MY HUSBAND CEO IS MAFIA

MY HUSBAND CEO IS MAFIA
MHM 2.3: PANIK


__ADS_3

Tabitha berjalan dengan lunglai memasuki mansion Arthur, wanita itu kecewa sebab Arthur tak pulang bersamanya. Diana menghampiri Tabitha.


" Lo nggak usah takut, laki lo badanya gede pasti bisa jaga diri"


" Iya"


" Udah yuk masuk, gue mau lanjutin nonton drakor lagi"


" Ayo, sekalian nontonnya di bioskop pribadi laki gue"


" Ayo!"


Mereka berdua berjalan cepat memasuki ruang bioskop pribadi milik Arthur. Dan mereka pun bahagia dengan dunianya sendiri.


Sementara Brian, pria itu segera pergi kembali ke Italy, menuruti kemauan bosss nya untuk mengusut teror yang dilakukan anak buah The King.


Siang hari Tabitha baru saja menyelesaikan membaca bukunya namun manik matanya melihat Diana sudah rapih dengan menggunakan pakaian kasual nya.


" Ta, gue mau pergi dulu"


" Kemana?"


" Gue, mau lihat-lihat New York sekalian mau mampir ke kantor Arthur, tadi Brian_"


" Aish, ada yang mulai deket juga nih sama om-om"


" Hush, diem lo"


" Hahaha, yaudah apaan?"


" Tadi Brian bilang gue bisa langsung ke tempat modelling dulu, belajar disana nah kalo udah dirasa cukup baru gue ke tempat pemotretan"


" Owh, jadi sekarang lo mau belajar Modelling dulu gitu?"


" Iya, kata Brian sih sekalian tanda tangan kontrak. Supaya pas ntar kalo gue udah bisa modelling tetap sama perusahaan Arthur"


" Bagus deh"


" Yaudah gue pergi dulu ya, lo nggak papa kan sendirian?"


" Ya, gue nggak papa"


" Tapi nanti sekalian gue juga mau cari apartemen buat nanti gue tinggalin"


" Maksudnya lo mau keluar dari sini?"


" Iya, gue nggak enak berasa benalu tau nggak, numpang mulu"


" Yaelah, jangan dipikirin lagi Di"


" Pokoknya gue mau pindah Ta"


" Kenapa? Lo takut baper?"


" Nggak lah"


" Alah, ngomong aja iya"


" Apaan sih Ta"


" Yaudah sana lo pergi gih"


" Yaudah, tapi nanti malem gue masih nginep ya"


" Iya bawel"


" Oke, bye"


" Bye"


Setelah kepergian Diana, Tabitha berjalan kearah pantry, namun sepanjang jalan nya biasanya ada saja bodyguard yang berdiri dengan tegap di sudut ruangan. Tapi entah mengapa begitu sangat sepi. Tabitha menepis pikiranya, mungkin saja mereka sedang makan siang kan?


Wanita itu memasuki pantry, sudah ada Madam Rose disana.


" Madam"


" Iya Ta, kau butuh sesuatu?"


" Tidak"


" Baiklah, aku haru pergi"


" Kemana?"


" Aku harus berbelanja untuk keperluan dapur"


" Tap_"


" Kau takut sendirian disini?"


" Ya"


" Tak usah takut ada Karin"


" Kenapa tidak menyuruh Maid lain untuk berbelanja"


" Mereka tak akan mengerti lagi pula ini tugasku"


" Baiklah"


" Oke, aku pergi dulu. Kau jangan pergi-pergi"


" Oke"


Tabitha merasa sangat bosan, ia memutuskan untuk tidur siang. Ia memasuki kamarnya lalu membaringkan tubuhnya ke kasur King size milik Arthur. Wanita itu mulai memejamkan matanya menggapai mimpi namun suara gaduh merusak semuanya.


Tabitha berdecak kesal lalu turun kelantai bawah. Ia sedikit menganga saat mendapati beberapa tubuh bodyguard Arthur terkapar tak berdaya. Lalu suara tembakan membekakan telinganya. Wanita itu berjalan mundur berusaha melangkah untuk kembali naik ke atas kamarnya. Mencari ponsel untuk menghubungi Arthur.


Beberapa kali wanita itu berusaha menghubungi suaminya, tapi tetap tidak ada jawaban. Tabitha dengan cepat menekan nomor Brian dan tak lama.


" Halo"


" Brian" ucap Tabitha dengan nada takut.


" Ada apa menelpon Ta?"


" Dimana Arthur?"


" Dia tepat dihadapanku"


" Berikan ponselnya pada Arthur"


" Sebenarnya ada apa Ta?"


" Sudah berikan saja!"


