
Tabitha dan Arthur sampai di mansion mereka setelah perjalanan panjang dari Macau, mereka memasuki mansion dengan Tabitha yang berjalan dibelakang tubuh tegap Arthur.
Saat seorang bodyguard membuka pintu mansion untuk tuannya Madam Rose langsung menyambutnya, wanita yang sudah tak lagi muda itu langsung menghampiri Tabitha dan memeluk tubuh wanita itu.
" Kau sudah pulang, Madam sangat bahagia nak" ucap Madam Rose melepaskan pelukannya.
" Aku pulang karena mu Madam"
" Tentu saja, abaikan ucapan pedas pria tua ini" ujar Madam Rose melirik Arthur.
" Ayo masuk, aku sudah menyiapkan banyak makanan untukmu saat Brian memberitahu kau akan pulang"
" Terimakasih" ujar Tabitha sambil melangkah beriringan bersama Madam Rose meninggalkan Arthur didepan pintu mansion.
" Madam, aku mau ganti baju dulu"
"Baiklah, aku akan menunggumu cepatlah"
" Baik"
Saat Tabitha ingin melangkahkan kakinya menaiki tangga suara bariton menghentikan pergerakannya.
" Mau kemana kau?"
" Ke kamar" ucap Tabitha melirik keasal suara.
" Lewat?"
" Tangga"
" Jangan, lewat lift saja"
" Tapi kenapa?"
" Kau tidak boleh lelah"
Tabitha menghela napasnya dengan kasar.
" Memangnya kenapa sampai Tabitha tidak boleh lelah?" Tanya Madam Rose.
" Dia sedang hamil" ujar Arthur.
" Apa!" Madam Rose langsung mendekati Tabitha dan memeluknya erat.
" Kau hamil?"
" Ya"
" Ya Tuhan, akhirnya mansion ini akan dipenuhi suara tangisan bayi, terimakasih nak"
" Madam jangan begitu"
" Berapa usianya?"
" Dua minggu"
" Apa! Jadi selama kau hamil Arthur selalu memakimu?"
" Iya"
" Dasar anak bodoh! Tidak perhatian sama sekali!" Rutuk Madam Rose sedangkan Arthur hanya menggelengkan kepalanya.
" Baiklah kali ini aku setuju kau tidak boleh menggunakan tangga"
" Baiklah"
Tabitha pun berjalan menuju lift, ia memasuki lift itu namun saat lift akan naik Arthur segera ikut.
" Dengar"
" Apa?"
" Mulai sekarang kau tidak boleh menggunakan tangga, dan setiap sarapan, makan siang dan makan malam kau akan diantarkan makanan jadi kau tidak perlu turun kebawah, aku akan membuatkan tempat makan pribadi untukmu di balkon"
" Arthur aku hanya hamil bukan lumpuh, aku masih bisa berjalan dengan kedua kaki ku"
" Itu semua kulakukan untuk kebaikanmu sendiri Ta"
" Kau berlebihan"
" Dan mungkin aku juga akan membuatkan ruang bersalin pribadi di mansion"
" Apa! Arthur aku tidak mau! Aku ingin seperti orang lain"
" Kau berbeda, kau adalah istriku"
" Kau sangat menjengkelkan"
Ting
Pintu lift terbuka Tabitha segera berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya kasar hal itu membuat Arthur geram. Ia segera menyusul langkah kaki sang istri dan membawa tubuhnya ke gendongan pria itu.
" Apa-apaan kau!"
" Dari pada kau gunakan kakimu untuk berjalan seperti tadi, lebih baik kau kugendong"
" Arthur lepas!"
" Tidak"
" Baiklah terserah"
" Bagus lebih baik kau menurut"
Arthur membawa tubuh Tabitha sampai ke kamar pria itu. Ia segera menurunkan tubuh istrinya ke ranjang dengan perlahan.
