MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 1.8 : ANCAMAN


__ADS_3

Arthur turun dari kamarnya disambut dengan senyuman manis dari istrinya yang tengah membaca majalah diruang tengah.



Arthur menghampiri Tabitha dan mengecup puncak kepalanya.


"Aku berangkat" ucap Arthur.


" Hati-hati" ujar Tabitha yang dibalas anggukan Arthur.


Tak lama berselang setelah kepergian Arthur seseorang menekan bell mansion nya. Seorang maid sedikit berlari untuk menghampiri si pelaku. Namun Tabitha menghentikanya.


" Biar aku saja" ucap Tabitha diikuti anggukan dari maid itu. Ia pun mendekati pintu utama Mansion.


" Siapa_"


" Clark" sela pria itu.


" Ngapain lo disini?"


" Mau main lah emang nggak boleh mampir kerumah orang?"


" Yaudah masuk"


  Saat ingin memasuki ruang tengah Clark sedikit terkejut saat ia menolehkan kepalanya kesamping kanan dimana sebuah taman terlihat menyejukkan. Namun ia membulatkan matanya saat melihat singa albino mengaum didalamnya dan seakan melihatnya sebagai mangsa yang sepertinya menarik untuk dikoyakkan, Clark sedikit ketakutan saat melihat respon singa itu cepat-cepat ia berjalan mengekori Tabitha.


"Nggak usah kaget, itu peliharaan suami gue" ujar Tabitha pelan.


" Oh ya, suami lo psikopat?"


" Kayaknya iya"


" Kalo ada yang ganggu istrinya" lanjut Tabitha.


"Lo nyindir gue? Atau lo udah ketularan mulut tajam Arthur"


" Yang lo omongin itu laki gue"


" Okey maaf"


" Duduk"


Tabitha mendudukan dirinya dan Madam Rose datang membawa minum untuk menghormati tamu yang datang.


" Ada apa?"


" Masih dengan tawaran yang sama Ta"


" Gue rasa lo udah ngerti dengan apa yang laki gue omongin semalem"


" Tapi gue masih cinta sama lo Ta"


" Tapi gue nggak"


" Lo bohong kan?"


" Nggak"


" Kenapa sih lo bohong terus? Apa laki lo udah ngancem lo sampe lo nolak gue terus? Jawab Ta, lo tau suami lo itu sebenernya pecundang tau nggak, dia bawa lo kabur ke New York supaya kita pisah"


" Gue nggak bohong! Dan lo nggak usah jelek-jelekin Arthur! Seenggaknya dia nggak ngomong sebelum yakin sama apa yang dia omongin! Nggak kayak lo yang dengan lancang ngomongin laki gue!" Sentak Tabitha membuat beberapa maid menghentikan aktifitasnya dan melihat nyonya mereka, pasalnya baru kali ini Tabitha meninggikan suaranya.


" Tata lo bentak gue?"


" Ya, karna lo keterlaluan"


" Tapi yang gue omongin bener kan?"


" Lo liat singa itu, dia Exter" desis Tabitha.


" Dan kalo lo masih ngebacot disini, mending lo pergi sekarang, liat respon Exter, dia nggak suka daddy nya dijelek-jelekin sama lo" lanjut Tabitha.


"..."


" Dan kalo lo masih mau hidup mending pergi sekarang, dari pada lo ngebacot lagi dan gue nggak segan buat ngebuka kandang Exter biar dia yang ngehukum lo" ancam Tabitha.


" Okey gue pergi, tapi lo harus inget gue nggak bakal lepasin lo dengan mudah Ta"


" Dan Arthur nggak segan buat ngebunuh lo Clark"


Clark pergi dari ruang tengah mansion dan keluar dari pintu utama, Tabitha menghembuskan nafasnya kasar. Ia terganggu dengan obsesi Clark padanya. Ia sedikit merasa kalau Clark berubah menjadi menjijikan karena terus saja berusaha mengejarnya padahal ia adalah istri rekan kerja ayahnya.


Sedangkan seseorang tersenyum miring menatap layar laptopnya yang menampilkan seorang wanita tengah terduduk dengan tatapan kebencian pada pria yang baru saja keluar dari mansion.


