
Esok paginya Tabitha bangun tidak mendapati Arthur disampingnya. Wanita itu berjalan kearah kamar mandi dan membersihkan diri, berganti pakaian dan keluar dari kamarnya. Ia sarapan disana lalu tak lama terdengar suara ketiga sahabatnya. Ya, mereka menginap disana. Mereka pun sarapan berempat namun seorang maid menghampiri Tabitha.
" Nyonya, anda ditunggu tuan didepan"
" Ada apa?"
" Saya tidak tau nyonya"
" Baiklah" Tabitha pamit pada ketiga sahabatnya dan berjalan pelan kearah pintu utama dan mendapati Arthur berada diatas motor Ducatti miliknya, pria itu menggunakan jaket kulit miliknya.
" Kita akan pergi" ujar Pria itu.
" Kemana?"
" Sudah ikuti saja"
Tabitha menuruti kemauan Arthur, wanita itu menaiki motor Arthur dan memeluk pria itu erat. Motor itu pun berjalan menjauhi pekarangan mansion De Lavega. Arthur membawa Tabitha berkeliling Porto Venere. Saat ditengah perjalanan earphone milik Arthur berbunyi menandakan ada telepon masuk. Arthur menekan tombol di earphone ditelinganya dan setelah itu ia tersambung dengan Brian.
" Boss, sedang dimana kau?"
" Aku dijalan"
" Lihat kebelakang" seru Brian, dan Arthur pun melihat kebelakang lewat kaca spion nya.
" Mereka suruhan mu?"
" Bukan"
" Lalu siapa mereka?"
" Sepertinya mereka akan mencelakaimu Arthur, walaupun mereka menunggang motor tapi motor mereka sudah dimodifikasi sehingga motor itu bisa menembakimu"
" Dari mana kau tau?"
" Aku lihat dari arah depan motornya terdapat lubang seperti pistol"
" Baiklah, apa yang harus kulakukan?"
" Istrimu bisa menyetir motor?"
" Kurasa tidak"
" Baiklah ini yang harus kau lakukan"
" Katakan"
"..."
" Oke, aku mengerti"
" Lakukan Arthur"
Arthur mematikan sambungan teleponnya.
" Ta, kau masih ingin hidup?" Ucap Artgur agak keras agar Tabitha bisa mendengarnya.
" Tentu, hanya orang bodoh yang berkata tidak"
" Maka ikuti perintahku"
" Maksudmu?"
" Diam jangan berteriak"
" Ap_aaa" Ujar Tabitha lalu berteriak sedikit saat Arthur tanpa aba-aba memindahkan Tabitha kedepan menghadap pria itu.
Wanita itu terlihat shock, yang benar saja bagaimana kalau tadi dia terjatuh, sialan pria ini. Batin Tabitha.
" Apa-apaan kau!" Desis tajam Tabitha.
"Diam, dengarkan aku"
" Apa!" Sentak Tabitha kesal.
" Lihat kebelang" otomatis wanita itu menengok kebelakang nya.
" Bukan maksudku dihadapanmu" ujar Arthur, pasalnya wanita itu malah melihat kebelakang tepatnya didepan Arthur.
" Bicara dengan jelas!" Ucap wanita itu tambah kesal.
" Baiklah maaf, sekarang buka jaketku"
" Tidak! Aku tidak mau!"
" Kau masih ingin hidup? Maka lakukan saja"
" Oke" ucap Tabitha sembari berdecak, lalu wanita itu pun membuka jaket Arthur.
" Peluk aku"
" Apa!!"
" Kubilang peluk aku"
" Tidak ini muka umum! Kau jangan gila!"
" Memangnya apa yang akan kulakukan? Lakukan saja perintahku atau_"
" Atau apa!" Sentak Tabitha menyela ucapan Arthur.
" Kita akan mati" Tabitha sedikit bergidik saat mendengar penuturan Arthur. Wanita itupun menyusupkan tanganya ke dalam jaket Arthur dan memeluk pria itu.
" Kau lihat tiga motor itu?"
" Iya" balas Tabitha.