" Aku harus pergi, ada urusan"
" Urusan apa?"
" Kau tak perlu tau"
" Lama?"
" Mungkin"
" Baiklah"
" Ingat setelah ini ganti baju lalu kau makan oke"
" Em, Arthur boleh ku minta sesuatu?"
Arthur mendudukan tubuhnya berhadapan dengan tubuh Tabitha dan menatapnya lekat.
" Saat kau pulang bisakah kau bawakan aku ice cream?"
" Kau bisa mengambilnya di pantry"
" Aku ingin kau yang membelinya"
" Baiklah, akan kubelikan"
Arthur mengecup pelan kening Tabitha namun wanita itu mencekal lengan Arthur.
" Rasa coklat tapi aku ingin warnanya tidak coklat"
" Maksudnya?"
" Aku ingin ice cream nya rasa coklat tapi warnanya bukan coklat"
" Mana ada ice cream begitu Ta"
" Aku tak mau tau"
" Baiklah akan kucarikan"
" Terimakasih"
" Ada lagi?"
" Tidak"
" Oke"
Arthur melenggang pergi ia akan menemui bedebah itu. Arthur menjalankan mobil nya menuju salah satu rumah sakit dan ia pun bertanya dimana tempat musuhnya berada.
Setelah mengetahui dimana tempatnya Arthur segera menuju ruangan itu. Ia membuka pintu ruangan disana dan tampaklah seorang pria tengah tertidur.
Arthur mendekati ranjang nya dan Arthur dengan kejamnya menarik selang infus ditangan Clark.
Clark kaget, pria itu segera menatap Arthur dengan tatapan penuh ketakutan.
" Hai"
" Arthur"
" Ya, apa kabar?" Tanya Arthur mendudukan dirinya di sofa.
" Bagaimana bisa kau disini?"
" Bagaimana? Kau tak perlu tau"
" Apa yang kau mau Arthur?"
" Kehancuran!"
" Apa maksudmu?"
__ADS_1
" Aku ingin kehancuranmu Clark Adderson!"
" Aku tak melakukan apapun!"
" Begitu?"
" Ya!"
Arthur bangkit dari duduknya dan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, sebuah pistol.
" Mau apa kau?"
" Tenang, bukan kau sasarannya" ujar Arthur.
Pria berbadan tegap itu melangkah menuju sudut ruangan dan melihat cctv ia menembak cctv itu dengan menggunakan pistol kedap suara miliknya.
" Apa yang kau lakukan Arthur!"
" Mengulang kembali apa yang kau lakukan!"
" Aku tak mengerti!"
" Baiklah akan kujelaskan"
Arthur menyimpan kembali pistolnya dan menghadap Clark dengan tatapan kebencian yang mendalam.
" Kau merusak cctv apartemenmu sebelum menjebak istriku kan?"
" Tidak!"
" Jangan mengelak aku sudah tau semuannya, dan aku merusak cctv rumah sakit untuk mengingatkanmu"
" Arthur kau salah, istrimu yang menggodaku waktu itu!"
Rahang tegas Arthur mengetat saat mendengar jawaban Clark, Arthur mendekati Clark dan mencengkram rahang pria itu.
" DENGARKAN AKU! KAU PIKIR AKU BODOH! AKU MEMANG MERAGUKAN ISTRIKU TAPI SETELAH MENGETAHUI REKAMAN SUARAMU DAN AJUDANKU AKU PERCAYA ISTRIKU TIDAK PERNAH MELAKUKAN HAL MENJIJIKAN DENGANMU BRENGSEK!"
" Arthur aku_"
" Akan kubuat hidupmu menderita Clark"
" Apa maksudmu!"
" Akan kubuat kau tak bisa bekerja dimana pun Clark Adderson! termasuk diperusahaanmu sendiri! Dan akan kubatalkan proyek bisnisku dengan ayahmu!"