" Dia sangat garang" ucap Brian.


" Like Exter"


" Ya tapi Exter jantan Arthur"


" Kurasa aku akan membeli singa albino yang betina untuk teman Exter"


" Oh ya tentu saja, kau memang menyukai hal-hal aneh Arthur. Aku harus membenarkan ucapan bocah tengil itu kau memang Psikopat"


" Pesankan aku singa albino betina Brian satu hari"


" Apa kau gila itu tidak mungkin, bagaimana caranya aku mengurus semua dokumen dan persyaratan lainya" cerca Brian.


" Itu urusanmu"


" Sialan kau Arthur" desis Brian.


" Oke kembali ke topik awal." Ucap Arthur.


Brian mengganggukan kepalanya mendengar suruhan Arthur, ia berjalan kearah sebuah hologram yang memperlihatkan rancangan pembangunan proyek hotel Chicago.


Brian menunjuk hologram di satu titik paling sensitive di proyek itu yang menyebabkan runtuhnya hotel itu.


" Disini, sepertinya ada yang mengetahui titik ini Arthur. Dan setelah aku teliti ternyata ada sebuah bom terpasang disana."


" Bagaimana tidak bisa terdeteksi?"


" Bom itu dirancang sangat kecil hanya seukuran paku biasa yang digunakan dalam proyek. Oleh karena itu tidak terdeteksi"


" Ada sidik jari?"


" Tidak bos, pelakunya sangat mahir melakukanya"

__ADS_1


" Pasti ada salah satu dari pekerja itu."


" Ya, kau benar karna hanya para pekerja yang tau seluk beluk rancangan bangunan ini" terang Brian.


" Berapa korban yang mati?"


" 12 orang Arthur"


" Kau sudah memeriksa semuanya?"


" Sudah bos pelakunya sudah mati tapi tak ada petunjuk lagi"


  Ditengah perbincangan Arthur, layar hologram menunjukkan sebuah sambungan.


" Damian"


" Sambungkan"


Brian menekan tombol enter dan wajah Damian langsung terlihat dilayar hologram.


" Hallo Arthur" sapa Damian dengan cerutu yang terselip di jari rengah dan telunjuknya.


" Katakan apa maumu?"


" Aku dapat kabar hotelmu hancur, right?"


" Kau pelakunya?"


" Iya" ucap Damian dengan kekehannya.


" Kau memang sialan bedebah!" Desis Arthur.


" Aku sengaja melakukannya agar namamu dibenci oleh para pembisnis"


" Dengan cara kotormu kau pikir akan menang Damian"


" Anggap saja itu adalah balasan atas apa yang kau lakukan padaku sialan. Kau juga membakar gudangku bukan?"


" Lakukan saja apa maumu Damian"


" Baiklah, selamat bersenang senang bedabah!"


Sambungan mati Arthur menatap Brian.


" Apa?"


" Ajukan meeting sekarang"


" Baiklah semaumu"


15 menit berselang Arthur memasuki ruang rapat De Lavega Group dengan kuasa pria itu para pebisnis terpaksa menghadiri rapat dadakan yang hanya dipersiapkan 15 menit. Namun, hal itu semudah menjentikkan jari bagi Arthur, kuasanya terhadap dunia bisnis membuat pembisnis kecil tunduk padanya. Arthur hanya duduk sembari menyandarkan kepalanya kekursi kebesaranya. Pria berdagu terbelah itu hanya mengetuk-ketukkan pulpen kedagunya sembari melihat presentasi yang Brian berikan pada para penanam saham hotel yang runtuh karena ulah Damian. Setelah penjelasan Brian selesai, Arthur menegakkan duduk nya dan menatap dingin pada para penanam saham didepannya.


" Sesuai dengan apa yang asistenku sampaikan masing masing diantara kita merugi sebesar 12% kecuali aku yang merugi hampir 30%, karena aku adalah penanam saham terbesar disini."


" Maaf, Arthur melihat keadaan dan banyaknya kompensasi yang harus kita berikan pada para pekerja dan juga lingkungan sekitar akibat runtuhnya proyek hotel ini aku tak yakin bisa kembali untuk melanjutkan proyek ini" ucap salah satu rekan kerja Arthur.