" Mereka musuh"
" Apa!"
" Tenang jangan panik, jangan terlihat takut."
" Bagaimana aku tidak takut sialan, nyawaku dipertaruhkan disini!" Ucap Tabitha dengan nada sinis.
" Cukup tenang dan kau bisa merasakan sesuatu di balik punggungku?"
" Apa?"
" Rasakan saja"
" Oh God, kau membawa_"
" Ya"
" Maksudmu?"
" Hitungan ketiga keluarkan dan lakukan"
" Tapi aku tak bisa menggunakannya"
" Kau menaklukan senapan, maka kau bisa menggunakanya."
" Baiklah"
" Satu"
" Dua" hitung Arthur.
" Tiga" ucap Tabitha lalu mengeluarkan dua pistol Deagle di tangan kanan dan kirinya wanita itu menembak dengan membabi buta mengenai tiga orang musuhnya dan musuh itu pun terjatuh. Untung saja jalanan sedang sepi karena masih pagi jadi tidak ada yang tau kejadian penembakan itu.
" Good girl"
" Aku bisa menggunakan pistol" ucap Tabitha bangga.
__ADS_1
" Baiklah, sudahi semua ini kita pulang"
" Oke" ujar wanita itu tersenyum hangat.
Mereka pun pulang kembali ke mansion. Setelah sampai di Mansion terlihat Brian sedikit berlari menghampiri Arthur dan Tabitha.
" Kau tidak papa boss?"
" Iya aku baik"
" Kau?" Tanya Brian melirik kearah Tabitha, wanita itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Brian menghela napas lega.
" Arthur aku perlu bicara"
" Baiklah kita keruanganku sekarang" ucap Arthur melenggang pergi dengan Brian yang mengekorinya.
Arthur memasukkkan tangan kananya lalu menduduki kursi kerjanya. Pria itu hanya menatap Brian datar meminta penjelasan.
" Aku yakin, mereka adalah orang-orang suruhan The King"
" Kenapa kau berkata begitu?"
" Boss?" Ucap seseorang diambang pintu Matthew.
" Masuklah Matt"
" Ada apa Brian? Kenapa kau memanggil Matthew?" Tanya Arthur.
" Itu yang ingin aku jelaskan"
" Bagaimana dengan Petter Matt?" Tanya Arthur dingin, pria yang ditanya hanya menelan salivanya susah payah.
" Begini boss, dua hari yang lalu microchip itu masih aktif dan menunjukkan bahwa Petter ada di Vegas, tapi setelah itu beberapa jam kemudian kami kehilangan kontak"
" Artinya hanya ada dua kemungkinan di sini Arthur" ucap Brian menjeda.
" Satu, Petter sendiri yang membuang microchip itu, dan yang kedua The King sudah mengetahui bahwa Petter menggunakan microchip dan membuangnya"
" Tunggu"ucap Arthur lalu bangkit mengeluarkan ponsel nya dan menhubungi seseorang.
" Ya, boss?"
" Kau menembak Petter?"
" Tidak boss, malah aku mendapat kabar kalau Petter sudah mati kemarin"
" Sial, itu artinya The King sendiri yang membunuh Petter"
" Sepertinya begitu boss, pasalnya aku menyamar sebagai pelayat disana dan aku menemukan microchip itu sudah dinonaktifkan"
" Baiklah, kembali bekerja"
" Baik, boss"
Pria itu mematikan sambungan teleponnya dan menghadap kearah Brian.
" Sniperku bilang ia tidak menembak Petter, malah dia bilang Petter sudah mati, dia menyamar sebagai pelayat disana dan menemukan microchip itu dalam keadaan nonaktif"
" Pasti The King sendiri yang menonaktifkannya"
" Itulah alasanya, mungkin saja The King meretas jaringan microchip itu dan mengetahui akulah yang memantau Petter selama ini boss" ujar Matthew.
" Mungkin saja tiga orang pagi tadi adalah suruhan The King" tebak Arthur.
" Itulah yang kucemaskan Arthur"
" Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan boss?" Tanya Matthew.