" Arthur jangan lakukan itu"
" Sudah terlambat, jika aku batalkan proyek ini, ayahmu akan bangkrut dan perusahaanmu akan hancur Clark"
" Arthur ku mohon"
" Kau salah memilih lawan Kaparat!"
" Arthur jangan lakukan itu, ayah tak tau apapun masalah ini"
" Terserah!"
" Ku mohon jangan lakukan itu!"
" Aku tak akan mendengarkan ucapanmu biadab! Anggap saja itu adalah balasanku karena tingkah bodohmu!!"
" Istrimu_"
" Jangan pernah lagi kau bicara mengenai istriku sialan!"
Arthur segera mengangkat tubuh Clark sampai tubuh pria itu terduduk dan Arthur menghadiahinya satu bogeman.
" Itu karena kau menjebak istriku!"
Arthur melayangkan satu bogeman lagi dipipi kiri Clark.
" Itu karena kau berusaha merusak rumah tanggaku!"
Satu bogeman lagi Arthur berikan untuk Clark yang sudah mengeluarkan darah dari hidungnya.
" Itu karena kau, aku tak memercayai anakku!"
" Tabitha ha-mil?"
" Ya! Kau kalah cepat bodoh!" Ejek Arthur.
" Sialan kau Arthur!" Clark mengumpat sedangkan Arthur hanya mengeluarkan smirk nya.
" Dasar pria bodoh! Berani sekali kau mengusik seorang Arthur De Lavega! Kau akan menyesal jerk!"
Arthur menghajar Clark ia benar-benar membuat Clark babak belur dan mungkin saja ucapannya jadi nyata. Arthur mematahkan tangan dan kaki pria itu.
" Jangan sekali-kali kau mengusik kehidupanku lagi!" Desis Arthur menyisir rambutnya dengan jari tangannya.
Arthur mendekati Clark dan mencengkram rahang pria itu dengan wajah Clark yang berlumur darah.
" Dengar, akan ku buat kau menderita, akan kupatahkan karir mu, akan kubuat kau sangat menderita hingga kau menginginkan kematian tapi kau tak kan mendapatkannya CAMKAN ITU CLARK ADDERSON" Ujar Arthur sadis lalu melepaskan kasar rahang Clark. Pria yang sudah tak berdaya itu meringis, cengkraman Arthur seakan-akan meremukkan rahangnya.
" Ka-u keterlalu-an!" Lirih Clark lalu pria itu limbung.
Arthur tersenyum tipis, ia menghubungi seseorang.
" Aku menghajar seseorang di rumah sakit, bereskan jangan sampai ada yang mencurigaiku sebagai pelakunya"
" Baik tuan"
Arthur mematikan sambungan teleponnya, ia keluar dari ruangan Clark dan memasuki mobilnya, ia pun bergegas menemui David Adderson.
Arthur melangkahkan kakiknya didalam perusahaan David Adderson. Saat Arthur berhadapan dengan David ia menatap pria tua itu dengan tatapan mengejek.
" Mr. Adderson, putramu telah melakukan kesalahan besar dengan mengusik kehidupanku"
" Apa maksudmu Mr. De Lavega?"
" Kau tanyakan saja pada putra sialanmu itu!"
" Aku sungguh tak mengerti dengan apa yang ucapkan"
" Terserah, tapi sebagai buntut dari perbuatan yang dibuat putramu aku membatalkan proyek kita dan mencabut saham dari De Lavega Group untuk perusahaanmu"
" Apa!"
" Maaf Mr. Adderson"
" Mr. De Lavega ku mohon jangan batalkan proyek ini, perusahaan ku akan hancur jika kau lakukan itu"
" Terserah kau mau bicara apa Mr. Adderson aku sangat membenci putramu itu!"
Arthur melenggang pergi dari hadapan David ia mengacuhkan permohonan David.
Arthur berjalan dengan angkuh menuju mobilnya, menghidupkannya, dan menjalankan mobil itu menuju mansion.