" Yang dikatakan oleh Frank benar Arthur, kurasa perusahaanku juga nampaknya tak bisa lagi untuk menjalankan proyek ini"


" Maaf perusahaanku juga begitu Arthur"


" Maaf sebelumnya tuan-tuan apa anda lupa siapa penanam saham terbesar disini, seharusnya Arthur ya_"


" Begini, kalian tak perlu khawatir masalah ganti rugi dan kompensasi" ucap Arthur menjeda.


" Karena aku yang akan menanggung semua kerugian yang dikeluarkan akibat masalah ini. Yang perlu kalian lakukan adalah tetap mengawasi jalanya proyek ini. Agar masalah seperti ini tidak kembali terjadi" ucap Arthur tegas.


" Tapi anda akan mengeluarkan banyak biaya Arthur" ucap David angkat bicara.


" Ya aku tau, tapi aku tetap ingin hotel Chicago berdiri"


" Baiklah jika memang itu yang kau inginkan" ucap salah satu dari mereka.


" Brian urus semuanya dan pastikan masing-masing diantara penanam saham mengutus salah satu anak buahnya untuk mengawasi jalanya proyek ini" Arthur membalikkan badanya dan melenggang pergi dari ruang rapat.


🔫🔫🔫


Tabitha sedikit kebingungan saat melihat beberapa oramg membawa sebuah box besar kehalaman Mansio. Dan Brian juga nampaknya tengah membicarakan sesuatu kepada salah satu orang disana. Tak lama berselang nampaklah mobil sport milik Arthur memasuki pekarangan Mansio. Pria itu keluar dari mobilnya dengan kacamata hitamnya. Ia berjalan mendekati istrinya yang masih belum mengerti apa yang terjadi.


" Aku membawa kejutan untukmu"


" Apa?"


" Tunggu saja dulu"


" Brian 10 menit kau harus sudah membuat singa itu jinak"


" ITU TIDAK MUNGKIN SIALAN! AKU YANG AKAN MATI JIKA BEGITU" teriak Brian.


" Tunggu dulu singa? Singa apa maksudnya?"


Arthur merangkul Tabitha dan berjalan kedalam Mansion. Pria itu mendudukan istrinya dan tak menanggapi ocehan istrinya yang bertanya masalah singa. Ia berjalan kearah kamar. Dan beberapa menit kemudian ia keluar hanya menggunakan kaos putih dan celana training nya. Ia berjalan kearah pantry dan mengambil air dari kulkas serta meminumnya. Setelah itu ia kembali keruang tengah dan mendudukan dirinya disamping istrinya.


" Kau mengabaikan pertanyaanku?"


" Maaf, aku haus"


" Terserah katakan apa maksud dari singa?"


" Aku membeli singa betina untuk teman Exter"


" Kau gila!"


" Aku hanya sedang ingin saja" tak lama setelah mengatakan itu Kal datang dan bermanja pada Arthur.


" Hai, kids ada apa?"


" Hentikan Arthur, kita masih bicara"


" Ya kau bicaralah aku dengarkan" ucap Arthur masih dengan membelai Kal.


" Kenapa bedebah itu lama sekali" ucap Arthur.


Arthur berdiri dan berjalan kearah taman dimana disana sudah ada Brian yang berusaha menjinakkan singa albino baru milik Arthur. Dia mengeluarkan smirknya, Tabitha berjalan mengekori Arthur dan kembali membatu dengan pemandangan didepanya.


" Kau berusaha membunuh Brian dengan mengirimkannya berhadapan dengan singa itu"


" Tidak"

__ADS_1


" Hentikan Brian!" Seru Arthur.


" Apa! Kau sudah puas menyiksaku?" Desis Brian. Arthur berjalan kearah taman dan membuka pintu kaca pembatas antara dirinya dan singa baru itu yang didalamnya juga ada Exter.


" Keluarlah, kau payah" ejek Arthur.