" Brian kau bawa Tabitha dan Diana ke New York, Matthew kau persiapkan dua tiket untuk kepulangan teman Tabitha ke Indonesia"
" Baik" ujar Brian dan Matthew serempak, lalu Matthew bergegas keluar dari ruangan Arthur menyisakan Brian dan boss nya.
" Kenapa?"
" Terlalu berbahaya jika Tabitha masih ada disini, jika The King sudah mengetahui keberadaanku, maka yang harus kulakukan adalah menjauhkan Tabitha dariku"
" Tapi Arthur saat anak buahmu menangkap salah satu orang yang berusaha mencelakaimu tadi pagi, dia bilang kalau The King sering tinggal di Vegas dan Jepang"
" Alasan?"
" Karena mereka lebih dekat dengan area perjudian"
" Kenapa tidak Macau?"
" Kau lupa disana ada musuhmu kan?"
" Mungkin The King tak ingin punya masalah dengan Damian" lanjut Brian.
" Lalu kenapa bedebah itu menyinggungku?"
" Entahlah"
" Siapkan apa yang kuperintahkan"
" Okey"
Arthur berjalan melewati Brian lalu melihat istrinya sedang menonton drama Korea di TV, Arthur hanya berdecak melihat tingkah laku mereka berempat.
" Ta, aku ingin bicara" ujar Arthur mengheningkan suasana.
" Guys, gue pergi dulu ya"
" Okey" ujar Diana, Amel dan Fitry serentak.
Tabitha berjalan mengekori langkah Arthur, kenapa langkah pria itu terlihat sangat tergesa-gesa, batin Tabitha.
Dan saat mereka telah sampai dikamar Arthur menghela napasnya kasar, lalu menggenggam tangan Tabitha erat.
" Ada apa?"
" Kau harus kembali ke New York sekarang"
" Apa? Tapi kenapa mendadak?"
" Kau lupa kejadian tadi pagi?"
" Tidak"
" Maka pulanglah"
" Bagaimana dengan teman-temanku?"
" Mereka akan pulang juga semuanya sudah dipersiapkan"
" Tapi kau pulang juga kan?"
" Tidak aku harus mengurus beberapa urusan disini, mungkin lusa aku baru pulang"
" Baiklah"
" Jangan memperlihatkan wajah lesuh mu itu Ta"
" Iya"
" Sudah, cepat sampaikan kepada sahabatmu"
" Baiklah"
Tabitha hanya menurunkan bahunya lemas, tapi ia tak bisa menolak perintah Arthur. Wanita itu berjalan kearah dimana ketiga sahabatnya tengah serius menonton drama Korea. Tabitha mendudukan dirinya diantara Diana dan Amel.
" Kalian harus pulang sekarang"
" Ha!!"
__ADS_1
" Apa!"
" What!!"
Ucap mereka silih berganti. Tabitha hanya mampu memanyukan bibirnya.
" Tapi nanti kita atur jadwal yah, biar kumpul-kumpul lagi" ujar Tabitha.
" Tapi kenapa kita dipulanginya mendadak Ta"
" Iya Ta, emang kita ada salah ya?" Ucap Amel menimpali ucapan Fitry.
" Laki gue nggak bilang alasanya" dusta Tabitha, ia tak mungkin bilang kalau nyawa ketiga sahabatnya dalam bahaya karna urusan suaminya.
" Yaudah deh, mau gimana lagi" ujar Diana lemas.
" Amel sama Fitry nanti dianter sama anak buah Arthur ya"
" Lah, gue gimana?"
" Diana, lo sama gue ke NY"
" Oke"
🔫🔫🔫
Setelah mengantarkan Tabitha dan meminta Brian sendiri yang mengendarai helikopter Arthur, pria itu bergegas ke Markas Regnarok di Italy.
Pria itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia kesal bukan main. Bagaimana bisa ia diserang oleh orang tidak dikenal, kemana perginya para bodyguard pribadinya.