Setelah sampai di mansion Arthur langsung disambut oleh para bodyguard yang menundukkan tubuhnya saat Arthur berjalan dihadapanya, dua orang diantara mereka pun membukakan pintu mansion untuk Arthur.
Arthur berjalan memasuki mansion, namun suara seseorang membuatnya sedikit tersentak.
" ARTHUR!!"
Pria yang merasa namanya dipanggilpun mencari asal suara dan terlihatlah sang istri yang sedang mengatur napasnya.
" Kau berlari?"
" Ya" ujar Tabitha sembari tersenyum.
" Kenapa berlari seharusnya kau tidak melakukan itu"
" Maaf"
" Baiklah tak apa, kenapa kau sampai berlari seperti tadi?"
" Ice cream nya?"
Deg! Arthur melupakan pesanan Tabitha, ia kikuk menjawab pertanyaan Tabitha, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal pria itu bingung mencari alasan apa.
" Arthur? Mana ice cream nya?" Tanya Tabitha menggerakkan lengan Arthur.
" Aku lupa membelinya"
" APA!"
" Sungguh aku tidak sengaja melupakan nya, tapi aku akan segera mencarikannya"
" Kau melupakan keinginanku" lirih Tabitha mulai menangis.
" Hei, jangan menangis"
" Kau melupakan keinginanku, kau jahat Arthur"
" Tabitha sungguh aku tak sengaja, sekarang juga aku akan membelikannya untukmu oke" ujar Arthur menggenggam erat tangan Tabitha.
" Kau tak peduli padaku!"
" Jangan berkata begitu, sungguh aku benar-benar lupa tadi"
" Kau melupakannya!"
Tabitha melenggang pergi dengan tangisan manjanya, Arthur segera menyusul dan mendekap tubuh Tabitha.
" Sungguh maafkan aku, kita pergi mencarinya bersama sekarang oke"
" Aku ikut begitu?"
__ADS_1
" Ya"
" Baiklah"
" Bagus"
Arthur mengacak-acak rambut Tabitha, ia tersenyum menghadapi istrinya yang manja saat ini.
Arthur berjalan beriringan dengan Tabitha, pria itu menggenggam tangan Tabitha dan mereka memasuki mobil Arthur dan mobil itu pun bergerak menjahui mansion.
" Kemana kita makan ice cream?"
" Aku punya satu teman yang memiliki restorant kita bisa memesan ice cream disana"
" Oke"
Restorant yang Arthur tuju ternyata tidak terlalu jauh dari Mansion, mereka pun turun dari mobil dan langsung disambut oleh seseorang bersetelan tuxedo di pintu restorant.
" Arthur"
" France" ujar Arthur menyambut uluran tangan pria itu.
" Akhirnya kau kembali kesini, ku kira setelah menikah kau tidak akan memakan jamuan dari restoranku"
" Tentu saja iya"
Tabitha yang mendengar jawaban Arthur langsung memberi tatapan horornya, bagaimana Arthur bisa mengucapkan itu, bagaimana jika pria dihadapanya tersinggung? Batin Tabitha.
" Ini istriku Tabitha"
" Oh hai, Ms. De Lavega"
" Hai"
" Baiklah ayo masuk akan kusiapkan meja terbaik untuk kalian"
" Terimakasih" jawab Tabitha.
Arthur dan Tabitha memasuki restorant bintang lima milik teman Arthur, Tabitha mengedarkan pandangannya restoran ini sangat mewah, pasti menunya sangat mahal dan porsinya pasti sedikit, batin Tabitha.
" Kau memikirkan sesuatu?"
" Aku hanya berpikir, pasti menunya sangat mahal"
" Tabitha apa kau meremehkanku? Aku bahkan bisa membeli restorant ini untukmu"
" Sombongnya keluar lagi" ujar Tabitha memainkan matanya.