Brian keluar dari sana, Tabitha melihat Arthur ia khawatir dengan apa yang akan dilakukan suaminya. Arthur berusaha untuk membelai singa betina itu namun yang ia dapat malah auman dari singa itu. Exter bereaksi saat tuanya diperlakukan seperti itu namun Arthur mengangkat tanganya untuk membuat Exter tenang. Arthur mencoba lagi dan lagi namun itu belum juga berhasil hingga singa betina itu melompat kearahnya dan Tabitha spontan berteriak. Namun Arthur malah menangkap kedua tangan singa itu dengan satu tanganya, satu tanganya lagi ia gunakan untuk membelai singa itu lembut.


Lama kelamaan singa betina itu menurut dan mulai bermain dengan Arthur, Brian dan Tabitha yang menyaksikan itu hanya ternganga melihat perlakuan Arthur pada singa betina itu. Arthur melemparkan sepotong daging pada singa betina dan Exter tampak singa betina itu sudah tenang. Dengan tenang Arthur membelai kembali singa itu namun sekarang tak ada penolakkan. Ia tersenyum dan akhirnya keluar menyisakkan perawat Exter yang memberikkan makanan pada Exter dan singa baru itu.


" Ilmu apa yang kau punya sialan" ucap Brian.


" Katakan, apa yang kau lakukan pada singa itu, mengapa dia mudah sekali dijinakkan" lanjut Brian.


" Tenang"


" Maksud mu?"


" Kau tak memiliki ketenangan saat menghadapi rasa takut Brian, mereka bisa melihat rasa takut itu dimatamu"


" Aku belum mengerti"


" Singa akan agresif jika dia melihat gelagat kita yang terlihat takut. Namun singa akan tenang jika kita juga tenang Brian"


" Kau menganalisisnya?"


" Aku sudah hidup dengan Exter selama lima tahun"


" W**ell, kau memang hebat boss"


Arthur tak menanggapi ucapan Brian ia hanya melirik kearah Tabitha yang juga tengah menatapnya.


" Apa kau slalu berpikir tak ada yang mengkhawatirkanmu?"


" Tidak"


" Kau dengan gamblang memasuki taman itu"


" Dan tak memperdulikan apa yang akan terjadi padamu" lanjut Tabitha.


" Karena aku yakin dengan kemampuanku"


" Setidaknya pikirkan seseorang yang mengkhawatirkanmu"


" Aku tau, sudah jangan berpikir itu lagi. Aku tak apa-apa aku selamat" ucap Arthur memeluk Tabitha.


" Jangan lakukan hal bodoh lagi"


" Jika aku mengingat perkataanmu Ta"


" Kau memang sialan" ucap Tabitha mengerucutkan bibirnya.


" Aku sangat terharu melihatnya... Kukira aku tertarik untuk menikah" ucap Brian.


" Menikah saja dengan salah satu teman tidurmu"


" Diam kau Arthur"


" Apa yang aku bicarakan benar kan?"


" Aku tak pernah bermalam dengan wanita murahan" elak Brian.


" Bagaimana dengan Bianca dan Clarissa" ucap Arthur mengejek.


" Dari mana kau tau soal mereka?"


" Aku tau segalanya Brian"


" What?"


" Bahkan berapa hari kau bermalam dengan Bianca juga aku tau"


" Diam Arthur" ucap Brian pergi.


" Kau membuatnya malu" ujar Tabitha.


" Biarkan dia memang begitu"


" Benarkah Brian bermain wanita."


" Tidak"


" Lalu Bianca?"


" Dia hanya teman Brian yang kehilangan keluarganya, oleh karena itu Brian memintanya tinggal di apartemen nya"


" Itu alasanya mengapa Brian tinggal disini?" Tanya Tabitha.


" Iya"


" Dia pria yang baik"


" Aku tak suka kau memujinya" ucap Arthur melepas pelukanya.


" Tapi kau yang terbaik" ucap Tabitha mengecup pipi Arthur lalu melenggang pergi, tanpa disadari Arthur pun tersenyum menanggapi sikap istrinya itu.


To Be Continue....


Vote Pleasee..


Bantuan Vote amat dibutuhkan...


Kalo yang penasaran gimana sih visual nya Damian... Nih Author kasih tau yah...




Damian Jack Ford



Arthur De Lavega



Tabitha De Lavega and Fransisca Diana

__ADS_1



*Brian Aldhi**ano*


__ADS_2