Setelah sampai Pria itu segera melangkahkan kakinya kesebuah pintu ia membukanya dan terlihat dua pintu didepannya. Arthur menekan sesuatu di dinding samping kiri. Lalu tak lama lantai dibawahnya bergerak bergeser menambilkan sebuah celah besar dengan tangga yang menurun. Arthur memasukinya lalu kembali menutupnya dengan tombol di ujung tangga.
Pria itu berjalan angkuh lalu beberapa orang disana membungkukan tubuhnya memberi hormat pada Arthur.
" Boss"
" Matt, bagaimana sudah dapat kejelasan kenapa bodyguard ku bisa jauh dari ku?"
" Boss, menurut salah satu dari bodyguard mu. Mereka di bombardir sebelum kau menjauhi mansion. Lalu tiga orang itu menyamar sebagai bodyguardmu. Untung Brian teliti jadi kita bisa menyelesaikannya"
" Kalian masih menyekap salah satu dari tiga orang itu?"
" Ya, dia ada diruang sidang boss"
Arthur tidak menjawab ucapan Matthew, pria itu memilih berjalan cepat kearah sebuah pintu baja yang dindingnya juga terbuat dari besi anti peluru.
Arthur mendudukan dirinya berhadapan dengan orang yang sudah terkapar tak berdaya. Arthur menggeram emosi saat menatap pria didepannya. Dengan cepat Arthur bangkit dan menghadiahi pria itu satu bogeman di pipi kananya.
Arthur hanya menghela napasnya dan membersihkan tanganya dari keringat yang sudah tercampur dengan darah dari pria itu.
" Dengarkan aku, benar The King yang sudah menyuruhmu?"
" Tidak"
" Kau ingin kupukul lagi?"
" Tidak, ku mohon jangan"
" Bagus, katakan!"
" Iya, aku suruhan The King"
" Kenapa kau menyerangku?"
" The King bilang itu hanya pesan untukmu, karena berusaha melacak keberadaanya"
" Itu artinya Petter_"
" Ya, aku menbunuhnya!" Sentak pria itu.
Arthur menggertakkan giginya menahan emosi, tanganya sudah terkepal sempurna. Pria itu dengan cepat memberi satu bogeman lagi di pipi pria dihadapanya.
" Dimana tuan mu?" Tanya Arthur.
" Aku tidak akan mengatakanya!"
" Dasar pecundang sialan, beraninya hanya bersembunyi." Desis tajam Arthur.
" Well, dia memang pecundang. Tapi dia pemenang. Kau juga akan kalah dihadapanya Arthur bedebah!"
" Sialan kau!!" Arthur menodongkan pistolnya tepat ke kepala pria itu. Arthur menarik pelatuk pistolnya dan pria dihadapanya mati seketika.
" Matthew!!"
" Iya boss"
" Bereskan pria sialan ini"
" Baik"
Arthur berjalan kearah ruang pribadinya, ia menuangkan vodka lalu menyesapnya. Pria itu menghidupkan cerutunya lalu memanggil Matthew.
" Kau memanggilku boss?"
" Ya, Vegas letak terakhir Petter?"
" Iya boss"
Arthur menekan telunjuknya menelpon seseorang.
" Kau, cari tau siapa saja yang telah menemui Petter hari itu sebelum dia mati!"
" Baik boss"
" Dengarkan aku, kau lalai hingga Petter mati dan kita kehilangan The King. Jadi lakukan dengan benar"
" baik boss, sekali lagi maafkan aku"
Arthur mematikan sambungan teleponya. Dan menghubungi anak buahnya di Jepang.
" Ya Boss?"
" Ada target, cari tau siapa The King"
" Baik"
" Lacak semua tempat di Jepang, terutama di tempat casino dan perjudian lainya"
" Baik"
Arthur menutup teleponnya. Ia masih kesal, berani sekali The King sialan itu berurusan dengan seorang De Lavega seperti dirinya.
"Habis kau sialan!" Desis Arthur tajam menghidupkan cerutunya.
To Be Continue...
Vote Pleasee...
Tabitha De Lavega
Arthur De Lavega
Brian Aldhiano
Matthew Jonson
__ADS_1
Alexander William