" Maaf"
" Silahkan duduk Arthur, ini adalah tempat terbaik yang kami miliki."
" Thanks France"
" Oke aku pergi dulu."
" France tunggu"
" Ada apa?"
" Tunggu disini aku ingin bicara dulu dengannya" ucap Arthur pada Tabitha yang dibalas anggukan kecil.
Arthur segera menghampiri France.
" France, aku ingin kau buatkan aku ice cream coklat tapi warnanya bukan coklat"
" Ha!"
" Istriku mungkin mengidam, jadi bisa kan kau buatkan untuknya"
" Oh, istrimu hamil?"
" Ya"
" Baiklah, mungkin akan aku buatkan ice cream coklat tapi dari white cocholate"
" Nice"
" Baiklah, aku sendiri yang akan membuatnya untuk kalian"
" Sekali lagi terimakasih"
" Sama-sama"
Arthur kembali ketempat duduknya berhadapan dengan Tabitha yang memandangi jalanan padat New York, ya mereka berada di rooftop hotel yang hanya memiliki lima meja yang dihias begitu elegant. Tabitha tak berhenti berdecak kagum melihatnya.
" Apa yang kau lihat?"
" Jalan, sangat padat"
" New York adalah kota yang didiami banyak manusia Ta"
" Ya, aku tau"
Tak lama France datang dengan beberapa pelayannya, Tabitha menatap senang dengan bawaan dari pelayan itu. France menyajikan ice cream nya dengan sopan dan membuat Tabitha nyaman.
" Ice Cream white chocolate for you Ms. De Levaga and your baby"
" Thank you"
" Your welcome"
Tabitha tersenyum saat menanggapi ucapan France sedangkan Arthur sibuk memeriksa ponselnya. Mengetikkan sesuatu pada anak buahnya mengenai Clark.
" Arthur?"
" Ya"
" Kau mengabaikanku?"
" Tidak" ujar Arthur tapi masih menatap ponselnya, Tabitha hampir meneteskan air matanya entahlah, semenjak hamil ia seperti bukan dirinya.
" Aku pulang saja"
" Hei, maaf"
" Kau sibuk dengan duniamu"
" Baiklah maafkan aku" sesal Arthur menghapus air mata Tabitha.
" Kita nikmati ice cream nya?"
" Ya"
Tabitha menikmati ice cream itu, ia ternyum senang dan Arthur pun turut bahagia melihat istrinya seperti itu. Apapun akan ia lakukan untuk membuat istrinya bahagia dan menebus kebodohannya dimasa lalu.
" Terimakasih"
" Untuk?"
" Ice cream nya"
" Apapun untukmu"
" Aku mencintaimu Arthur"
" Kau tau aku juga mencintaimu"
Arthur tersenyum simpul melihat Tabitha yang bersemangat menikmati ice cream miliknya sampai ice cream itu melebar ke pinggir bibir sang istri. Arthur dengan sigap membersihkannya dengan ibu jarinya.
" Terimakasih"
" Kau sangat menikmatinya?"
" Ya, ini sangat manis"
" Kau juga" ujar Arthur tanpa sadar.
" Apa? Aku apa?"
" Hm, tidak"
" Kau tadi berbicara tentangku kan?" Tanya Tabitha menggoda sang suami, sebenarnya ia mendengar ucapan Arthur tapi ia senang melihat semburat merah yang menghiasi pipi suaminya.
" Aku_"
" Bukanya tadi kau bilang aku manis?"
" Ya, kau manis"
" Serius?"
" Ya" Arthur menjawabnya dengan menunduk, sial bagaimana bisa ia merona hanya karena godaan dari istrinya.
Tanpa kata Tabitha mengecup pipi Arthur cepat. Arthur melebarkan matanya. Sial, ia kembali memerah!
To Be Continue...
Vote Please...
Arthur De Lavega
Tabitha De Lavega
__ADS_1