De Lavega