" Oke, tenanglah"

__ADS_1


Tabitha menggigit bibir dalamnya menunggu suara Arthur menyapanya.


" Halo"


"Arthur!"


" Ada apa?"


" A-Arthur mansion diserang!"


" Apa! Bagaimana bisa?"


"Aku tak tau"


" Dimana Alexander?"


" Aku tidak tau Arthur"


" Oke tenanglah, dimana para bodyguard?"


" Mereka sudah mati terkapar di depan mansion"


" Sialan, Brian lihat CCTV mansion."


" Ada apa Arthur?"


" Lakukan saja!"desis Arthur disebrang sana.


" Apa yang harus aku lakukan?"


" Kau yakin tidak ada orang satu pun disana?"


" Ada beberapa maid saja"


" Arthur" ucap Brian memberikan sebuah gambar di laptopnya.


" Baiklah Ta, aku mengawasimu. Sekarang kau lakukan perintahku"


" Apa aku perlu mengambil senjata di ruang pribadimu?"


" Itu tidak mungkin Ta, pintunya hanya terbuka jika ada sidik jariku"


" Lalu apa yang harus aku lakukan"


" Kubilang turuti saja perintahku"  ucap Arthur.


" Baiklah apa?"


" Pertama kau buka laci paling bawah di nakas"


Tabitha dengan cepat melakukan apa yang Arthur perintahkan wanita itu segera membuka laci nya dan terpampanglah sebuh pistol Deagle dan Colt 1911.


" Kau melihatnya?"


" Ya"


" Gunakan itu untuk membunuh mereka semampumu gunakan juga earphone di atas nakas" Tabitha segera memasang earphone di telinganya.


" Brian, hubungi Alexander, minta dia kirimkan pasukan untuk mengamankan mansion ku" Brian segera menelpon Alexander menggunakan telpon anak buahnya.


" baiklah sekarang kau keluar dari sana. Menuju lantai bawah"


" Oke" Tabitha segera melangkahkan kakinya menuju lantai dasar namun.


" Ta, tembak tepat arah jarum jam" Ucap Arthur dan dengan cepat Tabitha menembak tepat di arah jarum jam.


" Ya, 1 meter di depan mu, dua orang."


" Dimengerti"


Tabitha berjalan dengan pelan menenteng pistol Deagle di tangan kanan dan pistol Colt 1911 ditangan kiri. Wanita itu sesekali melirik kebelakang waspada.


" Shoot now!" Tabitha segera melepas tembakan didepannya dan itu mengenai kedua musuh di hadapanya.


" Good"


" Sekarang aku harus kemana?"


" Pantry"


" Untuk?"


" Ada kesukaanmu disana"


" Apa?"


" Lakukan saja perintahku Tabitha"


" Baiklah"


Tabitha berjalan cepat menuju pantry. Disana ia melihat beberapa maid ketakutan.


" Tenanglah, kalian jangan ada yang keluar dari sini okey" ujar Tabitha diikuti anggukan dari beberapa maid disana.


" Well, kau berhasil menenangkan mereka, tapi aku tak yakin kau berhasil menenangkan dirimu sendiri"


" Diamlah!" Desis tajam Tabitha.


" Sorry, sekarang kau buka lemari atas tepat diatas kompor"


Tabitha membuka lemari atas dan menemukan senapan Sharp Fusion AK-M16 disana.


" Senapan?"


" Ya, kau gunakan itu"


" Tapi aku sudah membawa dua pistol"


" Colt 1911 hanya memiliki 7 peluru, tidak akan sanggup menolongmu. Begitupun Deagle. Tapi Deagle mampu meledakkan musuh. Sedangkan Colt 1911 tidak"


" Jadi?"


" Kau gunakan senapan itu lalu naik kekamar dan berdiri di balkon"


" Sebenarnya apa yang kau inginkan?"


" Jangan banyak bicara wife, lakukan saja"


Tabitha mendengus kesal, wanita itu mengambil senapanya, lalu berjalan kearah lift dan memasukinya.


" Dengarkan aku, setelah pintu lift terbuka cepat lepaskan pelurunya, ada musuh disitu"


" Oke"


Ting


Pintu lift terbuka Tabitha segera melepaskan peluru nya menembakanya kearah tepat di jantung musuh. Dan setelah itu lawannya pun ambruk. Tabitha segera memasuki kamarnya dan berdiri di balkon.

__ADS_1


" Brian, berapa lama lagi pasukan datang!"


" 5 meter lagi boss"


" Bagus" ujar Arthur di ujung sana.


" Apa lagi yang harus ku lakukan"


" Orang yang ada dihalaman itu bukan bodyguard ku, bukan juga suruhanku"


" Jadi?"


" Kau tau maksudku"


" Tidak, aku tak ingin. Nanti mereka tau dimana asal senapannya. Lalu mereka malah membunuhku"


" Tidak akan aku biarkan, dengarkan aku, senapan itu sudah dirancang dan dimodifikasi sehingga musuh akan terkecoh dan tidak akan tau dari mana asalnya si penembak berada"


" Oke"


" Do it now!!"


Tabitha segera menghujami orang-orang dibawahnya dengan senapan yang ada ditanganya. Wanita itu mengulas senyum tipis saat para musuh terkapar tak berdaya. Lalu 5 mobil hitam menepi. Tabitha tau itu adalah anak buah Arthur. Wanita itu segera berlari tanpa membawa dua senjatanya. Ia melepas earphone nya karena merasa telah aman.


Wanita itu keluar kamar, menuju pantry berniat menyelamatkan para maid namun.


Dorr


Wanita itu terlihat menegang dan melihat kebelakang. Alexander membunuh pria yang berusaha menembaknya.


" Nyonya, tuan ingin bicara" ucap Alexander memberikan earphone miliknya.


" Ya?"


" Apa-apaan kau! Mengapa melepas earphone nya. Untung Alexander segera masuk dan menemukan pria itu hendak membunuhmu. Dan Alexander segera membunuhnya. Bagaimana jika Alexander terlambat tadi!" Desis Arthur tajam.


" Maaf, kukira semuanya sudah aman"


" Baiklah, tunggu aku akan pulang sekarang"


" Oke"


Tabitha memberikan kembali earphone itu pada Alexander.


" Nyonya, anda jangan keluar dulu, saya akan mengurus mereka diluar" ucap Alexander dibalas anggukan Tabitha.


Wanita itu segera berjalan kearah Pantry. Dan meminta para maid segera keruang bioskop. Karena hanya tempat itu yang memiliki kunci ganda. Jadi tak mungkin musuh masuk.


Mereka berjalan pelan kearah ruang bioskop pribadi milik Arthur. Lalu mereka pun duduk di bangku bioskop itu. Beberapa diantara mereka menghela napas lega. Tabitha hanya berharap Alexander dan pasukannya segera membunuh musuh.


Suara tembakan menggema dipenjuru mansion. Tabitha hanya diam, jika dia keluar maka ia tak bisa menjamin keselamatan para Maid. Akhirnya ia bergantung pada Alexander.


🔫🔫🔫


Tabitha merasa suara tembakan sudah mereda, wanita itu segera keluar dan memeriksa keadaan. Semuanya tampak kacau, beberapa vas dan pot pecah karena tembakan. Wanita itu segera keluar ke halaman Mansion. Disana ia melihat Alexander tengah memeriksa bodyguard Arthur yang terkapar.


" Mereka sudah mati?"


" Ada beberapa yang masih hidup, sudah dibawa kerumah sakit" ujar Alexander menanggapi pertanyaan Tabitha.


" Bagaimana bisa mansion diserang?"


" Entahlah"


" Dari mana kau?"


" Aku dari markas, lalu boss menelpon katanya mansion diserang jadi aku kemari untuk memeriksa keadaan."


" Kapan Arthur pulang?"


" Aku tak tau"


" Astaga apa ini!" Ujar Madan Rose yang baru sampai.


" Madam"


" Kau tidak papa nak?" Tanya Madam Rose pada Tabitha.


" Ya, aku baik madam"


" Syukurlah, ayo masuk"


" Alexander"


" Ya, nyonya?"


" Bereskan ini semua sebelum sahabatku pulang aku tak ingin dia mengetahui masalah ini"


" Baik"


Tabitha berjalan memasuki mansion beriringan dengan Madam Rose.


" Dimana para maid?"


" Mereka ada di ruang bioskop"


" Mereka tak apa? Karin?" Tanya Madam Rose


" Mereka selamat, mungkin hanya sedikit panik"


" Bagaimana mansion diserang penjagaannya sangat ketat"


" Aku tak tau" ujar Tabitha memasuki pantry dan membuka kulkas menuangkan air dan meminumnya.


" Ini belum pernah terjadi sebelumnya"


" Kau yakin?"


" Iya, selama ini Arthur tak pernah membawa masalahnya saat pulang. Oleh karena itu aku bingung saat mansion diserang"


" Maksudmu?"


" Aku takut Arthur berhadapan dengan orang yang salah kali ini"


" Semoga tidak" ucap Tabitha dengan nada sedikit cemas.


To Be Continue...


Vote Please...


Jangan pelit ngasih vote...



Arthur De Lavega


__ADS_1


Tabitha De Lavega


__ADS_2